
Sebuah rombongan pasukan dari Rabadar Empire bergerak dengan kecepatan normal. Rombongan itu dipimpin oleh Reilo, adik dari Klein.
Disaat mereka sedang bergerak menuju arah Arion berada yang jaraknya masih cukup jauh dengan lokasi mereka saat ini, seorang prajurit menghampiri Reilo, ia bertanya sesuatu kepadanya.
"Pangeran, maaf saya mengganggu, tapi saya ingin menanyakan sesuatu.."
"Apa itu?" Reilo bertanya balik.
"Kami dari tadi bertanya-tanya tentang Pangeran Klein yang tidak kunjung tiba. Kenapa ia tidak berangkat bersama kita?"
Reilo tertawa pelan sebelum menjawab pertanyaan prajurit itu.
"Dia sudah tiba, mungkin sudah sampai di lokasi Whiteblood itu"
"Tidak mungkin.." prajurit itu terkejut dengan mulut setengah menganga.
"Iya, dia cepat. Sebenarnya, ia tidak memerlukan kita, jika beruntung, Klein akan membawa Whiteblood itu hidup-hidup. Ketika Klein telah menandai orang itu, maka sulit untuknya kabur dari sasaran Klein"
***
Klein terhempas setelah menerima pukulan dari auman Foma. Ia mendarat dengan kedua kakinya serta pedang yang tertancap di tanah dengan tujuan menahan tubuhnya agar tidak mendarat terlalu jauh.
Ia kaget dengan kekuatan yang dimiliki Foma, terlepas dari parasnya yang aneh, nyatanya Foma memiliki kekuatan melebihi dua puluh pria dewasa.
Melihat kesempatan itu, Arion mencabut jarum tersebut dari bahu Kenneth dan membantu lekaki itu untuk berdiri.
"Kau masih bisa berjalan?" tanya Arion.
"Tentu saja" jawab Kenneth.
Arion menyuruh Kenneth untuk membawa Foma. Kenneth segera berlari ke kudanya sambil menggendong Foma.
"Pria ini kuat, pasti suruhan Dominick" ucap Arion. Ia berjalan mundur, setara dengan posisi Elena dan Hell Beast-nya.
"Kaburpun percuma, harus ada yang menahannya disini" lanjutnya.
"Coba kita tahan dia dengan pohon-pohon disini" usul Elena. Tanpa panjang lebar, Elena mengendalikan pohon-pohon disekitarnya.
Tumbuhan-tumbuhan itu menyerang Klein. Arion meneliti gerakan Klein yang cepat dan tangkas, gerakannya sama sekali tidak ada celahnya.
Arion memegang pundak Elena. Elena yang sedikit kaget segera menoleh ke Arion.
"Lepaskan kendalimu" ucap Arion.
"Apa? Kau serius?" Elena melotot ke Arion.
"Ya, aku ingin berbicara dengannya" Arion mengangguk.
Dengan berat hati, Elena pun menuruti perkataan Arion. Pepohonan disana segera berhenti, Klein menjadi heran. Ia melihat Arion yang berdiri tegak sambil menatapnya.
"Ada apa, Whiteblood? Kau tidak ingin menyerangku?" tanya Klein dengan tegas.
__ADS_1
"Siapa kau? Ada urusan apa kau denganku, hingga kau ingin menangkapku?" Arion berbalik bertanya.
Klein tersenyum sinis lalu tertawa. "Bukannya sudah jelas? Kau itu buronan, dan aku harus menangkapmu"
Klein tersenyum lebih lebar. "Kalau kau ingin tahu siapa aku, lawan aku satu lawan satu, bagaimana?"
Elena menjadi cemas. "Jangan, pikirkan itu baik-baik. Pria itu kuat" bujuknya.
Arion melangkah ke depan. Ia mengacungkan pedangnya ke depan. "Baik, aku terima"
"Payah" gumam Elena.
"Begitulah dirinya" sahut Kenneth dari belakang.
Klein melesat cepat menuju Arion. Arion menebaskan pedangnya ke depan, sedetik kemudian pedang mereka berdua bertemu hingga menimbulkan suara dan ledakan angin yang cukup besar.
Mereka mulai bertarung. Pertarungan satu lawan satu, gesit dan cepat serta mampu menggetarkan tanah. Mereka bertarung dalam kecepatan yang tidak normal. Elena terpana oleh pertarungan kedua lelaki itu.
Klein tampak menikmatinya. Dengan lihainya, Klein menangkis seluruh serangan yang datang. Matanya mampu membaca seluruh arah pedang Arion. Pedang Arion terhunus ke perutnya, Klein langsung memukul pedang itu hingga terlepas dari genggaman Arion.
Arion melihat jatuhnya pedang dari genggaman yang ia yakin sudah menggenggamnya dengan begitu erat. Ditengah keterkejutannya, Klein menyikut wajah Arion hingga terhempas beberapa meter kebelakang.
Elena berlari menghampiri Arion yang sedang terbaring di tanah. Ia membantu Arion untuk bangkit kembali. Darah segar keluar dari hidung Arion.
"Dia... membaca seluruh pergerakkanku" ucap Arion, sambil menyeka darah dari hidungnya itu.
"Sudah kubilang, kan?" kata Elena.
"Rasakan ini" Klein tersenyum miring, iapun melesatkan serangannya itu kearah mereka.
"High Art - Wood Defense!"
Elena mengibaskan tangannya, sejumlah dahan kuat segera melindungi mereka dari lesatan jarum-jarum itu. Ditengah-tengah itu, Klein mendadak muncul dari belakang mereka dengan pedang yang siap ditebaskan.
"Qube Art - Ice Shield!"
Arion mengeluarkan perisai esnya, Klein tetab menebas, namun yang ia kenai hanyalah perisai es Arion, tetapi kekuatannya besar hingga mampu memukul Arion dan Elena kebelakang akibat tekanan angin yang diciptakan pedangnya. Arion dan Elena terlempar ke udara dan sama-sama mendarat di tanah dengan keras.
"Sial.." gumam Arion. Ia menoleh ke Elena disampingnya yang sedang bergetar menahan rasa sakit.
"Rasanya.. mustahil untuk kabur darinya" ucap Elena, lirih.
Klein kembali bergerak, sepertinya ia tidak akan memberikan Arion untuk bergerak bebas.
"Cih.." Arion mengerutkan dahinya lebih dalam. "Caith!" Arion berteriak sambil menggoreskan pedang ke tangannya sendiri.
"ROOAAARRR!!!"
Auman terdengar menggelegar setelah Arion memanggil Caith. Ia muncul dari bawah tanah dalam mode raksasanya, dan berdiri melindungi Arion. Caith menatap tajam ke Klein sambil menunjukkan puluhan gigi tajamnya.
"Wah... kau Summoner?" tanya Elena, kaget sekaligus kagum.
__ADS_1
"Aku lebih dari itu" jawab Arion.
Klein segera berhenti, melihat sesosok monster besar dihadapannya.
"Dasar, kau menyusahkanku saja" kata Caith.
"Aku minta tolong" dengus Arion, ia paling malas memanggil Caith jika tidak dalam keadaan terdesak.
"Ternyata Whiteblood ini lebih menarik dari yang kukira" batin Klein.
Tanpa aba-aba, Caith langsung menyerang Klein. Ia meletakkan cakarnya diatas udara, lalu menghentakkannya ke tempat Klein berdiri. Bumi menjadi bergetar karenanya.
Caith mengangkat kembali kakinya, ia sedikit terkejut karena tidak menemukan Klein disana. Tetapi, ia merasakan ada yang datang dari arah barat.
Sambil mengaum, Caith melayangkan cakarnya kearah barat. Disana ada Klein yang sedang bertengger diatas pohon, ia segera menghindar dari cakar Caith yang juga mengeluarkan element angin yang sangat kuat.
"Thunder Release - Thunder Spear!"
Dua kilatan petir bergerak cepat menuju Caith. Kucing itu tidak bisa menghindarinya, alhasil kedua kilatan petir itu berhasil menyambar tubuhnya. Caith mengerang keras, dua sambaran petir itu sangat menyakitkan baginya, terlebih lagi kedua sambaran itu menghentikan aliran Qubenya untuk sementara.
Caith tumbang, sementara itu Arion dan Kenneth serentak menunjukkan raut wajah terkejut.
"Caith tumbang? Tidak mungkin.." kata Kenneth dengan mulut menganga.
Klein mendarat diatas tubuh Caith, lalu memandangi Arion dari sana. Arion sendiri sudah tidak bisa apa-apa disana, ia terdiam kaku sambil menatap kearah Klein.
"Whiteblood, sejauh ini kau berhasil membuatku sedikit terkesan" kata Klein. Perkataannya membuat mereka bertiga berada dibawah tekanan yang mengerikan.
"Tetapi.. kau masih lemah, kau berada di bawah. Dengan begini, kau akan langsung tertangkap dengan mudah" lanjutnya.
Angin berhembus cukup kuat untuk sejenak.
"Dengan statusmu sebagai Whiteblood terakhir, kau sama saja dengan tamat" Klein menyengir.
"Pangeran Klein, kau menyimpulkannya terlalu cepat"
Suara pria yang tiba-tiba terdengar membuat keempatnya mengejang, terkejut.
Tanah jalanan yang berada di depan Kenneth perlahan menaik dan mulai membentuk seperti manusia. Tanah itu mengeras dan retak, lalu pecah hingga memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan pembawaan yang berwibawa.
Arion melebarkan matanya melihat pria itu. Pria tersebut tersenyum tipis dibalik kumisnya, ia melipat tangan kekarnya di dada.
"Oh? Anda rupanya.." Klein tersenyum miring.
Kenneth dapat merasakan aura yang berbeda dari pria yang sedang berdiri membelakanginya ini.
Elena merasakan hal yang sama. Hell Beast-nya kembali kesisinya. Elena melirik ke Arion yang masih menatap kearah pria yang muncul tiba-tiba itu.
"Sungguh kedatangan yang mengejutkan. Mantan Raja Rabadar Kingdom, Hanza Gareins"
Klein membungkuk sedikit, ia jelas tidak menghargai kedatangan Hanza. Klein tetap tersenyum sinis dibalik penghormatannya yang palsu itu.
__ADS_1