
Goblin mata putih duduk diatas rumah warga, menyaksikan kekacauan yang diperbuat oleh pasukannya. Tapi, ia tidak tenang dan sangat gelisah.
"Kalau begini, aku tidak akan menemukan keturunan itu!" Ia memukul-mukul atap rumah untuk meluapkan kekesalannya.
Kembali ke Arion.
Entah dari mana asalnya, para Goblin ini terus bermunculan. Walau Arion menggunakan Qube untuk melawan mereka, tetap saja mereka menyulitkannya.
"Ice Bullets!"
Peluru es menyerang 15 Goblin dari sebelah barat. Mereka yang terkena langsung mati, tapi dari belakang mereka muncul lagi beberapa Goblin.
"Mereka ini makhluk Summoner atau apa?!" Arion menjadi frustasi.
Tiba-tiba, seorang Goblin memanjati punggungnya lalu menggoreskan pisau di tengkuknya. Arion menjerit kesakitan, ia meraih Goblin itu dari punggungnya dan membantingnya ke tanah.
Arion langsung bergerak mundur ketika sebuah tombak melesat ke dirinya. Ia melakukan manuver menghindar, akibatnya beberapa helai rambut Arion mengenai tombak itu, namun dirinya tidak terluka.
TRAANG!!
Ia menahan serangan kejutan dari Goblin yang memegang pedang. Arion mendorong makhluk itu dengan pedangnya lalu menendang kepalanya hingga ia terhempas mengenai kawanannya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah bola api raksasa muncul ketika ia bertarung dengan dua Goblin. Arion menggigit bibir bawahnya, dengan cepat ia membunuh dua makhluk itu dan kemudian mengeluarkan dinding es untuk menahan datangnya bola api.
"Siapa yang melakukan ini?" gumam Arion. Ia mengintip melalui dinding esnya, ternyata pelakunya adalah Goblin bertopi merah itu.
"Goblin bisa mengeluarkan Qube?! Yang benar saja" ucap Arion.
"Arion, apa yang terjadi disana?" suara Mike muncul dari dalam sakunya. Arion segera merogoh saku dan mengambil cermin yang diberikan oleh Mike.
"Aku tidak tahu, tapi pasukan Goblin menyerang desa" jawab Arion.
"Apa? Mereka sudah memulainya?" tanya Mike.
"Ya ..." Arion menyambut tombak yang datang kearahnya dengan pedang. "Mereka benar-benar ingin mendapatkan keturunan itu"
Mike menutup cerminnya, ia berjalan menghadap ke Ayahnya yang sedang menatap jendela.
"Keadaan desa sedang gawat, kita harus membantu mereka" kata Mike.
Kepala Desa itu terkejut, ia segera keluar dari ruangannya tapi dicegat oleh Centaur yang pernah memanggil Arion dan dua temannya.
"Kau mau ke mana, Kepala Desa?" tanya Centaur itu.
"Wargaku sedang berada dalam bahaya karena sekutumu. Aku harus menyelamatkan mereka"
"Dengan apa?" Pertanyaan Centaur itu membuat Kepala Desa terdiam membeku. "Dengan prajurit? Jangan lupa kalau mereka sudah tidak ada"
Kepala Desa itu mengepal tangannya erat.
Balik ke Daendra.
Ia baru saja membunuh satu Goblin dengan satu tebasan. Daendra berlari melompati gerobak dan mendarat di atas tubuh Goblin lainnya. Ia kembali berlari seiring membunuh setiap Goblin yang muncul di hadapannya.
Tiba-tiba, salah satu Goblin muncul dari atas, tetapi ia langsung terbunuh akibat panah dari Luke.
"Daendra! Arion sedang kesusahan!" seru Luke sambil menembakkan anak panahnya. Daendra menoleh ke tempat Arion sedang bertempur.
"Qube Art - Wing Slash!"
Arion menebaskan pedang ke udara, menimbulkan efek tebasan angin yang mampu menyapu lawan sampai 10 meter.
Para Goblin yang ada di jalur tebasan itu mati terbawa oleh angin dan terpenggal.
"Ice Prison!" Arion mengangkat tangannya ke depan, seketika delapan Goblin disana terkurung di dalam es.
"Grauuur!" Salah satu Goblin mendekat kearahnya. Arion memutarkan pedangnya ke samping lalu memenggal makhluk hijau itu.
Napas Arion terputus-putus, ia duduk berlutut di tengah-tengah mayat Goblin. Darah makhluk itu berserakan dimana-mana, termasuk di tubuh Arion, terutama di wajahnya. Wajah Arion sudah dilumuri oleh darah Goblin, kini ia tampak menyeramkan.
Deg!
Seketika dunia menjadi lambat di pandangan Arion. Semuanya menjadi abu-abu, ia melihat ada dua puluh Goblin berlari kearahnya dengan mengacungkan senjata mereka.
Arion menyentuh tanah dengan kedua tangannya. "Ini Qube terakhirku"
"Ice Cage"
Tanah yang disentuh Arion membeku lalu menjalar ke depan, samping dan belakangnya. Es menyebar dan membeku seluruh yang terkena oleh es itu, termasuk seluruh Goblin yang berada disana.
Serangan terakhir Arion berhasil walau itu tidak bisa dijadikan serangan kemenangan. Arion tersenyum puas sebelum tumbang ke tanah, namun ada sesuatu yang menahan ia tidak jatuh.
Arion memutarkan bola matanya ke samping dan mendapati Daendra disana yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kau hampir membuatku menyesali keputusanku" kata Daendra.
"Daendra ..." ucap Arion pelan.
__ADS_1
"Aku tidak sendirian, pecundang" setelah Daendra mengatakan itu, serangan sihir melesat diatas mereka, mengenai pasukan Goblin hingga terlempar ke udara.
"Kami disini, Kapten" Luke tersenyum dengan busurnya yang masih mengacung ke depan.
Seluruh anggotanya, kecuali Glenn muncul disampingnya saat ini.
"Luke ... kalian semua? Kenapa kalian ada di sini? Bagaimana warga desa?" tanya Arion.
"Sudah kami evakuasi dan pasukan Goblin yang ada di sana sudah kami tuntaskan" jawab Daendra.
"Sepertinya Goblin itu yang menjadi pusatnya" kata Luke sambil menatap tajam kearah Goblin bertopi merah itu. Makhluk itu tersenyum sinis pada mereka.
Salah satu anggota kelompok berkelas Defender tapi memiliki kemampuan seorang Healer menyembuhkan tubuh dan memulihkan Qube milik Arion.
"Terima kasih, Neo, aku bisa kembali bertarung sekarang" ucap Arion, ia tersenyum lebar kearah Goblin itu.
Goblin bertopi tersebut mengangkat tangan kirinya ke depan. Kelompok Arion masuk ke dalam mode siaga.
"Mati kalian" gumam Goblin itu.
Tiba-tiba, langit menjadi hitam dan petir menyambar di langit. Muncul badai di sekitar mereka, Goblin bertopi itu menjadi khawatir sekaligus terlihat lega.
Petir menyambar ke tanah dan setelah sambaran itu muncul seseorang pria berjubah hitam. Jubahnya yang lebar dan besar diembus oleh angin, setengah wajahnya ditutupi oleh tudung jubahnya.
Pria itu membuka tudung jubahnya, wajahnya dapat dilihat oleh Arion dan kelompoknya.
Pria itu memiliki janggut tipis di dagunya, berambut pendek dan berkulit putih. Tatapannya dingin dan mengintimidasi. Ia menatap tajam pada Arion dan kelompoknya dalam waktu yang cukup lama.
"Tuan Retian" Goblin bertopi itu duduk berlutut, menunjukkan kehormatannya.
"Aktifkan sihir Sensor. Aku yakin kalian sudah mempersiapkan sejak tadi" kata Retian.
"Baik, Tuan"
Daendra mengerutkan dahinya. "Kurasa ini tidak akan berjalan baik"
Goblin bertopi merah itu mengangkat kedua tangannya keatas, sebuah bola cahaya muncul di atas telapak tangan Goblin itu dan makin membesar. Ketika ukurannya sudah cukup, bola itu hancur dan mengeluarkan gelombang yang menyebar ke seluruh penjuru desa.
"Qube Sensor?!" ucap Luke, kaget.
"Tidak. Ini pasti Ilmu Dorum" jawab Arion
***
Di tempat tersembunyi, Glenn, Rena dan seluruh warga desa sedang berada di sana. Glenn dengan gadanya tetap berada di depan, mengawasi gerak-gerik makhluk yang akan mendekat.
"Apa keadaan luar sudah aman?" tanya Rena.
"Belum pasti" jawab Glenn.
Tiba-tiba, Glenn merasakan ada yang mendekat. Ia menyuruh Rena untuk mundur dan tidak bersuara.
Glenn memegang gadanya dengan erat, bersiap untuk memukul makhluk yang keluar mengejutkan mereka.
"Mati—" Glenn hendak memukul makhluk itu, tapi Rena berteriak untuk berhenti. Yang muncul itu adalah kedua adiknya, mereka dalam kondisi baik-baik saja dan tidak memiliki luka di tubuh.
Mereka berdua berlari menuju Rena, sambil menangis mereka memeluk Rena.
"Syukurlah, kalian selamat" Rena mengelus kepala adik-adiknya itu.
Tiba-tiba, sebuah gelombang masuk melewati tubuh mereka. Glenn kaget tapi hanya sementara, Rena juga begitu dan para warga hanya kebingungan.
"Gelombang apa itu?" tanya Glenn.
Kembali ke Arion dan kelompoknya.
Goblin bertopi itu membuka matanya. "Sudah ketemu, Tuan"
"Bagus. Bawa kemari"
Goblin bermata putih mulai bergerak bersama Goblin-Goblin lainnya.
Glenn mendapat firasat yang buruk, ia menyuruh para warga agar bersembunyi.
"Kau juga, bersembunyilah" kata Glenn pada Rena.
Tiba-tiba, sebuah tombak kecil melesat masuk dan menancap di bahu Glenn.
"Sial!" Glenn segera mencabut tombak itu. Kejutan, dua Goblin masuk sambil membawa dua pedang, Glenn langsung memukul kedua Goblin itu hingga terhempas menjauh darinya.
"GYAHAHAHA!!!"
Suara tawa yang mengerikan muncul bersamaan dengan puluhan panah dari semak-semak. Glenn berusaha menangkis semuanya, namun beberapa panah berhasil masuk ke dalam pertahanannya dan mengenai tubuh Glenn.
"Panah ini ... beracun?!" ucap Glenn.
Deg!
__ADS_1
Racun dari panah itu menyebar cepat masuk ke dalam tubuh Glenn. Kakinya terasa mati rasa dan beberapa detik kemudian Glenn tumbang ke tanah.
Ia berusaha untuk bangkit, namun tangan kanannya lumpuh. Tiba-tiba, seorang Goblin muncul dari atas, mendarat di tubuh Glenn. Ia adalah Goblin bermata putih dengan senyumnya yang sinis.
Rena menyuruh kedua adiknya untuk bersembunyi.
"Menyingkir darinya!" seru Rena. Ia mengeluarkan tali cahaya dari kedua tangannya.
"Alizihatir"
Rena merapalkan mantra. Tali cahaya tersebut memanjang lalu bergerak sendiri. Benda itu mengikat seluruh Goblin disana, Rena menggerakkan tali itu dengan gerakan tangannya, tali tersebut membuat Goblin-Goblin disana terhempas ke luar.
"Tak akan bertahan lama" Goblin mata putih itu memerintahkan seluruh Goblin yang masih berada di sana untuk menyerang Rena secara bersamaan.
Rena tidak dapat menahan serangan mereka dalam satu kali gerakan. Ia ditangkap oleh para Goblin itu, Rena diseret menjauh dari sana.
"Jangan! Hentikan!" teriak Glenn.
"Kami mendapatkan keturunan Sang Naga!" teriak Goblin mata putih sambil melompat kegirangan.
Rofa dan Ed hanya menahan tangis mereka seraya melihat Kakak mereka dibawa. Seorang wanita paruh baya merangkul mereka untuk menenangkan keduanya.
"Rena ... keturunan ... Sang Naga itu?" Glenn ingin pingsan, tapi dengan sepenuh tenaga ia tetap berjaga.
***
"Mereka sudah mendapatkannya, Tuan" lapor Goblin bertopi merah.
"Hmph, begitu ya" Retian memandang ke depan, ia tersenyum tipis pada Arion.
"Senyumnya membuat perasaanku tidak enak" bisik Arion.
"Sambil menunggu kedatangan suruhanku, lebih baik kita berkenalan terlebih dahulu" kata Retian. "Namaku Retian Elfiarz, aku berasal dari dataran yang mengerikan. Orang-orang mengenalku sebagai seorang Necromancer"
"Necromancer?!" Arion dan Luke sama-sama terkejut. Mereka baru menyadari yang di hadapan mereka ini adalah Necromancer yang menyerang desa sebelum kedatangan mereka.
"Orang ini berbahaya" ucap Daendra.
"Tujuanku kemari adalah untuk menjemput keturunan Sang Naga. Hanya itu saja, setelah itu aku akan pergi" kata Retian.
"Apa alasanmu untuk mencari keturunan itu?" tanya Arion.
"Alasannya agar memperoleh kembali darah Sang Naga yang sudah lama hilang" jawab Retian.
"Memperoleh kembali? Kau ingin menjadikan dirimu kebal?" tanya Daendra.
"Aku tidak akan melakukan itu. Memperoleh darah Sang Naga akan bisa membuatku untuk membangun pasukan mayat hidup yang mempunyai kekuatan naga. Hanya satu tetes darah dari keturunan itu, aku bisa menanamkannya ke salah satu mayat, lalu aku bisa menciptakan seorang prajurit dengan kekuatan naga"
"Keji sekali" gumam Luke.
"Kalau bisa, aku akan menggunakan darah dari seorang Whiteblood. Darah mereka sama berharganya dengan darah Sang Naga"
Arion terkejut, ia melebarkan matanya tapi ia tetap memilih diam.
"Klan Whiteblood? Mereka sudah punah" kata Luke.
"Aku tahu, maka dari itu aku akan menggunakan darah dari Sang Naga"
Tepat setelah Retian mengatakan hal itu, Goblin bermata putih muncul bersama Goblin lainnya membawa Rena yang sedang dalam kondisi terikat.
"Itu kan ..." Arion melebarkan matanya sekali lagi. Kaget dengan yang ia lihat.
"Rena!" teriak Daendra.
"Oh? Kau mengenalnya? Sayang sekali" Retian tertawa sinis.
"Sialan!!" Daendra hendak bergerak maju, tapi Arion dan Neo menahannya.
"Tuan, tidak apa" Rena tersenyum tapi Daendra dapat melihat ia sangat ketakutan. "Jaga adik-adikku"
"Tidak! Lepaskan aku!" Daendra mencoba memberontak.
"Tahan dulu, Daendra!" seru Arion.
"Dengan begini, aku akan meninggalkan desa. Semoga hari kalian menyenangkan" ucap Retian.
Ia menghilang bersama asap hitam yang keluar dari bawah kakinya. Rena dan para Goblin juga menghilang dengan hal yang sama.
"Tidak! Tidak!! TIDAK!!!" Daendra mencoba lebih keras, akhirnya ia terlepas dari pegangan Arion dan Neo. Ia berlari menuju kearah mereka. Namun ia terlambat, Rena sudah pergi, menghilang.
Daendra duduk berlutut, seluruh badannya seakan lemas dan tak dapat digerakkan. Ia menatap tempat berdirinya Retian dan para Goblin tadi, lalu ia menunduk ke tanah sebelum bersujud dan memukul-mukul tanah dengan keras.
"SIAL!!!" teriaknya.
Arion menatap sendu pada saudaranya itu. Luke dan kelompoknya hanya diam dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan ... tinggalkan aku"
__ADS_1