
- Midoria
"Itu dia. Daerah Midoria" ucap Faesa.
Mereka sudah berada di depan gerbang perbatasan Midoria. Gerbang itu dijaga oleh puluhan Elf kelas Archer. Arion dan Faesa bukanlah satu-satunya pendatang, ada banyak orang-orang dari berbagai daerah datang kemari untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh klan Midorian.
"Terlalu ramai, pajaknya mungkin cukup besar" kata Arion.
"Tenang saja, aku sudah mengantisipasinya" jawab Faesa.
Setelah cukup lama mengantri, giliran mereka yang berada di pos masuk. Seorang prajurit Elf meminta keterangan data mereka berdua.
Faesa menunjukkan lambang kerajaan Rabadar kepadanya. Prajurit itu sedikit terkejut, lalu membiarkan mereka masuk tanpa pajak sepersenpun.
"Bagaimana bisa?" tanya Arion, bingung.
"Midoria adalah aliansi kita, salah satu perjanjian kita dengan mereka adalah kita dapat masuk ke wilayah mereka tanpa pajak, begitu juga sebaliknya" jawab Faesa.
Midoria adalah salah satu daerah Elf terbesar. Daerah ini merupakan hutan yang telah di tata menjadi kota. Dengan panorama hijaunya, daerah ini merupakan salah satu yang termaju. Bangunan disini lebih banyak berbentuk pohon yang besar, bahkan langit daerah ini sebagian besar di tutupi oleh dedaunan dan pohon yang lebat.
"Daerah ini mengagumkan seperti biasanya" ujar Faesa.
Setelah menitip kuda mereka di pos kuda, keduanya jalan menelusuri kota. Midoria juga merupakan salah satu daerah yang maju akan perdagangan mereka, jadinya tidak heran melihat banyak pedagang yang menjajakan barang mereka disana.
"Jadi, apa rencana kita sekarang?" tanya Faesa.
Belum sempat menjawab, seruan seorang pria membuat keduanya menoleh kearah yang bersamaan. Dua orang yang sedang menunggangi kuda mereka masing-masing terlihat akan melalui jalan ini.
Dua penunggang kuda itu dikawal oleh beberapa prajurit berseragam biru. Faesa langsung menarik Arion untuk menepi.
"Siapa mereka?" tanya Arion.
"Mereka berasal dari klan Meinzin"
"Meinzin? Aku tidak pernah dengar"
"Klan Meinzin ini sangat kaya, mereka bahkan mampu membeli sebuah kerajaan. Bukan hanya kaya, klan ini juga menghasilkan ksatria-ksatria yang berbakat"
Lalu, Faesa menunjuk salah satu penunggang kuda. "Dia adalah Trimetra, seorang pewaris klan Meinzin. Kakeknya adalah pemimpin klan itu dan kabarnya ialah yang akan menggantikan posisi Kakeknya itu"
Trimetra Meinzin. Seorang pemuda berusia 25 tahun, ia memiliki wajah yang tampan dengan raut wajah yang dingin. Berambut hitam lebat, tinggi dan terlihat atletis, dia adalah pria idaman para gadis.
Faesa termenung sejenak namun ia kembali sadar. "Dia kemari pasti melamar Nona Frimeya"
Trimetra dan rombongannya melewati mereka berdua. Trimetra sedikit melirik ke Arion sebelum kembali memandang ke depan.
"Hey, sedang apa kalian disana?"
Suara bariton yang khas dengan sedikit serak itu menarik perhatian keduanya. Ada Eden disana, sedang duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi.
"Eden?" Faesa heran sekaligus kaget. "Dia alasan kau kemari?"
"Iya" Arion mengangguk.
"Kenapa ada Faesa disini?" tanya Eden.
"Sebentar, kenapa kau memanggil Arion kemari?" Faesa bertanya balik.
"Kenapa kau juga ikut?" tanya Eden lagi.
"Jawab pertanyaanku dulu" Faesa tidak mau mengalah.
"Cukup, cukup, cukup. Tidak ada yang perlu diperdebatkan" Arion langsung menengahi. "Aku juga bingung kenapa Eden memanggilku kesini jauh-jauh"
Eden menghela napas pendek. "Baiklah. Ini ada hubungannya dengan rasmu, Faesa"
"Rasku?" tanya Faesa, bingung.
"Ya. Sebenarnya aku sudah menemukan kecurigaan-"
"Kau mencurigai rasku?" Faesa langsung memotong.
"Tenang dulu, Faesa" sahut Arion.
"Sabar dulu. Ini mungkin memang ada hubungannya dengan ras Demi-Human" Eden mengeluarkan selembar kertas dan menunjukkannya kepada mereka. "Kalian pernah lihat simbol ini?"
Arion dan Faesa melihatnya dengan seksama. Gambar seperti kepala singa bertanduk domba.
"Tidak, aku tidak pernah melihatnya" jawab Arion.
"Sama" kata Faesa.
Eden menjelaskan, sudah lima orang dari ras Demi-Human yang ia temukan tergeletak di tanah dengan keadaan tidak sadar dan kelimanya memiliki simbol itu di atas pusarnya.
__ADS_1
"Tiga diantara mereka berjenis serigala, satu jenis singa dan sisanya ular"
"Kenapa dengan mereka?" tanya Arion.
"Sepertinya mereka berubah menjadi hewan sepenuhnya" jawab Eden.
"Apa maksudmu? Kutukan itu sudah lama hilang" bantah Faesa.
"Aku menyaksikannya sendiri" jawab Eden. Faesa terkejut. "Saat ujian beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan salah satu dari mereka berjenis serigala. Orang itu juga memiliki tanda ini"
Kemudian, Eden menjelaskan kekhawatirannya kepada ras Demi-Human. Menurutnya, ini harus diberantas sebelum membesar.
Ras Demi-Human memang mempunyai kekuatan untuk berubah, namun kekuatan itu membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka tidak akan bisa membedakan antara kawan dan lawan. Jika sudah berubah, otak dan hati mereka tidak akan bekerja, melainkan nafsulah yang akan mengendalikan seluruh tubuh mereka.
"Di tempat ini banyak sekali ras Demi-Human, bukan tidak mungkin ada biang onarnya disini" kata Eden.
"Menurutmu.. ini akibat ulah seseorang?" tanya Faesa.
"Bisa saja. Coba kutanya, simbol itu ada ditubuhmu?" Eden bertanya balik.
"Tidak. Baru kali ini aku melihatnya" jawab Faesa.
"Pendapatku saat ini, mungkin ada orang yang dengan sengaja menanamkan sihir ke tubuh ras Demi-Human untuk..." Eden berhenti berbicara.
"Untuk apa?" tanya Arion.
Eden menyipitkan matanya. Ia melihat seseorang yang ditutupi oleh jubah coklat sedang berjalan sempoyongan dan menghilang di sebuah gang.
"Ikuti aku" Eden langsung bangkit dari kursinya dan mengikuti orang itu.
"Hey, kemana?" tanya Faesa. Keduanya pun mengikuti dari belakang.
Gang itu tidak sepi, masih ada beberapa orang disana yang sedang berlalu-lalang. Eden berjalan cepat, Arion dan Faesa sedikit kesulitan untuk mengikutinya dari belakang.
Sadar sedang diikuti, orang itu langsung berbelok. Eden segera menyuruh mereka untuk cepat, mengejar orang tersebut. Mereka berbelok dan menemukan simpang gang, Faesa melihatnya sedang belok ke kanan.
"Itu dia!" serunya.
Mereka bertiga berlari kecil lalu belok mengikuti arah jalan orang itu. Namun, buntu. Disana hanya ada tempat sampah dan beberapa tumpuk barang rongsokan.
"Apa? Tidak mungkin dia menghilang. Aku bersumpah melihatnya berbelok" kata Faesa, sangat kaget.
"Diamlah, tidak ada yang menyalahkanmu" ucap Eden.
Arion mengangkat tangan kanannya ke depan. Barang rongsokan itu berubah menjadi es dan semakin membesar. Kemudian, orang itu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ampun! Jangan sakiti aku!" teriaknya.
Ia terlihat pucat dan kurus kering. Pria itu menangis untuk dilepaskan, dari tangisannya saja sudah dapat dirasakan kalau ia amat tersiksa.
Mereka bertiga tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas karena gelap keadaan gang itu dan juga karena ditutupi tudung jubahnya.
"Aku akan bertanya satu pertanyaan kepadamu. Apa kau dari ras Demi-Human?" tanya Eden.
"Kumohon.. lepaskan aku. Aku... sudah tidak.. kuat" pria itu melantur.
"Kenapa dengannya?" tanya Faesa.
"Ada yang salah" Eden mengerutkan dahinya.
Mata pria tersebut berubah menjadi hijau. Ketiganya dapat melihat cahaya mata itu dari dalam kegelapan.
"Kumohon..."
"Ini buruk" ucap Arion.
Pria itu melangkah perlahan keluar dari kegelapan. Eden, Arion dan Faesa melebarkan matanya, mereka sangat terkejut melihat wajah pria itu berupa setengah laba-laba.
"Astaga" gumam Faesa.
"Sial, dia akan bereaksi" ujar Eden.
Lalu, mereka mendengar tawa seseorang yang berasal dari belakang pria itu.
"Ambil darah mereka"
Setelah itu, pria itu berubah menjadi laba-laba raksasa dengan tinggi mencapai 5 meter.
Tidak sempat ketiganya mengambil senjata, laba-laba itu menembak jaringnya kepada mereka hingga terhempas keluar gang. Orang-orang yang melihatnya menjerit histeris dan berlari kemana-mana.
Mereka bertiga berakhir di depan sebuah toko dengan keadaan terperangkap jaring-jaring laba-laba.
"Kita harus keluar dari sini!" teriak Faesa.
__ADS_1
Ketiganya mencoba sekuat tenaga untuk lepas dari jaring itu. Tiba-tiba, laba-laba tersebut melompat dan muncul tepat di hadapan mereka.
Arion dan Faesa berteriak sekuat mungkin.
"Thunder Bite!"
Eden segera mengeluarkan kemampuan petirnya. Petir itu memotong-motong jaring itu dengan cepat. Akhirnya, mereka bertiga bebas dan segera menyingkir dari sana.
"Hewan ini besar" gumam Arion.
Eden mengeluarkan sebuah pedang panjang. "Tuntaskan ini dengan cepat, atau tidak akan banyak korban yang berjatuhan!" seru Eden.
"Mudah sekali kau mengatakannya!" balas Arion, ia ikut mengeluarkan pedangnya.
Dari pos keamanan disana, para penjaga menjadi keheranan melihat seluruh orang berlari dari arah pusat kota.
"Ada apa?" tanya seorang Elf.
"Ada serangan laba-laba raksasa disana!" lapor salah satu penjaga yang baru saja datang.
"Apa?"
Kembali ke mereka bertiga.
Faesa saling tukar serang dengan kaki laba-laba itu menggunakan gadanya.
"Kakinya seperti besi!" kata Faesa.
Arion memunculkan serangan es dari udara. Kedua tangannya diselimuti es, ia bisa mengandalikan gerakan es dari pergerakan tangannya itu. Ia juga bisa memunculkan es dengan cara membuka telapak tangannya.
Arion memukul udara. Secara bersamaan, muncul bongkahan es menghantam tubuh laba-laba itu hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.
Tentara Elf datang dengan wajah yang terkejut.
"Apa yang terjadi disini?!"
***
- Kastil Midorian
Suasana kastil kini masih diramaikan oleh para hadirin yang ingin melamar Frimeya.
Frimeya sendiri sedang duduk di kursinya sambil menopang wajah dengan lengannya. Ia sudah lelah dan bosan, sedangkan Ayahnya tetap memandu acara agar semeriah mungkin.
"Acara ini lama sekali.." gumam Frimeya.
Tiba-tiba, seorang prajurit masuk ke dalam kastil dengan raut wajah yang panik.
"Tuan Serva, Tuan Serva!"
Lantas hal itu membuat Serva --Ayah Frimeya-- menjadi terkejut sekaligus bingung. Seluruh hadirin menengok kearah prajurit itu.
"Ada apa?" tanya Serva.
"Ada laba-laba raksasa yang menyerang kota, Tuan!"
Seluruh hadirin saling berpandang-pandangan. Serva melebarkan matanya, sedangkan Frimeya langsung berdiri.
"Baiklah, kerahkan tentara kita untuk menuntaskannya dan pindahkan warga ke tempat yang aman" perintah Serva.
"Baik!" Prajurit itu bergegas pergi.
"Maaf, karena ada kendala yang mengancam diluar sana, kami dengan berat hati menunda acara ini" Serva langsung menutup acara dan hendak berangkat ke tempat kejadian.
"Ayah, aku ikut" ucap Frimeya.
"Tidak, tetaplah disini dan jaga kastil" jawab Serva.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Yah. Aku akan membantumu"
Serva ingin menolak lagi, tetapi ada suara yang membuat menarik perhatiannya.
"Biarkan Nona Frimeya ikut, Tuan Serva, aku akan menjaganya" kata Trimetra.
"Apa?" gumam Frimeya. Ia menjadi heran dan bingung melihat lelaki di depannya ini.
"Baiklah, kita berangkat kesana"
Mereka bertiga berlari menuju kuda mereka masing-masing.
"Tuan Muda, aku bisa menjaga diriku sendiri, anda tidak perlu repot-repot" bujuk Frimeya.
"Aku tidak ingin kau terluka" jawabnya dengan raut wajah datar. Mereka memacu kuda ke tempat penyerangan.
__ADS_1