
Arion dan Daendra melesat cepat di pinggiran sungai. Sejauh ini mereka tidak mendapat gangguan dan sepertinya mereka akan sampai ke tempat tujuan.
"Seharusnya Rena ada di depan!" kata Daendra.
Arion merasakan aliran Qube seseorang mendekat. "Daendra, berhenti!" teriaknya.
Daendra langsung berhenti. Tiba-tiba, batu besar menggelinding kearah mereka dari depan sana. Arion dan Daendra menghindar ke samping, batu besar itu melewati mereka.
"Sial, apa lagi sekarang?" gerutu Daendra.
Seorang bertopeng (lagi) muncul di hadapan keduanya. Memegang kapak besar yang ia pegang di bahunya. Tubuhnya besar dan tinggi, serta terlihat sangat kekar.
"Astaga.." kata Arion, tercengang.
"Grraauurr!!" Pria besar itu menggeram, lalu menghantam tanah dengan kapaknya hingga menyebabkan retakan besar dan juga goncangan.
"Orang ini gila!" teriak Daendra.
Pria itu memanggil dua harimau hitam. Dua hewan itu memiliki mata merah dan terlebih dari itu, ukuran tubuhnya juga besar. Mulut kedua hewan itu memiliki busa, seperti anjing gila.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Arion.
"Aku sudah tidak mau membuang-buang waktu lagi!" Daendra bersiap untuk mengeluarkan kekuatannya.
"Fire Release - Gigantic Fireball!"
Bola api raksasa muncul diatas Daendra. "Rasakan ini!" Ia mengarahkan bola api itu kearah pria tersebut.
"Water Release - Wall of Water!"
Pria itu menghentakkan kakinya ke tanah. Tiba-tiba, air sungai itu melonjak keatas dan melindungi pria itu dari serangan bola api Daendra.
"Ice Bullets!"
Puluhan peluru es melesat. Tapi masih bisa ditangkis oleh pria itu dengan kapaknya.
"Ck! Apa kita memang harus melawannya?" tanya Arion.
"Kurasa tidak perlu!"
Suara itu muncul dari atas, mereka sama-sama mendongak keatas untuk melihat pemilik suara itu.
"Glenn!" Kata Arion, kaget.
Glenn mendarat mulus di depan Arion dan Daendra. Ia menunjukkan senyum miring kepada pria besar itu.
"Serahkan saja yang ini kepadaku" Glenn mengambil gada dari punggungnya.
"Glenn, bagaimana bisa?" tanya Arion.
"Aku sudah pulih dan tanganku ini gatal untuk bertarung" jawab Glenn.
Arion menghela napas pendek. "Baiklah, yang ini akan kuserahkan kepadamu"
"Tentu saja"
"Beri kami jalan" ucap Daendra.
Glenn memukul gadanya ke tanah, membuat tanah yang ada di depannya melonjak keatas dan mengurung pria itu. Arion dan Daendra segera berlari dari sana.
"Semoga berhasil!" seru Glenn sambil melambai.
Mereka berdua kembali bebas dari hambatan. Namun, tanpa mereka sadari, mereka sudah memicu sinyal bahaya yang sudah dipasang oleh pasukan Retian.
Retian langsung mengetahui kalau Arion dan Daendra sudah lolos dari orang terakhirnya. Ia mencengkram tongkatnya karena kesal.
"Mereka hampir sampai kesini. Halangi mereka!" perintah Retian.
"Siap, Tuan!"
Pasukan Retian yang terdiri dari Goblin, Orc dan beberapa Undead ini berbondong-bondong menuju Arion dan Daendra.
Arion merasakan aliran Qube mereka semua. Matanya melebar dan keringat dingin bercucuran di wajahnya.
"Ada apa?" Daendra menyadari kepanikan Arion.
"Mereka menyadari kita disini" jawab Arion.
Daendra terkejut, ia kembali menoleh ke depan. Beberapa saat lagi mereka akan bertemu dengan pasukan itu.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung mereka terus berdebar. Seketika suasana menjadi hening.
"Bersiaplah" kata Arion, dingin.
Deg!
Pasukan itu muncul di depan mereka. Mereka beramai-ramai berlari menyerang Arion dan Daendra.
__ADS_1
"Qube Art - Flame Sword!"
"Qube Art - Ice Sword!"
Mereka berdua bersiap untuk berbentur dengan pasukan itu. Keduanya mengerang seraya menebaskan pedang elementnya ke pasukan lawan. Tercipta kobaran api dan siraman es dari tebasan kedua pedang itu, namun itu tidak banyak membantu.
Seketika saja mereka sudah berada di tengah-tengah musuh. Untuk mereka yang masih di akademi, ini merupakan pertarungan pertama mereka yang sangat sulit. Jika mereka terus seperti ini, maka hanya ada peti mati untuk keduanya.
"Earth Release - Mud Golems!"
Tiba-tiba saja muncul lima golem tanah raksasa, menghambur-hamburkan pasukan Retian. Arion dan Daendra menjadi tercengang, mereka kaget melihat kedatangan Mike dan orang-orangnya.
"Mike!" ucap Arion.
"Arion, kami sudah menunggumu. Tak kusangka kau bisa secepat ini" kata Mike.
Orang-orang Mike mengeluarkan kekuatan mereka untuk membantu Arion dan Daendra. Kini perlawanan mulai seimbang, Mike segera menyusul Arion dan Daendra yang ada di garis depan.
"Kau dari tadi disini?!" tanya Arion selagi terus menyerang.
"Ya! Kami bersembunyi!" jawab Mike.
"Sulit dipercaya" Daendra menggeleng pelan.
"Kami akan membukakan jalan untukmu!" Mike berseru. Tangannya berubah menjadi batu lalu ia memukul makhluk-makhluk yang ada di depannya.
"Qube Art - Wing Slash!"
Arion menebaskan pedangnya ke udara, menimbulkan gelombang angin yang cukup kuat untuk menghempaskan mereka ke udara.
"Sial, kita tidak akan bisa!" teriak Daendra.
"Akan kuusahakan!"
Mike mengeluarkan lumpur dari mulutnya, lalu membentuk perisai besar. "Aku akan membukakan jalan ke depan"
Mike berlari menerjang dengan perisai lumpur itu di kedua tangannya. Arion dan Daendra mengikuti dari belakang. Ada dua golem yang melindungi dari belakang ketiganya.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke tempat rahasia Retian. Retian terkejut sekali melihat mereka masuk, Rena juga sama.
"Tuan!" kata Rena.
"Lawanlah dia!" seru Mike. Ia kembali ke belakang untuk membantu orang-orangnya melawan pasukan itu.
"Rena!" panggil Daendra. "Jangan khawatir, kami akan membebaskanmu"
Retian menghentakkan tongkatnya ke tanah. "Jangan mimpi!" Lalu, seekor burung bayangan besar muncul disampingnya. Burung itu memiliki panjang tiga meter dengan ekor yang panjang dan tinggi dua meter.
Retian mengangkat Rena keatas burung itu dan ia menunggangi hewan tersebut. Mereka terbang dan hendak keluar dari hutan.
"Kau bodoh kalau kehabisan pikiran" Eden tiba-tiba muncul di sampingnya.
Lelaki itu menciptakan gerbang teleportasi di depan. Ketiganya masuk ke dalam, kemudian gerbang yang satunya muncul diatas Retian.
"Habisi dia!" teriak Arion.
Daendra melesat menuju Retian. Sambil mengerang, Daendra bersiap untuk menebas, Retian menyambut tebasan itu dengan tongkatnya. Tercipta goncangan disana, Rena menjadi kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh dari burung itu.
"Tolong!!" teriaknya. Rena terjun bebas ke bawah. Mereka sudah terbang tinggi dan ingin meninggalkan kawasan hutan.
"Rena!" teriak Daendra sambil menahan tongkat Retian.
"Cih!" Retian menciptakan seekor burung lagi untuk menyelamatkan Rena. Daendra terkejut melihat Retian melakukan itu.
"Jangan salah paham. Gadis itu tidak boleh mati!" Lalu Retian mendorong Daendra dengan tongkatnya.
Disaat bersamaan, Arion dan Eden mendarat di tubuh burung itu. Mereka menahan tubuh Daendra yang baru saja didorong oleh Retian.
Tiga lawan satu dan arena pertarungannya berada di udara. Salah langkah saja akan terjatuh.
"Dengar! Kita tidak perlu bertarung disini, aku hanya akan membawa gadis ini ke pemimpinku dan aku berjanji tidak akan menyiksanya!" Bujuk Retian.
"Tapi kau akan membunuhnya nanti! Jangan kira aku bodoh! Jawab Daendra.
"Darah gadis itu berguna! Kami akan menggunakannya untuk membangun pasukan yang akan melakukan ekspedisi ke Pulau Karang yang ada di Blue Ocean!"
"Pulau itu sudah mati sejak beribu-ribu tahun yang lalu" ujar Eden.
"Kalian tidak paham! Pulau ini memunculkan kekuatan yang besar! Kami harus membangun pasukan untuk menyelidikinya!" ucap Retian.
"Kenapa kalian menyelidikinya?" tanya Arion.
"Ini atas permintaan pemimpinku!"
"Maksudmu Dark Lord?" sahut Eden. Retian kaget mendengar perkataan Eden.
"Dari mana kau tahu?"
"Dark Lord adalah penjahat dunia, ia membuat kekacauan 79 tahun yang lalu. Dan ia hampir memusnahkan klanku. Kakekku tewas disana akibat perbuatannya. Lalu, Ayahku kehilangan dirinya dan menjadi tidak waras"
Arion dan Daendra kaget dan melebarkan matanya mendengar kisah singkat dari Eden.
"Aku tidak tahu itu. Tapi, itu sudah lama sekali!"
__ADS_1
"Ya dan bekasnya sampai sekarang tidak pernah hilang!" Eden menyerang Retian menggunakan Element petirnya. Sebuah sambaran petir itu membuat sayap burung tersebut terluka.
"Sial." gumam Retian.
Mereka hendak jatuh. Retian segera memulihkan sayap burung bayangan itu, mereka pun terbang rendah di samping tebing.
Arion menoleh ke burung yang satunya, Rena masih berada disana. Daendra maju dengan pedang di depannya.
Retian dan Daendra kembali beradu. Mereka bertarung disana, Eden ikut membantu dengan menyerang dari belakang.
Daendra dipukul lalu terjatuh, Eden membuat gerbang portal di dekat Daendra dan masuk ke dalamnya. Daendra kembali muncul diatas dan berlanjut menyerang Retian.
Arion melompat ke burung yang satunya. Ia melepaskan ikatan rantai itu ditubuh Rena.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arion.
"Aku tak menyangka kalian akan datang" ucap Rena, terharu.
"Tentu saja dan asal kau tahu, Daendra yang paling bersikeras ingin menyelamatkanmu"
"B-benarkah?" Pipi Rena sedikit merona.
"Benar! Jadi, kita harus keluar dari masalah ini" kata Arion. Ia berbalik dan mengangkat tangannya ke depan.
"Semoga ini bisa.." gumamnya.
"Over Art - Explo Ice!"
Tiga bola es kecil terbang menuju Retian. Ketiga es itu meledak di depannya, membuat Retian membeku dan pandangannya sedikit terganggu. Daendra dan Eden menoleh ke Arion.
"Ayo!" sorak Arion.
Kedua burung itu hendak menghilang karena kendali Retian sudah tidak bisa mengendalikan mereka.
Arion mengangkat tubuh Rena dengan kedua lengannya, sedangkan Eden sibuk membuat gerbang portal secepatnya diantara kedua burung itu.
"Masuk sekarang!" kata Eden. Mereka semua masuk tepat sebelum kedua burung itu menghilang dan Retian terjatuh ke sungai yang ada di bawahnya, masih dalam keadaan membeku.
Di sisi lain, Luke dan Neo serta seluruh anggota yang melawan wanita bertopeng ini menjadi terpojok. Mereka semua sudah kehilangan Qube dan tenaga.
"Hahaha!! Matilah kalian!" kata wanita itu, tetapi tiba-tiba saja ia menghilang dari hadapan mereka.
Luke dan yang lainnya hanya termenung sambil terengah-engah.
Sedangkan Glenn, ia sedang bertarung sengit dengan pria besar itu. Ketika ia hendak melayangkan gadanya ke wajah bertopeng itu, pria tersebut mendadak menghilang.
"Hah?!" Glenn kaget, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Mike dan orang-orangnya juga mengalami hal yang sama, dimana para Undead itu langsung menjadi abu. Para Goblin dan Orc yang berada disana menjadi panik lalu berhamburan pergi.
"Apa yang terjadi?" kata salah satu orang Mike.
"Kurasa Arion berhasil mengalahkan Necromancer itu" jawab Mike.
***
Kilatan hitam muncul diluar hutan, lalu gerbang portal terbuka disana dan mengeluarkan empat remaja yang berada dalam keadaan kacau.
Hujan sudah reda beberapa jam yang lalu dan hari sudah sore. Angin sejuk meraba tubuh mereka semua.
"Sudah selesai, huh?" tanya Arion, napasnya terputus-putus tapi ia tetap tersenyum.
Daendra juga tersenyum. "Kurasa.. begitu" ia sama lelahnya dengan Arion.
Eden menatap hutan itu dengan datar. "Alam menyembunyikan rahasianya" gumam Eden.
Daendra menoleh ke Rena. "Kau tidak apa?"
"Ya, aku baik-baik saja" jawab Rena sambil tersenyum. "Aku senang Tuan menyelamatkanku"
Tiba-tiba, Daendra memeluk Rena dengan erat. "Kau membuatku.. cemas"
"T-Tuan..?" Rena cukup kaget. Ia tersenyum lalu membalas pelukan Daendra.
Daendra melepaskan Rena dan memegang kedua bahunya "Jangan panggil Tuan lagi, cukup panggil namaku saja"
"Baik. Daendra.." Meskipun ragu, Rena tetap menyebutkan nama Daendra sambil sedikit tertawa.
Arion senang melihat mereka kembali bersama.
"Rasanya seperti ada yang tertinggal di dalam sana" Eden menunjuk hutan itu.
"Ah iya! Luke dan yang lainnya! Mereka masih berada disana" teriak Arion, panik.
***
Di sungai, seseorang berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari sungai itu. Tubuhnya basah kuyup dan ia batuk-batuk mengeluarkan air dari dalam mulutnya.
Retian bangkit, ia duduk dibawah pohon dan membiarkan paru-parunya untuk bernapas.
"Akan kuburu kau, Bocah Es. Berani sekali kau membuatku hampir mati. Awas saja kau"
Seekor burung datang hinggap di bahunya. Hewan itu terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Retian.
__ADS_1
"Apa? Dia istimewa? Oh, begitu, aku akan mencari tahu asal usulnya"