
Arion terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara kuda dari luar rumah. Ia bangkit dari posisi baringnya dan menoleh ke jendela.
Di luar rumah, Elena sedang memberi makan seekor kuda dengan sebuah apel. Kuda memakannya dengan lahap, Elena mengelusnya dengan lembut.
"Kau sudah bangun, ya" Elena menyadari Arion yang sedang berdiri bersandar di ambang pintu.
"Mereka itu kuda kami?" tanya Arion sambil menghampiri Elena.
"Ya, kurasa begitu" jawab Elena.
Arion turut mengelus kuda coklat itu, ia melirik ke kuda satunya yang sedang makan rumput. "Itu kuda Ken" batinnya, ia segera mengenali kudanya Kenneth setelah melihat sikap kuda itu yang acuh tak acuh.
"Oh iya, satu lagi" Elena mengangkat seekor hewan aneh yang Arion sangat kenali. "Hewan ini datang bersama kudamu. Ia bersikap manja padaku"
"Foma!" Arion senang melihat hewan itu lagi. Foma sempat menghilang ketika mereka menuju Rabadar Empire, disana Arion sempat kepanikan namun ia juga tidak bisa berfokus kepada Foma. Karena terburu-buru, Arion tidak lagi kepikiran terhadap Foma.
Arion menggendong Foma diatas kedua lengannya. Rubah itu menjilati wajah Arion layaknya anak anjing. Elena tersenyum tipis memandangi mereka berdua.
Setelah puas bertemu dengan Foma, Arion melepaskannya dan membiarkan Foma bermain dengan kudanya.
"Mana temanmu?" tanya Elena.
"Dia masih tidur" jawab Arion yang tetap memperhatikan Foma.
"Arion, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Elena.
"Hm?" Arion menaikan alisnya, menoleh ke Elena.
"Apa benar... maaf, ini hanya tebakanku saja, apa benar kau.. Whiteblood yang sedang dicari itu?" Elena bertanya dengan ragu.
Arion tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Elena diam, membuat gadis itu menjadi malu dan canggung sendiri.
"K-kalau kau.. tidak ingin menjawab, tidak apa. Aku tidak memaksa" Elena memalingkan wajahnya.
"Iya, aku seorang Whiteblood" ucap Arion tiba-tiba, setelah diam sejenak. Elena kembali menoleh dengan wajah sedikit terkejut.
"Begitu, ya.." pandangan Elena tertuju pada Foma, Arion ikut memandangi hewan itu. Perlahan, Elena melirik ke wajah Arion yang dipapari cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah pepohonan.
"Dia tampan.." batin Elena, pipinya kembali merona.
"Apa kau akan menangkap dan menyerahkanku untuk mendapatkan sejumlah uang?" Pertanyaan tiba-tiba dari Arion membuat tubuh Elena mengejang.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" tanya Elena.
"Aku hanya tidak ingin kehilangan kepercayaan lagi. Aku telah salah mempercayai dua orang dan kini mereka menjadi musuhku..." Arion menunduk sejenak, lalu kembali menoleh ke Elena. "Aku tidak ingin orang ketiga yang aku percayai menjadi berkhianat kepadaku"
Elena terdiam mendengar semua itu. Ia dapat mendengar dari nada suara Arion yang penuh dengan kekesalan dan kecemasan. Elena dapat membaca itu, ia merasakan apa yang Arion rasakan saat ini. Elena cukup peka terhadap perasaan seseorang disekitarnya.
Elena menggenggam tangan Arion dengan kedua tangannya. Ia menatap lekat kearah kedua mata biru Arion. Mata cerah itu, mata yang membuat ia pesona terhadap lelaki yang ada di depannya saat ini.
"Kau pasti telah menjalani perjalanan yang sangat berat. Aku paham yang kau rasakan, disaat orang-orang yang kau percayai mulai menjauhimu, aku juga pernah merasakannya, persis seperti dirimu yang sekarang" kata Elena.
"Dikhianati memanglah sangat menyakitkan, melebihi luka yang diderita saat bertarung. Tak ada obatnya.. tak ada yang bisa mengobati luka yang telah ditimbulkan olehnya. Tapi... lukanya bisa pulih, tapi hanya kau yang bisa memulihkannya"
Elena mendekatkan dirinya ke tubuh Arion, satu tangannya berpindah menyentuh dada bidang Arion. Ia harus mendongak keatas untuk menatap wajah lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Elena. "Kenapa kau memilih untuk mempercayaiku?"
"Karena..." Arion menjeda kalimatnya sejenak. Ia mengambil kacamata itu dari wajah Elena. "Karena kau mirip dengan saudariku, Faesa"
Untuk beberapa saat mereka tidak ada yang saling berbicara, mereka tetap dalam posisi sedekat itu, sampai...
"Sial.."
__ADS_1
Suara Kenneth mengagetkan mereka, Elena langsung menjauh, wajahnya sudah merah padam, apalagi Arion.
"Hari masih pagi dan kalian sibuk bermesraan disana.." kata Kenneth sambil meneguk kopinya, ia berdiri bersandar di pintu. "Baru kemarin kalian berkenalan, tapi sudah bertingkah seperti pasangan saja"
Arion dan Elena tidak ada yang ingin membantah kata Kenneth karena masih syok.
Kenneth melirik ke kudanya, emosinya kembali memuncak. "Kau yang disana!" tunjuknya kearah kuda itu. "Kemarin kau seenaknya, ya? Sekarang aku sedang lapar, bagaimana kalau sate kuda? Entah apa rasanya, yang penting makan"
Kuda itu tidak menunjukkan reaksi apapun, ia tetap makan dan mengibaskan ekornya. Hal itu membuat Kenneth tambah kesal, tapi kekesalannya itu menjadi hilang karena melihat Foma berlarian menghampirinya.
"Foma!" teriaknya, ia segera duduk untuk menyambut Foma. Kenneth menangkap Foma yang berlari kearahnya.
"Astaga, kau kemana saja?" Kenneth dengan asyik mengelus rambut Foma yang lembut. "Aku kira kau menghilang dan diterkam oleh hewan lain"
Lalu, mendadak ekspresi Kenneth menjadi datar, ia pun bingung sendiri. "Tidak, kurasa tidak mungkin kau akan mati oleh hewan lain, kecuali hewan itu mempunyai kekuatan yang lebih besar darimu"
Kenneth kembali bangkit sambil menggendong Foma. Ia menatap kedua orang yang sedang dalam posisi canggung. Kenneth melihat Arion memegangi kacamata Elena.
"Oh, kalian tadi... maaf aku sudah mengganggu, kalian boleh lanjutkan, aku akan masuk ke dalam" ucap Kenneth. Ia bersenandung sambil masuk ke dalam rumah.
Arion menggeleng pelan. Tiba-tiba, wajah Elena menjadi tambah syok. Arion menyadari itu dan ia bertanya.
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang masuk ke dalam hutan" jawab Elena.
Kenneth kembali keluar setelah mendengar jawaban Elena. "Siapa?" tanyanya.
"Entahlah, tapi dari auranya, orang ini berbahaya" Elena menggeleng.
"Apa hutan ini tidak bisa membuatku kembali mendapatkan Qubeku lagi?" tanya Arion.
"Tidak, hutan ini telah kutandai dan tidak bisa kutarik lagi segelnya" Elena menampilkan raut wajah yang cemas.
"Kalau begitu, kita harus keluar dari hutan ini" kata Arion.
"Tidak, tidak ada satupun dari kita yang akan tinggal" ucap Arion dengan tegas.
"Tapi, bagaimana? Kita hanya punya dua kuda" sahut Kenneth.
"Aku punya kendaraanku sendiri" jawab Elena. Tidak lama kemudian, Hell Beast datang dari atas dan mendarat dengan keras di samping Elena.
"Iiih, si kurus!" jerit Kenneth.
"Sembarangan, dia ini kuatnya melebihi 10 orang dewasa" bela Elena.
"Kita harus pergi sekarang!" kata Arion.
Di sisi lain, Klein sudah berada di dalam hutan dengan mengendarai kudanya. Lelaki itu sudah sampai lebih dulu daripada Reilo dan prajurit istana.
Ia mengendarai kudanya dengan kecepatan tinggi. Ia berfirasat ada sesuatu di depannya. Tidak butuh waktu lama, Klein langsung bertemu dengan Arion dan kedua temannya. Ia menunjukkan raut wajah terkejut karena tidak menyangka langsung bertemu dengan Arion disini.
Arion juga terkejut melihat Klein sampai lebih cepat, padahal Elena bilang ia baru saja masuk ke dalam hutan.
"Whiteblood!" serunya.
"Cepat!" teriak Arion.
Kenneth langsung memacu kudanya sambil membawa Foma di tasnya. Elena duduk di punggung Hell Beast-nya yang berlari dengan kedua tangan dan kakinya. Arion turut bergerak cepat.
"Jangan kabur kau!"
Klein mempercepat laju kudanya, ia hampir menggapai Arion. Klein segera menarik pedangnya dan hendak menghunuskannya ke tubuh Arion.
__ADS_1
"Menjauhlah darinya!" seru Elena. Ia menggunakan tumbuhan disekitarnya untuk menyerang Klein. Melihat ada gangguan, Klein terpaksa menyingkirkan dahan-dahan pohon yang mengganggu itu terlebih dahulu dan hal tersebut memberikan Arion dan kedua temannya jarak darinya.
"Bunuh dia!" teriak Kenneth.
Satu dahan pohon melilit di leher Klein. Lelaki itu kesulitan untuk bernapas, wajahnya pun membiru.
Arion terus melihat kebelakang seiring ia menjauhi Klein. Kenneth dan Elena tersenyum puas, mereka seperti psycho yang sangat bergairah ketika sedang membunuh korbannya.
Namun, senyuman itu segera hilang dari wajah mereka, setelah melihat tubuh Klein meleleh dan encer menjadi lumpur, begitupun kudanya.
"Apa yang-?!" Kenneth sangat terkejut.
"Itu hanya kloning!" seru Arion.
"Tidak mungkin, hutan ini membatasi kemampuan Qubenya!" jerit Elena.
Arion merasakan ada yang datang dari arah kiri dan kanan mereka.
"Ken!"
"Aku paham!" jawab Kenneth. Ia langsung mengeluarkan pedangnya.
Sedetik kemudian, enam jarum sepanjang tiga sentimeter dan dengan ukuran yang lebih besar datang dari arah kiri dan kanan. Arion dan Kenneth menangkis seluruh jarum yang datang dengan tangkas sambil terus melaju.
"Dari belakang!" seru Arion
Elena menggerakkan kedua tangannya ke udara. Ia mengendalikan dahan pohon disekitarnya untuk menangkis jarum-jarum yang datang. Namun, jumlah jarum lebih banyak sehingga Elena tidak dapat menangkis semuanya, satu jarum berhasil lolos dan menancap di bahu Kenneth.
"Argh! Sial.." Kenneth meringis.
Elena kaget, Arion segera menoleh ke belakang. Jarum itu mengeluarkan aura biru tua, rantai keluar dari ujung atas jarum itu. Rantai itu adalah Qube yang berbentuk seperti rantai, benda itu memanjang hingga sampai ke tangan seseorang yang berada di belakang.
Orang itu adalah Klein yang masih menunggangi kudanya. Ia memegang rantai itu lalu menariknya, membuat Kenneth hampir terjatuh dari kudanya.
"Ia menahan Kenneth. Begitu rupanya, ia membuat Ken berada dalam jangkauannya sehingga tidak bisa kemana-mana" batin Arion.
"Kenneth!" jerit Elena.
"Terus bergerak, jangan kau lepaskan peganganmu dari kudamu!" ucap Arion.
Klein menyengir. "Whiteblood, sebaiknya kau berhenti dan menyerah. Apa kau mau temanmu menderita?"
Elena menatap tajam kearah Klein. "Orang ini... bagaimana ia bisa mengeluarkan Qube disini? Sial, jarak keluar dari hutan ini masih jauh, Arion dan Kenneth tidak akan bisa menggunakan kemampuan mereka!"
Klein menarik kembali rantai yang terhubung di bahu Kenneth itu. Dengan susah payah, Kenneth tetap berada diatas kudanya hingga kudanya itu berhenti karena ada gerakkan Kenneth yang memerintahkannya untuk berhenti.
"Aku tidak bisa... bertahan lagi." Akhirnya Kenneth jatuh ke tanah. Mau tidak mau, Arion ikutan turun, ia berlari menghampiri Kenneth.
"Bertahanlah!" Arion memegangi tubuh Kenneth dan menahannya dari tarikan Klein. Kenneth harus menahan sakit karenanya.
Beberapa dahan pohon muncul menuju Klein. Tangan Klein diselimuti aura biru pekat, dan aura itu menajam. Klein menebas seluruh dahan yang menuju kearahnya hingga hancur.
Elena berbalik dan turun dari Hell Beast-nya. Ia mengeluarkan dua belati besar dari punggungnya, sambil menatap dingin kearah Klein. Hell Beast kurus itu berdiri dengan badan membungkuk disampingnya.
"Lepaskan dia" ucap Elena.
"Oh?" Klein mengangkat kedua alisnya, ia tersenyum sinis.
"Sial, bagaimana mencabutnya?" gumam Arion yang masih memegangi Kenneth.
"Tinggalkan saja aku, pergilah. Nyawamu lebih berharga dariku.." Kenneth tersenyum tipis.
"Jangan dramatis" Arion membalas dengan tatapan datar.
__ADS_1
Tiba-tiba, Foma keluar dari tas Kenneth. Ia mengaum dengan keras, sehingga kekuatannya keluar. Klein terkejut melihat kekuatan sebesar itu datang kearahnya.
ROOOAAAARRRR!!!!