The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Berita


__ADS_3

"Sihirnya sudah menghilang" ujar Arion dengan wajah yang sangat terkejut.


Kakek itu tertawa kecil sambil menggeleng pelan. Ia meletakkan gelas obat itu kembali ke meja dan duduk di samping Arion.


"Jangan kaget begitu. Hal itu wajar ketika sebuah racun dimasukkan ke tubuh seorang Whiteblood, maka segala sihir yang berada di tubuh akan menjadi pertahanan untuk menghalau racun itu"


Bukannya tambah tenang, Arion semakin kaget. "D-dari mana Kakek tahu aku seorang Whiteblood?"


"Sangat jelas, Nak. Energimu berbeda dari orang-orang pada umumnya. Energi seorang Whiteblood kebanyakan bergerak cepat dan agak tebal dan aliran Qubemu lebih lama stabil jika baru pulih. Makanya aku beri obat itu"


"Bagaimana Kakek bisa tahu semua ini?"


"Aku pernah mempunyai rekan seorang Whiteblood"


"Tapi.. klanku kan sudah punah.."


"Memang, tapi itu sudah sangat lama. Dan kau ada disini, berarti Whiteblood belum sepenuhnya punah"


Arion merunduk sejenak. "Kakek bilang.. tubuhku dimasukkan racun?"


"Ya, di bekas luka tusukan di punggungmu"


Arion mengepal tangannya erat. Ia bahkan sampai sekarang tidak bisa menyangka perbuatan Faesa kepadanya, sampai harus meracuninya.


"Kau pasti telah mengalami hari yang berat, beristirahatlah dan besok pagi mungkin tubuhmu sudah segar"


Kakek itu bangkit, namun Arion memanggilnya dan menanyai nama Kakek itu.


"Namaku? Panggil saja Feza" jawabnya sambil tersenyum lalu keluar dari gubuk. Arion kembali berbaring dan memandangi langit-langit gubuk. Matanya perlahan memejam dan kesadarannya berpindah ke alam mimpi.


Mimpi yang ia harapkan semua ini tidak pernah terjadi.


***


"Kenneth! Bangun! Sampai kapan kau ingin tidur disana?!" Feza berseru kepada cucunya yang masih tertidur lelap di kasurnya.


Kenneth tersentak bangun. "Jangan berteriak saat membangunkanku! Jantung selalu hampir copot saat kau berteriak"


"Jika kau mau jantungmu tetap di tempatnya, bangunlah lebih awal!"


Arion terbangun ketika mendengar mereka. Feza keluar dari gubuk meninggalkan Kenneth yang masih setengah sadar.


Kenneth melihat Arion yang sudah terbangun. "Kau sudah bangun? Sudah pulih?"


"Ya. Aku diberitahu kalau kau yang menemukanku. Terima kasih" jawab Arion.


"Tidak perlu berterima kasih, aku melakukan pekerjaan yang dilakukan orang-orang baik pada umumnya" Kenneth merasa bangga pada dirinya.


"Aku tidak menyangka masih ada seorang Whiteblood di dunia ini. Pasti kau selalu diburu, ya?"


"Aku tidak pernah diburu sebelumnya. Untuk apa orang-orang memburuku?"


"Ooooh.. kau belum tahu, ya? Segala apapun yang bersumber dari Whiteblood pasti sangat berharga. Kau mau tahu contohnya?"


Arion mengangguk.


"Benda pusaka, kemampuan regenerasi mereka, sihir mereka, energi mereka, darah mereka dan banyak lagi"


Kenneth bangkit dari kasurnya dan melangkah mendekati Arion. "Untung kau bertemu denganku, kau pasti aman selama berada disini"


"Aku menghargainya tapi aku harus kembali ke tempat asalku, disana.. kacau sekali"


"Benarkah? Dimana kau berasal?"


"Rabadar Kingdom"


"Astaga, itu jauh sekali! Kawan, aku menyarankan untuk menetap disini untuk sementara waktu"


"Kenapa Eden memindahkan ku sejauh ini?" batin Arion. Ia menghela napas pendek lalu bangkit perlahan.


"Siapa namamu?" tanya Arion.

__ADS_1


"Kenneth. Kau?"


"Arion"


"Senang berkenalan denganmu" Kenneth menjabat tangan Arion. "Bagaimana kalau kita keluar? Pagi-pagi ini udaranya sangat sejuk"


"Baiklah"


Mereka berdua melangkah keluar, namun mendadak wajah Arion menjadi masam. Karena hari ini sudah siang!


"Kau lupa waktu, ya?" tanya Arion, menatap datar pada Kenneth.


"Kau juga kesiangan! Jangan tatap aku begitu!" ucap Kenneth, kesal.


Arion tidak sengaja melihat Feza sedang memindahkan batu besar dengan satu gerakan tangan. Batu itu melayang dan mendarat di tanah.


"Wah.." Arion berdecak kagum.


"Heh! Aku bisa lebih baik dari Kakek itu!" Kenneth tidak mau kalah. Ia melihat sebuah bata beton yang baru saja dibuat oleh Feza beberapa waktu yang lalu.


Ia menirukan gerakan Feza. Bata itu terangkat dan melayang, namun tidak butuh waktu lama, bata itu mendarat dengan keras dan hancur berkeping-keping. Mendengar ada yang jatuh, Feza menoleh ke belakang.


"Sedang apa kalian disana?"


Kenneth sudah pucat sendiri. Feza menghampiri mereka dan betapa terkejutnya ia ketika melihat batanya sudah hancur.


"KENNETH!! Ini pasti ulahmu! Kenapa bisa hancur?!"


"Bata Kakek yang rapuh! Jangan salahkan aku!"


"Bagaimana kalian bisa melakukan itu?" tanya Arion yang tidak langsung menengahi mereka.


"Miracle Form, itu salah satu kekuatan Ilmu Dorum. Kau bisa melayangkan apapun dengan pikiranmu" jawab Feza.


"Kau ingin mempelajarinya?"


"Iya!"


"Maksudnya?"


"Maksudku, kau bekerja untukku dan akan kubayar kau dengan ilmu"


"Hmm.. kurasa itu adil"


Beberapa hari berikutnya, setelah Arion benar-benar pulih, ia mulai bekerja. Awalnya memang kesulitan, ia tidak mengetahui antara yang mana tanaman obat dan tanaman beracun.


Ia bahkan beberapa kali terkena racun yang membuat tubuhnya bengkak-bengkak. Melihat itu, Kenneth tertawa dan menjadi hiburan tersendiri untuknya.


Arion juga berburu, berternak dan berkebun, bahkan bekerja sebagai tukang bangunan. Feza ingin membangun air mancur yang besar, Arion dan Kenneth berusaha sekeras mungkin untuk membangun air mancur itu.


Di sela-sela pekerjaannya, Feza terkadang memberitahunya beberapa teknik-teknik untuk mempermudah pekerjaannya. Tanpa Arion sadari, ia semakin mengetahui kekuatan yang tidak pernah diajari di akademi.


***


- Rabadar Kingdom


Sudah dua bulan sejak Arion menghilang, situasi kerajaan sedang kacau. Mereka sudah kehilangan dua putra-putri mereka dan sampai sekarang belum ada kabar tentang mereka.


Utusan Rabadar Kingdom sudah mengunjungi Midoria, namun mereka juga tidak mengetahui dimana Arion dan Faesa.


Daendra bahkan bergerak sendiri untuk mencari mereka berdua. Hanza terlihat yang paling cemas diantara mereka semua.


Bagaimana tidak? Kehilangan seorang Whiteblood sama saja menghilangkan harta dunia yang berharga dari tangannya.


"Yang Mulia, kami tidak menoleh hasil apapun dalam pencarian ini" salah satu utusan datang dari misinya.


"Suruh semua prajurit menyebar di seluruh Area Wavri. Cari sampai dapat!"


"Baik, Yang Mulia"


Area Wavri merupakan nama daerah yang meliputi Wavri Empire dan kerajaan-kerajaan disekitarnya.

__ADS_1


Dua pemimpin dewan memasuki ruangannya setelah salah satu utusan itu keluar.


"Kenapa kau sepanik itu, Hanza?" tanya Theo.


"Anakku telah hilang, bagaimana aku tidak cemas? Kalau kalian tidak ada kerjaan sebaiknya kalian pergi"


"Kecemasanmu berlebihan. Sebaiknya ceritakan saja kenapa kau secemas ini" ucap Redmund.


"Arion adalah anakku, paham?"


"Ya, tapi aneh melihatmu secemas ini, padahal dia hanya anak angkat" jawab Redmund.


"Para dewan sudah mencurigai kecemasanmu ini. Beritahu alasannya" sahut Theo.


Hanza terdiam. Menyembunyikan fakta bahwa Arion adalah Whiteblood sepertinya lambat laun akan terkuak ke permukaan.


"Arion seorang Whiteblood"


"Apa?" Theo menjadi bingung, begitu juga dengan Redmund.


"Arion adalah seorang Whiteblood" jawab Hanza sekali lagi.


"Kau bercanda?" tanya Redmund.


"Aku bersungguh"


"Kau.." Theo mendekat. "Kau menyembunyikan seorang Whiteblood?!"


"Ya! Dan apa? Kalian ingin mengurungnya?" Hanza bersikap berani.


"Kau sadar tindakanmu ini? Whiteblood adalah klan yang paling sakti!" bentak Redmund.


"Jangan berteriak kepadaku! Kalian pasti akan menggunakannya sebagai senjata, aku tidak akan membiarkannya. Arion sudah kuanggap sebagai anakku"


"Whiteblood sangat berharga dalam berbagai faktor, kau tidak mengklaimnya untuk dirimu sendiri!" Ucap Theo.


"Siapa yang mengklaim? Kalianlah, Para Dewan, yang ingin mengklaimnya sebagai senjata kalian!" bentak Hanza.


"Demi Rabadar, kami akan melakukan apa saja" kata Theo.


"Ya, lakukanlah apa saja selain mengorbankan anakku" tantang Hanza.


Dari luar ruangan, Dominick mendengar itu semua. "Jadi, itu yang Hanza sembunyikan selama ini. Berita yang cukup bagus"


Setelah Hanza memberitahu kedua dewan itu tentang Arion, kerajaan menjadi gempar. Sebenarnya, para dewan tidakĀ  menyebarkan berita itu, namun ada beberapa orang yang tidak sengaja mendengarnya.


Berita tentang Arion menyebar cepat ke seisi kota, bahkan keluar kota.


Daendra yang baru saja kembali juga terkejut mendengarnya. "Apa? Arion adalah seorang Whiteblood? Aku harus bertanya kepada Ayah" ia memacu kudanya ke istana.


Yaena dan Rena tidak kalah kaget. Mereka tidak menyangka orang yang sangat ia kenal saat ini adalah keturunan terakhir dari klan yang paling berpengaruh pada masanya.


Di Midoria sama dengan di Rabadar Kingdom. Serva tidak habis pikir mendengar kabar burung itu, Frimeya yang juga baru pulih menjadi terkejut.


"Arion seorang Whiteblood?"


Berpindah ke klan Meinzin. Para tetua klan itu menyuruh anggota klan untuk tenang dan jangan mudah untuk mempercayai berita yang seperti itu.


"Kau percaya itu? Seorang Pangeran Rabadar Kingdom adalah Whiteblood terakhir? Hah! Aku tidak percaya"


"Ya, aku juga" jawab Trimetra.


Di Devonia City. Eden sedang minum di bar, ia tidak sengaja mendengar berita itu dari orang-orang yang berada disana.


"Katanya seorang Pangeran Rabadar adalah keturunan Whiteblood terakhir"


"Wah, itu berita besar"


Eden meletakkan gelas minumannya di meja.


"Arion?"

__ADS_1


__ADS_2