The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Dimulainya Era Perpecahan


__ADS_3

"Akhirnya.."


Arion bernapas lega ketika berhasil sampai ke Anvio Village. Sebuah desa yang hancur akibat penyerang Goblin beberapa tahun yang lalu. Desa itu dibiarkan hancur sampai sekarang, puing-puing rumah yang hancur masih ada disana.


Kenneth sedikit ternganga melihat desa hancur itu. Ia sedikit tidak menyangka yang dituju Arion itu adalah kesini. Foma yang berada di atas kepala Kenneth hanya mendengkur pelan.


Arion mendatangi sebuah rumah yang mana rumah itu merupakan tempat pelindungan terakhirnya dari para Goblin. Rumah tersebut sudah dipenuhi oleh lumut dan akar tumbuhan. Arion masuk ke dalam rumah itu, dengan perlahan namun pasti ia melangkah masuk.


Arion masuk ke dalam sebuah ruangan yang sepertinya mirip sebuah kamar. Arion berdiri di ruangan itu, memandangi dinding, tempat ia dikurung oleh Ibunya dengan menggunakan kristal sihir dari serangan para Goblin.


"Tempat apa ini?" tanya Kenneth, muncul dari samping Arion.


"Disini tempat yang membuatku bisa seperti ini" jawab Arion. Ia duduk berlutut dan memegangi lantai kayu. "Ayah Hanza persis disini waktu itu"


Lalu, ia memandang ke depan. "Dan aku disana" ia memindahkan penglihatannya kembali ke bawah. "Ibu disini"


Kenneth keluar, membiarkan Arion sendiri. Ia memperhatikan desa ini. "Kenapa desa ini tidak dibangun kembali?" tanya Kenneth. Foma menjawab dengan dengkuran pelan.


"Pasti ada alasannya" Kenneth mengangguk pelan. Ia menoleh ke belakang. "Kau sudah selesai?"


"Ya. Ayo" Arion mengajak Kenneth ke suatu tempat. Tepat di pinggir desa, ada sebuah makam yang di tutupi pepohonan.


Arion duduk berlutut, memegangi batu yang sebagai penanda itu adalah sebuah makam.


"Makam siapa ini?" tanya Kenneth.


Arion tersenyum tipis. "Ibuku"


Kenneth sedikit terkejut, ia memandangi kuburan itu cukup lama. Kenneth mengingat jawaban Arion beberapa waktu lalu ketika ia menanyakan kemana mereka akan pergi.


"Kita kemana dulu?" tanya Kenneth.


"Kita akan ke Anvio Village untuk mengunjungi seseorang yang sangat kurindukan" jawab Arion.


Kenneth turut duduk disamping Arion. "Kalau begitu, mari kita do'akan Ibumu"


Arion tersenyum hangat sambil mengangguk. "Ya". Mereka berdua berdoa di depan makam Ibu Arion. Setelah mereka selesai berdoa, seekor rusa jantan menghampiri mereka. Hewan itu meletakkan sekuntum bunga tepat disamping makam Ibu Arion.


Kenneth mengelus kepala rusa itu sebelum hewan tersebut melangkah pergi.


"Hey!"


Mendengar suara itu, mereka berdua sama-sama menoleh kebelakang. Ada seorang pria tua dengan sebuah cangkul berdiri tidak jauh di belakang mereka.


"Kenapa kalian disana?" tanya Pak tua itu.


"Mengunjungi makam, Pak" jawab Kenneth sambil memasangkan topi jerami ke kepala Arion untuk menutupi rambutnya.


"Makam? Aku tidak pernah tahu ada makam disana" ucap Pak tua itu.


"Disini-"


Arion menepuk pundak Kenneth lalu menggeleng pelan. Arion menoleh pria tersebut. "Kami baru saja memberi makan sebuah rusa, untuk amal" ucapnya sambil tertawa kecil.


"Kalian seorang petualang?"


"Bisa dibilang begitu" jawab Arion.

__ADS_1


"Oh, begitu. Sebaiknya kalian langsung pergi dari wilayah ini. Nanti, kalian akan ditangkap karena memasuki wilayah Rabadar Empire tanpa izin"


Arion mengerutkan dahinya. "Rabadar Empire? Apa maksud Paman?"


"Apa maksudku? Kau aneh, Nak. Rabadar telah menjadi kekaisaran dua tahun yang lalu di bawah kepemimpinan Yang Mulia Dominick Gareins"


Mendengar jawaban itu, Arion tambah kaget sekaligus bingung. "Baik, terima kasih untuk infonya, Paman"


Arion menarik Kenneth untuk pergi dari sana. Mereka keluar dari desa itu. Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Arion, terutama apa yang terjadi pada Hanza dan Daendra. Yang pasti, itu bukanlah pertanda baik.


"Kau bilang rumahmu adalah kerajaan" ucap Kenneth, yang tidak kalah bingung.


"Aku tidak tahu" jawab Arion. Mereka terus melangkah menuju kearah kota Rabadar. "Aku harus berbuat sesuatu" lanjut Arion.


***


Arion dan Kenneth sampai di Ibukota Rabadar Empire. Mereka menaiki kereta kuda untuk sampai kesini. Hal yang pertama dilihat oleh mereka berdua adalah dinding setinggi 40 meter yang membatasi dalam kota dengan area luar.


Ketika Arion hendak melangkah, Kenneth langsung menghentikannya.


"Apa?" tanya Arion.


Kenneth menunjuk ke suatu arah. Disana ada poster lukisan wajah Arion, ditempelkan di gerbang masuk.


"Aku ada rencana" ucap Kenneth.


..


"Masuklah" penjaga gerbang itu membiarkan beberapa pendatang dari luar untuk masuk setelah memberi pajak dan identitas yang jelas.


"Selamat siang!" sapa seorang pria berjanggut tebal. Ia memakai topi jerami dan mengenakan jubah kulit besar.


"Bisa beri identitasmu, Pak" ucap penjaga itu, ia tidak bisa berpaling dari gadis yang berdiri disamping pria itu.


Pria tersebut memberikan identitasnya beserta identitas gadis itu kepada penjaga tersebut.


"Baik, pajaknya 50 keping emas"


Pria itu tersenyum lalu memberikan nominal koin yang diminta. Setelah semua keperluan telah dipenuhi, penjaga itu belum membiarkan mereka masuk. Ia terus memandangi gadis itu yang selalu menunduk ke tanah.


"Dia anakku" pria itu mengaku sebagai Ayah gadis tersebut sambil terkekeh pelan. Akhirnya, mereka diizinkan masuk.


Pria dan gadis itu pergi kesuatu tempat yang sepi, jauh dari keramaian.


"Kau gila!" Arion melepaskan rambut palsunya dengan kasar. Ialah yang menyamar sebagai gadis tadi.


"Itu satu-satunya cara" Kenneth juga melepaskan diri dari penyamarannya. Lalu ia memandangi Arion. "Sebaiknya kau tetap menyamar, mereka semua hampir mengenalimu disini"


"Kau bercanda? Tidak, harga diriku masih ada" Arion langsung menolak.


"Kau lebih mengutamakan harga diri dari nyawamu rupanya" Kenneth melipat tangan di dadanya.


Merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya Arion setuju walaupun itu dengan penuh rasa terpaksa.


"Ngomong-ngomong, kau jadi manis. Aku hampir ingin menikahimu" ucap Kenneth lalu tertawa terbahak-bahak.


"Sialan" Arion menendang punggun Kenneth.

__ADS_1


Mereka menelusuri kota. Arion hampir tidak mengenali kota ini lagi. Banyak sekali prajurit yang berlalu lalang dan bangunannya juga berubah.


"Jangan kasar kepada anak ini! Dasar prajurit kurang ajar"


Suara seseorang yang ribut-ribut menarik perhatian mereka. Ada seorang Mage berkacamata melindungi seorang anak pengemis dari empat orang prajurit.


"Kau tidak perlu melindunginya, Heaven Mage. Pengemis seperti anak ini hanya menodai kemewahan kota ini" kata salah satu prajurit.


"Apa-apaan perkataan itu?! Cepat pergilah dari sini!" usir Mage tersebut.


"Jika kau bukan 10 ksatria agung dan Yang Mulia Dominick tidak memberimu tempat disini, pasti kau akan berakhir seperti anak ini juga" prajurit itu memberi tatapan sinis, lalu mereka berlalu dari sana, meninggalkan Mage itu bersama anak pengemis tersebut.


"Aciel.." gumam Arion. Ia mengenali Mage itu, ia adalah salah satu sahabat Arion, yang bernama Aciel.


Arion hendak menghampirinya, tapi Kenneth melarangnya. "Jika kau ingin menyapanya, sebaiknya lakukan di tempat yang sepi"


Arion mengangguk, kemudian mereka pergi dari sana.


"Kau tidak apa?" Aciel mengelus kepala bocah itu. Ia mengangguk dan Aciel tersenyum lalu memberikan sekantung koin emas kepadanya.


"Carilah makanan agar kau tumbuh kuat" kata Aciel.


"Terima kasih banyak, Heaven Mage" anak itu tersenyum dan wajahnya menjadi cerah. Ia pun pergi dari sana.


Aciel memandangi bocah itu hingga ia menghilang dari pandangannya. Aciel pergi dari sana sambil membawa tongkatnya. Ketika ia menelusuri area yang sepi penduduk, tiba-tiba saja ia ditarik masuk ke dalam sebuah rumah kosong.


"Sial!" Aciel ingin mengeluarkan jurusnya, tapi sebuah belati menghunus ke lehernya.


Seorang gadis menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruh Aciel untuk diam. Lalu seorang lelaki datang. "Rumah ini sedang kosong, sepertinya pemilik rumah ini sedang pergi. Kita harus cepat"


"Siapa kalian?" tanya Aciel.


"Ini aku Arion" jawab orang yang menahannya ini.


"Arion?" Mata Aciel melebar tapi disaat bersamaan dahinya berkerut. Arion membuka rambut palsunya dan menghilangkan sihir dari wajahnya.


"Arion?!" Aciel kaget bukan main melihat sesosok orang yang hilang selama ini.


"Ya, aku Arion" Arion tersenyum sambil menarik kembali belati dari depan leher Aciel.


"Ini sungguh kau?" AcielĀ  memegang kedua pundak Arion sambil melihat Arion dari bawah sampai atas. Ia tersenyum seakan tidak percaya apa yang ia lihat sekarang.


"Kau masih hidup!" Aciel memeluk Arion erat lalu melepaskannya. "Kemana saja kau selama ini?"


"Itu tidak penting lagi, aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu" kata Arion.


"Soal Yang Mulia Hanza dan Daendra?" Aciel bertanya balik.


"Iya!" Arion mengangguk cepat.


"Mereka diusir dan tidak pernah terlihat lagi" Aciel memasang tatapan serius sekaligus penyesalan. Arion terkejut, ia terdiam dengan mulut sedikit menganga.


"Dominick naik tahta, bisa dibilang ini..." Aciel menarik napas terlebih dahulu. "Dengar, aku tidak menyalahkanmu tapi.. naiknya Dominick ke singgasana adalah karenamu"


"Apa?"


Dimulainya Era Perpecahan

__ADS_1


__ADS_2