The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Egrit Village


__ADS_3

Di bagian paling terdalam di hutan Ovaio, sinar matahari tidak bisa tembus memasuki hutan. Jarak antara hutan itu dan desa Egrit berkisar 3 kilometer, di sana bersarang makhluk-makhluk berpenampilan jelek dan buas.


Suasana hutan itu makin suram ketika seorang berjubah hitam dengan tongkat berjalan disana. Ia memerhatikan keadaan sekitar, beberapa Goblin jelas memandang kearahnya sebelum mereka bersembunyi.


Orang itu menghentakan tongkatnya ke tanah, menyebabkan getaran di hutan itu. Seorang Goblin bermata putih menghampirinya dengan berjalan membungkuk.


"Tuan Retian, aku sungguh tersanjung kau datang" kata Goblin itu.


"Apa kalian sudah mendapatkan keturunan Naga itu?" tanya Retian.


"Maafkan kami, Tuan ... kami belum bisa menemukannya, ia sangat sulit untuk dilacak"


"Dan ..." Retian menoleh ke kirinya, ada sebuah rumah di sana. "Gantinya kalian mencuri para gadis dan anak-anak untuk dimakan"


"Kami butuh nutrisi, Tuan. Darah dan daging dari para gadis dan anak-anak desa itu sangat bergizi untuk aliran Qube kami"


Retian memukul Goblin itu dengan tongkatnya. "Aku tidak mau tahu! Atau kalian ingin merasakan kemurkaan dari Dark Lord"


"A-aku paham, Tuan. Akan kami usahakan" ucapnya sambil memegang kepalanya. Retian berbalik dan pergi darisana.


***


"Kemana saja kau?"


Daendra menatap Arion dengan dingin dari atas kudanya. Seluruh anggota kelompok 5 sudah siap untuk berangkat begitu juga dengan kelompok lain.


Arion mengacuhkan ucapan Daendra, ia langsung naik ke atas kudanya. Pedang sudah tersarung di pinggangnya, tas perlengkapan sudah ia gandeng di punggung.


Daendra sibuk memasang sapu tangan hitamnya. "Dengar, ini ekspedisi pertama kita. Aku tidak ingin salah satu dari kalian akan merepotkan kita, jika itu masalah kalian, selesaikan sendiri"


"Apa-apaan itu?" salah satu anggota protes.


Daendra menatap tajam padanya. "Kau mau protes?"


"T-tidak" terpaksa anggota itu mematuhinya, ia takut dengan Daendra. Anggota lain hanya bisa mengumpat dalam hati, kecuali Arion.


"Cih" Daendra kembali menatap ke depan, Arion memajukan kudanya menghampiri Daendra.


"Kau terlalu berlebihan. Kita sesama anggota harus saling menolong" kata Arion.


"Diamlah, aku tahu apa yang aku perbuat. Ini demi kebaikan bersama, apa kau pikir aku terlalu tegas? Jika iya, maka kau benar. Aku tidak boleh lembek sepertimu, aku adalah Pangeran Mahkota" jawab Daendra.


Arion diam menatap Daendra. Daendra menatap sedetik ke belakang melalui bahunya. "Hanya kau yang bisa kuajak bicara, yang lain tidak terlalu berguna" bisik Daendra.


Arion mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Desa yang kita tuju ini, kau tahu sejarahnya?" tanya Daendra, kali ini ia terlihat serius.


"Tidak"


"Awalnya desa itu tempat tinggalnya bangsa para Naga sebelum perang besar ribuan tahun yang lalu. Desa itu kononnya tempat persembunyian mereka dari para Giant yang ingin meminum darah para Naga ini"


"Khasiatnya apa?"


"Yang kutahu, darah Naga bisa membuatmu kebal. Walaupun kekuatannya kurang dari darah Unicorn, tapi darah mereka tetap mengagumkan"


Arion mengangguk pelan, memahami perkataan Daendra.


"Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat berita kalau desa itu masih menyembunyikan keturunan bangsa para Naga. Kita harus berhati-hati, kalau misalnya Naga ini memang benar-benar ada"


Tidak lama kemudian, lonceng pertanda dimulainya ujian terakhir berbunyi. Gerbang kota dibuka, seluruh masyarakat beramai-ramai melihat keberangkatan mereka.

__ADS_1


Instruktur Centaur berdiri di hadapan seluruh kelompok.


"Perhatian! Hari ini kalian melaksanakan ujian terakhir. Aku hanya berharap kalian semua kembali dengan selamat dan membawa berita baik"


Instruktur itu mengangkat tangan kanannya keatas. "Berjuanglah! Kalian Pahlawan Masa Depan!"


Seluruh murid tahun terakhir berangkat dengan memacu kuda mereka masing, keluar dari kota. Daendra memimpin kelompok 5, sedangkan Eden memimpin kelompok 7.


Saat melewati jembatan, mereka mulai berpisah menuju titik tujuan mereka masing-masing. Arion menoleh ke kelompok 7. Eden mengangguk padanya sekali sebelum berbelok ke kanan, Faesa dan Aciel tersenyum seraya melambai.


"Cewek itu, ... kuharap tidak membuat kekacauan" gumam Daendra.


Beberapa jam setelah berpisah dengan kelompok lainnya, kelompok 5 mulai memasuki Bioma Tundra, daerah bersalju. Di sana mereka sempat bertemu dengan beberapa Tundra Monster yang kebanyakan berbentuk seperti kera raksasa. Arion dan Daendra bisa mengatasi sebagian besar dari mereka.


Mereka juga bertemu dengan beberapa perampok. Mereka juga berhasil mengatasinya dengan mudah, karena perampok-perampok itu tidak menggunakan Qube.


Mereka pun keluar dari bioma Tundra pada malam hari. Mereka beristirahat di sebuah hutan pinus.


"Kapan kau mencarikan Ayah untuk Azio?" ledek Daendra sambil membersihkan pedangnya.


"Diamlah" Arion melempar kain kotor ke wajah Daendra.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka menempuh padang pasir yang luas, di sana mereka hampir kehabisan air untuk diminum. Element Arion juga tidak bisa digunakan untuk penyejuk.


Setelah di padang pasir, mereka harus mendaki pegunungan dengan kuda. Di atas pegunungan, ada sedikit hambatan. Ada jurang yang memisahkan, untungnya di antara mereka ada pengguna Element Tanah, sehingga bisa menciptakan jembatan untuk mereka lalui.


Mereka pun turun dan akhirnya mereka sampai di tujuan setelah berhari-hari lamanya. Ada papan kecil diluar desa, bertuliskan desa Egrit .


"Akhirnya kita sampai" kata Arion. Mereka bersama-sama masuk ke dalam desa. Desa ini sama seperti desa lain, tenang dan normal, penduduknya juga terlihat damai. Ada yang berdagang, berkebun dan lain-lain.


"Desa ini seperti tidak tertimpa apa-apa" ucap salah satu anggota.


"Ayolah, kita cari penginapan" ajak Arion.


"Dasar! Kalian membuat pakaianku kotor!" bentak Daendra. Kedua anak itu menjadi semakin takut dan ingin menangis.


"Daendra, tenanglah. Mereka tidak sengaja" Arion mencoba menenangkan, tapi Daendra tetap tidak terima. Masyarakat disana memperhatikan mereka.


"Kalian anak-anak kotor! Kalian harus tanggung jawab atau ..." ucapan Daendra terhenti ketika suara seseorang memotong ucapannya.


"Maafkan adik-adikku, Tuan" seorang gadis datang berlari menghampiri mereka. Gadis itu memakai topi jerami dan membawa bakul yang diisi daun teh.


Anggota kelompok 5 menganga ketika melihat gadis itu, Arion juga agak terpukau dengannya. Gadis itu sangat cantik, ia berkulit putih bersih, berambut hitam diikat menggantung dibahu, tubuhnya langsing dan mempunyai mata yang indah.


"Cantik sekali ..." gumam Daendra, keceplosan. Arion yang tidak sengaja mendengarnya agak kaget.


Daendra segera menggeleng dan kembali ke sifat arogannya. "Kau kakaknya, ya? Kenapa tidak kau perhatikan dengan baik? Lihat apa yang mereka perbuat" Daendra memperlihatkan pakaiannya yang kotor akibat kedua bocah itu.


"Aku sungguh menyesal, Tuan. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahan adik-adikku" ia membungkuk memohon.


"Aku tidak mau tahu! Bersihkan pakaianku" katanya. Anggota lain hanya menggeleng pelan dan menatap iba gadis itu. Arion segera mendekat ke Daendra. "Kau tega sekali" bisiknya.


"Ck! Diamlah" Daendra mendorong Arion dengan lengannya secara perlahan.


"Aku akan menemani Daendra, kalian pergilah cari penginapan, kami akan menyusul" ucap Arion. Mereka menurut lalu pergi dari sana.


"Mari, Tuan-Tuan. Aku akan mengantar kalian ke rumahku" kata gadis itu. Kedua adiknya dari tadi terus menatap Daendra, membuat lelaki itu sedikit risih namun tidak mau protes.


Mereka sampai di sebuah rumah kayu yang sederhana di tepi tebing. Tepat di bibir tebing, ada kebun kecil.


"Kau mempunyai kebun, ya" kata Arion.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Itu kebun satu-satunya milik keluarga kami" jawab gadis itu.


Daendra ikut melihat kebun itu. Ukurannya memang sangat kecil, tapi banyak berbuah.


Gadis itu masuk ke dalam rumahnya, diikuti oleh kedua adiknya dan Daendra serta Arion. Kondisi di dalam rumah terlihat kecil dan sederhana, hanya ada dua kursi kayu dan satu meja, lantainya dilapisi tikar. Arion melihat ke dalam, ada dapur kecil dan ada satu ruangan di dalamnya, sepertinya itu kamar.


"Di mana orang tuamu?" tanya Daendra.


"Orang tuaku sudah meninggal 5 tahun yang lalu akibat serangan para bandit" jawabnya.


"Kami turut berduka" kata Arion.


"Tidak apa, Tuan.. menurutku itu sudah takdir. Mereka meninggal karena melindungi kami" gadis itu tersenyum untuk menyembunyikan rasa sedihnya.


Daendra terdiam sejenak melihat senyuman itu.


"Umm ... Tuan? Pakaiannya?" kata gadis tersebut, membuat lamunan Daendra buyar.


"Oh, baik" Daendra pun melepaskan pakaiannya. Gadis itu sedikit malu dan tidak melihat tubuh Daendra, ia pun mengambil pakaian lelaki itu.


"Aku akan mencucinya. Mohon tunggu sebentar" ia pergi ke belakang. Tinggalah Arion dan Daendra disana.


"Padahal kau bisa memintaku untuk mencucinya" kata Arion yang berdiri bersandar di dinding.


"Oh, jadi kau sudah terbiasa menjadi bocah bersih-bersih?" tanya Daendra sambil menaikan sebelah alisnya.


"Hmph! Aku tahu tatapan itu, kau licik juga, ya" Arion tersenyum tipis.


"Apa maksudmu?"


"Jangan kira aku lugu dan polos, aku tidak seperti dulu lagi. Aku sudah banyak belajar enam tahun ini dan aku selalu di sampingmu, aku sudah tahu tingkah dan sifatmu"


"Aku tidak paham dengan ucapan bodohmu" Daendra mengalihkan pandangannya ke luar.


"Kau menyukainya"


Daendra tersedak napasnya sendiri, ia sangat terkejut mendengar Arion mengatakan itu.


"Apa?! Kau gila?!" Ia berkata dengan berbisik. "Mana mungkin aku menyukai gadis dari kalangan orang-orang biasa, harga diriku bisa hancur nanti"


"Harga diri bisa terlupakan kalau sudah mengenal kata cinta" kata Arion dengan sedikit tawa.


"Astaga, dari siapa kau belajar itu?"


"Faesa"


"Pantas saja"


"Mengaku saja. Tatapanmu itu sangat jelas" Arion kembali menggoda Daendra. Menurutnya ini kesempatan yang cocok karena Daendra terus mengejeknya.


"Arion" ucap Daendra, ia melotot menghadap keluar.


"Apa?" Arion juga melihat keluar, ia ikut melotot.


Di luar sana, ada seekor makhluk hitam, setinggi 3 meter, bermata merah, berdiri dengan dua kaki dan mempunyai tangan yang panjang dengan cakar. Makhluk itu tidak mempunyai ekor atau bulu, makhluk tersebut botak.


Makhluk itu sedang memangsa seorang manusia dan tengah melahapnya di tanah. Arion dan Daendra berjalan mundur secara perlahan menjauhi pintu. Mereka sama-sama pucat dan tidak ada dari mereka yang bisa bernapas normal.


"Hell ..." gumam Daendra.


"Beast ..." kata Arion.

__ADS_1


Hell Beast. Baru hari pertama mereka di sini, mereka sudah bertemu dengan makhluk mitos itu.


__ADS_2