
Traang!
Faesa menangkis setiap serangan dari kaki laba-laba itu. Kakinya seperti baja, sulit untuk mematahkannya.
"Sial.." gumam Faesa.
"Tembak!" seru prajurit Elf.
Puluhan panah dilesatkan ke tubuh laba-laba itu. Namun, tidak satupun yang bisa menembus kulit hewan tersebut.
"Tubuhnya seperti baju zirah saja" gerutu Faesa.
Arion berlari mengelilingi hewan itu sambil memancarkan es ke kaki laba-laba raksasa tersebut. Lalu, ia membuat bukit es agar bisa naik ke tubuh laba-laba itu. Arion menggenggam pedangnya dengan erat seraya menanjaki bukit es kecil yang ia buat.
Arion melompat ke wajah hewan itu, lalu ia mengerang sambil menancapkan pedangnya ke salah satu mata laba-laba tersebut hingga ia mengerang kesakitan. Kepalanya bergerak-gerak cepat, membuat Arion terhempas.
"Arion!" jerit Faesa. Tiba-tiba, salah satu kaki laba-laba itu bergerak cepat kearahnya. Faesa terlempar dengan keras ke dalam salah satu bangunan.
"Ini sulit. Dari segi manapun, hewan ini tidak akan tumbang dalam waktu yang singkat" gumam Eden.
Lalu, ia tidak sengaja melihat seseorang diatas atap salah satu bangunan yang ada disana. Orang itu langsung pergi setelah Eden menengok kearahnya.
Eden pun segera mengejarnya. Tidak lama kemudian, muncul Serva, Frimeya dan yang lainnya ke tempat kejadian.
"Woah, dia besar" kata Frimeya.
"Siapkan sihir panah kalian!" seru Serva.
Seluruh tentara Elf merapalkan mantra sihir mereka, sedangkan yang bukan Elf bersiap untuk menyerang dengan Qube mereka.
Puluhan lesatan panah sihir bergerak cepat menuju tubuh hewan itu. Terjadi ledakan ketika puluhan anak panah itu mengenai laba-laba tersebut.
Laba-laba itu mengerang dan ingin tumbang. Frimeya melesatkan dua anak panah sihirnya, kedua panah itu berubah menjadi tali dan melilit leher hewan itu.
Trimetra membuat pedangnya dilapisi energi berwarna biru. "Kita selesaikan dengan cepat"
Trimetra berlari kearah laba-laba itu. Dengan sekali tebasan udara, tubuh baja laba-laba tersebut akhirnya tembus dan meninggalkan bekas luka yang besar. Laba-laba itu tumbang ke tanah, ia sudah sekarat.
"Sekali lagi" ucap Trimetra, dingin.
Ketika ia hendak menyerang kembali, tumpukan es muncul secara tiba-tiba di depannya. Trimetra menjadi refleks mundur tetapi pedangnya masuk ke dalam es itu.
Seluruh orang yang ada disana menjadi terkejut. Lalu, Arion muncul disana, kepalanya terluka dan meneteskan darah. Ia berdiri diantara Trimetra dan laba-laba itu.
"Berhenti, kumohon berhenti!" katanya.
Lantas kemunculan Arion yang terlihat melindungi laba-laba itu membuat orang yang melihatnya menjadi kebingungan.
"Laba-laba ini bukan hewan biasa, dia adalah orang dari ras Demi-Human" kata Arion.
"Apa maksudmu?" tanya Serva.
"Jika kau hendak melindunginya, aku tidak segan akan membunuhmu disini" kata Trimetra.
"Kumohon dengar penjelaskanku dulu!" Arion tetap bersikeras. "Dia ini berasal dari ras Demi-Human. Aku melihatnya sendiri berubah, awalnya dia adalah seorang pria"
"Jangan mengada-ada!" seru tentara Elf.
"Kau pemilik hewan ini, ya?!"
"Tidak! Aku juga ikut melawannya!" bantah Arion.
Posisi Arion semakin terdesak, mereka terlalu takut untuk mendengar perkataan Arion, namun tidak untuk Frimeya.
"Ayah, sebaiknya kita pertimbangkan ucapannya"
"Baiklah kalau begitu. Jelaskanlah!" Serva menyetujui saran Frimeya.
"Aku sudah menjelaskannya!"
Tidak lama kemudian, tubuh laba-laba tersebut mulai mengecil. Tentara Elf kembali bersiaga dengan mengangkat kembali busur mereka. Ia mulai mengecil dan kembali ke ukuran semula seperti manusia pada umumnya.
Tubuhnya terluka parah akibat serangan Trimetra tadi. Arion duduk berlutut disampingnya. "Bertahanlah" kata Arion, ia mengangkat kepala pria itu. Napasnya terdengar lemah.
Frimeya berjalan perlahan menghampiri mereka.
"Frimeya, jangan" ucap Serva. Tapi, Frimeya tetap berjalan mendekati Arion.
"Nona Frimeya" Trimetra memegang lengan Frimeya. "Tenang saja" Frimeya melepaskan lengannya sendiri dari genggaman Trimetra.
"Nona Frimeya?" Arion sedikit kaget melihat gadis itu menghampirinya.
"Biarkan aku membantu" Frimeya menyentuh luka pria itu, lalu keluarlah cahaya penyembuh dari tangan Frimeya.
__ADS_1
"Anda seorang Healer?" tanya Arion.
"Aku hanya mengetahui beberapa hal dasar saja" Frimeya terkekeh pelan. "Aku sedikit terkesan dengan kemampuan ini. Yah, membantu orang lain itu indah, bukan?"
"Ya, anda benar"
Luka pria itu mulai memulih dan kondisinya perlahan kembali stabil. Serva datang menghampiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Serva.
"Sangat rumit. Ini.. aku masih bingung untuk menjelaskannya" jawab Arion.
"Kita apakan orang ini, Tuan?" tanya salah satu prajurit.
"Kita bawa ke kastil dan introgasi dia. Untuk saat ini kita letakkan di penjara bawah tanah"
"Baik" mereka membawa pria itu pergi.
Trimetra berjalan mendekat. "Anda hebat, Nona. Aku tidak menyangkanya"
Frimeya menggeleng pelan. "Kau memang tidak pernah menyangkanya, Tuan Muda" Frimeya menoleh ke Arion.
"Siapa namamu?"
"Arion Gareins"
"Astaga, kau berasal dari Rabadar Kingdom?" tanya Serva, terkejut.
"Dia bukan hanya berasal dari sana, dia adalah salah satu Pangeran Rabadar" Faesa muncul sambil memegangi lengannya.
"Faesa" Arion menghampirinya. "Kau tidak apa?"
"Yah, ini bukan moment terbaikku" Faesa tertawa lemah.
Serva langsung menyuruh prajuritnya untuk membawa Faesa ke tabib untuk diperiksa lebih lanjut.
"Menginaplah di kastil kami. Kalian berdua merupakan tamu kehormatan kami" ucap Serva.
"Ah, tidak perlu, Tuan. Kami kemari juga terlalu mendadak" Arion tersenyum canggung.
"Kalian adalah tamu kami, biarkan kami melayani kalian berdua" kata Serva lagi.
"Baiklah, apa boleh buat" Faesa tersenyum lalu menyetujuinya.
***
Arion melangkah menuju balkon kastil sambil memegangi punggungnya.
"Kok sakit? Aduh, ini pasti luka tadi siang"
Niatnya ke balkon adalah untuk menikmati udara segar tapi dengan rasa sakit di punggungnya membuatnya tidak ingin bergerak.
"Faesa bagaimana, ya? Apa dia sudah pulih?" Tanya Arion pada dirinya.
"Bagaimana dengan Eden? Aku tidak melihatnya sejak kekacauan tadi siang"
"Pangeran? Anda disini ternyata" Frimeya datang dari belakangnya. Arion menoleh kearah gadis itu.
"Nona Frimeya? Anda mencariku?"
"Iya, aku tidak melihat anda tadi saat makan malam. Nona Faesa hadir disana tadi"
"Faesa sudah pulih, ya. Maaf, aku tidak bisa menghadirinya, badanku sakit sekali tapi jangan khawatir"
"Benarkah? Itu bisa saja buruk, dimana sakitnya?"
"Um.. disini" Arion menunjuk punggungnya sendiri.
"Mau ku obati?"
"Ah, tidak perlu, Nona! Jangan, biar aku saja mengobatinya nanti"
"Tidak apa, biar ku obati"
Frimeya menyentuh punggung Arion dengan kedua tangannya. Lalu, ia memijitnya dengan lembut tapi bertenaga.
"Insiden tadi siang, dari mana anda-"
"Tidak perlu formal, Nona"
"Baik. Insiden tadi siang, dari mana kau.. mengetahuinya?"
"Aku kemari karena seorang teman. Ia juga menyelidiki hal yang sama dan kami tidak sengaja menemukan pria itu"
__ADS_1
"Jadi.. kau kemari karena kecurigaan temanmu, ya?"
"Begitulah. Awalnya aku juga tidak mengetahui apa maksudnya memanggilku kemari, ternyata soal ini. Seharusnya, ia memanggil seseorang yang profesional atau lebih berpengalaman dariku"
"Apa.. undangan acara pelamaran ini.. sampai ke Rabadar Kingdom?"
"Kurasa sampai. Ayahku sempat menyuruh Kakakku, Pangeran Mahkota untuk kemari tetapi ia menolaknya dan kami tidak punya perwakilan lagi"
"Tidak ada perwakilan? Kenapa? Apa kau tidak dianggap?"
Arion tertawa kecil. "Bukan, aku masih dibawah umur dan belum layak melamar seorang gadis. Aku juga belum punya rencana seperti itu"
"Begitu, ya. Lalu, apa rencanamu?"
"Umm.. sebenarnya aku sudah punya beberapa rencana. Tapi, aku lebih suka menjelajahi dunia ini dan memahaminya. Aku tidak ingin kekuasaan, aku hanya mau memberi kekuasaan itu kepada orang yang layak"
Frimeya terdiam dan tidak sengaja menekan punggung Arion lebih keras, sehingga membuat lelaki itu menjerit kesakitan.
"Maafkan aku!"
"I-iya.. tidak apa-apa"
Frimeya berdiri di samping Arion. "Apa kau serius dengan perkataanmu itu?"
"Aku tidak pernah seserius ini"
Frimeya merenung sejenak. Ia berpikir seharusnya ia sudah membuat rencana seperti Arion. Ia ingin juga bebas dan melakukan apa yang ingin ia perbuat. Tidak seperti ini, dibelenggu dengan acara pelamaran yang tidak ada habis-habisnya.
"Nona Frimeya" panggil Arion.
"Ya?"
"Menurutku, kau itu wanita yang sulit untuk ditaklukan"
Frimeya mengedipkan matanya berkali-kali. Ia bingung tapi pipinya lama-kelamaan memerah.
"A-apa maksudmu?"
"Sehari ini aku sudah melihat banyak pria berdatangan. Aku sebagai laki-laki menilai mereka terlihat tampan dan gagah. Kenapa Nona tidak menerima mereka?"
"Mungkin.. ini belum saatnya untuk bertunangan"
Arion mengangkat kedua alisnya. "Begitu, ya" ia menoleh ke depan, memandang kota yang dihiasi cahaya lampu.
"Kakak!"
Vaya datang berlari menghampiri mereka. Ia menganga melihat Arion, hal itu membuat Arion merasa sedikit aneh.
"Kakak sudah dilamar, ya?" tanya Vaya polos pada Frimeya.
Wajah Arion dan Frimeya sama-sama memerah.
"T-tidak, tidak... K-kakak belum di-dilamar siapa-siapa kok" ucap Frimeya.
"Oh! Lalu, Kakak ini siapa? Pacar Kakak?"
"B-bukan! Kakak ini.. b-berasal dari Rabadar Kingdom. Dia adalah tamu kita"
Arion tersenyum canggung kepada Vaya.
"Ooh, begitu. Kenapa kalian tidak berpacaran?"
Frimeya menjerit, ia sudah tidak tahan mendengar ocehan Vaya yang sangat polos itu.
"Sudah, sudah, hari sudah larut. Vaya tidak tidur? Ayo, Kakak antar kamu ke kamar" Frimeya menarik lengan Vaya pergi.
"Kami permisi dulu" Frimeya sudah berada di titik didih, wajahnya semerah tomat, bahkan tidak berani menatap Arion.
Arion menghela napas panjang setelah mereka berdua pergi.
"Kau memikat sekali"
Tiba-tiba, muncul Eden disampingnya sambil duduk di pinggir balkon.
"Astaga" Arion menjadi kaget.
"Kau mencuri hatinya" ujar Eden.
"Apa? Jangan mengada-ada, darimana saja kau?" tanya Arion.
"Aku mengejar seseorang dan mendapatkan sesuatu"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Orang yang berada di balik semua ini adalah ras Demi-Human itu sendiri"
"Huh?!"