The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Hanya Sebulan


__ADS_3

Yaena keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Dengan ditemani dua orang pelayan, ia melangkahkan kakinya menuju taman, tempat yang bisa menenangkan hatinya.


Akhir-akhir ini, Yaena selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak, alhasil wajahnya sudah mirip seekor Panda. Yaena tidak lagi secantik dulu dan tidak lagi periang. Setiap harinya, ia selalu diselimuti kesedihan dan kecemasan.


Siapa yang dipikirkannya? Tentu saja ketiga adiknya, Arion, Daendra dan Faesa yang berada di luar sana. Yaena selalu memikirkan mereka, apalagi sekarang ketiganya selalu berada dalam bahaya. Mereka tidak dikawal, tidak memiliki pertahanan diri.


Kadang-kadang Yaena menangis dalam keheningannya. Ia menginginkan sesuatu yang damai, mulai saat ini.


Yaena menatap langit biru yang terbentang diatas sana. Awan-awan bertengger di langit dengan bergerak perlahan menjauh. Yaena ingin menjadi awan, yang bisa bergerak menjauh dan menghilang kapan saja.


"Sebulan lagi.."


Ia mengelus perutnya yang sudah mulai berat itu. Yaena telah mengandung selama delapan bulan, sekarang ia hanya perlu menunggu sebulan lagi untuk menjadi seorang Ibu.


Tapi.. hatinya masih penuh dengan keraguan.


***


Bukan hanya Arion saja yang merencanakan serangan ke Rabadar, organisasi Demi-Human ini juga mulai melakukan rencana besar-besaran untuk menghadapi Rabadar.


Ethinos menghancurkan setiap daerah yang mereka lalui, kemudian mereka merekrut orang-orang yang sengaja tidak mereka habisi. Rekrutan itu ada yang dengan senang hati untuk bergabung, tapi tidak sedikit dari mereka yang terpaksa. Mau tidak mau mereka harus bergabung jika masih sayang nyawa atau orang-orang terkasihi.


Dalam komando Faesa, kekuatan Ethinos terus meningkat seiring waktu. Karena ketelitian Faesa, Ethinos dapat memanfaatkan beberapa orang tangguh. Tercatat, sudah 50 orang hebat yang berhasil mereka rekrut.


Sebentar lagi, Faesa akan kembali ke kampung halamannya, namun bukan sebagai keluarga, melainkan musuh.


"Sebulan lagi, Rabadar akan jatuh ke tanganku"


***


Arion tersentak bangun.


Ia segera bangkit dengan keringat mengalir deras di tubuhnya. Arion memijat pelipisnya, ia kembali merasakan mimpi buruk lagi.


Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar dari luar rumah.


"Ya?"


Arion yang masih bertelanjang dada membuka pintu rumah. Ia terkejut, melihat dua puluh orang berbaris memanjang sambil menghadap kedirinya.


"S-siapa kalian?" tanya Arion.


Glenn muncul di tengah-tengah barisan dengan senyum lebar di wajahnya.


"Glenn? Mereka ini siapa?"


"Mereka ini siapa? Apa kau lupa? Mereka ini adalah teman-teman seangkatan kita di akademi dulu"

__ADS_1


"Hah?"


Whiteblood itu masih kaget. Glenn hanya geleng-geleng kepala, ia segera menarik seseorang dari kerumunan barisan itu.


"Kau? Neo?" Arion menyipitkan matanya.


"M-maaf, Kapten.. telah datang secara mendadak"


Neo masih saja memanggil Arion sebagai kapten sejak ujian terakhir di Egrit Village tiga tahun yang lalu.


"B-baiklah, baiklah, kenapa kalian kesini?"


"Kami kesini untuk membantumu mengambil alih Rabadar Empire" jawab Glenn.


"Apa? Kau bercanda, kan? Maksudku, itu sangat berbahaya dan.. kudeta ini tidak ada hubungannya juga dengan kalian"


"Dasar.." Glenn menghampiri Arion. "Kau itu, ya... dari dulu tetap saja berpikiran pendek"


Tiba-tiba, dari barisan ada teriakan. "Hey! Bukannya kau yang berpikiran pendek?!"


"Diam!" Glenn berteriak balik. "Kami kesini untuk membantumu dan Daendra. Kalian butuh tentara yang banyak, kami sudah bersedia"


"Tapi, Glenn... aku tidak bisa menjamin kalian akan selamat"


"Aku lebih baik mati dan menolong temanku, daripada hidup tanpa menolong"


Arion tertegun dengan ucapan Glenn. Akhirnya, Arion luluh dan menerima uluran tangan mereka. Arion juga mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka.


"Dengan adanya Glenn dan teman-temanmu, perang ini mungkin akan berjalan mulus" ucap Mike. "Tapi, kita kembali lagi ke awal, Rabadar adalah lawan yang besar, kita masih membutuhkan bala bantuan yang besar"


Arion mengangguk paham. Glenn menepuk pundak Arion sembari bertanya, "lalu, soal Eden, dimana dia?"


Arion menggeleng. "Aku juga tidak tahu, sepertinya cermin yang kuberikan kepadanya hilang"


"Eden Blackclaws, ya?" tanya Mike. "Dia bisa menjadi bantuan yang besar"


"Yah, kita hanya bisa berharap"


***


Feza tengah memberi makan ternaknya.


Semenjak ditinggal Kenneth dan Arion, Kakek tua itu harus mengurus semua properti miliknya sendiri. Tapi, tidak seperti Kakek-Kakek pada umumnya, Feza sangat kuat dan bisa melakukan apa saja dengan pikirannya.


Ia adalah salah satu manusia yang mampu menguasai sembilan kelas sekaligus. Jadi, tidak heran ia bisa semudah itu mengurus semuanya.


Disaat ia sedang asyik memberi makan hewan ternaknya, butiran debu terbang menuju batang kayu yang tergeletak di pinggir sungai. Butiran itu semakin banyak dan semakin menebal hingga membentuk ukuran seperti tubuh manusia.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, butiran-butiran itu untuk membentuk menjadi manusia sepenuhnya.


Seorang pria sepuh dengan janggut putih sampai ke perut dengan topi kerucut di kepalanya dan tongkat kayu yang menancap ke tanah. Ia duduk di batang kayu itu dengan perawakannya yang bijaksana.


Itu Felim.


"Apa kabar, Felim? Lama tidak jumpa" tanya Feza sambil tersenyum. Ia berjalan menghampirinya.


"Lumayan. Bagaimana kabar Penyihir Sembilan Kelas?" Felim menyapa balik, ia tersenyum pula dibalik kumisnya itu.


"Yah, kau lihat saja"


Felim dan Feza adalah sahabat lama. Mereka merupakan teman satu angkatan di akademi. Keduanya sama-sama jenius, hanya saja Feza lebih barbar dan kasar daripada Felim.


"Sepertinya kau baru saja melepas cucumu untuk ikut dengan Arion" ujar Felim.


"Begitulah. Anak itu butuh pengalaman. Selama ini kau mengawasi Whiteblood itu, ya?"


"Ya.. aku hanya kurang kerjaan"


Feza tertawa lantang, entah kenapa ia selalu tertawa jika mendapat jawaban asal-asalan dari Felim.


"Lalu, bagaimana dia?" tanya Feza.


"Ceritanya panjang. Dia hampir beberapa kali terbunuh. Ya, hanya hampir"


"Kau bertindak?"


"Secara tidak langsung"


"Sekarang, apa yang akan direncanakannya?"


"Entahlah, kurasa dia mencoba merebut kembali rumahnya"


"Lalu, bagaimana dengan orang itu?"


Felim mengangkat kedua alisnya. "Seperti biasa, dia tidak bisa keluar dari kastilnya. Tapi, dia memiliki banyak anak buah"


"Tetap saja dia tidak bisa bergerak secara langsung. Orang itu sudah membuat kekacauan di dunia ini. Aku merasa bersalah..."


"Hey, sudah kubilang, ini bukan salahmu"


"Aku tahu! Aku tidak mungkin bersalah!" Feza kembali tertawa lantang. Namun, ia kembali merenung. "Tapi, dia pasti punya rencana untuk berbuat ulah lagi"


"Siapa sangka? Dia sudah punya rencana besar dikepalanya"


"Rencana apa itu?"

__ADS_1


"Entahlah, mana kutahu. Dark Lord memang sulit dipahami. Apapun yang akan ia lakukan tetap ada yang bisa menghambatnya"


"Ya, aku setuju"


__ADS_2