
"Ini sangat menyegarkan!" seru Eihar setelah dahaga di kerongkongannya lepas.
Tanoe minum dengan perlahan dan sopan, layaknya seorang bangsawan. Trimetra memperhatikan kedua muridnya yang jelas berbeda sikap.
"Kau itu.." Tanoe meletakkan gelasnya kembali ke meja. "Seperti hidup di gurun saja. Mana tata kramamu?"
"Ha?" Eihar mengangkat alis kanannya. "Kau tidak bisa memerintahkanku seperti itu"
Trimetra menghela napas pelan. "Kalau sudah selesai, kita berangkat lagi sekarang"
"Eh, Guru! Tapi, kita baru sampai" ucap Eihar.
"Benar juga" gumam Tanoe.
Kedai minuman ini ramai pengunjung. Mereka duduk di salah satu meja disana. Trimetra dan kedua muridnya saat ini sedang berada di luar tempat tinggal mereka. Grand Elder menyuruh Trimetra melakukan perjalanan bersama kedua muridnya.
"Lagipula.." Eihar meneguk kembali minumannya. "Grand Elder tidak akan keberatan kita akan pulang lebih lama"
Tiba-tiba, Tanoe mengejang kaget. Ia merasakan sesuatu dari luar. Trimetra melirik keluar jendela yang berada tepat disamping mereka.
Ada kampak, melayang kearah mereka.
Trimetra menepuk tangannya, tercipta perisai air disamping mereka. Kampak itu masuk melalui jendela dan berhenti mengenai dinding air.
Pengunjung kedai menjadi panik dan histeris. Mereka berlari keluar untuk menyelamatkan diri.
Mereka di serang.
"Apa yang terjadi?!" tanya Eihar terkejut.
"Ayo!" Tanoe menarik Eihar ke lantai.
Trimetra segera berdiri. Ia melihat lima buah pasak besi mengarah ke dalam kedai, dan anehnya pasak itu dialiri energi. Kelima pasak menembus memasuki kedai, Trimetra berhasil menahan dua diantara mereka, tapi ketiganya lolos karena pergerakkannya sangat cepat.
Ketiga pasak besi menancap di lantai. Trimetra melihat ketiga pasak itu sejenak. Eihar penasaran, ia ingin menyentuhnya tapi Tanoe segera menarik tangan Eihar.
"Apa kau gila? Itu dialiri energi dan mungkin saja bisa membunuhmu!" kata Tanoe.
"Kalian berdua segeralah bersembunyi!" seru Trimetra.
Eihar dan Tanoe langsung berlari kebelakang dan mengintip dari sana. Trimetra menghancurkan kedua pasak besi yang ia tangkis dengan genggaman airnya.
"Siapa yang melakukan ini?" gumam Trimetra.
Tiba-tiba, ia merasakan getaran cukup kuat dari luar. Getaran itu bermunculan mirip seperti langkah sesuatu yang besar. Makhluk besar kemungkinan sedang berkeliaran diluar.
Trimetra bersembunyi di balik meja bar. Ia merasa ada yang masuk ke dalam kedai. Eihar dan Tanoe mengintip.
"Masuk!" bisik Trimetra. Mereka pun menurut.
"Kedai ini kosong" itu suara seorang pria.
"Aku yakin merasakan ada tiga energi disini" dan yang ini suara wanita.
"Bagaimana kalau kita periksa?" tanya yang wanita.
"Tidak, kita sudah membuang-buang waktu. Faesa benci kita membuang-buang waktu" tolak si pria.
Trimetra mengerutkan dahinya. Ia merasa pernah dengar nama Faesa. Ia pun terus mendengarkan percakapan mereka.
"Hey, kalian" suara wanita lagi, tapi bunyinya berbeda. Itu Fieyni.
"Tugas kita sudah selesai. Kita ditugaskan untuk berkumpul di luar desa" lanjutnya.
"Baik!" jawab mereka serentak.
Akhirnya mereka bertiga melangkah pergi. Trimetra menghela napas lega, ia mengintip dulu sejenak keluar, barulah ia berdiri.
"Keluarlah" kata Trimetra.
Eihar dan Tanoe menghampiri guru mereka. Tanoe mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang kacau, Eihar yang penasaran dari tadi berlari keluar.
"Eihar!" panggil Trimetra. "Jangan keluar, berbahaya"
Eihar menghiraukan panggilan Trimetra, karena rasa penasarannya sangat tinggi. Langkah Eihar melambat seiring ia berjalan keluar. Ia pun berhenti, mulutnya mulai menganga.
"Eihar!" Trimetra berlari menghampirinya. Pria itu ikut termenung melihat pemandangan di depannya.
"Ini.." Tanoe melihat ke kiri dan kanan. Disekitar mereka kacau dan hancur lebur. Banyak korban yang berjatuhan, dan bangunan disana di hancurkan menjadi rata dengan tanah.
Sejam yang lalu, desa ini ramai dan bangunannya masih kokoh. Dan sekarang, nasibnya menjadi begini.
"Ini pasti ulah mereka tadi" ujar Tanoe.
"Guru" panggil Eihar. "Mereka itu siapa?"
Trimetra memandangi raut wajah Eihar. Ada rasa takut disana, tapi... wajahnya lebih menggambarkan kearah rasa kebencian.
"Kurasa ini perbuatan Ethinos" Tanoe menjawab pertanyaan Eihar.
"Ya, kurasa juga begitu" sahut Trimetra.
***
"Menurutmu... berapa lama rencana ini akan siap?" tanya Arion yang masih fokus kepada tiga lembaran kertas di tangannya.
"Kurasa.. sebulan, mungkin lebih" jawab Mifori seraya membersihkan vas bunga.
"Sebulan? Berarti-" Arion mengerutkan dahinya, namun...
"Arion!"
Seseorang memanggilnya dari depan rumah, Arion menoleh lalu tersenyum lebar. Itu Kenneth dan Elena, mereka membawa dua bungkus kertas.
"Ken, Elena, kalian lama sekali. Mana Gen? Dan apa yang kalian bawa itu?" tanya Arion.
"Kami tadi belanja" jawab Kenneth sambil nyengir. "Gen kami tinggalkan"
"Dasar.." Arion bangkit dari duduknya. "Apa itu?"
"Ini barang belanjaan kami" jawab Elena. Mereka melangkah mendekati Arion. Bungkusan kertas itu ia buka, di dalamnya ada pakaian yang bagus dan juga sebuah kalung perak.
"Wah!" Arion berdecak kagum. "Ini sangat bagus..." Arion menyipitkan matanya, ia melihat ada sebuah pakaian yang terlihat rusak.
__ADS_1
Arion mengambilnya dan memperlihatkannya kepada mereka. "Ini.. kenapa rusak?" tanya Arion. Mifori ikut melihat. "Ini sepertinya bahan gagal" ujarnya.
"Ah, tidak apa, tidak perlu dipermasalahkan" Kenneth menjawab seadanya.
Arion mengangguk perlahan, tapi ia tidak sengaja menengok kearah Elena yang kelihatannya membuang muka dengan sengaja. Arion merasa ada yang aneh, terlebih lagi raut wajah Elena yang menyatakan ada rasa bersalah disana.
Tapi, Arion tidak ingin membuatnya panjang lebar.
"Kalung ini indah, bukan begitu, Mifori?" ucap Arion.
"Betul, kurasa kalung ini cocok di leher Nona Rena, agar Tuan Daendra menjadi terpana melihat keindahan Nona Rena yang ditambah dengan pakaian-pakaian ini" kata Mifori dengan nada usil, sesekali ia tertawa pelan.
"Haaa, kau betul juga" Arion terpikir rencana iseng di kepalanya sambil mendorong Mifori pelan.
"Ya! Aku sudah membeli sebuah pakaian untuk Rena dan kalung itu juga untuknya" sahut Kenneth.
"Baiklah, kau bisa meletakkannya ke dalam. Suruh Erna merapikannya" kata Arion.
Mifori membawa pakaian itu ke dalam. Tiba-tiba, Kenneth teringat sesuatu yang membuatnya tersentak kaget.
"Kenapa kau?" tanya Elena.
"A-aku lupa sesuatu. Aku akan segera kembali" jawab Kenneth. Ia pun lari secepatnya meninggalkan mereka berdua.
Arion menjadi heran sendiri dengan tingkah kedua temannya ini.
"Nah, sekarang.." Arion menoleh ke Elena. "Ada yang ingin kau ceritakan?"
"Apa maksudmu?" tanya Elena, bingung.
"Ekspresi itu" Arion menunjuk wajah Elena. "Ada yang tidak beres dari ekspresimu itu"
Elena memalingkan wajahnya. "Aku tidak ingin menceritakannya"
"Baiklah..? Terserahmu saja" Arion melangkah pergi sambil mengedikkan kedua bahunya. Namun, pakaiannya di pegang oleh Elena dari belakang. Arion menoleh dan mendapati Elena sedang tertunduk.
"Baik, akan kuceritakan" ucapnya.
"Aku tidak memaksamu" Arion berbalik.
"Saat belanja tadi..." Elena tetap bercerita.
"Hey, aku tidak memaksamu untuk menceritakannya" kata Arion dengan ekspresi datar.
Elena melanjutkan ceritanya. Ia tidak mempedulikan ucapan Arion.
FLASHBACK...
Kenneth dan Elena berjalan-jalan di gedung pusat pebelanjaan itu. Mata Kenneth berbinar melihat seluruh barang yang dijual, sesekali ia berdecak kagum karena kebanyakan barang-barang itu sangat bagus dan mewah.
Berbeda dengan Elena, ia sedari tadi terus berjalan memandangi lantai. Entah kenapa disaat seperti ini ia menjadi kurang percaya diri. Sesekali Elena melirik ke sekitar, ia sadar kalau mereka berdua sedang ditatap oleh orang-orang disana. Tatapan itu sangat menganggu, apalagi tatapan yang merendahkan seseorang.
Wajar saja, kebanyakan pembeli dan penjual disana berasal dari orang dengan harta yang berlimpah. Bagi mereka adalah hal yang aneh melihat kedua remaja dengan pakaian biasa memasuki area ini.
Elena semakin tidak nyaman, tapi ketika merasakan genggaman tangan Kenneth yang kuat dan hangat membuatnya bisa merasa aman dan ketika ia menoleh ke wajah Kenneth, seketika ia bisa mengacuhkan pandangan orang-orang itu. Ia merasa kalau gedung ini hanya mereka berdua saja yang berjalan-jalan disana.
"Wah! Lihat itu!" kata Kenneth. Ia menunjuk kearah toko pakaian. Kenneth menghampiri tokoh itu.
"Kau ingin membelinya?" tanya Elena.
"Bagaimana, ya?" Kenneth berpikir-pikir dulu. "Jubahku ada dua, menambahkannya akan sia-sia, tapi.." Kenneth tidak bisa berpaling dari jubah itu"
Elena menggeleng pelan sambil tersenyum. Ia pun menghampiri pemilik toko dan mengatakan ingin membelinya. Beberapa saat kemudian, Elena kembali dengan jubah itu.
"Ini" Elena melempar jubah itu ke wajah Kenneth. "Kau bisa memilikinya"
"K-kau membelinya?!" tanya Kenneth, kaget.
"Ya" Elena memandangi sekitar. "Bagaimana kalau kita kesana?" tanyanya sambil menunjuk kearah yang ia maksud.
"Kemana? Kesana? Itu? Butik Wanita itu?" tanya Kenneth.
"Iya" jawab Elena. Rasa kepercayaan dirinya kembali. Ia melingkarkan kedua lengannya di lengan Kenneth.
"Sekalian aku ingin membelikan pakaian untuk Rena dan juga Erna" ucapnya.
"Ooh, baiklah!"
Sesampainya di butik itu, Elena pun mulai melihat-lihat. Kenneth memperhatikan gadis itu yang terlihat serius memandangi pakaian-pakaian disana.
Ia pun mendehem. "Tidak kusangka seorang Thief bisa pilih-pilih barang"
Merasa disindir, ia pun menjawabnya, "tentu saja, kalau tidak bagaimana aku bisa menentukan mahal atau tidaknya barang itu. Setiap Thief tahu itu, apalagi aku. Aku itu pemilih di setiap hal, pakaian, makanan, kendaraan, pasangan"
"Pasangan? Kau yakin bisa memilih pasanganmu?" tanya Kenneth.
"Yakin. Aku harus mencari pasangan yang benar dan tidak aneh sepertimu" ucap Elena.
Kenneth berbalik sambil meletakkan kedua tangannya ke belakang kepalanya. "Kau bisa saja salah, kan? Perempuan itu merumitkan"
"Kami tidak rumit, kami itu hanya mencari yang terbaik"
"Ya, ya, terserah apa katamu"
Elena memasang wajah cemberutnya. Tiba-tiba, dari belakang ada memegang pundaknya. Elena menoleh, ternyata seorang wanita paruh baya.
"Kau kemari hanya untuk melihat-lihat atau membelinya?" tanya wanita, ketus sekali. Sepertinya dia pemilik toko ini.
Kenneth melirik kearah mereka.
Seperti biasa, Elena tidak akan memasukkan kata-kata orang ke dalam hati. Ia merespon tanpa emosi, "jika ada yang menarik di mataku, pasti akan kubeli"
"Cepatlah! Kau menganggu pemandangan pembeliku" kata pemilik toko itu.
"Hey-" Kenneth ingin membalas perkataan sinis wanita itu, tapi Elena mengangkat tangannya.
Ia tersenyum. "Baik, kami akan pergi sekarang"
Elena memegang tangan Kenneth lalu menariknya keluar toko. Kenneth ingin protes kepada Elena, tetapi gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang di depannya.
Kenneth kaget. Elena melangkah mundur sambil mengelus kepalanya.
Sialnya, orang yang baru saja ditabrak oleh Elena merupakan wanita muda yang berasal dari kelas bangsawan dan didampingi rombongan teman-teman beserta pengawalnya.
__ADS_1
Wanita itu juga terkejut, mulutnya menganga karena tidak menyangka akan ditabrak seperti tadi.
"Apa-apaan kau ini?!" bentak wanita itu. Dua pengawalnya segera berdiri disamping wanita itu.
"Maaf, aku tidak sengaja" Elena membungkuk sedikit.
Wanita itu menengok kearah bingkisan kertas yang ia bawa dan kebetulan ditabrak oleh Elena. Wanita tersebut segera membuka bingkisan itu untuk memeriksa barang belanjaannya.
Mendadak, wanita itu menjadi tambah kaget. Perlahan ia mengeluarkan barangnya itu, terlihat sebuah pakaian yang telah kusut dan... rusak. Terlebih lagi, ada yang sobek walau itu sedikit.
"Lihat apa yang kau perbuat!" wanita itu tambah marah.
Elena hanya diam memandanginya, tiba-tiba Kenneth langsung menengahi. "Nona-"
"Nyonya!" koreksi wanita itu.
"Baik. Nyonya, temanku ini tidak sengaja menabrakmu, kalau ia melihatmu pasti akan segera menyingkir"
"Ini barang mahal! Aku tidak peduli cewek sialan ini sengaja atau tidak, kalian harus ganti"
"Cewek sialan.." batin Elena, ia terdiam menatap lantai dengan mata melotot.
"Dasar payah, baru kali ini aku melihat orang miskin seperti kalian berkeliaran disini" lanjutnya. "Hey, apa kau bisa menggantinya gadis miskin? Apa perlu kau memanggil Ayah dan Ibu miskinmu kemari"
Elena semakin menegang. Jantungnya berpacu sangat kencang, darahnya mengalir cepat dan dadanya naik-turun. Kali ini ia sangat marah, hinaan wanita itu berhasil menembus pertahanan kesabarannya.
"Hey! Jaga bicaramu, Nyonya Lancang!" seru Kenneth. Elena menoleh ke Kenneth.
"Kau tidak berhak mengatainya seperti tadi! Kurang ajar sekali kau!" lanjut Kenneth. Sepertinya, lelaki ini yang lebih marah.
Pengawal wanita itu segera melindunginya, tapi mereka diam membeku. Kenneth telah menyerang dengan membekukan apa saja yang ada di dalam diri mereka.
"Jangan merasa dirimu yang paling kaya, kau bisa merendahkan orang sesukamu!"
Wanita itu mulai ketakutan, ia berjalan terus ke belakang dan tersandung dengan kakinya sendiri. Ia pun terjatuh, teman-temannya tidak ada yang berani menolong setelah melihat para pengawal jatuh tanpa disentuh sekalipun oleh Kenneth.
"Kau mau uang, kan?!" Kenneth mengeluarkan dua kantung penuh dengan koin emas. "Ambil ini!" Kenneth melempar dua kantung koin kepada wanita itu, seperti memberi sedekah kepada pengemis dengan cara yang kasar.
"Ku ambil ini" Kenneth memungut pakaian rusak itu. "Semoga saja aku tidak melihat wajah angkuhmu lagi. Dasar, cewek sialan" ucap Kenneth, ia menghampiri Elena yang terpaku di belakangnya. Kenneth menariknya pergi dari sana.
"Ken.." gumam Elena.
"Tidak apa, Elena, kau tidak perlu memikirkan perkataan wanita sombong itu" ucap Kenneth, ia masih kesal dengan kejadian tadi.
Elena tersenyum tipis, tapi sangat lembut. "Terima kasih"
Kembali ke waktu semula...
Arion duduk berjongkok ditanah sambil mendengarkan cerita Elena. Ia terus mengangguk-angguk seraya menggambar-gambar di tanah.
Elena masih berdiri, ia memainkan jari-jemarinya. Ia tidak pernah merasa selemah dan terpojok seperti ini. Elena juga tidak pernah dibela oleh orang lain sampai segitunya. Mungkin, Kenneth yang pertama.
"Aku sudah menebaknya" Arion bangkit. "Kenneth adalah lelaki yang setia kawan"
"Aku harus membalas kebaikannya" ucap Elena.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, asalkan Kenneth tetap bahagia dengan apa yang kau perbuat" jawab Arion.
Elena mengangguk.
"Baiklah, sepertinya ada pekerjaan yang harus kukerjakan. Aku masuk dulu" kata Arion, ia pun melangkah pergi ke dalam rumah.
***
Di malam harinya, Elena dan Rena sedang memperhatikan Rofa dan Ed sedang bermain-main dengan Foma.
Keduanya mengobrol sambil bersenda gurau.
"Sepertinya kau akan menjadi Ratu setelah ini" ucap Elena dengan nada iseng.
"Aku tidak memikirkannya sampai sana. Kurasa, akan ada pengorbanan yang besar untuk mencapainya" jawab Rena.
"Ya, kau benar. Aku juga tidak menyangka akan menjadi bagian dari kalian" Elena tersenyum miring. "Sepertinya, aku harus berterima kasih kepada Arion dan Kenneth karena mengajakku. Kalian juga menyambutku dengan tangan terbuka"
"Ah, tidak perlu dipikirkan. Elena itu sangat cocok dengan mereka berdua. Walau kau berasal dari kelas Thief, kau masih bisa berteman baik dengan mereka"
Elena tertawa pelan. "Benarkah begitu?"
Lalu, Rofa memanggil Rena untuk ikut bermain dengan mereka. Rena pun datang menghampiri mereka.
"Suasana kekeluargaan ini... kapan terakhir kali aku merasakannya?" gumam Elena.
"Hey!" seru seseorang dari belakangnya, membuat Elena hampir melompat kaget.
"Apa-apaan kau ini?" Elena memukul perut Kenneth karena saking kesalnya. Lelaki itu meringis kesakitan sambil memegang perutnya, ia melangkah perlahan menuju kursi disamping Elena.
"Pukulanmu... sangat menyakitkan" ucap Kenneth.
"Makanya jangan main-main" Elena melipat tangannya di dada. "Tadi siang, kau melupakan apa?"
"Oh benar juga!" Kenneth segera merogoh sakunya. Sebuah kalung perak keluar dari sakunya.
"Eh? Apa itu? Kau mencurinya, ya?" tuduh Elena.
"Kenapa kau malah berpikiran seperti itu?!" Kenneth tidak terima. "Aku membelinya pakai uangku sendiri"
"Begitu? Lalu, untuk apa kalung itu?"
"Untukmu"
"Apa?" Elena menganga. "T-tidak, tidak perlu, kau tidak perlu sampai segitunya"
"Apa maksudmu? Ini aku hadiahkan untukmu. Kemarilah"
Elena ingin tetap menolak, tapi Kenneth tetap bersikeras. Akhirnya Elena menurut. Kenneth memasangkan kalung itu di leher Elena, walau sempat kesusahan.
"Hm! Ternyata cocok" Kenneth mengangguk. "Kau makin cantik"
Elena mengangkat kedua alisnya. Kenneth segera menyadari ucapannya barusan, wajahnya pun memerah.
"M-maksudku! Maksudku, kalung itu tampak manis di lehermu" Kenneth segera memalingkan wajahnya dari Elena.
"Oh" Elena kembali memandang ke depan dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1