
- Rabadar Kingdom
Traang!
Pedang terlepas dari genggaman Daendra. Ia menatap sejenak pedangnya yang sudah tergeletak di tanah, lalu menunduk.
"Ada apa, Pangeran? Kau tidak enak badan?" tanya Thomas, heran.
"Tidak... hanya saja.." Daendra mendengus pelan. "Entahlah, aku juga tidak tahu"
"Kalau begitu, kita akhiri latihan hari ini"
"Baiklah" Daendra mengangguk lalu melangkah pergi. Ia memilih mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya. Daendra merasa bingung pada dirinya hari ini.
Selesai mandi, ia jalan-jalan di koridor lantai tiga. Ia menengok ke lapangan, disana Rena sedang latihan dengan seorang Priest tua. Priest tua itu adalah satu-satunya Priest yang dimiliki Rabadar Kingdom.
Rena terlihat sangat serius, ia terus melatih kemampuannya. Disaat Daendra sedang memperhatikan Rena latihan, Dominick datang menghampirinya.
"Paman?"
"Sedang santai, Daendra?"
"Tidak juga"
"Sedang mengintip pacarmu latihan?"
"D-dia bukan pacarku"
"Oh, begitu? Jadi, apa hubungan kalian?"
"Bisa kita alihkan pembicaraan ini ke topik lain" Daendra mulai jengkel.
"Baik. Aku melihat kau akrab dengan Arion akhir-akhir ini. Aku penasaran denganmu, dulu kau membencinya, kan?"
"Aku telah memperhatikannya selama enam tahun ini, dia berbeda dari anak lainnya. Aku tahu dia bukan berasal dari bangsawan asli, namun ia suka berteman dengan siapa saja, walau suka gugup dan payah pada awalnya"
"Benarkah? Lalu?"
"Arion tahu aku membencinya, tapi ia selalu saja mau menolongku, membantuku dan melindungiku dalam keadaan apapun"
"Alasan macam apa itu?" Gumam Dominick. "Apa kau tidak takut kalau ia mengambil alih posisi Raja darimu?"
"Tidak, lagipula ia sendiri yang tidak menginginkan posisi itu"
"Dan kau percaya?"
"Ya"
"Jangan naif, Daendra. Walau tampangnya polos seperti itu, ia pasti punya niat tersendiri"
"Jika itu yang ia mau, maka aku tinggal menyerahkan posisi itu saja. Dia bisa memimpin dan aku yang mengarahkannya, kami bisa menjadikan kerajaan ini lebih maju"
Dominick mengerutkan dahinya. "Daendra, jangan-"
"Paman, aku percaya pada Arion dan sebaliknya juga begitu. Entah darimana ia berasal, keturunan apa dia, aku tidak peduli. Aku sudah belajar menghargai seseorang. Aku sudah tidak seperti dulu lagi, Paman"
Daendra melangkah pergi meninggalkan Dominick. Dominick menoleh ke Rena yang tengah latihan di lapangan.
"Daendra sudah bukan rencanaku lagi"
***
- Kastil Midorian
Frimeya sudah mulai sadar, ia membuka matanya perlahan. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang ia sebut sebagai kamarnya. Hari sudah malam, bulan purnama dapat dilihat dari kamarnya.
"Arion.." gumam Frimeya, tiba-tiba kepalanya menjadi sakit.
Tok tok tok...
Seseorang mengetuk pintunya dari luar.
"Anda sudah sadar?" itu suara Eden.
"Ya, aku sudah sadar. Kau boleh masuk"
Eden membuka pintunya secara perlahan. "Aku buka saja pintunya" ia melangkah ke dalam dan berdiri di hadapan Frimeya.
"Sudah baikan?"
"Kurasa belum tapi sudah mendingan" lalu Frimeya teringat Arion.
"Apa Arion-"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mengetahui dimana Arion sekarang" Eden memotong ucapan Frimeya.
"Begitu, ya"
Mereka diam untuk beberapa saat.
"Aku masih tidak percaya Putri Faesa melakukan semua ini" kata Frimeya.
Eden tidak merespon, ia memilih untuk menatap bulan purnama.
"Apa yang akan-"
"Nona Frimeya, sebaiknya anda beristirahat dulu. Memikirkan hal yang berat akan memperlambat pemulihanmu"
Eden berbalik dan hendak keluar. "Soal Arion, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk menemukannya. Tenang saja"
Eden pergi. Frimeya menoleh ke bulan purnama. Ia berdoa agar Arion dalam keadaan baik-baik saja.
Eden melangkah menuruni kastil. Ia mengenakan jubahnya dan berjalan tergesa-gesa. Serva menghampirinya.
"Eden, kau mau kemana?"
"Masalah ini Demi-Human ini semakin rumit, aku harus bergerak cepat. Soal pria laba-laba itu, jaga dia dan jangan sampai kabur. Aku akan kembali secepatnya"
"Kemana tujuanmu?"
"Ke tempat Pamanku, Mender Blackclaws"
Serva terkejut mengetahui Mender adalah Paman dari Eden. Seorang buronan dunia dan pembunuh terkeji yang melakukan pembantaian terhadap beberapa keluarga di sebuah desa beberapa tahun yang lalu.
"Aku berangkat. Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Midorian"
Eden memacu kudanya, bergerak cepat meninggalkan kastil.
"Kumohon, tolong aku kali ini, Mender"
Di tempat lain...
"Anda akan berangkat sendirian?" tanya salah satu petugas.
"Ya, aku sendiri yang akan memburu Mender. Kalian tetaplah disini, aku sudah menunjuk seorang wakil untuk memimpin" jawab Alice.
"Baiklah. Kembalilah dengan selamat, Kapten"
"Tentu saja. Aku berangkat"
"Tunggu saja, Mender. Aku pasti akan membunuhmu disana!"
***
- ???
Jauh dari Rabadar Kingdom dan Midoria, ada sebuah gunung api yang sudah tidak aktif yang di kaki gunungnya di penuhi hutan dengan pohonnya mempunyai dedaunan berwarnai biru cerah.
Tidak jauh dari kaki gunung itu, ada sebuah gubuk tua yang dikelilingi kebun kecil. Seorang pemuda baru saja keluar dari gubuk dengan membawa keranjang besar di punggungnya.
"Aku pergi dulu, Kakek" katanya.
"Ya, hati-hati" suara seorang pria tua muncul dari dalam gubuk.
Pemuda itu jalan menjauhi gubuknya. Ada sebuah sungai yang letaknya tidak jauh dari gubuk. Sungai itu memiliki air yang jernih dan ikan yang banyak.
Pemuda itu hendak menyebrangi sungai. Ia berniat untuk mengumpulkan dedaunan dan kayu, tetapi saat ia menyebrang, ia melihat seseorang tergeletak di tanah dikelilingi beberapa rusa.
"Eh? Itu orang?"
Karena penasaran, ia mendekati orang itu dan mengusir rusa-rusa disana. Ada seorang lelaki memakai baju bagus, ada darah di punggungnya dan itu masih mengalir.
"Ia terluka" gumamnya. Pemuda itu celingak-celinguk sebelum mengangkat orang itu dengan kedua lengannya. Pemuda tersebut kembali ke gubuknya.
"Kakek, aku kembali"
Kakeknya yang sedang sibuk dengan tungku api tidak melihat apa yang dibawa oleh pemuda itu.
"Hah? Cepat sekali" jawab Kakeknya.
"Aku bawa orang"
"Apa? Jangan bercanda. Pasti karena tadi malam kau tidur dengan Dimo, otakmu sudah kacau"
Pemuda itu memberikan tatapan seperti orang menahan kekesalan.
"Lihat dulu apa yang kubawa"
__ADS_1
Kakek itu menoleh kebelakang, ia terkejut melihat orang yang dibawa cucunya itu.
"Astaga! Kenapa tidak kau bilang dari tadi? Cepat, taruh dia di kasur" kata Kakeknya, ia meninggalkan perkejaannya tadi.
"Butuh satu abad untuk Kakek mendengar perkataanku" gerutu pemuda itu sambil meletakkan orang tersebut ke kasurnya.
"Kenapa dia?" tanya Kakeknya.
"Sepertinya ia terluka. Ada bekas tusukan di punggungnya"
"Obati cepat atau ia akan mati kehabisan darah"
"Keren.." gumam cucunya itu.
"Cepat bawa bahan obatnya"
Pria tua itu melepaskan pakaian lelaki itu dan membalikan badannya. Terdapat satu luka tusukan di punggungnya dan sepertinya masih baru.
Pemuda tersebut kembali dengan membawa beberapa obat tradisional. Mereka mulai mengobati luka lelaki itu.
Setelah di perban, mereka membiarkannya beristirahat di kasur.
"Detak jantungnya normal" sahut pemuda tersebut.
"Bagus, sekarang biarkan ia beristirahat. Kembalilah bekerja"
"Iya, iya, aku tahu"
..
...
....
Arion membuka matanya secara perlahan. Ia mendapati dirinya sedang berada di tempat asing. Ia menggerakkan kepalanya ke samping, ada berbagai perabotan dan tungku api disana.
"Ini.. dimana?" tanya Arion, pelan.
Seorang pria tua masuk ke dalam gubuk. Pria itu berambut pendek serta beruban, janggut dan kumisnya sudah putih, namun tubuhnya masih sehat bugar.
"Oh, kau sudah sadar" ia menghampiri sebuah meja dan mengambil secangkir gelas lalu memberikannya kepada Arion.
"Ini, minumlah dulu"
Arion bangkit dari rebahannya. Tanpa ragu, ia meneguknya, namun sedetik kemudian ia menyemburkannya kembali.
"Pahit! Apa ini?"
"Itu obat"
"Kenapa sepahit ini?"
"Karena.. itu obat. Astaga! Minum saja, supaya energimu kembali pulih. Aliran Qubemu sedang kacau"
Arion memejamkan matanya sambil meminum cepat obat itu. Ia mengernyit lalu memberikan gelas itu kembali kepada pria tua itu.
"Terima kasih"
"Kau sudah baikan?"
"Lumayan. Dimana aku?"
"Kau di Argenhill"
"Argenhill? Dimana ini?"
"Sepertinya kau jauh dari rumahmu. Cucuku menemukanmu di pinggir sungai dalam keadaan pingsan dan kau terluka karena tusukan"
Tiba-tiba, Arion teringat kembali pertarungan antara dia dan Faesa. Ia memijat pelipisnya, Arion merasa ia dikirim disana karena Eden memunculkan gerbang teleportasi di bawahnya.
"Nak, boleh aku bertanya?"
Arion mengangguk.
"Ini hanya mataku yang bermasalah atau apa"
Arion mengerutkan dahinya. "Maksud Kakek?"
"Rambutmu memutih" jawabnya.
Arion kaget, ia mengambil rambutnya yang terurai kebelakang. Mata Arion melotot, rambutnya benar-benar putih, seputih salju.
"Ini.. tidak mungkin, kan?"
__ADS_1
"Ada apa, Nak?"
Arion menatap wajah pria itu. "Sihirnya sudah menghilang"