The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Midorian


__ADS_3

-Kastil Midorian


Midorian merupakan nama klan dari para Elf Pemanah Sihir. Elf dari klan ini berbeda dari jenis Elf dan klan lainnya, mereka selalu menggunakan sihir sebagai senjata mereka, terutama saat menggunakan busur. Mereka tidak akan menggunakan anak panah biasa, melainkan dari sihir.


Hari ini, kastil Midorian kepulangan seorang putri kebanggaan mereka dari akademi. Kota dihiasi sedemikian rupa untuk menyambut kepulangannya.


Ia adalah Frimeya Midorian, putri sulung dari kepala klan Midorian. Frimeya merupakan anak yang berbakat, ia adalah satu dari tiga pemanah muda terbaik saat ini di dunia.


Bukan hanya kejeniusannya dalam panah, ia juga cerdas dan pandai menyusun strategi perang. Kemahirannya itulah yang membuat kerajaan-kerajaan lain ingin merekrut gadis itu.


Frimeya juga merupakan gadis yang sangat cantik. Rambutnya yang pirang itu membuat pria terkagum-kagum, telinganya yang panjang dan runcing, menggambarkan Elf sejati. Lalu, kulitnya putih sebersih salju, bibirnya yang merah alami dan mata hijaunya yang indah.


Sebelum Frimeya pulang, sudah ada lebih dari 50 pria yang ingin melamarnya, tentu saja mereka bukan dari kalangan biasa.


Kedatangan Frimeya disambut oleh masyarakat Midorian. Frimeya datang bersama beberapa pengawal pribadinya. Sejujurnya, Frimeya tidak mau dikawal seperti ini, tetapi itu atas kehendak ayahnya yang tidak dapat ia bantah.


Ayahnya sudah menunggunya di depan kastil dengan senyuman. Frimeya membalas senyuman itu, lalu membungkuk hormat.


"Selamat datang kembali, Putriku"


"Aku merindukanmu, Ayah"


"Ah, aku juga merindukanmu, Nak"


Mereka berpelukan sejenak, lalu masuk ke dalam kastil. Para pelayan langsung melayani Frimeya.


"Perjalanan kemari pasti sangat melelahkan. Kau boleh beristirahat dulu" kata Ayahnya.


"Tidak apa, Yah. Aku belum lelah" jawab Frimeya sambil tersenyum.


"Kalau begitu, jangan terlalu memaksakan tubuhmu"


"Baik, Yah"


Ayahnya pergi bersama beberapa pengawal. Frimeya memilih membersihkan tubuhnya dulu.


Selepas mandi dan bersiap, ia ingin turun ke lantai satu, tetapi Frimeya dipanggil oleh seorang gadis kecil di koridor.


"Vaya!" Mata Frimeya berbinar melihat adik bungsunya itu, sekaligus adik satu-satunya.


Vaya, mirip dengan Kakaknya. Gadis kecil ini memiliki wajah yang imut, tubuhnya kecil tapi tangguh. Ia berlari kearah Kakaknya, lalu memeluknya dengan erat.


"Aku sangat merindukan, Kakak" katanya.


"Aku lebih merindukanmu. Bagaimana enam tahun tanpaku?"


"Menyeramkan"


Frimeya tertawa kecil mendengar jawaban Vaya. Lalu, Ayahnya datang menghampiri mereka.


"Dua putriku sedang disini rupanya"

__ADS_1


Vaya terkekeh pelan. "Kak Frim tidak membawa oleh-oleh untukku?"


"Tentu saja, aku membawakan ini" Frimeya mengeluarkan kalung liontin dan menunjukkannya ke Vaya.


"Wah .. cantik sekali!" Vaya menjadi terpukau. Kalung liontin itu berwarna ungu, liontinnya mirip seperti berlian.


"Kalung ini mengandung sihir. Jika menggunakan ini, kau tidak akan terluka. Karena di dalamnya ada kekuatan penyembuh sebanyak 20%"


"Wah! Kalung ini hebat!" seru Vaya.


Frimeya pun memasangkan kalung itu ke leher adiknya. "Kau terlihat cantik!" kata Frimeya. "Bagaimana, Yah?"


"Vaya terlihat sangat menggemaskan, Ayah seakan ingin memakanmu" Ayahnya bertingkah seperti predator yang hendak menerkam seekor buruan.


Vaya teriak sambil tertawa, ia berlari meninggalkan mereka. Frimeya dan Ayahnya hanya tertawa melihat Vaya kecil.


"Enam tahun tanpamu, dia sangat kesepian"


"Yah, aku juga merasakan hal yang sama"


"Ayo kita berkeliling, Ayah ingin mengobrol denganmu"


Mereka berdua jalan-jalan berkeliling di kastil. Kastil Midorian cukup besar dan megah. Walaupun begitu, kastil ini merupakan salah satu bangunan dengan pertahanan terkuat di Benua ini.


Para Midorian tingkat tinggi selalu menjaga dan mengawasi kastil dari bahaya. Mereka terus berjaga 24 jam dan pertahanan mereka dialiri dengan lingkaran sihir yang dapat membunuh orang asing walau hanya menyentuh lingkaran itu saja.


Penghuni kastil juga tidak terlalu ramai karena hanya dihuni oleh keluarga utama dan beberapa pejabat. Ibu Frimeya telah meninggal ketika Vaya baru beranjak umur setahun. Ia meninggal karena penyakit yang dideritanya.


"Ah, iya. Sebenarnya kami mendapat desa yang jaraknya tidak jauh dari akademi dan juga gangguan disana hanyalah bandit dan beberapa Goblin. Kami dapat menyelesaikannya selama tiga hari"


"Itu mengesankan. Apa kau gugup?"


"Gugup? Tidak, malahan sebaliknya. Aku merasa nyaman karena warga desa menyambut kami dengan ramah"


"Lalu, bagaimana perkembangan kemampuanmu saat ini?"


"Hmm ... aku memulainya dengan baik. Aku berkembang terus menerus secara signifikan. Aku sudah mempelajari Ilmu Over dan sudah menguasai Bow Song dan juga Lower Arc"


Bow Song merupakan salah satu teknik di kelas Archer tingkat menengah keatas. Teknik memusatkan Qube dan sihir di anak panah dan tali busurnya. Teknik ini menyebabkan kecepatan panah 15% lebih cepat dari biasanya dan juga akan menimbulkan percikan api di ujung anak panah.


Lower Arc adalah kemampuan di mana seorang Archer dapat mengaktifkan Element listrik sebagai pengganti anak panah. Keuntungan dari kemampuan ini adalah meningkatkan kecepatan dan kekuatan serangan sebanyak 10%. Kerugiannya, tidak dapat digunakan dari jarak jauh dan akan memakan waktu 5 menit sebelum kembali menggunakannya.


Ada juga Medium Arc. Kemampuan ini menggunakan Element tanah sebagai anak panahnya. Keuntungannya kekuatannya meningkat 20% lalu akan menambah efek ledakan. Kerugiannya, kecepatannya berkurang dan agak berat jika dilesatkan.


Terakhir, Higher Arc. Kemampuan ini menggunakan Blackhole. Pengguna menembakkan anak panah ke musuh, lalu kemampuan ini akan menghisap beberapa bagian tubuh dari lawan, bahkan dapat menghisap seluruh tubuh. Namun, biayanya sangat mahal, akan memakan banyak Qube jika ingin menggunakan kemampuan ini.


"Senang mendengarnya. Sepertinya, Ayah ingin cepat-cepat pensiun" ia tertawa kecil.


"Ayah jangan bercanda" Frimeya pura-pura cemberut.


"Hahaha!! Tenang saja, Ayah hanya mengetesmu saja. Lalu, soal masa depanmu, bagaimana?"

__ADS_1


Frimeya mengerutkan dahinya. "Apa maksud, Ayah?"


"Maksud Ayah, apa rencanamu ke depannya?"


"Umm ... aku belum ada rencana"


"Sebenarnya, ada 64 pria datang kemari untuk melamarmu"


"Hah? Lalu?"


"Ayah ingin menanyakan pendapatmu saja. Bagaimana kau menerima salah satu dari mereka?"


"Hm ... entahlah, aku tidak begitu yakin. Lagipula 'kan umurku masih 15 tahun"


"Kau tidak perlu secepatnya menikah. Kau hanya perlu bertunangan saja dulu"


"Jika Ayah mengatakan seperti itu, aku hanya bisa menurut saja" Frimeya tersenyum.


"Hahaha! Itu baru anakku"


"Siapa yang akan melamarku?"


"Kita lihat saja besok"


***


-Ovaio Forest


"Apa?!" pria bertopeng itu terkejut, karena ia hanya mengenai tanah. Di sana tidak ada sesosok Eden.


"Ah, begitu ya?"


Suara Eden muncul dari belakangnya. Tiba-tiba saja, tubuh pria itu terikat rantai yang mengeluarkan aura sihir.


"Sial ..." gumamnya.


Eden mendekat. "Kau memang lawan yang merepotkan, ya. Aku cukup kesulitan menyeretmu ke jebakan itu" ia menunjuk tanah yang dipijak oleh pria itu.


Eden menjelaskan kalau yang dilawan pria tersebut bukanlah dirinya, melainkan api hitam yang berubah bentuk menjadi dirinya. Setelah ia keluar dari asap ledakan beberapa waktu lalu, Eden yang asli pergi bersembunyi dan menyiapkan perangkap.


Kemudian, ia memasang Illusion Cage. Sebuah teknik yang memerangkap lawan di dalamnya, sehingga siapapun yang ada di dalamnya tidak akan pernah keluar dan terus menerus berada disana hingga melupakan waktu.


"Dengan kata lain, daerah ini sudah kukuasai" ucapnya.


"Jangan senang dulu, bocah! Teman-temanmu mungkin sudah mati sekarang"


"Baru mungkin, Kawan"


Eden memegang topeng pria itu. Pria tersebut menggeliat tapi tidak bisa, tubuhnya terikat keras oleh rantai itu.


Eden melepaskannya. Eden sedikit kaget, bukan wajah yang ia lihat, melainkan bayangan hitam. Lalu, pria itu menjerit sebelum menghilang sepenuhnya.

__ADS_1


"Aku harus menyusul mereka" gumam Eden.


__ADS_2