
"Whiteblood terakhir terlihat! Whiteblood terakhir terlihat di Vogros Town!"
Berita ini tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru benua. Kehadiran Arion Whiteblood di Vogros Town yang tengah berhadapan dengan Retian Sang Necromancer menggegerkan seluruu orang. Berita yang menyatakan Arion tewas tiga tahun lalu menjadi tidak berguna.
Ini juga menjadi harapan baru untuk beberapa orang. Pasalnya, Whiteblood terakhir dianggap sebagai penyelamat yang akan bersinar bagi mereka.
***
Jleb!
Sebuah pedang panjang menusuk punggung Arion. Lelaki itu memuntahkan darah yang cukup banyak dari mulutnya, meskipun begitu, ia tetap tersenyum.
Tangannya yang bergetar ia usahakan sekuat tenaga untuk menggapai kepala seorang gadis yang berlutut lemas di hadapannya. Gadis Elf itu meneteskan air matanya.
...
..
"Arion!!" Frimeya tersentak bangun dari tidurnya. Napasnya terputus-putus dan tubuhnya berkeringat deras.
Frimeya menutup wajah dengan kedua tangannya, ia baru saja mengalami mimpi buruk. Gadis 18 tahun itu melirik keluar jendela kamar, hari sudah pagi ternyata.
Ia memutuskan untuk bangkit dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Frimeya kini telah menjadi gadis remaja yang mempunyai pemikiran dewasa. Gadis Elf itu bertambah kuat dan kemampuannya meningkat. Ia telah menguasai beberapa tingkat jurus di kelas Archer dan Ilmu High sudah ia pelajari setelah latihan keras.
Tidak hanya itu, ia juga memiliki salah satu pusaka milik klan Midorian yang kini menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga pusaka itu. Yaitu White Phoenix Bow, salah satu busur terhebat pada masanya. Busur itu memiliki efek racun dan element petir pada setiap anak panah yang dilesatkan dari sana.
Frimeya juga bertambah cantik dari sebelumnya. Rambut gadis itu kini panjang dan bergelombang, menambah pesona tersendiri pada dirinya. Tubuhnya juga bertambah tinggi yang sekarang menjadi 169 cm. Ia sudah bertambah dewasa sekarang dan menjadi bintang klan Midorian.
Saat ini ia tidak berada di Midoria, Frimeya sedang melakukan perjalanan bersama salah satu petinggi klan Midoria dan tangan kanan Serva, Nyonya Faria.
Wanita itu adalah Archer dengan gaya Mage. Ia tidak membawa busur sebagai senjatanya, melainkan tongkat yang berguna memanggil anak panah dari sihir.
Frimeya telah selesai mandi dan memakai pakaiannya yang berjenis tertutup. Ia tidak suka memakai pakaian yang terbuka, seperti kebanyakan Archer lainnya.
Penginapan Cahaya, disini ia menginap selama semalam bersama Faria. Kota yang mereka singgahi merupakan salah satu kota dari sebuah kerajaan, yaitu Gavlium Kingdom yang mana Egrit Village berada di bawah kekuasaannya. Mereka disini dengan dua alasan, menambah pengalaman Frimeya dan menjalin hubungan politik dengan Gavlium Kingdom.
Frimeya menyisir rambutnya secara perlahan sambil memandangi cermin. Wajahnya memang cantik tapi ia tidak secerah dulu. Hanya orang-orang terdekat dengannya yang tahu perubahan wajahnya itu.
"Itu tadi.. mimpi apa?" Frimeya bergumam sambil termenung di depan cermin. "Arion, dimana dirimu sekarang?" Ia merindukan lelaki itu. Frimeya adalah salah satu dari beberapa orang yang meyakini Arion masih hidup.
Tok.. tok.. tok
"Frimeya? Kau sudah siap?"
Dari luar, suara Faria terdengar. Frimeya langsung menyahut dan melangkah keluar, ia meletakkan busur besar itu di belakang punggungnya.
"Aku sudah selesai" jawabnya.
Nyonya Faria, walau umurnya sudah 54 tahun tapi wajahnya tetap muda. Ia bahkan dianggap sebagai Kakaknya Frimeya.
__ADS_1
"Kita berangkat ke Ibukota dan langsung menemui Raja Anvi" kata Faria.
"Aku paham" Frimeya mengangguk.
Mereka sama-sama beranjak keluar dari penginapan. Faria telah memesankan sebuah kereta kuda untuk mereka berangkat menuju Ibukota. Di dalam perjalanan, Frimeya hanya diam sambil memandang keluar. Faria menghela napas pelan, ia mengambil dua gulungan dari tasnya dan memberikan salah satu gulungan kepada Frimeya.
"Apa ini?" tanya Frimeya.
"Gulungan biasa" jawab Faria.
"Untuk apa?" tanya Frimeya lagi.
"Simpan saja, mana tahu kau membutuhkannya"
Meskipun bingung, Frimeya tetap menyimpannya. Ia melihat sebuah belati dengan sarung yang terbuat dari emas dan diukir seindah mungkin.
"Itu hadiahnya?" tanya Frimeya.
"Iya, ini bukti perjanjian kita dengan mereka" jawab Faria.
Setelah itu mereka diam untuk beberapa saat karena tidak ada topik yang akan dibicarakan. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Ibukota.
Frimeya dan Faria dijemput oleh prajurit istana di gerbang masuk. Mereka dikawal sampai istana, sesampainya disana, mereka langsung disambut oleh Raja dan pejabatnya.
"Raja gendut. Apa benar kita akan menemukan keuntungan disini?" batin Frimeya saat pertama kali melihat Raja Gavlium Kingdom.
Tidak jauh dari Raja itu berdiri, ada seorang pemuda tinggi berkulit coklat sedang tersenyum memandang Frimeya. Ia itu adalah Pangeran Mahkota Gavlium Kingdom, bernama Azrea Gavlium.
Tiba-tiba, Faria menyenggol lengan Frimeya dengan pelan. "Pangeran itu tampan, bagaimana menurutmu?" bisiknya.
"Tidak, aku tidak berpikiran seperti itu" jawab Frimeya sambil menggeleng pelan.
Faria menghela napas pendek. "Aku pikir kita berkeliling seperti ini untuk mencarikanmu jodoh, tapi kau masih menolak hal itu, ya"
Tiba-tiba, Frimeya teringat perkataan Arion 3 tahun yang lalu.
Arion tertawa kecil. "Bukan, aku masih dibawah umur dan belum layak melamar seorang gadis. Aku juga belum punya rencana seperti itu"
Frimeya tersenyum tipis tapi lembut. "Sekarang kau sudah layak" batinnya.
Mereka masuk ke dalam perkarangan istana. Raja itu melangkah maju bersama pengawalnya.
"Selamat datang di Gavlium Kingdom, Nyonya Faria, Nona Frimeya" sambutnya sambil tersenyum lebar.
"Kami sangat tersanjung dengan penyambutan anda ini, Yang Mulia" ucap Faria sembari membalas senyuman Raja itu.
"Mari, kita masuk ke dalam" ia mempersilahkan kedua tamunya masuk ke dalam istana. Azrea tidak henti-hentinya tersenyum, memandangi Frimeya.
"Nona Frimeya, saya memperkenalkan putra kebanggaan saya kepada anda. Pangeran Azrea"
Tiba-tiba saja, Raja itu secara sengaja memperkenalkan putranya tersebut kepada Frimeya dan juga Faria. Mau tidak mau, Frimeya menoleh ke Azrea dan terpaksa tersenyum.
__ADS_1
"Oh, saya dengar Pangeran Azrea telah mengusir sekelompok Goblin di dua desa selama sehari. Itu pencapaian yang luar biasa" Faria memuji berita kehebatan Azrea.
"Terima kasih, Nyonya. Saya sangat tersanjung" Azrea membungkuk hormat. Mereka diberi tur oleh Raja sendiri sampai sore hari. Faria dan Frimeya diberi masing-masing kamar.
Untuk rencana keesokan harinya, mereka akan merundingkan perjanjian politik ini, jika itu berhasil maka mereka akan berlanjut ke masalah Ethinos.
...
Hari sudah malam, matahari sudah terbenam beberapa jam yang lalu. Suasana istana mulai sepi dan disanalah Frimeya, duduk di taman, sendirian menikmati malam.
"Menurutku, kau itu wanita yang sulit untuk ditaklukan"
Kata-kata Arion masih membekas pada ingatannya. Frimeya menghela napas panjang, lalu memandang langit malam.
"Dimana kau sekarang? Aku harap kau baik-baik saja" gumamnya.
"Sendirian, Nona?"
Frimeya langsung menoleh kebelakangnya ketika mendengar suara bariton itu dari arah belakang.
"Pangeran" Frimeya bangkit dari duduknya.
"Secara pribadi kita belum berkenalan. Aku ingin tahu semua tentangmu, bukan berarti aku tidak tahu tentangmu. Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu" Azrea melangkah dekat.
"Menurutku tidak ada yang perlu kuberitahu kepadamu, Pangeran. Aku hanya gadis Midorian biasa, tidak lebih dan tidak kurang"
"Begitu, ya? Bagiku kau tidak biasa. Kau impresif"
"Baik, terima kasih kalau begitu" Frimeya mengangkat salah satu alisnya. "Aneh!"
"Bagaimana tidak? Kau adalah Angel Archer, salah satu dari 10 ksatria muda berbakat di benua ini. Kau tidak biasa" kata Azrea dengan nada yang dilebih-lebihkan.
Angel Archer adalah julukan untuk Frimeya yang telah masuk ke dalam kategori 10 ksatria terhebat. 10 ksatria ini masing-masing memiliki julukan dan sudah diakui oleh para senior.
"Kau terlalu berlebihan, aku tidak sehebat yang kau kira. Diluar sana ada Luke Asfian, Psycho Archer"
Luke Asfian, salah satu teman akademi Arion. Ia kini masuk dalam jejeran 10 ksatria terhebat.
"Luke Asfian memang gila dan hebat, tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa kau adalah yang terbaik diantara mereka" Azrea masih saja memuji Frimeya.
"Bagaimana dengan Shadow Emperor dan Golden Eagle? Mereka berdua ada di posisi teratas, kan? Aku tidak begitu hebat... apalagi.." Frimeya sedikit menunduk. "Apalagi.. dengan Whiteblood terakhir, aku bukan apa-apa dibandingnya, dia hebat, melebihi yang lainnya"
Frimeya tersenyum tipis. Ia menegakkan kepalanya kembali.
"Shadow Emperor yang dikenal sebagai Eden Blackclaws, memang Assassin muda terhebat di generasinya. Ia juga calon terkuat pewaris kepemimpinan klan Blackclaws, tapi dia sudah menghilang 1 satu tahun yang lalu dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya sekarang"
"Golden Eagle atau Daendra Gareins. Mantan Putra Mahkota Rabadar Kingdom juga tidak pernah terlihat dua tahun terakhir. Ia menghilang bersama dengan mantan anggota kerajaan lainnya"
"Lalu, Whiteblood terakhir. Tidak ada kepastian tentangnya. Awal munculnya berita tentangnya terdengar 3 tahun yang lalu, aku juga ragu Whiteblood terakhir itu ada. Yang pasti, mereka bertiga sudah hilang dari peredaran dan tidak ada yang tahu dimana mereka"
Frimeya tersenyum. "Kau tidak tahu saja, Pangeran. Mereka ada, ketiga-tiganya". Frimeya berbalik dan hendak melangkah pergi. "Sampai saatnya mereka muncul kembali, aku akan pastikan kalau aku hanyalah kerikil dibandingkan dengan mereka"
__ADS_1
Frimeya meminta izin untuk pergi dan meninggalkan Azrea sendiri disana.