The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Reuni Yang Mengerikan


__ADS_3

Dari atas dinding, Hanza tengah mengawasi jalannya perang, tapi tidak pernah menurunkan kewaspadaannya terhadap bala bantuan yang mungkin akan datang.


Ia tidak sendirian, ada puluhan Dwarf yang sedang berlalu lalang dengan senjata ditangan mereka.


Hanza sedikit bernostalgia dengan perasaan sedikit ironi. Yang ia serang ini adalah kampung halamannya, dimana dirinya tumbuh menjadi orang yang berpengaruh sampai saat ini.


Ia ingat saat pertama kali menggunakan Qube, latihan bersama ayahnya, berangkat menuju akademi, pulang dari akademi, menjalani berbagai misi dari Sang Raja yang tidak lain adalah Ayahnya. Lalu, bertemu dengan Istrinya dan menikah dikerajaan sampai punya seorang putra, Daendra dan akhirnya ia diusir dengan cara tidak terhormat, namun Hanza tidak pernah menaruh dendam.


Ia melakukan penyerangan ini karena Daendra ingin merebut kerajaan tanah kelahirannya. Bahkan, Hanza tidak pernah ada niatan untuk menyerang Rabadar.


"Semoga saja ini cepat berakhir" gumamnya.


Tiba-tiba saja ia merasakan guncangan yang kuat. Hanza hampir kehilangan keseimbangan, tapi ia masih bisa berdiri dengan kedua kakinya. Dwarf disekitarnya juga berhenti karena merasakan guncangan itu.


"Apa itu tadi?" tanya salah satu Dwarf.


"Semuanya! Lihat keatas sana!!" teriak Dwarf lain, ia menunjuk ke langit.


Hanza dan Dwarf disana menjadi pusat pasi melihat beberapa hewan bertubuh besar turun dari langit dengan cepat karena tarikan gravitasi bumi.


"KALIAN SEMUA! MENYINGKIR!!" Hanza berteriak sekencang mungkin untuk memperingati orang-orang yang ada dibawah. Suaranya menggema kemana-mana.


Mendengar suara Hanza, seluruh orang mendongak keatas, bahkan Caith sekalipun.


"Astaga, apa-apaan itu?!" Kenneth terkejut dengan mulut menganga.


"Semuanya segera berlindung!" seru Elena.


Seluruh pihak Daendra segera berlindung. Luke menciptkan ribuan anak panah untuk melindungi dirinya dan Kenneth serta rekan-rekan yang ada didekatnya.


Mifori dan Mike diberi perlindungan diatas tubuh dua Giant.


Debuman keras menghujani dataran Rabadar, getaran demi getaran timbul, seolah-olah bumi ini hendak runtuh.


Gedung-gedung disana hancur menjadi tanah, terhimpit oleh tubuh-tubuh raksasa itu. Seluruh infrastruktur yang tertimpa oleh mereka sudah pasti tidak terselamatkan.


Manusia-manusia yang tidak sempat mencari tempat perlindungan harus rela tubuh mereka menjadi bulan-bulanan para hewan yang berjatuhan itu.


Gempa ini berlangsung beberapa menit.


"Sudah?" Arion bertanya setelah goncangan, Daendra hanya menggeleng pelan karena ragu.


Perlahan Arion melepaskan sihir pelindungnya. Keduanya mengintip keluar dan pada akhirnya memberanikan diri untuk berdiri ditengah-tengah lapangan ini. Lapangan yang awalnya dipenuhi dengan gedung, kini berubah menjadi tempat tumpukan tubuh-tubuh hewan besar.


Arion menoleh sampingnya. Ada sebuah tubuh manusia yang terhimpit oleh salah satu hewan. Tubuh itu hanya setengah, bagian atasnya tertimpa oleh tubuh berat dari hewan tersebut. Itu jasad Reilo.


"Ini buruk" kata Daendra.


Tiba-tiba, muncul suara ledakan dan pekikkan jauh dari lokasi mereka saat ini.

__ADS_1


"Kita periksa" Arion hendak bergerak, tapi bahunya ditahan oleh Daendra.


"Sebaiknya jangan, kita lihat saja dari sini" usul Daendra.


Ledakan terdengar lagi, kali ini berada tidak jauh dari mereka. Arion menatap tanah yang ia pijaki. Tanah itu perlahan berubah kemerahan dan menjadi panas.


"Sial" gumamnya.


Tidak sempat keduanya menyingkir menjauh, ledakan muncul dari sana. Arion dan Daendra terhempas tidak jauh, dan berakhir ditanah. Arion jatuh tengkurap, sedangkan Daendra terbaring.


"Ah, itu menyakitkan.." ringis Daendra.


Arion berusaha mendongakkan kepalanya untuk melihat jelas kedepannya. Pandangan yang buram akibat ledakan dan pendengarannya yang melengking perlahan mereda.


Seekor hewan raksasa sedang berdiri dihadapannya. Hewan itu berbentuk seperti harimau putih, dengan taring panjang dan mata merah. Sedangkan diatasnya ada seorang gadis berjubah hitam dengan sepasang telinga dikepalanya. Ia memegang senjata gada yang besar, tidak sesuai dengan tubuh mungilnya.


"Itu kan.." Daendra melongo, sedangkan dada Arion menjadi sesak.


"F-Faesa.." ucap Arion.


Gadis Demi-Human itu berdiri disana dengan pandangan yang dingin tertuju kearah kedua mantan saudaranya ini.


"Lama tidak berjumpa, Arion, Daendra" ucapnya.


Mendadak saja kedua lelaki ini mendapat tekanan yang besar, menghimpit tubuh mereka, hingga keduanya tidak bisa bergerak bebas. Arion dan Daendra bergetar karena tidak mampu menahan tekanan itu, napas mereka juga mulai tidak beratur.


"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan kalian lagi disini, sungguh reuni yang menyedihkan" Faesa tersenyum, senyum yang sangat mematikan.


"Apa Faesa yang memberi tekanan ini?" Batin Daendra.


"Sial, jika seperti ini, kami akan kerepotan" pikir Arion.


Faesa menoleh kearah istana. "Istananya tidak berubah. Aku teringat keadaan Kak Yaena, aku sempat dengar berita bahwa dia sedang mengandung dan sepertinya akan melahirkan saat ini"


"Sial, berhenti... basa-basinya! Katakan... apa.. yang kau lakukan.. disini?!" tanya Daendra, terbata-bata.


Faesa menoleh kembali kearah Daendra dengan memiringkan kepalanya.


"Oh, lihatlah dirimu, begitu lemah. Padahal, kau lebih kuat dariku dulu" Faesa terkekeh sinis. "Aku kemari dengan tujuan yang sama sepertimu. Menyerang Rabadar dan menguasainya"


"Apa.. ini termasuk rencana.. dari Ethinos?" tanya Arion, walau tenang ia tetap kesusahan bernapas.


"Seperti biasa, kau yang paling cerdas daripada Daendra. Ya, Arion! Ini salah satu rencana kami, kami akan menguasai seluruh kekaisaran dibenua ini dan segera melancarkan serangan ke benua lain" jawab Faesa.


"Apa kau sudah gila?!" teriak Daendra.


"Gila?" Faesa tersenyum dingin, kemudian tekanan yang diberikan semakin bertambah kuat.


"A..." Arion sempat merasakan paru-parunya tidak berfungsi.

__ADS_1


"Lepas...kan" saking tidak kuatnya, Daendra meletakkan kepalanya ditanah.


"Ini demi ras Demi-Human. Ras yang kalian injak-injak" sambung Faesa. "Kami hanya ingin merdeka"


"Faesa..!" Arion meneriakkan nama Faesa dengan sekuat tenaga. "Bisakah.... kita.. kembali... menjadi.. saudara seperti.. dulu?!"


"Sayangnya tidak!" pekik Faesa. Tiupan angin kencang menabrak tubuh Arion dan Daendra, beberapa luka gores akibat tiupan angin timbul ditubuh mereka.


"Aku tidak akan kembali bersama kalian. Aku sudah mengabdi untuk kepentingan rasku, kalian manusia tidak perlu ikut campur" ucapnya.


Zing!


Suara dengung muncul. Mereka bertiga mendengar, ketiganya sama-sama menoleh keatas langit.


Disana, ada sebuah gerbang teleportasi yang mulai terbuka dan melebar dilangit. Sedetik kemudian, turun puluhan bahkan ratusan prajurit mayat hidup darisana. Mereka turun seperti hujan tubuh hewan-hewan raksasa tadi.


Disaat seluruh pasukan Undead itu terus bermunculan, seorang berjubah dengan kepala yang ditutupi tudung sambil memegang tongkat kayu ikut turun ke permukaan.


"Apa yang terjadi disini?"


Disisi lain, Luke hanya menganga melihat pemandangan hujan Undead yang keluar dari gerbang portal itu


Seorang berjubah itu mendarat mulus dibelakang Arion dan Daendra. Ia segera mengangkat keduanya untuk berdiri dengan kaki mereka kembali.


"Apa yang kau lakukan disini, Whiteblood?"


Arion kaget, ternyata yang datang ini adalah Retian. Daendra juga tidak kalah kaget, mulutnya bahkan menganga lebar.


"Kau, Necromancer" kata Daendra.


"Hai, Yang Mulia" Retian menyapa sambil membuka tudung jubah dari kepalanya. "Apa kalian dipihaknya?" Retian bertanya sambil mengedikan dagunya ke Faesa.


"Tidak" Arion menggeleng.


"Bagus, aku tidak perlu repot-repot melawan kalian" jawab Retian.


"Tunggu, tunggu, kenapa kau kemari?" tanya Daendra.


"Untuk memburunya dan mencegah Ethinos menjalankan rencananya. Rabadar sudah dikepung oleh Ethinos dari segala sisi, sebentar lagi akan terjadi perang besar" jelasnya.


"Hah?!" Keduanya kaget.


Tiba-tiba...


Trang!


Suara dentuman senjata menarik perhatian mereka bertiga. Raut wajah Arion dan Daendra masih dilanda keterkejutan, apalagi dengan kemunculannya.


Dia Eden dan sedang ditemani Alice. Ayunan pedang mereka sedang ditahan oleh gada Faesa. Ketiganya memasang tatapan dingin.

__ADS_1


"Tentu saja aku datang tidak sendirian" ucap Retian.


__ADS_2