The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Cerita


__ADS_3

"Apa?" Alice kaget. "Brian Blackclaws?"


Mender menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


Saat itu, sehari sebelum insiden. Hari dimana Mender dan Brian masih bekerja sama. Mereka dulu berada di kelompok yang sama, mereka menyebutnya The Gold. Tujuan dari awal kelompok ini terbentuk adalah sebagai pasukan bayaran. Mereka sering digunakan saat perang, penjelajahan, pengawalan dan lain-lain. Bahkan mereka dibayar untuk kegiatan bersih-bersih suatu kota.


Mereka menjalani pekerjaan ini selama hampir 4 tahun lamanya, sampai Brian menjadi gerah dengan semua ini. Ia selalu merasa tidak puas, Brian mencari cara agar keuntung kelompok bisa lebih banyak.


Sampai ia mendengar ada sebuah tambang emas yang berlimpah dan juga tidak ada yang mengetahui keberadaan tambang itu.


Ia mendadak bersemangat. Brian segera mengajak Mender danĀ  kelompok untuk berbondong-bondong kesana. Mereka sama-sama ke Verg Village, tempat desa Alice tinggal dulu.


Mereka meminta izin untuk memasuki tambang itu, tetapi Kepala Desa melarang mereka memasukinya karena tambang itu merupakan tempat keramat dan dilarang keras mengambil emas disana. Brian dan sebagian besae kelompok menjadi kecewa. Mender mengajak mereka kembali dan melupakan tentang tambang itu, namun Brian merancanakan sesuatu di kepalanya.


Yaitu, membantai seluruh warga desa.


Brian segera menggerakkan sebagian besar kelompok untuk kembali ke desa. Mender mengetahui ini saat salah satu anggota The Gold memberitahunya. Mendengar itu, Mender dan yang lainnya segera kesana.


Tapi, sayangnya terlambat. Desa itu sudah hancur dan warganya dibantai tanpa ampun. Mender murka, ia memerintahkan seluruh anggota The Gold untuk mundur. Namun, Brian dan beberapa anggota tetap memutuskan untuk ke tambang itu.


Mereka semua masuk kesana dan mengambil seluruh emas yang mereka bisa tampung. Awalnya memang tidak terjadi apa-apa, sampai mimpi buruk yang tidak mereka harap datang untuk menjemput ajal mereka. Lebih dari dari dua puluh hantu keluar dari tanah dan menyerbu mereka semua.


Seluruh anggota The Gold mati mengenaskan, kecuali Brian. Ia menggunakan kemampuan teleportasinya untuk kabur dari sana dengan membawa seluruh emas yang ia bawa.


Mender mengira Brian tidak akan muncul lagi. Seluruh anggota The Gold diburu dan menjadi buronan karena tindakan mereka terhadap Verg Village. Mender juga dianggap sebagai buronan dan seluruh anggota The Gold ditangkap. Mereka semua dihukum mati.


Kini, tersisa dirinya dan Brian.


Alice memijit keningnya. Ia mendadak pusing. "Aku harus..." ia bangkit dan tidak melanjutkan kalimatnya. Alice pergi dari sana, untuk menenangkan diri.


Eden memandangi punggung Alice yang perlahan menjauh. Ia menoleh ke Mender dengan tatapan datarnya.


"Kehidupannya pasti sangat berat" ucap Mender, tentang Alice.


"Aku pernah merasakannya, tapi tidak seberat dia" jawab Eden. Eden merasa agak iba kepada Alice tentang hal-hal yang ia lalui saat ini. Dan ia bertemu pria yang ia kira jadi penyebab keluarganya mati, ternyata ia salah memburu orang.


"Kau masih ingin balas dendam?" tanya Mender.


Tatapan Eden mendadak menjadi dingin. "Ya" jawabnya singkat. Mender menghela napas. "Bukannya aku membelanya, tapi.. aku mencemaskanmu"


"Aku tahu, waktuku untuk balas dendam bukan sekarang. Aku masih bisa bersabar untuk menunggu" jawab Eden.


"Baiklah. Kita alihkan ke Ethinos. Apa yang kau inginkan?"


Eden menceritakan semuanya. Dari dia melawan pria laba-laba, bertemu dengan Yora dan mengurung pria laba-laba itu di kastil Midoria.


"Kurasa kita tidak perlu memasuki pikirannya. Sudah jelas apa yang diinginkan Sava untuk membuat orang-orang dari ras Demi-Human menjadi buas" kata Mender. Eden diam mendengar penjelasannya.


Mender memberitahu bahwa Sava mengincar energi dan darah ras Human untuk membuat beberapa obat yang ampuh untuk dirinya dan pasukan ras Demi-Humannya.


"Kau bilang Sava mempunyai anak buah bernama Yora, jenis Bunglon, bukan? Dia adalah salah satu anak buahnya yang bertugas menyerap energi dan darah manusia. Tapi, dia bukanlah penyihirnya"


Eden mengerutkan dahinya. "Bukan? Lalu, siapa?"

__ADS_1


"Sava pasti memperkerjakan dua anak buahnya untuk misi itu. Satu penyihir yang bertugas menanamkan sihir amukan dalam tubuh ras Demi-Human dan yang satunya bertugas untuk menyerap darah dan energi manusia"


"Jadi, aku harus menangkap si penyihir itu dulu?" tebak Eden.


"Kau benar dan juga tidak. Bagaimana saat kau mengejar si penyihir tapi si penyerap sedang melakukan aksinya?" tanya Mender.


Eden terdiam. Mender benar, bagaimana ia bisa melakukan itu semua?


"Mereka berdua penting dan sama-sama merepotkan. Dalam hal ini kau harus bekerja sama dengan orang lain"


Eden mengangguk pelan.


"Baiklah, aku menghargai seluruh informasimu"


"Satu lagi. Rencana Sava ini pasti akan membahayakan reputasi Demi-Human, kau tahu 'kan siapa yang aku bicarakan ini?"


"Ya, tentu saja" Eden bangkit dari kursinya.


***


Alice duduk termenung memandang sungai di depannya. Matanya bengkak akibat menangis. Ya, dia menangis. Kapten yang tegas dan dingin itu mengeluarkan sisi lemahnya.


Eden muncul dari belakang, ia ikut memandangi sungai. "Kau menangis?"


Alice kaget, ia segera menyeka air matanya. "T-tidak" jawabnya, bohong.


"Air mengalir di pipimu" Eden bahkan tidak melihatnya, ia saja menutup kedua matanya, menikmati angin sore.


"Aku cuma kelilipan"


"Tidak"


"Iya"


"Tidak! Kubilang aku tidak menangis!" teriak Alice.


"Ya. Dan sekarang kau bersikap seperti anak-anak"


"Kenapa kau itu sangat menyebalkan? Aku berharap kau bertemu dengan orang yang semenyebalkannya denganmu"


"Aku sudah bertemu dengannya dan itu kau"


"Aku tidak menyebalkan, justru kau! Orang paling aneh, menyebalkan dan kasar"


Eden membungkukkan badannya dan mengelus punggung Alice. "Terserah apa katamu. Punggungmu bukti aku kasar kepadamu, kan?"


Alice mengingat saat ia dilempar ke pilar oleh Eden dan punggungnya kena dengan keras.


"Ya, lalu?"


"Akan kuhilangkan" jawabnya. Ia terus mengelus punggung Alice.


"Dasar aneh. Tetap kuanggap kau orang yang kasar" Alice menepis tangan Eden dari punggungnya. "Lagipula, itu tidak menyakitkan"

__ADS_1


Eden duduk disamping Alice. "Baiklah, kau kuat" gumam Eden yang didengar oleh Alice.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Alice.


"Eden"


"Aku Alice"


"Hmph. Kau sudah tenang? Kau tidak menangis lagi"


"Sudah kubilang-"


"Berhentilah berbohong" Eden menatap lekat Alice. "Apa salahnya kau menangis? Menangis itu bisa menenangkan. Aku tidak mengataimu sebagai orang yang cengeng, semua orang pernah menangis"


Alice menatap tanah dan anehnya pipinya sedikit merona. "Kau.. pernah menangis?"


"Jika ada kesempatan" jawab Eden, asal-asalan.


"Sial, kau memang sangat menyebalkan" kata Alice. Beberapa detik kemudian, ia tertawa. "Kau sangat menyebalkan!"


"Kau lagi marah atau senang? Dasar aneh" Eden menatapnya bingung.


Alice melirik ke Eden yang sedang menatap sungai. Ia melihat pipi Eden yang merah karena tendangan kakinya tadi siang.


Alice menyentuhnya, pipi Eden ternyata empuk. "Apa yang kau lakukan?"


"Empuk juga pipimu" Alice keceplosan. "M-maksudku.. pipimu merah"


"Hah? Merah? Kau ingin mengatakan pipiku sedang merona? Lihat saja dirimu, merah seperti tomat" ucap Eden. Alice sendiri tidak sadar wajahnya semerah itu, ia segera menjauh dari Eden.


"Sial, kenapa aku merah seperti ini? Dan..." ia menyentuh dadanya. "Kenapa aku berdebar. Tidak, tidak, tidak, mana mungkin. Hahaha! Tidak mungkin 'kan?" batin Alice.


Alice melirik ke Eden yang menatapnya balik. "Kenapa kau melihatku?!"


"Kenapa kau melirikku seperti itu?" balas Eden.


"Siapa yang melirikmu?!"


"Arah tatapanmu sangat jelas, aneh"


"Kau yang aneh!"


Alice segera bangkit dari duduknya. "A-aku.. berangkat dulu. Hari.. sudah mau gelap" ucapnya terbata-bata.


"Kau sulit menyusun kalimat, ya?"


"Kenapa aku gugup?!" batin Alice. "Terserah! Aku pergi" ia hendak melangkah pergi, namun Eden memanggilnya.


"Ada apa lagi?"


"Aku ikut"


"Hah? Y-yasudah"

__ADS_1


Mereka berdua kembali ke kota. Hari juga sudah mulai gelap.


__ADS_2