The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Pangeran Arion


__ADS_3

Arion membuka matanya. Ia mendapati dirinya ada di tengah-tengah padang rumput yang luas tanpa satupun pohon sepanjang mata memandang.


Arion bangkit, angin sepoi-sepoi datang menabrak wajahnya. Arion mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia melihat seorang wanita bergaun putih lebar dan panjang berjalan kearahnya.


"Arion"


Wanita itu menyebut nama Arion. Rambut putihnya yang panjang berkibar oleh angin, ia duduk berlutut di hadapan Arion. Wanita itu tersenyum lembut padanya, senyuman yang sudah lama Arion tidak rasakan.


Tiba-tiba, tubuh Arion memudar. Ia melihat kedua tangannya yang mulai tembus pandang.


"Teruslah tumbuh. Jaga dunia ini" kata wanita itu.


Arion meneteskan air matanya sebelum benar-benar menghilang dari dunia itu. Kesadarannya kini berpindah ke suatu kamar. Ia baru menyadari kalau ia sudah menjadi anak dari seorang Raja beberapa minggu yang lalu. Kini ia sudah menjadi seorang Pangeran.


Mata Arion berpaling ke jendela kamar, matahari sudah muncul dan kehangatan Sang Surya masuk ke dalam kamar. Arion bangkit dari kasurnya, berjalan menuju jendela. Dengan tangan kecilnya, ia membuka tirai jendela. Arion melihat lapangan latihan dari kamarnya, kebetulan kamar Arion mengarah ke lapangan latihan.


Ia bisa melihat dua orang sedang latihan bela diri. Dua orang itu sedang bertarung dengan tangan kosong.


Mereka adalah Yaena dan Faesa. Mereka berdua memang rekan latihan. Walau jarak umur mereka cukup beda jauh, Faesa bisa menandingi gerakan Yaena.


Faesa terjatuh akibat tekel dari Yaena.


"Aduh! Ihh, pelan-pelan dong! Sakit tahu!" gerutu Faesa sambil memegangi sikut kirinya.


"Pfft! Mana ada orang berkelahi bilang ... 'pelan-pelan dong!'" cibir Yaena lalu disambung dengan tawa kecil.


Faesa mengomel-ngomel tanpa bersuara, ia bangkit dan tidak sengaja melihat Arion yang ada di lantai tiga kastil. Ia melambai padanya.


Arion membalas lambaian itu, lalu turun menghampiri mereka. Turun melewati tangga, tentunya.


"Pangeran kecil sudah bangun" ucap Yaena sambil memegang pinggangnya.


Arion memerhatikan lapangan latihan. Ada tempat senjata di sudut lapangan, ia berlari menghampirinya. Disana ada berbagai jenis senjata, Arion mengambil pedang kayu.


"Arion, kau masih terlalu kecil untuk memegangnya" kata Faesa sambil menepuk pundak Arion.


"Kau tidak berbeda darinya, Faesa" sahut Yaena.


"Aku setahun lebih tua darinya!" Faesa tidak terima dibilang anak kecil.


"Sama saja" Yaena terkekeh pelan.


Arion mengayunkan pedang kayu itu dan hampir mengenai Faesa.


"Hati-hati!" ucap Faesa.


"Maaf. Pedang ini cukup ringan dan tidak berbahaya untukku" kata Arion, menimbang-nimbang pedang itu. "Tapi, ini tidak menarik" ia kembali meletakkannya di tempat ia mengambilnya.


"Oh ya? Ngomong-ngomong, jenis Elementmu apa?" tanya Faesa.

__ADS_1


"Es dan ... angin" jawab Arion.


"Benarkah? Kalau aku api begitu juga dengan Daendra, tapi aku bisa belajar Element angin" ucap Faesa.


"Angin jika digabungkan dengan api, maka kekuatan api itu akan dua kali bahkan berkali-kali lipat lebih kuat" ujar Yaena.


"Kalian bertiga cocok ditambah denganku, Element air dan kristal" lanjutnya.


"Tapi, ada batas penggunaannya, kan?" tanya Faesa.


"Tentu. Di setiap tubuh makhluk hidup ada semacam energi yang kita sebut sebagai Qube. Energi ini mengalir seperti darah ke seluruh tubuh yang berpusat di pusar kita. Jumlah Qube terbatas, tapi kapasitas Qubenya bisa ditingkat seiring kita latihan" jawab Yaena.


"Penggunannya simpel dan tidak rumit. Kalian hanya perlu latihan dan berkembang, tapi kalian jangan salah paham kalau Sihir Qube ini adalah senjata utama bagi kita. Malahan orang-orang dari berbagai ras lebih meningkatkan kecepatan, kekuatan dan ketangkasan dari tubuh agar menjadi lebih kuat. Sihir Qube juga penting, kedua unsur itu amat penting bagi kita para ksatria"


Yaena berjalan mundur. "Perhatikan ini, coba kalian tebak aku menggunakan sihir apa"


Yaena melemparkan pisau tepat keatas dirinya. Pisau itu lalu turun karena gravitasi, tepat ketika jarak pisau tersebut berada sejengkal diatas kepalanya, Yaena berpindah tempat. Pisau itu tidak jadi mengenai Yaena, malahan benda tersebut menancap di tanah, tempat Yaena berdiri tadi.


"Flicker!" mata Faesa melebar.


"Itu Ilmu Over. Ilmu yang membuat penggunanya bisa melakukan kecepatan" jawab Arion.


"Tepat sekali, tapi kalian harus beda 'kan yang mana Flicker dan yang mana Teleportasi. Dua-duanya sama tapi beda ilmu" ucap Yaena.


Ilmu dibagi atas lima. Ada Ilmu Qube, Ilmu Over, Ilmu High, Ilmu Dorum dan Ilmu Meta. Kelima ilmu ini memiliki masing-masing kekuatan. Jika Flicker berada di Ilmu Over maka Teleportasi berada di Ilmu High. Dan Fireball serta Water Canon ada di Ilmu Qube.


Untuk yang tertinggi, Ilmu Meta, contoh jenisnya adalah G-Push. Jenis yang bisa membuat penggunanya memanipulasikan gravitasi.


"Biasanya di Ilmu Dorum, orang-orang yang ada di tingkatan ini pada umumnya memang mengucapkan mantra terlebih dahulu untuk mengeluarkan sihir mereka" lanjutnya.


Arion dan Faesa mengangguk paham.


Tiba-tiba, lima bola api kecil terbang mengarah ke Arion dan Faesa. Yaena melihat arah datang bola api itu, ia segera mengangkat tangan kanannya ke depan.


"Qube Art - Water Mirror"


Sebuah air berbentuk cermin layaknya seperti perisai muncul di udara, tepat di hadapan Faesa dan Arion. Seketika, kelima bola api itu menabrak air cermin itu lalu padam begitu saja.


"Usaha yang bagus, Daendra. Menembak bola api kepada saudara-saudaramu, kalau Ayahmu tahu pasti kau akan dikurung di kamarmu" kata Yaena, menatap datar kearah Daendra yang berdiri tak jauh dari mereka.


Seolah tidak mempedulikan perkataan Yaena, Daendra menarik pedang kayu dari sarungnya. Mengangkat pedang mengarah ke Arion.


"Aku menantangmu dalam adu pedang. Hanya kau dan aku" katanya.


Yaena segera menengahi. "Tidak boleh. Kalian masih kecil dan Arion adalah adikmu, kau tidak boleh berduel dengannya"


Arion melangkah maju. "Tidak apa, Kak. Kalau itu adalah tantangan aku akan selalu menerimanya"


Untuk anak seusia 7 tahun, Arion sangat berani menerima tantangan dari orang yang lebih tua darinya.

__ADS_1


Yaena menghela napas panjang, ia pun mengizinkan keduanya tapi ia tetap berjaga-jaga kalau seandainya mereka saling melukai.


"Qube Art - Rainbow Myth" batin Yaena.


Sebuah skill dari Ilmu Qube. Skill ini merupakan pelangi mistis yang tidak kasat mata, gunanya menjaga segala makhluk hidup yang ada di dalam jangkauan pelangi itu agar tidak mengalami luka parah.


Arion mengenggam pedang kayunya, memasang kuda-kuda begitu juga dengan Daendra. Daendra tidak ingin berlama-lama, ia pun berlari menuju Arion dengan pedang terhunus ke depan.


Ketika jaraknya sejengkal berada di depan Arion, Arion memutarkan badannya ke sampingnya membuat Daendra hampir terjungkal ke depan karena serangannya tidak mengenai Arion.


Arion mengangkat pedangnya lalu menebaskannya ke Daendra. Dengan raut wajah panik, Daendra langsung menangkis serangan itu. Ia pun mengenggam pedang dengan kedua tangannya, Daendra mengerang seraya menambah kekuatannya.


Arion mundur selangkah besar ke belakang. Daendra melompat dengan posisi pedang ada diatas kepala.


STAB!


Mereka kembali adu pedang ketika Daendra kembali ke tanah. Daendra berkali-kali memukul pedangnya ke pedang Arion, tapi Arion bisa menangkisnya dengan mudah.


Daendra memutar-mutarkan badannya, ia menargetkan kepala Arion. Arion segera menunduk dan langsung salto ke belakang.


"Woah" Faesa berdecak kagum. Yaena sedikit menganga melihat mereka.


Tiba-tiba, Daendra muncul di belakang Arion. Ia ingin memukul punggung Arion, namun Arion langsung menangkap lengan Daendra.


"Apa?!" Daendra kaget bukan main. Gerakan reaksi secepat itu sangatlah mengerikan.


Arion menarik lengan Daendra, mengangkat tubuhnya keatas dan akan membantingnya ke tanah. Yaena bertindak cepat, ia berpindah tempat ke tempat Arion dan Daendra menggunakan Flicker. Yaena segera menangkap Daendra sebelum tubuhnya benar-benar menghantam tanah.


"Cepat sekali" Faesa kagum.


Yaena mundur beberapa langkah sebelum menurunkan Daendra. Pangeran itu menunjukkan reaksi kaget, ia pun disadarkan oleh Yaena yang menepuk pipinya sebanyak dua kali.


"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Yaena.


Daendra langsung bangkit, ia menatap tajam wajah Arion. "Monster" gumamnya.


"Apa?" tanya Faesa.


"Cih! Aku pergi!" Ia langsung pergi dari sana, tanpa ada rasa kalah.


"Kak, kau dengar ucapan Daendra barusan?" tanya Faesa.


"Tidak" Yaena menggeleng.


"Dia bilang Monster" jawab Arion. Yaena dan Faesa menoleh ke Arion. "Dia bilang Monster ketika sedang melihat wajahku" lanjutnya.


"Apa ..?" Faesa dan Yaena sama-sama kaget. "Yah, tidak perlu dipikirkan, anak itu memang kehilangan akal kalau sudah kalah" ucap Yaena.


Arion menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ups, waktunya istirahat. Ayo, kita kembali ke istana" ajak Yaena.


__ADS_2