
"Jadi.." Elena menuangkan sirup ke gelas kedua tamunya saat ini. "Apa urusan kalian ke Athiesh Kingdom?" Setelah menuang sirup, ia duduk di depan mereka.
Kenneth tidak langsung menjawab, ia menaikkan alis matanya. "Kenapa kau ingin tahu? Tidak ada urusan denganmu, kan?"
"Ken" Arion menegur.
Elena tersenyum tipis menanggapi Kenneth yang tidak sopan kepadanya. "Athiesh Kingdom merupakan tempat langgananku untuk mencuri. Kerajaan kecil itu tidak mempunyai satu prajurit hebat untuk menangkapku"
Kenneth mendengus, ia merasa di depannya saat ini adalah gadis yang sangat licik. Dibalik penampilannya yang mampu menyihir laki-laki, Elena memanfaatkannya sebagai senjata untuk mencuri.
"Kami pergi karena ingin menemui beberapa orang, itu saja" jawab Arion, enteng.
"Oh?" Elena mengangkat cangkirnya lalu meneguk air sirup yang ada di dalamnya. "Hanya karena itu, huh? Pasti penting sekali untuk kalian"
Telinga Kenneth memanas dan dadanya terasa sesak. Ia mencengkram gelasnya hingga pecah, membuat Arion terkejut dan segera menoleh kearahnya.
"Ken, apa-"
"Berhentilah berbasa-basi, aku tahu apa maksudmu!" Kenneth langsung berdiri, menatap sinis kearah Elena.
Sementara itu, Elena bersikap tenang. Ia kembali meletakkan cangkirnya ke meja. "Aku tidak mengerti yang kau ucapkan" ucapnya.
"Jangan berlagak seperti itu! Kau sengaja menghilangkan kuda kami sehingga kau bisa memeras kami dan merampas segala harta yang kami punya! Benar, kan?!" kemarahan Kenneth memuncak.
"Kenneth!" Arion menyambar lengan Kenneth, tapi lelaki itu langsung menepisnya.
"Arion, jangan kau bela perempuan ini, dia adalah Thief dan aku tidak pernah percaya kepada Thief, tak akan pernah!" Kenneth melangkah pergi keluar rumah, lalu membanting pintu itu dengan keras.
"Kenneth!" panggil Arion, ia ingin menyusul, tapi Elena melarang.
"Biarkan dia sendiri, dia butuh waktu"
Arion tetap memandang keluar jendela. "Aku tidak tahu kenapa ia bisa semarah itu, padahal tadi dia tenang seperti biasa"
"Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada masa lalunya... yang berhubungan dengan para Thief sepertiku"
Arion menoleh ke Elena, lalu kembali duduk. Ia menunduk, merenungkan kembali sifat Kenneth yang berubah drastis itu. Thief, kelas pencuri yang kerjanya merampok dan merampas sesuatu dari orang.
"Ngomong-ngomong.."
Suara Elena membuatnya kembali menegakkan kepala.
"Kau.." Elena bangkit dari duduknya secara perlahan dan mendekatkan dirinya ke Arion. Wajah mereka terpaut beberapa senti lagi, membuat Arion sedikit canggung menatap wajah Elena. Tangan Elena bertumpu di bahu Arion, tangan Elena yang satunya mengulur ke sisi wajah Arion, dan terus menuju rambutnya. "Rambutmu putih.." katanya.
"Jangan-jangan kau.." Elena ingin melanjutkan ucapannya, tapi karena Arion sudah mengetahui apa yang ingin diucapkan Elena, ia sedikit kaget dan tubuhnya refleks bergerak, membuat tangan Elena yang bertumpu di bahu Arion jadi lepas.
Elena terkejut, cepat-cepat ia gerakkan tangannya untuk bertumpu di dinding yang berada di belakang Arion. Dahi mereka bersentuhan, wajah mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Arion bisa merasakan napas Elena yang sedikit lebih cepat karena kaget.
Mereka saling pandang dalam jarak sedekat itu. Posisi duduk Arion sedikit menyusut kebawah karena Elena yang berada diatasnya. Elena langsung sadar, ia segera mengangkat kepalanya dari dahi Arion dan duduk kembali di kursinya. Wajah mereka sama-sama memerah.
Elena mendehem, ia pura-pura tenang dengan meminum sirupnya. Padahal, ia sedang tidak bisa berpikir jernih karena hal tadi. Detak jantung berdegup dengan cepat, dan Elena berharap Arion tidak mendengarnya. Elena juga tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, berada sedekat itu dengan seorang lelaki hingga membuat jantungnya hampir copot.
"Maafkan aku, aku terlalu dekat" kata Elena.
"Tidak, itu salahku" ucap Arion.
Setelah itu, suasana menjadi canggung. Tidak ada dari mereka yang ingin mulai bicara. Beberapa saat kemudian, mereka sama-sama berdiri dan saling pandang lagi karena keputusan bangkit dari duduk mereka yang terbilang sama.
__ADS_1
"Aku... ingin menumpang mandi?" tanya Arion.
"T-tentu, kamar mandinya ada di belakang" jawab Elena, mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
"Baiklah" Arion mengangguk dan bergegas ke belakang.
Elena menghela napas lega, ia merasa telah menjalani rintangan berat dalam hidupnya. Selama 17 tahun, Elena belum pernah merasa segugup ini sebelummya.
Ia melirik keluar, disana ada Kenneth yang sedang duduk diatas sumur, memunggungi rumahnya. Elena melangkah keluar dan memanggil Kenneth.
"Hey"
"Apa?" sahut Kenneth dengan ketus.
"Jangan duduk disana, beton sumur itu sudah tua, bisa-bisa kau jatuh ke dalam sumur"
Bukannya merespon dengan baik, Kenneth malah memberi jawaban yang kasar.
"Untuk apa kau memperingatkanku? Jika aku masuk ke dalam sumur, kau tidak perlu repot-repot untuk merampas hartaku, kan?"
"Ya ampun.." Elena menggeleng pelan, lelaki itu memang benar-benar membencinya. Untung perkataan Kenneth tidak ada satupun yang Elena masukkan ke dalam hati.
Tidak lama kemudian, beton sumur itu benar-benar hancur karena beban yang diterima dari Kenneth sangat berat, sehingga Kenneth kehilangan keseimbangan sebelum masuk ke dalam sambil menjerit.
Dengan gesit, Elena mengangkat satu tangannya ke depan, tepat mengarah ke Kenneth. Sejumlah dahan pohon yang ada di sekitar sana bergerak cepat menuju kaki Kenneth lalu melilit disana. Tubuh Kenneth berhenti jatuh, ia ditarik kembali keatas sampai kakinya menginjak tanah lagi.
Kenneth menjadi bingung sendiri, ia menatap dahan-dahan pohon yang seolah mempunyai keinginan untuk bergerak.
"Jangan pasang wajah seperti orang bodoh, itu salah satu kemampuanku" kata Elena.
"Kau.. pengendali tumbuhan?" tanya Kenneth.
Tidak lama kemudian, muncul Arion dari dalam rumah dengan keadaan bertelanjang dada, tubuh bagian bawahnya ditutupi oleh sehelai kain. Badannya masih basah, begitu juga dengan rambutnya.
"Apa? Apa yang terjadi?" tanya Arion. Ia bergegas keluar dan menunda mandinya karena mendengar jeritan Kenneth.
"Astaga.." Elena menutup mulutnya, melihat pemandangan yang jarang ia lihat.
"Woy, pakai bajumu dulu!" seru Kenneth.
***
Kembali ke Rabadar Empire, namun kali ini bukan keluarga istana yang disorot, namun seorang pendatang.
Pria ini telah masuk melewati penjagaan yang ketat dengan mudah, tanpa hambatan sedikitpun. Secara tidak sengaja, ia mendapat sebuah info. Disana, para pendatang saling mengeluh karena sistem masuk ke kota lebih ketat dari sebelumnya.
Mereka menebak bahwa perubahan sistem ini terjadi karena Rabadar Empire tidak ingin kecolongan lagi.
"Arion Whiteblood pernah kemari beberapa hari yang lalu"
"Ya, karena itu Rabadar Empire menerapkan peraturan baru"
Kini, pria itu telah berada di dalam kota besar ini. Tidak ada yang mencurigainya, dalam kota yang penuh penjaga dan mungkin beberapa diantara mereka adalah tipe Sensor, tidak ada yang satupun bisa mengidentifikasinya.
Orang ini adalah Mender Blackclaws, satu dari tiga buronan dunia.
Ia kesini hanya untuk berkunjung dan singgah dari perjalanannya yang panjang dan tanpa henti ini. Ia berniat pergi dari kota setelah energi dan perbekalannya terpenuhi.
__ADS_1
Disaat ia tengah jalan-jalan menelusuri kota, ia melihat seorang bocah laki-laki yang mungkin usianya baru 13 tahun sedang duduk di pinggir jalan sambil bersandar di sebuah pohon. Anak itu nampak sedang tertidur sambil memeluk tongkat kayu yang sepertinya lebih tinggi darinya.
Mender melihat kondisi tubuh anak itu lebih jelas lagi. Anak itu kurus, kekurangan gizi. Rambutnya panjang dan kusut, tidak terurus, begitu juga dengan pakaiannya yang lusuh dan sedikit sobek. Dibalik celananya yang lebar dan panjang hingga lutut, ternyata anak itu tidak memiliki kaki kiri dengan kata lain cacat fisik.
Mender menghampiri bocah itu, ia duduk disampingnya lalu bersandar di pohon yang sama. Merasa ada seseorang disampingnya, anak tersebut membuka matanya lalu menoleh kesampingnya.
"Maaf telah membangunkanmu, aku hanya ingin duduk dan beristirahat disini" Mender lebih dulu berucap.
"Aku tidak tertidur, Tuan. Aku tahu kau akan berjalan kesini dan duduk disini juga, aku mengetahuinya" jawabnya. Ia menjawab dengan tenang tanpa ada rasa takut, berbeda dengan anak sebayanya pada umumnya.
"Oh? Begitu, ya" Mender sedikit tertarik kepada bocah disampingnya.
"Siapa namamu?" tanya Mender.
"Leon, Tuan" jawabnya.
"Nama yang bagus. Dimana tinggalmu?"
"Di pinggir kota"
"Kau mempunyai keluarga?"
"Tidak, aku hidup sendiri sejak kecil"
Mender terdiam sejenak untuk beberapa saat.
"Kau pandai menggunakan Qube?" tanya Mender.
"Lumayan. Aku mampu mengendalikan hewan-hewan disekitarku untuk bergerak sesuai keinginanku sendiri. Aku menggunakannya ketika aku sedang merasa kesepian"
Mender tersenyum, ia telah menemukan bakat yang hebat, mungkin akan bisa mengatasi masalah yang terjadi di benua ini.
"Kau mau kuajari beberapa trik?" tanya Mender.
"Tapi... aku merasa sangat ragu dengan kondisiku saat ini" Leon melirik kearah kakinya.
"Tidak masalah.." Mender tersenyum, ia menepuk paha kiri atas Leon sebanyak dua kali. "Menurutku kau berbakat dan rasanya sia-sia untuk tidak memanfaatkan bakatmu itu" ucap Mender, ia menarik tangannya kembali.
Tidak lama kemudian, Leon merasakan sesuatu menyentuh tanah di bagian yang tidak ia kenali selama ini.
"Apa?!" Leon sangat terkejut melihat kaki kiri yang sangat ia idamkan selama ini. "Kaki?!"
"Kau bisa menggunakannya. Dengan begitu, kau tidak perlu kesulitan menjalani latihan Qube" kata Mender.
Leon masih terkesima. Ia menggerakan kaki kirinya itu, walau gerakkannya masih kaku. Mender bangkit dari duduknya.
"Berdirilah, mulai sekarang kau adalah muridku"
***
Di saat yang bersamaan di sebuah desa kumuh, Brian juga baru mendapatkan seorang murid. Ia mendapatkannya setelah menyelamatkan anak lelaki itu dari siksaan Ayah tirinya.
Brian menuntaskan Ayah bocah itu dengan sekali tebasan pedangnya.
Anak itu berusia 12 tahun. Ia tidak memiliki ekspresi, tatapannya kosong dan tidak memiliki hati. Brian menemukan sesosok yang tepat, apalagi bocah ini pengendali kekuatan unik.
"Berbanggalah, mulai saat ini kau tidak lagi terikat dengan peraturan Ayahmu dan tidak perlu tinggal di tempat kotor ini. Kau akan kubawa pergi dan kulatih kau menjadi orang yang berguna" kata Brian.
__ADS_1
Anak itu hanya menatap dengan tatapan dingin.
"Setelah kau menjadi kuat, akan kuberi kau satu misi. Buru Whiteblood untukku"