The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Akademi Ksatria


__ADS_3

Perjalanan menuju akademi dimulai. Rombongan para calon murid bergerak dari kota Rabadar, perjalanan ini akan menghabiskan waktu tiga hari lamanya dan akan melewati dua bioma.


Thomas berada di barisan paling depan, menuntun dan menjaga mereka. 


Di dalam salah satu kereta kuda, Daendra meregangkan badannya, meletakkan kakinya di kursi yang ada di hadapannya tepat di samping paha Faesa.


Faesa menyikut kaki Daendra, membuat Pangeran cilik itu meringis kesakitan. "Apa masalahmu?!"


"Masalahku kau tidak sopan"


"Kenapa harus kau yang satu kereta denganku? Aku lebih baik satu kereta dengan Arion, sehingga aku bisa menghajarnya"


"Sepertinya kau merindukan Arion" Faesa memutar-mutarkan telunjuknya di depan wajah Daendra.


"Jangan sembarangan!" Daendra menyingkirkan telunjuk Faesa dari hadapannya.


"Tidak perlu berbohong, aku juga merindukannya. Kenapa dia malah memilih kereta di belakang sana?"


"Kalau kau merindukannya, kenapa tidak kau pacari saja dia?"


"Arion adalah adikku"


"Bukan adik kandungmu dan dia juga tidak punya darah keluarga bangsawan Rabadar"


"Baik, bisa kau tutup mulutmu? Aku ingin menikmati alam" Faesa menopang dagunya di jendela.


"Terserah" Daendra memilih tidur.


Pindah ke Arion. Aciel menikmati angin yang berhembus ke wajahnya. Aroma rumput di pagi hari membuatnya tidak pernah bosan.


"Um.. kau Arion, kan?" tanya salah satu bocah di dalam sana.


"Iya"


"Suatu kehormatan bertemu denganmu. Ibuku bilang kau adalah satu-satunya korban yang tersisa di Anvio Village"


DEG! seketika Arion teringat masa lalunya. Wajahnya menjadi sedih dan matanya menatap lantai kereta. Aciel menyadari raut wajah Arion.


"Arion, kau nanti memilih kelas mana?" tanya Aciel, berusaha untuk membuat pikiran Arion kembali tenang.


"Hm ..." ia berpikir. Arion pernah mendengar arahan dari Yaena. Putri itu mengatakan kalau Arion berbakat dalam pedang, ia menyarankan Arion memilih kelas Swordman.


"Swordman" jawabnya. Tapi entah kenapa di dalam hatinya ada keraguan, ia bimbang untuk memilih Swordman atau Mage.


"Begitukah? Hm ... kalau aku lebih menyukai kelas Mage. Ayahku selain seorang petani, ia juga seorang Mage. Kadang ia menggunakan sihirnya untuk membuat padi lebih segar" jawab Aciel.


"Aku penasaran kelas apa yang dipilih oleh Daendra dan Faesa" gumam Arion.


Kelas untuk seorang ksatria dimulai dari akademi. Seorang ksatria harus memilih kelas mereka untuk menentukan seperti apa nasib mereka ke depannya.


Ada sembilan kelas yang tersedia di akademi di seluruh Benua Barat.


Terdiri dari Swordman, Assassin, Archer, Mage, Spartan, Destroyer, Defender, Summoner dan Guardian.


Berjam-jam mereka melakukan perjalanan, akhirnya matahari terbenam di barat, menandakan untuk istirahat. Thomas memerintahkan para prajurit untuk bersiaga dan membangun api unggun.


"Kau tidak mau keluar?" tanya Faesa.


"Tidak, aku di sini saja" jawab Daendra.


Faesa mengangkat kedua bahunya, lalu turun dari kereta kuda. Ia meregangkan badannya, membiarkan angin malam memasuki tubuhnya, sesekali ia mengibaskan ekornya. Ketika sedang asyik memain-mainkan ekornya, secara tidak sengaja ekornya mengenai tubuh seseorang.


"Eh! Maafkan aku" kata Faesa kaget dengan kehadiran orang itu yang tidak lain adalah Aciel.


"Tidak apa ..." hidung Aciel memerah karena bulu dari ekor Faesa masuk ke dalam hidungnya, sehingga ia ingin bersin. Aciel pun bersin, bukan sekali tapi beberapa kali.


"Ya ampun, kau bersin karena aku" Faesa memasang raut wajah bersalah.


"Tidak .. tidak apa. Ini ... mungkin karena udara malam" kata Aciel sebelum kembali bersin. Arion datang menghampiri mereka.


"Arion" kata mereka berdua serentak, mereka saling pandang karena menyebut nama Arion secara bersamaan.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Arion heran.


"Anak ini bersin karena aku" jawab Faesa.


"Tidak. Ini ... karena udara ... malam" Aciel membantah.


"Coba bawa ke dalam kereta. Aciel satu kereta denganku, di kereta 55" saran Arion. Faesa mengangguk setuju, ia pun membawa Aciel kesana.


Arion memperhatikan mereka dari belakang, kemudian pandangannya berpindah ke tempat lain. Ia melihat sebuah hutan tak jauh dari tempat mereka berada.

__ADS_1


"Huh?" Arion mengerutkan dahinya. Ia merasa sudah melihat sepasang mata berwarna emas dari dalam hutan. Arion ingin masuk ke dalam sana, namun lengannya di pegang oleh seseorang.


"Kau mau kemana, Pangeran?" tanya Thomas.


"Ah ..." Arion tidak bisa menjawab, sedetik ia kembali menoleh ke dalam hutan.


"Jangan jauh-jauh dari rombongan. Kau harus beristirahat" kata Thomas.


"Baiklah" Arion menurut dan kembali berjalan menuju keretanya sambil sesekali menengok ke dalam hutan.


Sesampainya di dalam kereta, ia melihat Faesa sedang menemani Aciel.


"Kau bilang karena angin malam, tapi kenapa jendelanya masih dibuka?" tanya Arion. Faesa baru sadar kalau jendela kereta masih terbuka. Arion pun menutup jendela itu lalu duduk disamping Faesa.


Ia menoleh ke kirinya, ada seorang bocah berpenampilan kusut, berambut hitam lebat bahkan menutupi hampir seluruh wajahnya. Ia menutupi badannya dengan sehelai selimut, tampaknya ia sudah tertidur.


Arion tidak ingat ada bocah ini di dalam kereta, tapi ia memakai seragam yang sama dengannya, tanda bahwa ia calon murid akademi.


"Faesa, mulai dari sini biar aku yang menemani Aciel" kata Arion.


"Kau yakin?" tanya Faesa yang dibalas anggukan singkat dari Arion.


"Baiklah..." Faesa bangkit. Ia mencubit pipi Aciel. "Maaf, ya" lalu ia pun pergi dari sana. Aciel memegang pipinya yang baru saja dicubit oleh Faesa.


"Sepertinya dia suka padamu" kata Arion.


"E-eh! T-tidak mungkin! Jangan bercanda!" Pipi Aciel merona malu. Arion tertawa kecil melihat salah tingkahnya temannya itu.


"Sudah, sudah, ayo tidur. Sudah larut" ucap Arion.


Arion mulai tidur begitu juga dengan Aciel. Suasana mulai sepi, jangkrik mulai mengeluarkan suaranya. Prajurit masih berjaga, berkeliling mengintai bahaya. Thomas duduk di pinggir api unggun sambil meminum sedikit anggur.


Bocah misterius ini dari tadi tidak bersuara, sampai ia membuka salah satu matanya yang menampilkan warna emas yang bercahaya.


***


Setelah melakukan perjalanan yang panjang, akhir mereka sampai di Arhav, daerah akademi itu berada.


Seluruh murid melihat keluar jendela, penasaran dengan daerah Arhav. Daerah ini sama seperti kota biasa, hanya saja dipenuhi oleh berbagai ras yang berasal dari kelas Mage.


Daerah ini seperti pusat perdagangan. Banyak sekali pedagang disini, ada juga beberapa akrobat sihir dan hiburan jalanan lainnya.


Lima orang Centaur berjalan sambil memegang kapak besar. Lalu, ada para Elf yang lalu lalang.


"Mereka cantik sekali!" kata Aciel yang terpukau dengan para Elf itu.


"Iya ..." Arion setuju.


Sebuah gerbang besar terbuka ketika rombongan Thomas tiba. Mereka masuk ke dalam. Di dalam ada sebuah komplek yang diisi oleh para murid yang berseragam hitam.


Komplek ini terdiri dari rumah-rumah kecil yang dimana rumah-rumah ini adalah tempat tinggal para murid selagi berada di akademi. Lalu, tidak jauh dari komplek, ada sebuah lapangan luas. Lapangan itu diisi oleh senjata-senjata, beberapa patung jerami, jebakan dan rintangan serta barang-barang yang diperlukan untuk latihan.


Di tengah-tengah komplek ada air mancur dengan patung seekor lumba-lumba diatasnya. Dan yang paling penting adalah gedung akademi yang berbentuk seperti kastil.


Seorang pria sepuh berdiri ditengah-tengah jalan, lebih tepatnya di depan gerbang akademi. Pria itu berpenampilan seperti Mage, dengan jubah besar berwarna abu-abu, janggut putih yang panjang sampai perut, topi kerucut yang besar, memegang tongkat kayu dan wajah yang keriput.


Thomas memberhentikan langkah kudanya di depan pria itu. Ia turun lalu memberi hormat kepadanya.


"Tuan Felim" kata Thomas.


"Thomas" Felim menyapa balik. "Apa ini rombonganmu?"


"Benar, mereka murid tahun ini"


"Baik, suruh mereka turun"


Thomas pun menyuruh seluruh murid untuk turun dari kereta. Aciel langsung menjadi kedinginan karena udara pegunungan. Kebetulan lokasi akademi ada di kaki gunung.


Arion memandangi daerah itu, tetapi ia dikagetkan dengan kemunculan anak misterius yang tidur di kereta yang sama dengannya. Anak itu tidak bergerak hanya saja berdiri di samping Arion secara tiba-tiba.


"Arion!" Faesa melambai ke Arion. Gadis rubah itu berlari menghampirinya, ia mengenggam tangan Arion. "Kau sudah berpisah dari kami, kali ini kau tidak boleh pisah"


"T-tapi ..!" Arion tidak sempat menyelesaikan ucapannya, ia langsung ditarik oleh Faesa berlari ke depan.


"Dari mana aja kau?!" gerutu Daendra. Faesa hanya tersenyum.


Arion melihat Felim dari bawah sampai atas. Sadar ia sedang diperhatikan, Felim memberikan senyuman dari balik kumisnya yang lebat itu.


"Semuanya, berkumpul!" seru Thomas. Seluruh calon murid langsung berkumpul di hadapan Felim dan Thomas.


Felim mengetuk tongkatnya sebanyak satu kali ke tanah.

__ADS_1


"Selamat datang di Akademi Gyrawart, wahai anak-anakku. Kalian datang ke sini untuk menuntut ilmu dan menjadi seorang yang kuat dan bertanggung jawab. Di akademi ini kalian dibanjiri ilmu yang belum kalian pelajari sebelumnya dan disini juga kalian akan menjadi cikal bakal orang-orang penting di masa depan"


"Baik, tanpa banyak basa-basi, kita langsung ke dalam" Felim berbalik lalu melangkah ke dalam kastil. Diikuti oleh Thomas dan para calon murid.


"Wah!" Semuanya berdecak kagum melihat arsitektur kuno yang ada di dalam kastil. Patung-patung ksatria berjejer di dinding dan cahaya lampu menerangi lorong.


Mereka menaiki lantai dua, disana ada ruangan besar. Ada sembilan senjata melayang di tengah-tengah ruangan. Ada juga beberapa murid senior yang berdiri disana. Felim menyuruh seluruh calon murid mengitari kesembilan senjata itu.


"Kesembilan senjata ini merupakan tanda awal kalian masuk ke dalam suatu kelas" kata Felim. Thomas berdiri di luar barisan para murid sambil melipat lengan di dadanya.


"Baik, siapa yang ingin maju duluan?" tanya Felim.


"Aku!" Daendra dengan percaya diri mengangkat tangannya.


"Pangeran Daendra, majulah" Felim tersenyum lalu mundur dua langkah dari kesembilan senjata.


Daendra maju, ia melihat sembilan senjata itu. Daendra sudah menentukan kalau ia memilih Swordman, seperti Ayah dan Pamannya.


Ketika ia hendak memegang pedang itu, tiba-tiba terjadi ledakan energi yang membuat Daendra terhempas dari sana. Ia jatuh di samping kaki Thomas sambil batuk-batuk.


"Ya ampun ..." gumam Thomas sambil menggeleng pelan.


"A-apa yang terjadi?!" tanya Daendra syok.


"Artinya, kelas itu tidak cocok denganmu, tapi kau tetap bisa memilih kelas tersebut. Ledakan tadi hanya tanda saja" jawab Felim.


Seluruh calon murid meneguk ludah mereka masing-masing.


"Apa kau masih tetap ingin memilihnya?" tanya Felim.


"Iya" jawab Daendra sambil bangkit.


"Baik, kau sudah bisa bergabung dengan seniormu di kelas Swordman"


Daendra pun berjalan menuju kelompoknya.


"Siapa lagi?" tanya Felim sambil tersenyum.


Faesa maju, melihat kesembilan senjata. Ia memilih senjata gada yang mewakilkan kelas Destroyer. Cukup aneh untuk seorang gadis kecil memilih kelas tersebut, tapi ini Faesa, seorang gadis rubah berkekuatan besar. Arion dan Daendra sudah tidak heran.


Faesa menutup matanya, khawatir akan terjadi ledakan yang sama seperti Daendra. Namun beberapa detik kemudian, tidak terjadi apa-apa.


"Ya!" kata Faesa, kegirangan.


"Putri Faesa, silahkan bergabung dengan seniormu"


Setelah Faesa, Aciel memain-mainkan jarinya. Itu kebiasaannya ketika gugup.


"Ada apa, Aciel?" tanya Arion.


"Aku ... gugup"


"Tidak apa, kau bisa mengatasinya" Arion mengelus punggung Aciel. "Kau bisa maju duluan" lanjutnya.


Aciel menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya. "Baik, aku pasti bisa" katanya. Tetapi, ketika ia hendak maju, seorang murid langsung mendahuluinya. Dia adalah bocah misterius di kereta tadi.


Tanpa ragu, ia memilih sebuah pisau yang mewakili kelas Assassin. Felim mengangkat kedua alisnya.


"Ooh, tentu saja. Baik, silahkan bergabung dengan seniormu"


Anak itu langsung jalan menuju kelompoknya. Arion memerhatikan bocah itu cukup lama.


Aciel maju. Ia memilih sebuah tongkat yang mewakili kelas Mage. Sedikit terjadi cahaya, namun hanya sebentar dan tidak menimbulkan ledakan. Dengan napas lega, Aciel berjalan menuju kelompoknya.


Arion pun akhirnya maju, ia melihat sebuah pedang yang mewakilkan Swordman. Felim mengangkat kedua alisnya lagi. Ketika tangannya hendak menggapai pedang itu, sebuah cahaya tiba-tiba menerangi ruangan membuat mereka yang ada di dalam menjadi silau. Dua detik kemudian, Arion terseret ke belakang, tapi ia tetap berdiri.


Memang tidak terjadi ledakan, namun tetap membuat kaget.


"Apa yang terjadi?!"


"Kenapa silau?!"


Arion sendiri juga bingung. Felim mengetuk tongkatnya ke lantai. "Tenang semua, ini adalah hal yang biasa. Anakku, kau tidak perlu khawatir. Tanda tadi adalah ada dua kelas yang cocok denganmu, salah satunya Swordman. Terjadi ledakan energi karena kelas satunya cemburu dengan kelas Swordman"


Arion menoleh ke tongkat. "Kelas Mage" ucapnya.


"Tepat sekali. Sekarang, kau boleh bergabung dengan seniormu" ucap Felim. Arion mengangguk, ia berjalan menuju kelompok Swordman.


"Ah, bagus. Sekarang aku harus satu kelas dengannya. Awas saja kalau aku sekamar dengannya" gerutu Daendra.


Arion sesekali memerhatikan tongkat Mage. Ternyata selama ini memang benar ia mempunyai ikatan dengan kelas Mage.

__ADS_1


__ADS_2