The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Langkah Pertama


__ADS_3

Sebulan Kemudian...


"Arion"


Kenneth memanggil dari ambang pintu kamar Arion. Lelaki berambut putih salju itu tampak mengenakan jubahnya.


"Kita sudah siap"


Arion menoleh dan memberi anggukan ringan. Ia keluar dari kamar, diikuti Kenneth. Mereka menuju ke lapangan, disana sudah berdiri pasukan kecil pihak Arion yang terdiri dari teman-temannya saja.


Ada juga Hanza, ia mengenakan baju zirah yang ditutupi sebagian oleh jubahnya. Lalu, Elena, wanita seksi itu memakai pakaian yang minim. Ia membiarkan perut, sebagian punggung dan paha hingga kebawah terekspos.


Kenneth sama seperti Arion, memakai zirah dada dan lengan. Glenn dan yang lainnya juga tidak ribet dalam memilih baju perang.


Yang tidak terlihat disini adalah Daendra, Luke dan Mifori.


"Baik, kita akan berangkat ke Rabadar. Aku hanya ingin berpesan kepada kalian, aku harap kita semua menang dan selamat. Kalian semua, jangan mati.. Kumohon" Arion membuka suaranya didepan semua orang yang berdiri dihadapannya.


"Kami akan melakukan yang terbaik" Glenn meletakkan tangannya di dada.


"Terima kasih" ucap Arion dengan senyuman.


Lalu, Mike masuk. "Daendra dan yang lainnya sedang dalam perjalanan, sebaiknya kita menyusul"


Arion mengangguk, lalu Hanza memberi perintah kepada semuanya untuk berangkat. Mereka semua berangkat menggunakan kuda, dalam waktu ini, mereka harus cepat untuk menyusul Daendra dan yang lainnya.


Mike melapor, 57 orang yang berada dalam pihak Daendra telah berada disekitar kekaisaran.


"Dengan matinya Ka, kita kehilangan kekuatan cukup besar" ujar Hanza.


"Mari berharap Indra dan yang lainnya baik-baik saja"


Mereka telah melewati perbatasan kerajaan dan sedang menuju kewilayah Rabadar dengan kecepatan tinggi.


Diperjalanan, mereka tidak menyadari kalau ada yang mendeteksi pergerakkan mereka.


Kita berpindah ke pihak Ethinos. Faesa dan yang lainnya juga bergerak menuju Rabadar, kali ini mereka bertambah banyak dengan ikutnya Sava dan Yora serta prajurit lainnya. Ini adalah waktunya dimulai rencana besar mereka.


"Ooh.." Yora tiba-tiba saja menunjukkan senyumnya.


"Ada apa, Yora?" Faesa melirik kebelakang.


"Sepertinya dugaanmu benar, Faesa. Whiteblood itu juga berangkat ke Rabadar. Sepertinya jadwal kita berbenturan" jawab Yora.

__ADS_1


"Kita harus cepat"


***


Prang!


Tiba-tiba saja, Yaena tidak sengaja menjatuhkan gelas dari tangannya. Ia mengerutkan dahi melihat kedua tangannya bergetar hebat.


"Tuan Putri!"


Dua pelayan wanita bergerak cepat menghampiri Yaena setelah mendengar suara gelas pecah.


"Anda tidak apa-apa?"


"Apa yang terjadi, Tuan Putri?"


Yaena hanya diam sambil masih memperhatikan kedua tangannya itu.


"Tidak.. aku—"


Kali ini, Yaena merasakan sakit diperutnya hingga ia harus merendahkan tubuh ke lantai. Yaena memegang perutnya sambil meringis.


Melihat hal itu, kedua pelayan itu segera memegang tubuh Yaena dan membantunya berbaring di kasur.


***


"Ya, mungkin saja rencana ini tidak akan berjalan mulus" Daendra menghela napas panjang sambil berjalan mengitari Luke.


Saat ini mereka hampir mencapai Rabadar, hanya beberapa jarak lagi, tapi mereka tidak dapat kesana sebelum Arion dan yang lainnya tiba.


Mengenai Dwarf yang bersedia untuk turut serta dalam kudeta ini, mereka telah bergerak terlebih dahulu untuk mengepung dinding pembatas Rabadar Empire.


"Dengan kurangnya orang-orang dipihak kita, presentase kemenangan kita hanyalah 5%" lanjutnya.


"Bagiku itu lebih dari cukup" Luke mengangguk ringan. "Selama Rabadar tidak mengetahui rencana penyerangan ini, mereka akan terlambat bersiap dan lupa meminta bantuan dari aliansinya. Dan disaat itu juga, kita harus pastikan mengacau dan melenyapkan setengah dari prajurit mereka"


Meskipun cukup barbar, Luke nyatanya mempunyai otak yang selalu memikirkan segala kemungkinan yang ada. Mendengar pemikiran Luke, Daendra hanya pasrah lalu duduk dibawah pohon.


"Kau dan Arion adalah peran utamanya dalam perang ini, sama seperti dulu saat menyelamatkan Rena" kata Luke.


Secara tidak sadar, Daendra mengembangkan senyumnya, mengingat hal itu semua.


"Kau tahu, saat itu aku masih menganggap Arion adalah perusak hubunganku dengan Ayah, yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Sebelum pergi ke Ovaio Village, aku... tidak pernah sudi menganggap Arion sebagai saudara, dan.." Daendra menghentikan kalimatnya sejenak lalu menatapi dinding pembatas besar yang berada dikejauhan itu.

__ADS_1


"Sejak itu sampai sekarang, ia tetap berusaha mendapat kepercayaanku. Ia tetap berusaha agar aku mengakuinya. Dia tidak pernah menyerah, bahkan ia rela menemuiku dari Rabadar hingga kesana... jika aku melihat diriku dulu yang menganggap Arion sebagai sampah, seberapa besar malu yang kutanggung"


Luke hanya diam mendengar Daendra.


"Secara tidak sadar, aku mulai menganggapnya sebagai orang kepercayaanku. Ia sempat menghilang dan aku panik. Sangat panik, melebihi Ayahku sendiri. Disaat Ayah turun dari jabatannya karena menyembunyikan identitas Arion, aku tidak pernah menyalahkannya"


Angin berhembus cukup kencang, membuat Daendra menghentikan kalimatnya sejenak.


"Apa aku bodoh?" tanya Daendra, tiba-tiba.


"Ya, kau adalah si bodoh dengan otak yang kecil" Luke menjawab dengan senyuman dan tawa.


Daendra ikut tertawa. "Aku setuju. Mifori, kau sudah boleh keluar"


Dari kegelapan, Mifori muncul dengan melepaskan tudung jubah dari kepalanya.


"Maaf, Tuan" kata Mifori.


"Bagaimana?" tanya Daendra.


"Sekutu yang kujanjikan sudah berada disini" jawab Mifori, beberapa Centaur dan dua Giant keluar dari kegelapan hutan, mengitari mereka semua.


"Sebagian besar Centaur ini berada dalam pemerintah Yang Mulia Hanza dulu. Mereka siap membantu lagi"


Entah kenapa, Daendra sangat ingin memuji Mifori disaat-saat seperti ini. Ia ini seperti agen kerajaan dengan kemampuan yang luar biasa.


Daendra bangkit dan menghampiri salah satu Centaur. Centaur satu ini memiliki tanda silang didadanya, seperti bekas sayatan. Ditelinganya terdapat anting emas.


"Aku memohon kerja sama kepada kalian semua" Daendra mengulurkan tangannya ke Centaur itu.


"Kami akan berjuang disisimu, Yang Mulia" ucap Centaur itu sambil menerima uluran tangan Daendra.


Daendra mengangguk, lalu memperhatikan seluruh ras bertubuh besar ini. Mereka semua sangat besar, senjata yang mereka bawa juga tidak kalah besar.


"Baik! Dengarkan!" Daendra berseru. Seluruh orang disana segera berdiri tegap dan menatap Daendra dengan serius.


"Yang kita hadapi disini bukanlah kerajaan kecil, ini adalah kekaisaran. Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian, tapi setidaknya, kita akan berjuang di garis depan. Darah akan bertaburan di tanah, korban akan berjatuh, senjata dan tubuh ini akan menjadi saksinya. Tujuan kita disini untuk menang! Hancurkan lawan! Jangan biarkan mereka melawan, buat mereka berlutut dan memohon ampun untuk dibunuh saja. Buat kematian lebih baik dimata mereka, taburkan rasa takut, kita cabik-cabikkan rasa berani mereka! Wahai saudaraku! Di detik ini, masa depan kita akan dipertaruhkan dalam penyerangan ini. Kalian dengar?!" Daendra berseru, suaranya menggelegar diudara.


"YA!!!" jawab mereka. Luke hanya tersenyum dan bergumam.


"Inilah Daendra yang sebenarnya"


Daendra mengangkat senjata keudara. "Binasakan lawan! Hadapi mereka!"

__ADS_1


Mereka menirukan ucapan Daendra yang terakhir. Ini membuktikan pihak pemerintah Rabadar dalam bahaya. Bahaya yang sangat mengancam.


__ADS_2