The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Dua Orang Murid


__ADS_3

Seorang anak berpakaian biru tua dengan garis putih di lengan bajunya tengah berlari sambil memegang sebuah pedang dengan erat. Ia mengejar sesuatu di sebuah lapangan padang rumput yang luas.


Seekor rusa betina berlari dari kejaran anak itu. Dengan mengerang kuat, ia melompat lalu melesatkan pedangnya ke tubuh rusa tersebut. Ternyata, pedangnya meleset dan hanya mengenai tanah.


"Apa?!" ucapnya, kaget. Seakan ia tidak menyangka kalau ia gagal.


"Dasar bodoh"


Seorang anak lagi berlari melaluinya sambil mengejek anak tersebut. Ia berkulit agak coklat, mempunyai rambut hitam yang sedikit panjang dan sedikit tinggi dari anak sebelumnya.


"Apa kau bilang?!" Ia tidak terima dibilang 'bodoh'.


Anak berkulit coklat itu berlari memusatkan perhatiannya kearah rusa betina yang ada di depannya itu.


"Qube Art - Water Snake"


Bocah tersebut menyatukan telapak tangannya. Dari kedua pundaknya, keluar ratusan ular air yang berukuran tidak besar. Mereka keluar secara bersamaan dan berterbangan di langit lalu menuju kearah rusa itu.


"Aku tidak akan kalah darimu, Tanoe!"


Anak sebelumnya segera menyusul dan kini berlari di samping bocah berkulit coklat itu.


"Qube Art - Water Clone!"


Ia menggandakan dirinya menjadi empat bagian dari element air miliknya. Keempat bagiannya itu berlari lebih dulu darinya.


"Hmph! Menambah empat orang pecundang tidak akan mempengaruhi hasil apa-apa, Eihar" ledek bocah bernama Tanoe itu.


"Lihat saja!"


Keempat kloning air itu segera menyusul rusa tersebut. Mereka hendak menangkap, tapi kecepatan rusa itu bertambah. Mereka mencari jalan lain dengan cara saling melemparkan diri. Satu kloning di depan melempar kloning yang berada dibelakangnya dan begitu seterusnya sampai kloning terakhir.


Dengan cara itu, kloning tersebut menangkap tubuh rusa yang masih berlari itu.


"Berhasil!" Dirinya yang asli menjerit senang, namun terlalu cepat untuk puas. Kloning itu tiba-tiba hancur menjadi air.


"Aa-!" Ia menganga melihatnya. Ular air yang dari tadi berada di udara mengambil alih panggung perburuan. Mereka menyelimuti tubuh rusa itu hingga pergerakkannya jadi terhenti dan jatuh ke tanah.


"Simpel dan cepat" Tanoe tersenyum miring. Ia segera menghampiri rusa tersebut.


"Kau hanya beruntung saja! Jika kloningku tadi tidak hancur, pasti aku pemenangnya!"


Trimetra melihat keduanya dari kejauhan. Kedua bocah itu tidak lain adalah anak muridnya yang dikirim oleh Grand Elder sendiri beberapa waktu yang lalu.


"Bagaimana perkembangan mereka?"


Tiba-tiba saja, Grand Elder itu datang menghampirinya. Trimetra segera berbalik dan memberi hormat kepada pemimpin klannya itu.


"Mereka berkembang secara signifikan" jawab Trimetra.


"Aku senang kau menjadi guru mereka. Mereka juga senang menjadi anak muridmu. Kalian bertiga membuat suatu hubungan" ucap Grand Elder.


"Ya. Menjadi seorang guru merupakan pengalaman yang baru bagiku. Apalagi, mengajari mereka berdua yang tidak bisa kompak"


"Mereka kompak, kau hanya perlu menunggu saja"


Beberapa saat kemudian, kedua bocah itu datang menghampiri mereka berdua lalu memberi hormat secara bersamaan.


"Grand Elder. Guru"

__ADS_1


Grand Elder mengembangkan senyum dibalik kumisnya yang tebal. "Kalian berlatih dengan baik, kalau kalian terus begini, maka kalian bisa menjadi ksatria yang hebat"


"Memang itulah cita-citaku!" sorak Eihar. Tiba-tiba, kepalanya dipukul oleh Tanoe.


"Tidak sopan" kata Tanoe yang kembali melipat tangan di dadanya. Eihar hanya bisa menggerutu sambil mengelus kepalanya.


Kedua murid Trimetra ini sama-sama memiliki element air, sama seperti gurunya. Mereka berdua telah diajarkan sejak berada di panti asuhan. Ya, keduanya menghabiskan masa kecil di panti asuhan.


Mereka berdua sama-sama kehilangan orang tua saat mereka masih bayi. Tidak ada yang tahu bagaimana rupa orang tua mereka. Sejak tumbuh di panti asuhan, pemilik panti mengetahui kedua anak asuhnya itu memiliki Qube yang sama. Iapun berinisiatif untuk melatih mereka.


Suatu hari, ketika Grand Elder sedang jalan-jalan sore, tidak sengaja ia melihat dua orang bocah sedang saling adu kekuatan element. Ia jadi tertarik melihatnya lalu memutuskan untuk menonton mereka sampai kedua bocah itu lelah dengan sendirinya.


Grand Elder ternyata menyukai kemampuan mereka. Iapun pergi menemui pemilik panti yang sangat kaget melihat kedatangan petinggi klan ke panti asuhannya.


Grand Elder menanyai identitas kedua bocah tersebut. Setelah mendapat jawaban yang memuaskan dan berbincang-bincang tentang kemampuan mereka, Grand Elder tertarik untuk menjadikan mereka murid dari Trimetra.


Dan, sampailah disini... mereka resmi menjadi murid dari Golden Boy, Trimetra.


"Cita-citamu bagus, Eihar. Aku harap kau benar-benar bisa menggapai cita-citamu itu" ucap Grand Elder, mendukung Eihar.


Grand Elder menoleh ke Trimetra. "Bagaimana kalau kalian pergi keluar kota? Untuk mencari pengalaman, kurasa. Itu baik, bukan?"


Mendengar itu, mata kedua bocah ini menjadi berbinar-binar. Api semangat mereka bertambah dan membara ke seluruh tubuh. Namun, tidak untuk Trimetra. Ia malah tersenyum masam, Trimetra malas pergi keluar untuk mengurus kedua bocah yang berusia 12 tahun ini. Tapi, ia tetap tidak bisa menolak Grand Elder.


"Baiklah. Kami akan berangkat besok pagi"


***


"Perkiraan kita sampai ke Athinesh mungkin beberapa hari lagi. Lokasi itu sangat jauh" kata Kenneth sambil meletakkan peta keatas sebuah meja.


Saat ini mereka berada di sebuah rumah kosong yang sudah hancur sebagian. Kenapa? Karena disini tempat bekas penyerang para Goblin. Kota kecil ini sudah kosong, ditinggalkan beberapa tahun yang lalu.


Kenneth duduk di kursi kayu yang sudah reyot, menumpu kedua tangan di kedua pahanya dan menatap Arion dengan kerutan dahi yang dalam.


"Apa kita tetap menggunakan cara manual?" tanya Kenneth.


"Hanya itu saja caranya, mau tidak mau. Posisi kerajaan itu berada di seberang benua ini" jawab Arion. Ia menggaruk lehernya lalu memandang ke peta.


"Jika kita punya kemampuan teleportasi, itu akan memangkas waktu tempuh kita" ujar Kenneth.


"Sudahlah, Ken. Bereskan barang-barangmu, kita akan berangkat sekarang" ketika Arion baru saja berdiri, ia mendengar suara tapak kuda dari luar, mendadak ia menjadi patung dan menyuruh Kenneth diam.


Ia melangkah keluar perlahan sambil menutupi kepalanya. Ia mengintip, tidak ada siapa-siapa disana. Namun, ketika pandangannya mengarah ke sisi lain rumah, ia melihat seekor kuda tanpa penunggang disana.


Arion berjalan menghampiri hewan itu, tetapi suara seruan seorang perempuan menghentikan langkah dan pergerakkannya.


"Berhenti disana, Tuan"


Suara itu berasal dari belakangnya. Seorang wanita bertubuh langsing namun kuat dan juga tinggi, berkulit putih dan berambut panjang yang diikat kuda. Ia memakai topeng penutup mulut dan mengenakan seragam petugas. Perlahan tangan Arion memegang ganggang pedangnya yang terletak di samping pinggangnya.


"Berbaliklah, Tuan. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu" kata perempuan itu. "Dan tarik tanganmu dari ganggang pedangmu itu"


Mata Arion melebar, ia kaget karena perempuan itu mengetahui gerak-geriknya. Arion pun menurut, ia berbalik secara perlahan.


"Aku-"


Perempuan itu ingin menghampiri Arion, tapi ia merasakan ada seseorang lagi. Tiba-tiba, ia menghilang dari pandangan Arion, membuatnya bersiaga.


"Diatas!" batin Arion, ia segera mendongak keatas, melihat atap rumah yang mereka tempati sebelumnya. Disana ada Kenneth yang lengan kanannya sedang dipelintir oleh perempuan itu.

__ADS_1


"Bagaimana ia bisa sampai kesana? Ah, aku tahu.. dia menggunakan Flicker" pikir Arion.


Perempuan itu dan Kenneth menghilang disana dan muncul didepan Arion. Ia menodongkan belatinya ke samping leher Kenneth.


"Aku kesini hanya untuk bertanya, jika kalian bersikap melawan kepadaku, aku tidak akan segan menjebloskan kalian ke penjara" ucapnya, dingin.


"Katakan, apa ada lagi selain kalian?"


"Tidak, hanya kami berdua. Tolong lepaskan dia" pinta Arion. Perempuan tersebut mendengus pelan lalu mendorong Kenneth ke Arion.


"Sial, dia kuat. Aku tidak menyangka ia mengetahui tempatku" ucap Kenneth.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Arion bertanya langsung. Ia tidak ingin berbasa-basi dengan petugas keamanan dihadapannya ini. Ia menilai perempuan tersebut sangat kuat dan cukup merepotkan.


Petugas itu mengeluarkan selembaran poster dan menunjukkannya kepada Arion. "Apa kau pernah melihat orang ini?"


Arion dan Kenneth memerhatikannya secara seksama.


"Um.." Arion memandangi poster itu cukup lama. "Aku rasa.. pernah, tapi dimana?"


"Siapa dia?" tanya Kenneth.


"Dia adalah buronan, namanya Brian Blackclaws. Aku sedang memburunya saat ini"


Tiba-tiba, Arion teringat sesuatu. "Aku tahu! Dia pernah bertemu denganku di pelabuhan Argenhille. Aku berbincang dengannya dan..." Arion menghentikan ucapannya.


"Dan apa?" perempuan itu menatapnya heran, begitu juga dengan Kenneth.


"Dan dia Pamannya temanku.."


"Paman temanmu? S-siapa?" Perempuan tersebut bertanya untuk memastikan.


Lalu, Kenneth langsung menyerobot. "Kami yakin kami tidak punya hubungan apapun dengannya, kami juga baru kali itu bertemu dengannya di Argenhille tapi itu sudah cukup lama"


Petugas tersebut mengangguk paham. "Baiklah, terima kasih atas infonya" ucapnya. Ia melangkah menuju kudanya dan kemudian naik menungganginya.


"Jika kalian bertemu dengan Brian lagi, langsung laporkan ke pos keamanan yang terdekat. Dia itu sangat berbahaya"


"Kami sangat paham!" jawab Kenneth.


"Bagus" setelah itu, ia melesat dari sana meninggalkan dua pemuda itu di kota mati itu.


Kenneth bernapas lega sesaat petugas itu pergi, Arion memandanginya heran. "Kau kenapa?"


"Aku lega dia pergi"


"Kenapa?"


"Aku yakin aku pernah melihat wanita itu. Aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berhasil. Dia adalah Kapten Divisi Keamanan di Windnemus City. Mereka menyebut dia sebagai Panglima Wanita karena ia terkenal kuat dan sangat cepat. Ia bernama Alice Leinheart"


"Lalu?" Arion masih juga tidak paham.


Kenneth memukul kepala Arion karena kesal otak temannya ini tidak bisa menangkap apa yang ia katakan.


"Jika ia tetap disini, maka ia akan mengenalimu! Kau juga buronan internasional, sama seperti Brian ini!" ucap Kenneth, geram.


"Ya, sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, sebaiknya kita bersiap untuk bergegas" Arion melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Ketika sedang menyiapkan barang-barangnya, tak sengaja ia melihat cermin sihirnya. Ia mengambil cermin itu lalu mencoba untuk berkomunikasi dengan seseorang disana.

__ADS_1


"Eden, apa kau disana?"


__ADS_2