
Elena datang dan berdiri disamping mereka. Arion dan Daendra secara bersamaan menoleh ke gadis itu.
“Seluruh warga sudah menyingkir dari sini, kita bisa memusatkan penyerangan terhadap pihak istana” jelas Elena tanpa menunggu salah satu diantara mereka meluncurkan pertanyaan.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, tidak akan ada yang boleh melukai warga kota. Area yang terlibat dalam peperangan adalah hanya pusat kota, karena area inilah yang merupakan area terdekat dengan istana.
“Kita tunggu reaksi dari istana, baru kita akan bergerak” Daendra memberi instruksi yang dibalas anggukan dari Arion.
Sementara itu, Glenn bertemu dengan beberapa prajurit. Glenn berteriak sambil menerjang mereka, adu senjata dan Qube pun tidak terhindarkan. Rumah-rumah disana terkena imbas pertarungan mereka. Prajurit kekaisaran ini ternyata lebih kuat dari kerajaan biasa, hal ini lah yang membuat Rabadar mampu meluaskan wilayahnya. Glenn sempat kesusahan disini, sebelum Leni datang dan membantu menyerang dari atas.
“Terus bergerak!” seru Leni.
“Ya!” Glenn menjawab dengan mengangkat gadanya keudara.
Di sisi kota lain, dua Giant nampak melempar-lemparkan tubuh manusia keudara. Centaur yang berada dibawah mereka sedang beradu kekuatan dengan prajurit berkelas Destroyer dan Defender. Pertarungan kelas berat itu terjadi diantara langkah-langkah dua Giant yang sedang disibukkan oleh prajurit yang terus menerus melakukan serangan kepada mereka.
Mike dan Mifori yang tidak banyak membantu hanya bisa memantau keadaan dari atas atap sebuah bangunan. Ia meneliti gerakan prajurit kekaisaran yang menuju kemari, setelah itu ia melaporkannya kepada salah satu Centaur.
Untuk lokasi Luke dan Kenneth, saat ini mereka tengah dikepung oleh beberapa prajurit sebelum orang dalam pihak Daendra datang membantu. Ya, seperti yang telah diterangkan, Rabadar Empire saat ini sedang sangat kacau karena serangan yang mendadak ini. Pasukan di istana juga sempat kocar-kacir karena intruksi yang diberi oleh atasan selalu berubah-ubah seiring penyerangan yang dilakukan pihak luar.
Swussh!
Sebuah anak panah melesat menembus udara, menuju Arion dan Daendra. Beruntung karena Daendra mempunyai refleks yang bagus, sehingga ia dapat menangkap anak panah itu sebelum menancap dikepalanya sendiri.
“Sudah dimulai” kata Daendra, lalu ia membuang anak panah itu.
Arion menatap kebawah. Disana, ada seorang pemuda berdiri ditanah yang memasang tatapan datar, tidak peduli kekacauan yang sedang mengitari disekitarnya.
__ADS_1
“Itu Reilo” kata Daendra. Lalu ia menoleh ke Elena. “Kau bisa membantu yang lain, biar kami yang membereskan orang itu”
“Baiklah” Elena lalu melompat pergi dari sana. Arion dan Daendra pun turun dari menara dan langsung menapakkan kakinya ditanah, berdiri dihadapan Reilo yang jaraknya beberapa meter didepan.
“Ternyata aku salah” Reilo membuka suara. “Aku kira ada pihak kerajaan yang bodoh untuk menyerang Rabadar, tapi melihat kalian berdua yang menjadi dalang dibalik semua ini, aku bisa memakluminya” Reilo lalu memperhatikan kedua pria yang sudah tidak asing dimata dunia. “Mantan Pangeran Mahkota, Daendra dan Whiteblood terakhir, Arion”
“Pangeran Reilo, kami sangat tersanjung atas sambutan yang kau lakukan barusan” Daendra menyeringai mengerikan. “Aku kemari hanya ingin berkunjung tapi dengan satu alasan, yaitu merebut kembali kursiku yang seharusnya tidak ditempati oleh bokong pria tua itu”
Ekspresi Reilo menggelap mendengar cemoohan yang dilontarkan Daendra kepada Dominick. “Menghina seorang Kaisar adalah kejahatan yang cukup besar, Daendra, aku harap kau tahu itu”
“Aku tahu itu” Daendra mengangguk enteng.
“Tapi, aku lebih suka menganggapnya sebagai kebanggaan dari pada penghinaan. Mengingat dia membawa kerajaan ini menjadi kekaisaran, itu adalah prestasi yang besar dan aku berterima kasih sekali” Daendra lagi-lagi menyeringai licik. Daendra rupanya masih memiliki akal dan jiwa yang sinis.
“Baiklah, cukup basa-basinya, mari kita akhiri dengan cepat. Aku mempunyai jamuan makan malam di kerajaan lain malam ini” Reilo menyimpan busurnya kepunggung lalu mencabut pedang dari sarungnya.
Traang!
Dua tembok beton menahan serangan mereka berdua, membuat kedua pedang mereka terpaksa membentur beton yang tiba-tiba muncul ini.
“Menjauh dariku!” suara teriakan Reilo terdengar diantara dua beton tersebut. Sesaat kemudian, dua pukulan besar keluar dari dalam sana, menghancurkan dua beton yang menghalang serangan mereka berdua lalu menghantam tubuh Arion dan Daendra hingga mereka terhempas beberapa meter dari Reilo.
“Daendra, kau tidak apa?” tanya Arion dari ujung sana. Terlihat pelindung es terpampang dibadannya, melindungi tubuh dari pukulan telak itu.
“Ini bukan apa-apa” jawab Daendra. Ia menatap tajam kearah Reilo. “Memberi perlawanan yang sulit, ya? Tapi, apa kau bisa bertahan dari ini?!” gumam Daendra.
Daendra menyentuh tanah dibawahnya sambil komat-kamit mengucapkan mantra. Semburan api muncul dari bawah tanah, menuju cepat kearah Reilo dan mengitarinya, membuat suhu disekitar Reilo meningkat drastis.
__ADS_1
“Kau berusaha memanggangku, Daendra?” tanya Reilo. Ia melompat keudara, menjauhi semburan api tersebut, lalu mendarat dibelakang Arion yang tiba-tiba siap mengayunkan pedang keleher Whiteblood itu.
Dengan sigap, Arion menangkis dengan mudah, kilasan mata Arion menunjukkan kewaspadaan terhadap Reilo.
Ia benar-benar terkejut ketika menyadari Reilo ini adalah lawan yang cukup merepotkan, berbeda saat pertama kali mereka bertemu dan berbeda juga saat Arion menjatuhkannya dari atap ketika sedang mengejar dirinya.
Arion mendorong pedang Reilo dengan pedangnya sendiri, lalu ia luncurkan dengan cepat kearah leher lelaki tersebut. Disana mereka saling adu pedang, keduanya saling bertukar serangan dan saling memojokkan. Lalu, tiba Daendra untuk mengacaukan kesenangan Reilo. Ia menghunuskan pedangnya dari belakang, lagi-lagi muncul tembok beton yang menghalangi serangannya.
“Flame Sword!”
Daendra melumuri pedang dengan apinya, lalu ia menebas dinding kokoh itu dan hancur berkeping-keping. Disaat yang bersamaan, Reilo kaget. Ia terpojok, Arion bersiap mengayunkan pedangnya lagi, dan Daendra yang hendak menghunuskan pedangnya.
Reilo segera merendahkan badan dengan sangat cepat. Serangan kedua laki-laki itu meleset dan hanya mengenai angin. Tapi, Arion sudah menyadari pergerakkannya. Ia pun mengeluarkan es dari dalam tanah, menjebak kedua kaki Reilo hingga tidak dapat bergerak bebas.
“Hah?!”
Reilo kaget. Tanpa berkata-kata, Arion menghunuskan pedangnya menuju jantung Reilo, namun sebuah getaran yang sangat kuat muncul, sehingga serangan Arion melesat dan hanya menusuk bahu lelaki. Walau meleset, jeritan Reilo sangat keras menandakan tusukan tersebut tidak main-main sakitnya.
Jantung Arion berdetak cepat, ia segera mendongak keatas. Matanya melebar, sangat melebar. Ia melihat beberapa tubuh hewan raksasa berjatuhan dari udara dan hendak menimpa apapun yang ada dipermukaan saat ini.
“Daendra, kemari!” seru Arion dengan panik.
Daendra segera mendekati Arion dan Whiteblood itu langsung mengeluarkan tongkatnya dan kemudian ia hentakkan ketanah. Sebuah perisai cahaya muncul untuk melindungi mereka berdua, tapi tidak untuk Reilo yang masih berada ditanah terbuka dengan kedua kaki yang membeku.
Ia akan mati disana dan Arion serta Daendra tidak mungkin memberinya perlindungan.
Tidak sampai tiga detik, hewan-hewan raksasa ini jatuh ke permukaan, menyebabkan kembali getaran yang sangat besar, seolah-olah terjadi gempa bumi disini.
__ADS_1
Mereka menimpa seluruhnya dan apapun yang ada disana, tidak peduli ia benda hidup atau mati, semuanya akan tetap terkena timpaan itu, kecuali mereka yang segera menyadari kedatangan tubuh hewan-hewan tersebut.