
"Serang!!"
Pasukan istana mulai kewalahan menghadapi penyerangan ini. Walau jumlah mereka banyak, tetap saja kekuatan dari pihak musuh sulit mereka hadang.
Ethinos tahu yang mereka hadapi bukan hanya kekuatan tempur Rabadar, mereka juga harus berhadapan dengan ribuan Undead serta prajurit Dwarf.
"Hahaha!! Di mana kekuatan aslimu sebenarnya?!"
Yora dengan agresifnya melancarkan serangan bertubi-tubi kepada Eden. Lelaki berambut lebat itu terus menahan serangan yang datang. Pedangnya menangkis dua kapak Yora yang tidak henti-hentinya bergerak.
Semburan api keluar dari mulut Yora. Eden melebarkan matanya, namun sekejap kemudian ia sudah berpindah ke tempat lain. Semburan api itu hanya membakar puing puing bangunan.
"Apa kau tidak bosan terus menerus memakai kemampuan itu?!" Yora berdecak kesal. "Dasar Blackclaws. Tapi, tidak apa. Aku tahu skill itu harus menggunakan Qube yang banyak. Kau mungkin sudah kehabisan Qube, kan?" Yora menyeringai lebar, menunjukkan kemenangan kepada Eden.
Eden hanya diam menatap Yora. Memang benar apa yang dikatakan musuhnya itu. Qube Eden sudah diambang batas dan tidak akan bisa dipakai lagi jika habis.
***
Langkah ramai prajurit membuat Arion dan Daendra harus menempelkan punggung ke dinding sebelah bangunan. Para prajurit itu lewat tanpa menyadari kehadiran mereka.
Begitu keadaan kembali aman, mereka berlari menuju halaman kastil. Namun, ketika mereka hendak masuk, perisai tembus pandang membuat diri mereka terbentuk seperti menabrak dinding.
"Aduduh… hidungku.."
Arion meringis sambil mengusap hidungnya.
"Perisai ini… apa ada cara untuk menembusnya?" Daendra melontarkan pertanyaan sembari meneliti perisai sihir ini.
"Biar kucoba"
Arion menarik tongkat sihir dari punggungnya. Ia mengarahkan tongkat tersebut ke dinding perisai. Sebuah getaran diterima oleh Arion ketika melepaskan sejumlah Qube ke dalam perisai.
"Ini cukup kuat" ujar Arion.
Daendra mendengus kesal. Tangannya diselimuti api dan siap menyerang. "Mau tidak mau, kita harus—"
"Jangan, bodoh! Kau mau kita ditangkap?!" Arion menahan tangan Daendra.
"Kita harus masuk, idiot!"
"Hey, jangan panggil aku idiot, justru kaulah yang idiot, bodoh!"
"Kau mengataiku dua kali. Apa kau mau aku pukul, hah?!"
__ADS_1
"Ayo, silahkan saja!"
Mereka malah bertengkar, tapi untungnya ada yang membuat mereka menjeda pertengkaran remeh itu. Suara langkah yang berasal dari dalam perisai menarik perhatian mereka.
"Aciel?!"
Arion melotot mendapati sahabatnya itu tengah bersama beberapa prajurit yang berdiri di kedua sisinya.
"Kenapa kalian ribut-ribut di sini?" Aciel menaikkan alisnya, heran melihat kedua tingkah kekanak-kanakan mereka.
Daendra memandang prajurit-prajurit yang ada di sisi kiri dan kanan Aciel. "Kau bekerja untuk Dominick?" tatapannya mendingin.
"Tahan dulu, Pangeran" Aciel mengangkat tangannya ke depan. "Aku sudah bersumpah untuk mengabdikan diriku kepada Rabadar dan singgasananya. Dengan posisi ini, kalian memanglah bagian dari musuh Rabadar"
"Kurang ajar—"
Arion membentangkan tangannya ke samping, menahan Daendra dari kemarahannya yang mulai memuncak.
"Aku tahu kau itu siapa, Aciel. Kau pernah membantuku menyelinap masuk ke dalam istana. Kau memang pelayan Rabadar, tapi kau adalah sahabatku"
Suasana menjadi hening. Dengan dinding sihir pembatas yang menjaga jarak diantara mereka. Sedetik kemudian, Aciel tersenyum dan tertawa pelan. Ia mengetukkan tongkatnya ke tanah, lalu dinding perisai itu menciptakan ruang untuk dilalui Arion dan Daendra.
"Aku adalah pelayan Rabadar, tapi bukan pengkhianat" Aciel tersenyum menunjukkan ketulusannya.
Arion merasa lega, ia bersama Daendra masuk ke dalam perisai itu. Kini mereka sudah berada di dalam lingkungan kastil yang tentram dari penyerangan di luar sana.
"Oh, mereka bawahanmu. Mereka pemberontak" bisik Aciel ketika mengucapkan kata pemberontak. "Ayo, kita tunjukkan siapa pewaris tahta yang sebenarnya" Aciel berbalik dan melambaikan tangannya ke udara. Jubah birunya berkibar seiring ia berbalik.
Arion dan Daendra saling melempar pandangan sebelum mengikuti Aciel.
Mereka memasuki kastil, tapi melewati jalan rahasia, yaitu dari dapur. Kini area itulah yang paling sepi dan tidak di jaga. Aciel menyerahkan Arion dan Daendra kepada prajurit-prajurit yang ada di pihak mereka.
"Eh tunggu, kau mau kemana?" tanya Arion.
"Ada sesuatu yang perlu kuurus" jawab Aciel tanpa menoleh sekalipun.
"Orang itu semakin dewasa semakin berubah sikapnya" Daendra menggeleng pelan.
***
Tidak dapat disembunyikan lagi oleh dinding yang tebal ini. Suara letupan dan getaran yang ditimbulkan dari medan perang tidak bisa ditangkis oleh dinding kastil, terutama di kamar Yaena.
Wanita itu sudah selesai melahirkan. Anaknya dalam keadaan sehat, tapi sayang suasananya sedang tidak baik. Para pelayan berada di kamar Yaena, mencoba melindungi dan menenangkan Yaena yang sedari tadi ingin keluar.
__ADS_1
"Jangan larang aku!" bentak Yaena. Sungguh bukan dirinya yang asli jika dalam situasi seperti ini. Yaena jarang sekali meninggikan nada suaranya.
"Aku mohon, Tuan Putri. Di luar sangat berbahaya"
Susah payah para pelayan itu untuk mencegah Yaena keluar. Selain dalam keadaan yang masih lemah, bayinya juga harus diberi perlindungan. Setidaknya, oleh ibunya sendiri.
"Aku ingin—"
"Yaena"
Klein masuk ke kamar Yaena. Pria gagah itu sudah dibaluti baju zirah dengan pedang yang terhunus tajam. Ia mendekati Yaena lalu memegang kedua pundaknya.
"Klein, apa yang terjadi?"
"Situasi ini tidak bisa kita kuasai. Di luar sangat berbahaya, pasukan musuh menyerang dan pasukan kita masih bertempur di luar sana"
Klein menatap sepasang mata indah yang sedang sayu itu sejenak, ia melirik ke keranjang bayi yang terletak di samping kasur Yaena. Klein dengan langkahnya yang sedikit berisik menghampiri keranjang tersebut.
Ia melihat tubuh mungil yang dibaluti kain hangat terbaring dengan damai dalam keranjang itu, seakan tidak peduli dengan keadaan di luar. Klein meraih tubuh anaknya itu dari dalam keranjang dan menggendongnya.
"Dia sangat tampan dan pemberani. Padahal di luar sedang kacau" Klein melempar tawa renyah. "Kau hebat, Nak. Jangan pernah takut dengan apapun dan jangan pernah gentar dengan apa yang kau hadapi. Hatimu dan tubuhmu adalah senjata andalanmu"
Setelah menemui anaknya, Klein meletakkannya kembali ke ranjang. Ia berjalan kearah Yaena lalu mengecup dahi istrinya itu.
"Tetaplah di sini. Tunggu sampai keadaan kembali normal"
Klein berucap begitu setelah ia keluar dari kamar. Yaena hanya bisa terpaku dan menoleh ke keranjang bayi yang sudah diisi oleh bayinya.
***
Faesa keluar dari gudang istana yang terletak di pinggiran lingkungan istana. Ia sempat bersembunyi ketika ada beberapa prajurit yang lewat.
Setelah memeriksa keadaan, Faesa keluar dari sana, namun malang nasibnya ketika harus berjumpa dengan seorang sahabat lama.
"Apa kabarmu, Faesa?"
Aciel bertanya begitu tapi ia melilit tubuh Faesa menggunakan rantai sihir yang kuat. Sihir ini begitu kuat sehingga sekuat apapun Qube yang dipakai Faesa tak akan mempan olehnya.
Aciel memang ksatria yang perkembangannya paling mengesankan diantara teman-temannya.
"Aciel!" Faesa melotot, apalagi saat tubuhnya yang sama sekali tidak bisa digerakkan ini.
"Aku tahu kau bagian dari Ethinos sekarang, jadi jangan bergerak dan menyerahlah"
__ADS_1
"Aciel, kumohon, Aciel! Lepaskan aku!" Faesa memberontak kasar. "Tolong lepaskan aku!"
"Aku benci melakukan ini" Aciel menghela napas panjang. Ia mengangkat satu tangannya ke udara, belasan bola listrik muncul mengelilingi Faesa. "Tunduklah atau mati"