The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Trimetra Meinzin


__ADS_3

- Meinzin Town


Meinzin Town merupakan pusatnya para anggota klan Meinzin tinggal dan berkumpul. Kota ini berada di wilayah Wavri Empire yang berlokasi di pesisir pantai.


Keadaan kota ini sama seperti kota lainnya, tidak ada yang istimewa dan terkesan biasa saja. Maklum, karena klan Meinzin bukan klan yang terkenal dan banyak melahirkan generasi hebat, tidak seperti Whiteblood, Blackclaws dan klan hebat lainnya.


Meinzin bahkan hampir terlupakan oleh zaman, tapi akhir-akhir ini, klan tersebut menarik perhatian masyarakat Benua Timur. Kenapa tidak? Seorang pemuda berbakat yang kemampuannya jarang terlihat oleh ksatria lainnya muncul di klan Meinzin.


Siapa lagi kalau bukan Trimetra Meinzin, pria muda dengan daya tarik yang luar biasa. Trimetra menguasai tiga elemen. Air, listrik dan tanah.


Hari ini, Trimetra berada di rumah Grand Elder dari klan Meinzin. Para tetua sedang mengadakan rapat mengenai teror dari Ethinos. Diantara para tetua, ada satu yang berasal dari ras Demi-Human. Mereka melakukan debat dan adu pemikiran, Grand Elder hanya mendengar keluhan dan saran mereka yang semakin memanas.


Ethinos sudah dinobatkan sebagai ancaman nyata Benua Timur saat ini. Mereka melakukan teror dimana-mana dan kapan saja. Selama tiga tahun terakhir, sudah hampir dari 150 desa yang mereka hancurkan dan lebih dari 10 ribu jiwa yang melayang.


Namun, sekeras apapun usaha pemerintah untuk mencegahnya, tetap saja mereka akan tertinggal satu langkah. Ethinos bukan satu-satunya masalah saat ini, perang antar kerajaan juga harus diperhatikan. Ini bukanlah era perdamaian, ini masih era kekuasaan dan peluasan wilayah.


Dengan keegoisan masing-masing kerajaan, mustahil untuk memusnahkan Ethinos. Alhasil, para anggota ras Demi-Human yang tidak bersalahlah yang menjadi korbannya. Dikucil dan dihina, bahkan ditelantarkan serta lebih parahnya lagi, dibantai habis-habisan jika perlu.


Lalu, klan yang sudah sangat lama menghilang juga menjadi berita hangat. Whiteblood terakhir, begitulah orang-orang menyebutnya. Terjadi pro dan kontra dalam masalah ini. Tentu saja, mengingat klan Whiteblood yang sudah lama punah, membuat orang-orang sulit mempercayainya.


Apalagi, berita ini disebarkan mendadak dari Rabadar Kingdom. Itupun hanya berita mulut ke mulut. Anak yang diberitakan juga tidak muncul-muncul ke kerajaan dan dinyatakan tewas oleh kerajaan.


Tapi, banyak juga dari mereka yang percaya tentang adanya Whiteblood terakhir ini. Mereka hanya berharap keturunan terakhir dari klan sakti ini membawa perubahan di Benua Timur.


Rapat antara tetua Meinzin diakhiri oleh Grand Elder sendiri. Tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam rapat ini, Grand Elder menyarankan agar para tetua fokus terhadap generasi muda klan dan mengembangkan bakat mereka.


Soal Ethinos, para penjaga kota akan menambah kuota prajurit untuk mengamankan kota.


"Trimetra" Grand Elder memanggil ketika semua tetua sudah meninggalkan rumahnya.


Trimetra menoleh dan melangkah menghampirinya. Grand Elder bangkit dari duduknya dengan menggunakan tongkatnya sebagai penumpu tubuhnya, tubuh pria sepuh itu sedikit bergemetar ketika bangkit untuk berdiri. Trimetra hendak membantu, namun Grand Elder mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan dia tidak apa-apa.


"Umurmu sudah 28 tahun, kan?" tanya Grand Elder.


"Iya"


"Apa kau tidak mau mencari pendamping hidup?"


"Saya belum memikirkannya saat ini" jawab Trimetra seadanya. Ia bohong tentang jawabannya barusan. Ia masih memikirkan Frimeya.


Grand Elder tertawa pelan. "Begitu, ya. Kuharap kau menemukannya secepat mungkin. Trimetra.."


"Ya, Tuan?"


"Aku ingin memberikanmu gelar tetua, apa kau setuju?"


Trimetra sedikit kaget, Grand tiba-tiba saja mengajukannya untuk menjadi tetua. Trimetra bukan tidak siap, hanya saja ia belum memikirkan untuk menjadi petinggi klan.


"Kupikir aku belum pantas untuk menduduki jabatan tetua"


"Tentu saja kau pantas. Kemampuanmu sudah setara dengan tetua disini, kau sudah dewasa untuk bertanggung jawab"


Trimetra diam. Ia berpikir sejenak. "Baiklah"


Grand Elder tertawa mendengar jawaban Trimetra, ia bahagia pria itu menerimanya. "Aku yakin masa depan klan akan cerah di tanganmu"


"Tapi..." Grand Elder menghentakkan tongkatnya pelan ke lantai. "Apa kau mau menangani dua anak sebagai muridmu?"

__ADS_1


"Dua anak? Siapa itu?"


"Kau akan tahu" pria sepuh itu tersenyum.


***


- Vogros Town


Fieyni mengajak mereka menjauhi keramaian. Mereka masuk kedalam bawah tanah, dan berjalan di sebuah lorong besar dan juga gelap.


Arion dan Kenneth tidak berkomentar, mereka hanya mengikuti Fieyni sampai menuju sebuah pintu besi yang terletak di dinding lorong.


"Kita akan kemana?" tanya Arion.


"Pintu apa ini?" tanya Kenneth.


"Untuk sementara waktu, kita berdiam disini sampai keadaan sudah aman" jawab Fieyni. Ia membuka pintu besi itu, menimbulkan suara yang berisik.


"Ouh" mulut Kenneth sedikit menganga. Di ruangan itu, ada 6 orang ras Demi-Human, yang terdiri dari satu orang pria dewasa, seorang wanita dewasa, seorang lelaki muda yang berumur 15 tahun dan tiga anak kecil.


Di ruangan tersebut ada beberapa furnitur yang biasa ditemukan di rumah-rumah warga pada umumnya. Disana ada satu kasur kecil, kompor, kursi, meja kecil, dan lain-lain. Walau ruangan itu tertutup, tapi oksigen masih bisa masuk melalui ventilasi di atas pintu. Sepertinya, ruangan ini sudah mereka anggap sebagai rumah.


"Fieyni" seorang pria dewasa dengan janggut dan kumis tebal di wajahnya memeluk Fieyni.


"Syukurlah kau baik-baik saja"


"Aku tidak apa, Ayah" jawab Fieyni.


Pria itu beralih ke Arion dan Kenneth. Fieyni menjelaskan kepada mereka bahwa Arion dan Kenneth yang telah menolongnya tadi siang dan memberinya makanan dan uang.


Lalu, wanita yang merupakan Ibunya Fieyni melangkah maju dan menyalami kedua pemuda dihadapannya itu.


"Tidak masalah, Nyonya. Apa kalian sekeluarga tinggal disini?" tanya Arion.


"Iya, kami sudah tiga tahun tinggal disini semenjak ras Demi-Human mulai diasingkan" jawab Ayah Fieyni.


"Kami bersyukur menemukan tempat ini, jika tidak kami harus tinggal tanpa atap untuk bernaung" lanjut Ibunya Fieyni.


Arion dan Kenneth saling berpandangan. "Apa kalian tidak keberatan kami tinggal untuk sementara?"


"Tentu saja tidak, kalian boleh tinggal sampai waktu yang kalian inginkan" Ibunya tidak keberatan, begitu juga dengan yang lain, kecuali satu orang, saudara laki-laki Fieyni. Tapi, ia tidak berani mengutarakan pendapatnya.


..


...


Malam mulai larut, keluarga Fieyni sudah tertidur dalam keadaan was-was. Bahkan Ayah Fieyni tampak memegang pedang diatas tubuhnya.


Kenneth tertidur dengan posisi duduk di lantai, sedangkan Arion berada di kursi. Matanya terpejam, tapi ia tidak tidur. Ia tidak bisa tertidur karena ia terus merasakan energi orang-orang dari luar.


"Ide yang buruk untuk keluar sekarang" kata Arion. Ia menyadari saudara laki-laki Fieyni ingin keluar dari ruangan itu.


Lelaki itu menghentikan langkah, tangannya sudah berada di ganggang pintu. Arion bangkit dari duduknya, ruangan itu diberi cahaya obor kecil tapi tetap saja gelap, membuat wajah Arion sedikit tidak nampak olehnya.


"Ingin kemana?" tanya Arion.


"Bukan urusanmu, kan?" sahutnya.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya"


Ia hanya diam, tidak menjawab. Lelaki itu masih berdiri disana memandangi Arion yang berdiri dalam kegelapan.


"Namaku Arion. Siapa namamu?" Arion mengajak berkenalan.


"Avan"


"Nama yang keren"


"Ayahku yang memberikannya"


"Bagus. Aku juga... kurasa" Arion mengangkat kedua bahunya dan berjalan mendekat.


"Kusarankan untuk tidak pergi keluar, disana masih berbahaya"


"Dari mana kau tahu?"


"Energi Sensor. Aku pengguna Energi Sensor, aku bisa merasakan energi makhluk hidup disekitarku dengan jelas"


Avan tidak berkomentar, ia tetap ingin pergi keluar, namun tangannya dipegang oleh Arion.


"Kau keras kepala juga, ya. Itu mengingatkanku kepada saudaraku" kata Arion.


"Justru kau yang keras kepala. Jaga saja dirimu sendiri" Avan menepis tangan Arion. Ia membuka pintu itu, mendadak wajah Arion menjadi pucat.


Dengan cepat, ia memegang pundak Avan. "Masuk" bisiknya.


"Apa lagi?!" Avan tambah kesal.


"Masuk dulu!" Arion berseru dalam bisiknya. "Akan ada yang lewat kemari"


Mendengar itu, Avan menurut dan berjalan kembali ke dalam. Arion menutup pintu secara perlahan. Ia segera membangunkan Kenneth dengan kakinya.


"Ck! Apa-"


Mulut Kenneth segera ditutup oleh Arion. Jari telunjuk ia tempelkan di bibirnya. "Diam"


Kenneth segera berdiri, Avan membangunkan seluruh anggota keluarganya. Mereka langsung berdiri dan bersiaga, Ayah Fieyni berdiri bersandar di dinding dengan pedang di hadapannya.


Arion dan Kenneth berdiri diam di depan pintu. Mereka berdua dengan perlahan mengeluarkan es dari telapak tangan. Fieyni dan Avan berdiri di tengah-tengah ruangan dengan maksud untuk menjaga Ibu dan ketiga adik mereka.


"Mereka mendekat" bisik Arion.


Sesuatu diluar melangkah kemari. Mereka berjumlah tiga orang dan mereka semua adalah Undead dalam bentuk yang mengerikan.


Arion mengangkat tangannya keatas, mengisyaratkan untuk bersiap. Ketiga makhluk itu sudah berdiri di depan pintu, mereka berhenti disana.


Avan menelan ludahnya, wajahnya berkeringat dingin dan juga pucat.


Mereka semua mendengar suara gesekan pedang terhadap pintu dari luar. Arion melirik ke ganggang pintu yang bergerak-gerak, dengan cepat ia memegang itu dengan maksud untuk tidak membiarkan pintu terbuka.


Setelah cukup lama para Undead berdiri disana, akhirnya mereka bertiga beranjak pergi. Mereka semua bisa bernapas lega, namun itu hanya sementara.


Tiba-tiba, pintu besi itu ditarik hingga terlepas. Seluruh orang diruangan itu mengeluarkan ekspresi kaget, mereka semua berteriak kecuali Arion.


Ketika salah satu Undead ingin menyerang, Arion sudah mengantisipasinya lebih dulu. Ia membekukan ketiga Undead itu langsung sampai mereka terhempas ke sisi seberang  dinding lorong.

__ADS_1


"Ayo!" Arion keluar terlebih dahulu. Fieyni dan keluarganya keluar dan lari mengikuti Kenneth. Arion yang berada di belakang mereka melihat ada yang akan datang dari ujung sana. Ia membangun dinding es untuk menghalau mereka datang.


Arion dan yang lainnya pergi dari sana malam itu.


__ADS_2