
6 Tahun Kemudian..
Dua penunggang kuda saling adu cepat di lapangan pacu kuda yang sedikit becek. Seorang Instruktur berdiri di pinggir lapangan sambil memegang selembar kertas.
"Arion! Percepat kudamu!" sorak Faesa. Gadis rubah itu sudah terlihat lebih dewasa sekarang, ia bertambah tinggi, wajahnya bertambah cantik, ekornya rubahnya juga terlihat agak besar dan tubuhnya tampak menawan di mata laki-laki.
Merasa disemangati, ia menambah kecepatan kuda. Lawan tandingnya kaget dan mulai tertinggal. Garis finish sudah ada di depan mata.
"Arion! Arion! Arion!"
Sorak sebagian besar murid-murid. Dengan kecepatan kuda, ia berhasil melesat memasuki finish, murid-murid yang mendukungnya bersorak.
Arion melambai sambil tersenyum. Remaja 14 tahun itu, turun dari kudanya dan berjalan menghampiri Instruktur.
"Kerja bagus, Arion, kau mendapat nilai sempurna di ujian ini. Selamat!" Instruktur itu memberi tepuk tangan kepada Arion.
"Terima kasih" Arion membungkuk hormat sambil tersenyum. Penampilan pemuda itu kini sudah berubah, ia bertambah tampan dan juga tinggi. Rambut hitam yang lebat tidak pernah ia potong karena permintaan dari Yaena, kulitnya tetap putih bersih dan kini Arion menjadi idola para gadis di akademi.
Arion berjalan keluar lapangan, orang-orang terlihat menunggunya sambil tersenyum. Faesa menorobos barisan para murid dan langsung melompat, memeluk Arion.
"Kau keren sekali!" Faesa mengusap-usap kepala Arion.
Aciel datang menghampiri mereka, kini ia berkacamata. "Selamat Arion! Kau menjadi murid dengan nilai tertinggi"
"Terima kasih, aku tidak pernah menyangka menjadi yang tertinggi" kata Arion.
"Kau jangan sombong dulu, bocah" suara bariton itu menarik perhatian mereka, ketiganya menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berambut pirang dengan rahang tegas, bermata biru dan memiliki tinggi yang melampaui Arion.
"Daendra ..." Arion menatap dingin padanya.
Kini kedua saudara itu saling tatap-tatapan. Faesa pun terpaksa menengahi mereka. "Sudah, sudah, kalian jangan ribut dulu disini. Tidak enak dilihat oleh orang-orang"
Daendra terdiam sejenak sebelum memalingkan wajahnya dari Arion. "Aku akan mengambil alih posisi rangking satu itu"
"Ambil saja, aku tidak butuh" jawab Arion yang kembali mengundang kemarahan Daendra. Ia ingin memegang kepala Arion dan menghantamnya ke tanah, tetapi Faesa lebih cepat. Ia langsung menggandeng lengan Daendra dan juga Arion.
"Damai dulu. Disini terlalu ramai" ucapnya.
"Hey! Aku tidak mau digandeng olehmu!" Daendra berusaha melepaskan lengannya dari Faesa.
"Nurut saja dulu, Pangeran" kata Faesa. Mereka bertiga pun pergi dari sana, Aciel menggeleng pelan. "Dasar para bangsawan"
***
Mereka berdua dibawa ke puncak kastil. Arion dan Daendra terus bertanya kenapa mereka dibawa kemari, tapi Faesa hanya diam tidak menjawab.
Saat sampai di puncak kastil, Faesa melepaskan lengan kedua saudara tidak sedarahnya itu. Ia berjalan perlahan menuju reiling balkon kastil, membiarkan angin sore menghembus rambut dan wajahnya.
Arion dan Daendra berdiri di belakangnya, diam menunggu jawaban dari Faesa.
"Ini bulan terakhir kita disini. Aku hampir tidak ingin pulang" ucapnya. "6 tahun yang lalu, kita pergi meninggalkan istana. Awalnya aku pikir ..." ia menjeda kalimatnya. "Aku pikir aku akan bertambah kuat jika bersekolah di sini.. tapi hasilnya ... sama saja"
Faesa menunduk. "Aku merasa tertinggal dari kalian. Padahal aku lebih memiliki kemampuan saat kita masih kecil. Jujur ... aku iri padamu, Arion" ia berbalik, menatap Arion.
"Kau begitu berbakat dan aku merasa tertinggal, apalagi olehmu, Daendra. Kalian berdua berhasil menempati rangking tiga besar, sedangkan aku masih berada di bawah kalian ... jauh"
Arion melangkah maju, ia berdiri di samping Faesa sambil menghadap keluar kastil. "Lima tahun yang lalu, saat aku kesulitan di kelas Swordman, kau memberi petunjuk untukku waktu itu. Kau memberi tahu gerakan pedang yang selama ini tidak kuketahui, padahal kelasmu adalah Destroyer"
Arion menoleh ke Faesa sambil tersenyum. "Kau adalah kekuatanku, Faesa. Kakak yang kuhormati, kaulah yang membuatku sampai seperti ini"
Daendra juga ikut maju, ia berdiri di hadapan Faesa. "Waktu kita kecil, saat itu kita sedang tanding Ilmu Qube. Kau yang juga menguasai Element api yang sama denganku mengajarkan beberapa skill kepadaku. Sampai sekarang, aku tidak pernah melupakan skill-skill itu, karena itu diajari oleh orang cerewet sepertimu"
Faesa tertawa kecil saat dirinya dibilang cerewet.
"Bagiku kau masih kuat" kata Arion.
"Aku tidak percaya mengatakan ini, tapi aku setuju dengannya" sahut Daendra.
__ADS_1
Faesa tidak sengaja meneteskan air matanya. "Aduh, aku jadi menangis, ini semua gara-gara kalian!"
"Dia masih cerewet" kata Arion.
"Ya" Daendra menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Kalian bilang apa?! Aku cerewet? Kemari kalian!" Faesa merangkul kedua saudaranya itu, mereka berdua terpaksa membungkuk karena Faesa lebih pendek.
Mereka bertiga sama-sama tertawa hari itu, saudara tidak sedarah. Untuk sore itu juga Daendra berdamai dengan Arion.
Di atap kastil, Eden duduk mendengar ucapan dan keharmonisan mereka bertiga. Ia terlihat sedih sambil memandangi langit sore. Rambutnya yang lebat tapi --tidak seberantakan dulu-- terhembus oleh angin, menampakan mata kirinya yang tertutupi oleh rambut.
***
Keesokan harinya, seluruh murid dari tahun terakhir dikumpulkan untuk melaksanakan ujian terakhir.
Seorang Centaur berambut gimbal berdiri di hadapan mereka untuk memberitahukan ujian ini kepada mereka.
"Ujian ini bukan ujian tertulis seperti minggu lalu. Kalian akan ditugaskan untuk menjaga beberapa desa dari serangan Goblin dan Orc, tahun ini ada banyak sekali laporan yang datang tentang serangan dari ras-ras itu. Jadi, kalian akan dituntut untuk berhasil karena kalian akan tamat dari sini jika ujian ini berhasil. Paham?"
"Paham!"
"Paham?!" ucap Centaur itu sekali lagi.
"PAHAM, PAK!!"
"Bagus, saatnya pembagian kelompok"
Setelah pembagian kelompok selesai, mereka diharapkan untuk berdiri bersama kelompok masing-masing. Setiap kelompok diisi oleh 10 murid yang berasal dari berbagai kelas yang acak.
"Astaga ... kenapa harus kau?" tanya Daendra saat mengetahui Arion ada di kelompok yang sama dengannya.
"Mana kutahu" jawab Arion.
Arion akan satu kelompok dengan Daendra, sedangkan Aciel akan bersama Faesa dan juga Eden.
"Lokasi kelompok 5 ada di Desa Egrit. Lokasi ini sering diteror oleh Goblin dan beberapa Orc. Kabarnya, di sini ada Hell Beast, jadinya kalian harus hati-hati"
"Aku harap kalian selamat sampai ujian berakhir" kata Centaur itu.
Pada malam harinya, Arion dan Daendra mulai mengamasi barang yang akan diperlukan untuk perjalanan mereka besok.
"Kak" seorang anak kecil berdiri di ambang pintu kamar Arion.
"Hm? Azio, ada apa?" Arion berbalik sejenak untuk melihat siapa yang memanggilnya, lalu kembali mengemasi barang-barang.
"Apa Kakak benar-benar ingin pergi?" tanya Azio. Dia itu salah satu junior Arion yang tinggal serumah dengannya di rumah 132.
"Ya, begitulah. Karena ujian akhir"
"Berapa lama?"
"Seminggu lebih ... mungkin" Arion berjalan keluar kamar. "Daendra! Pakaian dan botol obatmu kau letak dimana?"
"Jangan sentuh! Biar aku saja!" jawab Daendra yang berada di ruang tamu.
"Botol obatmu mana? Aku akan menambahkan sirup obat ke dalamnya"
"Di meja, di balik bukumu!"
Arion jalan menuju meja, ada tiga botol kosong yang ada di sana. "Cuma tiga? Baiklah ..." ia mengambil botol itu dan hendak mengisinya, tapi ia dikagetkan dengan Azio yang tiba-tiba muncul di depannya. Hampir saja ia menjatuhkan tiga botol kosong itu.
"Azio, kau mengagetkanku saja" Arion menghela napas lega dan melangkah menuju dapur.
"Jika Kakak tidak ada disini, maka ... siapa yang akan mengurusi kami?" tanya Azio.
Mata Arion melebar sedangkan Daendra menyemburkan kopi dari mulutnya karena kaget mendengar ucapan Azio.
__ADS_1
"HAHAHA!!!" Daendra pun tertawa terbahak-bahak disana. Arion menahan rasa kesalnya seraya menuangkan sirup obat ke dalam botol.
"Kau sudah jadi Ibu asuh yang baik selama ini. Selamat!" ejek Daendra. Arion tetap mencoba fokus dengan pekerjaannya. "Jangan khawatir Azio, saat Ibu asuhmu pulang, ia akan membawa seorang Ayahmu untukmu!"
"Sialan!" batin Arion.
***
Keesokan harinya...
Murid tahun terakhir sudah siap untuk berangkat, tinggal menunggu sinyal dari akademi saja.
"Sejuk sekali ..." Aciel mengeluarkan asap dari mulutnya ketika ia berbicara. "Aku rasa aku tidak akan bisa terbiasa dengan udara dingin"
"Jadi, itu tongkat barumu" tunjuk Arion ke tongkat yang tersandar di dinding. Tongkat itu terbuat dari kayu dengan kristal biru di puncaknya. Ada ukiran bulan sabit yang berada di sekitar kristal itu.
"Ah, iya. Tongkat ini dibuat oleh Tuan Alhori karena aku mendapat nilai tinggi di kelasnya" jawab Aciel.
"Begitu, ya"
Lalu, tidak lama kemudian, Faesa datang sambil membawa palu besarnya. Sungguh senjata yang terlalu mencolok untuk dirinya.
"Aciel, waktunya pergi. 5 menit lagi kita akan berangkat" kata Faesa.
"Baik" Aciel mengambil barang-barangnya. Mereka berdua pergi meninggalkan Arion, tetapi Aciel melupakan sesuatu.
"Tongkatnya tertinggal" gumam Arion, ia pun berniat untuk mengembalikannya. Namun, ketika Arion menyentuh tongkat itu, tangannya merasa sedikit tersentrum.
Arion kaget sekaligus bingung, ia kembali memegang tongkat itu. Arion merasa semacam aliran energi yang belum pernah ia rasakan masuk ke dalam dirinya. Energi itu menyelimuti dirinya, seketika Arion berpindah ke dimensi lain.
Dimensi itu hampa dan ia sedang melayang di udara. Arion mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Sedetik kemudian, ia kembali. Arion sedikit terengah-engah sambil menatap tongkat tersebut.
"Kau juga mengalaminya, ya?"
Suara pria tua membuatnya menoleh ke belakang. Felim berdiri disana sambil memegang tongkatnya.
"Tuan" Arion membungkuk memberi hormat.
"Kau berpindah kesadaran. Apa aku benar?" tanya Felim.
"Benar, Tuan. Aku tidak mengerti" jawabnya.
"Aku juga. Dunia ini memang aneh, kau harus mempelajarinya walau mustahil bisa kau pahami" jawab Felim.
"Tadi itu apa, Tuan?"
"Itu Jalan Energi. Jalan ini tercipta akibat benturan energi yang kita punya"
"Apa kau ingat enam tahun lalu saat pemilihan kelas?" tanya Felim. Arion mengangguk.
"Kau memilih kelas Swordman tapi kelas Mage ingin kau memilihnya juga. Di dalam dirimu kau sudah mengikat kontrak dengan kelas Swordman dan hasilnya kau hanya bisa memilih satu kelas.. tapi bukan berarti kau tidak bisa menguasai kelas lain"
"Lalu, apa hubungannya dengan Jalan Energi ini?"
"Energimu sudah digabungkan dengan Swordman. Itu jalan utama tapi kelas Mage berusaha masuk ke dalam jalan utama itu sehingga terjadi benturan"
Arion menunduk. "Jadi, aku memang harus memilih kelas Mage, ya"
"Tidak harus, anakku. Pilihanmu sudah tepat sebagai seorang Swordman. Kalau kau masih ragu, kau masih bisa belajar sebagai seorang Mage tanpa melupakan dirimu sebagai Swordman"
"Apa itu bisa?" tanya Arion.
"Tentu, apalagi kau mempunyai darah keturunan itu 'kan?" Felim berbisik sambil tersenyum. "Seorang Whiteblood bisa menguasai seluruh kelas tanpa melupakan kelas utamanya"
Arion melebarkan matanya. "Anda tahu ... siapa aku?"
__ADS_1
"Aku hanya menebak saja" jawab Felim sambil tersenyum. Ia mengambil tongkat Aciel. "Biar aku yang mengantarkannya, sudah waktunya kau untuk bergabung. Kau tidak ingin Pangeran Daendra mengomelimu, kan?"
Felim pun melangkah pergi dengan membawa tongkat Aciel. Arion masih berdiri di sana sambil memandangi punggung Felim yang mulai menjauh.