The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Minta Rekrutan


__ADS_3

Gen terus memandangi Elena dengan was-was. Ia tidak menurunkan kewaspadaannya. Uang yang di berikan oleh Arion tadi terus ia jaga di dompetnya.


Elena melirik ke Gen yang sedang menatap tajam kepadanya. Ia menggeleng pelan dan memilih untuk melihat-lihat sekitar. Kenneth berjalan di depan, ia menyukai pasar ini, itu terlihat jelas dari raut wajahnya.


Mereka berada di pasar yang terkenal di Athiesh Kingdom. Pasar itu besar, kios dan lapak berjejer di samping jalanan dan terus memanjang. Berbagai barang terjual disini, baik bahan pangan sampai tersier.


Di pasar, ada dua gedung yang berdiri dengan kokoh saling berseberangan. Gedung itu putih dan menjulang keatas dengan bentuknya yang persegi. Di sana merupakan tempat berjualan para saudagar kaya dengan bahan yang lebih bagus lagi dan yang pastinya mahal.


"Selendang!" jerit Gen, tiba-tiba.


Ia segera menghampiri kios penjual selendang. Disana penuh dengan selendang berbagai warna yang di gantungkan di depan toko. Mata Gen berbinar melihatnya.


Kenneth dan Elena memperhatikan dari belakang.


"Kenapa dia bisa sesemangat itu?" tanya Kenneth, bingung.


"Sebelum kesini, dia menceritakan sesuatu" ucap Elena.


Gen menceritakan selendang itu akan ia hadiahkan untuk seseorang. Selendang yang akan ia berikan haruslah bagus dan indah, makanya ia bersikeras untuk membelinya.


"Menurutmu siapa?" tanya Kenneth.


"Entahlah, mana kutahu" jawab Elena.


Tiba-tiba, Kenneth memegang pergelangan tangan Elena. "Ayo, kita belanja juga"


"Eh, apa?" Elena tidak sempat untuk menjawab, Kenneth langsung main tarik saja. Mereka berdua menerobos rombongan pembeli yang saling berdesakan itu.


Elena sering kali menabrak punggung orang-orang, tapi Kenneth terus melaju dan tidak melepaskan tangan Elena. Mereka sampai di depan gedung itu, Elena mengerutkan dahinya dan segera menoleh ke Kenneth.


"Kau serius?"


"Ya, ayo" Kenneth melangkah masuk.


Elena ragu, tapi terpaksa mengikutinya. Mereka sama-sama masuk ke dalam gedung besar itu, pintu masuknya saja bisa dimasukkan seekor gajah ke dalamnya. Benar saja, saat masuk ke dalam suasananya langsung berbeda. Di sini orang-orang kelas atas berkeliaran dan melihat-lihat barang yang dijual.


Elena mendadak minder, ia memegang lengan baju Kenneth dan menundukkan kepalanya. Kenneth melirik ke gadis di sampingnya yang sedang tertunduk menatap lantai.


"Kita kembali saja" bisik Elena.


Kenneth tahu Elena sedang tidak ingin di sini jika sedang tidak sebagai seorang Thief. Gadis itu hanya malu saja berbaur dengan orang-orang kaya disini.


Kenneth menyingkirkan tangan Elena dari lengan bajunya, lalu memegang tangan Elena dan menggenggamnya. Jari-jarinya ia salipkan keantara jemari Elena. Mereka seakan seperti sepasang kekasih saja.


"Ken.." Elena tertegun melihat genggaman itu. Pipinya sedikit merona.


"Ayo" Kenneth tersenyum. Ia melangkah terlebih dahulu, Elena pun mengikuti langkahnya itu.


***


Glenn terbaring lemah di ranjang dengan luka yang memenuhi tubuhnya. Bukan hanya dia, ada juga Mike yang terbaring tidak sadarkan diri.


Luke duduk di sudut ruangan dengan wajah yang penuh dengan kecemasan. Ia berharap ada dokter handal yang bisa memulihkan kedua temannya itu.


Setelah pertemuannya dengan Faesa di Egrit Village, Luke menggunakan kemampuan teleportasi untuk memindahkan diri dan kedua temannya ke tempat lain. Athiesh Kingdom lah yang dipilihnya, sejauh ini ia bisa merasakan bahwa kerajaan ini adalah daerah yang paling aman.

__ADS_1


Di tengah-tengah kecemasannya itu, pintu ruangan dibuka lebar dari luar oleh seseorang. Glenn berdiri, seorang gadis muda masuk ke dalam ruangan, lalu masuklah kedua pria yang ia mintai tolong untuk mencari seorang dokter dan akhirnya di susul oleh dua pemuda.


Mata dan mulut Luke terbuka lebar melihat kedua pemuda itu, begitupun sebaliknya.


"Kalian!" teriak Luke.


"Si Bodoh!" Daendra juga menjerit.


"Luke!" Begitupun Arion.


"Ehem!" Rena mendehem dan menatap datar kearah ketiganya. "Kalian bisa teriak-teriak diluar"


Ketiganya sama-sama menelan ludah karena ngeri kepada Rena. Rena menyuruh mereka untuk tenang atau tidak mereka bertiga harus keluar agar tidak mengganggunya.


"T-tidak, kami disini saja" kata Daendra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pfft!" Luke menahan tawanya. Daendra menatap tajam kearah Luke.


"Apanya yang lucu?"


"Tentu saja. Melihat kau jinak oleh Rena, itu sangat menggelikan"


"Apa? Kau mau ribut, hah?"


Arion memilih diam dan duduk di kursi, melihat kedua orang di depannya yang ingin berkelahi tapi tidak bisa, seolah dihalangi oleh tembok raksasa.


Rena mengalihkan perhatiannya kepada Glenn yang terlihay babak belur itu.


"Apa kabar, Glenn? Lama tidak berjumpa" sapa Rena dengan senyum lembutnya.


"Aku akan mengobatimu. Apa yang terjadi padamu?"


"Nasib buruk sedang menimpaku, tapi itu tidak masalah"


Rena menoleh ke Mike sejenak. "Anak Kepala Desa juga ada disini, apa yang terjadi di desa?"


"Ini ulah Faesa" sahut Luke tiba-tiba.


Jantung Daendra dan Arion seolah-olah ingin berhenti karena terkejut mendengarnya. Luke melipat kedua tangan di dadanya lalu menghela napas panjang.


"Sial, aku masih tidak percaya sampai sekarang. Gadis itu masuk ke dalam Ethinos" Luke menggeleng pelan.


"Benarkah itu?" tanya Rena.


"Ya" Luke mengangguk.


"Jika Faesa bisa menyebabkan Glenn sampai seperti ini, pasti kekuatannya sudah bertambah pesat" ujar Daendra.


Daendra mengepal tangannya erat, ia pergi ke sudut ruangan dan bersandar disana. Rena mulai memulihkan Glenn dengan kemampuan Priest-nya.


"Desa itu, bagaimana keadaannya?" tanya Arion.


"Hancur" jawab Luke dengan singkat.


Rena menjadi sedih. Ia ingin menangis tapi tidak ada gunanya juga. Glenn melirik ke Arion.

__ADS_1


"Hai, Whiteblood. Senang bertemu denganmu lagi"


"Glenn" Arion tersenyum malu, ia sedikit bersalah karena menyembunyikan identitas aslinya. "Melihatmu seperti ini membuatku mengingat kejadian pada waktu itu"


"Jangan membuatku mengingatnya, itu adalah aibku" kata Glenn.


Ia berusaha menghapus kenangan saat terpaksa tertidur di ranjang karena cidera yang dialami akibat dihajar oleh beberapa Goblin saat melindungi Rena beberapa tahun yang lalu.


Arion mendekati Glenn, berdiri di seberang Rena. Ia memperhatikan tunangan Daendra itu sedang memulihkan Glenn.


"Mengubah Qube menjadi energi penyembuh, itu cukup menyulitkan" kata Arion.


Rena tersenyum. "Ya, awalnya. Tapi, kalau mahir, mengubah energi bukanlah hal yang sulit"


"Boleh kucoba?" tanya Arion.


Glenn kaget. "Hey, aku bukan bahan uji coba"


Arion tetap mencoba dan sekalian untuk berlatih. Rena dengan senang hati menerangkan cara-caranya selagi Arion mempraktekkannya. Glenn hanya bisa bernapas pasrah.


"Lalu, apa yang terjadi padamu?" tanya Luke pada Daendra. "Aku tahu masalah yang kau hadapi"


"Aku baik-baik saja, hanya menunggu waktu yang tepat" jawab Daendra.


"Kau tahu kabar dari Felim?"


"Tidak. Aku sudah lama tidak mendengar nama penyihir itu, apa kabarnya?"


"Kurasa di baik-baik saja dan sedang berusaha mencoba untuk melindungi dunia ini dari bahaya"


Daendra mengajak Luke untuk berbicara di luar, ia tidak ingin mengganggu Rena di dalam.


"Soal 10 Ksatria Agung, kau tahu siapa-siapa saja yang masuk ke dalamnya?" tanya Daendra.


10 Ksatria Agung itu hanya gelar yang diberikan oleh masyarakat. Sebenarnya, gelar ini adalah ajang kompetisi untuk membuat para ksatria untuk meningkatkan kekuatannya.


"Yang kutahu.." Luke berpikir sejenak. "Aku, kau, Aciel dan Eden dan juga Frimeya Midorian"


"Aciel dan Eden, huh? Tidak kusangka mereka juga mendapatkannya. Apa gelar mereka?" tanya Daendra.


"Untuk Aciel, gelarnya adalah Heaven Mage dan Eden adalah Shadow Emperor"


Pemberian gelar kepada masing-masing ksatria bukanlah yang sembarangan. Mereka diberi gelar dari kekuatan, sifat dan karakteristik mereka.


Contohnya, Aciel yang mendapat gelar Heaven Mage. Aciel menggunakan element alam dan sering memakainya untuk kebaikan, seperti menyembuhkan atau mengalirkan energi ke orang-orang yang sekarat.


Eden, Shadow Emperor. Bukan tanpa sebab, ia diberikan karena ia selalu beraksi dalam kegelapan. Eden yang penampilannya seperti hantu juga merupakan penyebab utama.


"Luke, apa kau punya kenalan? Maksudku, orang-orang yang tangguh?" tanya Daendra.


"Banyak. Klanku menghasilkan orang-orang yang gila berperang. Kenapa kau bertanya?"


"Kali ini, aku meminta bantuan darimu. Aku ingin mengambil kerajaanku kembali"


"Wow, terlalu mendadak. Aku akan mencoba tapi tidak bisa kujanjikan"

__ADS_1


"Ya, tidak masalah"


__ADS_2