
Tiga tahun lamanya Arion di Argenhill. Ia sudah tumbuh menjadi pemuda yang lebih kuat daripada sebelumnya. Arion sudah menguasai beberapa ilmu yang sekiranya cukup kuat untuk seusia dirinya.
Ia sudah berubah profesi menjadi Mage, tetapi ia tetap berperan sebagai seorang Swordman.
Tak beda jauh dari Arion, Kenneth juga bertambah kuat. Ilmu dan kemampuannya meningkat pesat setelah kedatangan Arion. Kenneth menganggap Arion sebagai rivalnya, jadinya ia tidak ingin kalah walau kekuatan mereka beda tipis.
"Dorum Art - Miracle Form"
Arion memindahkan sebuah batu besar dengan pikirannya. Ia memindahkan batu itu dari sungai yang menjadi akibat tersumbatnya air sungai.
"High Art - Tons of Star!"
Ketika Arion hendak meletakkannya, Kenneth dengan iseng meledakkan batu itu menjadi debu.
"Sialan! Apa kau gila?! Kau hampir saja membunuhku!" teriak Arion.
Kenneth tertawa puas. "Akhirnya aku berhasil menguasainya!"
Arion mengumpat dalam hatinya. Ia ingin memindahkan batu-batu lainnya, namun mendadak ia merasakan sebuah ayunan pedang yang tidak jauh dari belakang lehernya.
TRAAANGG!!
Arion menangkis serangan itu dengan tangan esnya. Ternyata, Kenneth yang membuatnya harus repot untuk menahan serangan Kenneth itu.
"Bagaimana kalau kita berduel dulu, Bocah?" tanya Kenneth sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.
"Baik. Yang kalah jadi budak sang pemenang selama satu bulan!" jawab Arion, ia melompat mundur menjauhi Kenneth.
"Cukup adil"
Kenneth berlari dengan menggenggam pedang kearah Arion. Sedangkan, Arion berdiri di tempat sambil memejamkan kedua matanya. Ia menyatukan kedua telapak tangannya, dari sana muncul delapan cahaya kuning yang mirip seperti laser.
Kedelapan cahaya itu melesat menuju Kenneth. Dengan lincahnya, Kenneth menghindari itu semua dengan kecepatan kaki dan kelenturan tubuhnya. Kenneth menguasai Thunder Arrow Technique, yang bisa membuatnya bergerak secepat kilat. Teknik ini biasa dikuasai oleh para Assassin.
Dalam beberapa detik saja Kenneth sudah berada di dekat Arion. "Aku menang!" Namun, tiba-tiba saja sesuatu yang besar memukul Kenneth dari samping hingga ia terhempas ke sisi kanan Arion.
Dari lokasi Kenneth jatuh, keluar kepulan debu yang tebal. Ketika kepulan itu mereda, Kenneth tampak telah menggunakan perisai es tebal sebagai alat untuk menahan serangan tadi agar tidak mengenai dirinya.
"Respon yang hebat, Ken" puji Arion dari sana. "Tapi, bagaimana kalau ini?" Ia menarik tongkat kayu yang ia simpan dari tadi di punggungnya.
Arion menghentakkan tongkat itu ke tanah. Tanah di sekitar Kenneth menjadi bergetar, ia pun menjadi waspada dan melihat ke sekelilingnya. Mendadak muncul belasan rantai besi yang sangat panjang dari dalam tanah, bersiap untuk mengikat tubuh Kenneth.
"Apa-apaan ini?" Kenneth merasa ciut. Ia menghindari satu rantai yang menuju kearahnya dengan satu lompatan ke belakang. Lalu, muncul lagi dari belakangnya, Kenneth menajamkan pedangnya dengan Qubenya lalu menghancurkan rantai itu.
Belum selesai sampai disana, dua rantai lainnya melesat dari arah kiri dan kanan. Kenneth menghindar dengan melenturkan tubuhnya kebawah.
"Sial" gumam Kenneth.
"Dorum Art - Sun Defense!" Langsung saja Kenneth mengeluarkan salah satu jurus dari Ilmu Dorum, Sun Defense.
Jurus ini adalah kekuatan pelindung sekaligus penyerang. Dengan melindungi penggunanya di dalam bola kuning berbentuk matahari, segala apapun yang mendekat akan terbakar.
Jika ada yang melihat kedua pemuda ini menggunakan kekuatan tingkat Dorum, pasti mereka sudah dicari.
Rantai-rantai tadi mengelilinginya, tetapi benda-benda itu terbakar hingga meleleh karena saking panasnya untuk besi. Orang yang menyentuhnya juga akan kehilangan tubuhnya karena bola matahari itu.
"Curang!" teriak Arion.
"Kau juga sama!" balas Kenneth.
"Aku tidak!"
"Tidak apanya?! Kau menggunakan tongkat itu!"
"Aku seorang Mage! Kau yang curang! Mana bisa aku menang jika kau menggunakan itu!"
"Ha Ha! Itu masalahmu!"
__ADS_1
Kenneth melepaskan jurusnya itu dan lalu kembali berlari kearah Arion.
"Begitu? Baiklah, ini akan menjadi duel yang sangat lama" Arion menarik pedang dari sarungnya. Ia berlari kearah Kenneth lalu beradu pedang, mereka terus melakukannya sampai sore.
Feza datang melihat mereka. Sambil mengelus janggutnya, ia memperhatikan mereka yang terus bertarung tanpa lelah.
"Sepertinya sudah saatnya" gumam Feza.
Di malam harinya, ketika Arion dan Kenneth kembali dari kandang sapi, Feza menyuruh mereka berdua untuk duduk mengitari perapian.
"Ada apa, Kek?" tanya Kenneth.
"Dengar dulu" jawab Feza. "Sudah saatnya untuk Arion pulang ke kampung halamannya"
"Eh? Tiba-tiba sekali" kata Kenneth, kaget. Arion hanya diam.
"Sudah tiga tahun kau disini, orang-orang di rumahmu pasti sudah sangat mencarimu selama ini. Kau bilang disana kacau, bukan? Ini memang waktu yang pas untukmu pulang"
"Kakek benar, tapi..." Arion merasa bimbang. Ia sudah menganggap Argenhill sebagai rumahnya dan sangat sulit untuk meninggalkannya tapi ia juga tidak bisa membiarkan orang-orang disana mencemaskannya. Mungkin, Arion sudah dianggap meninggal karena tidak muncul selama tiga tahun terakhir.
"Kau sudah dibekali ilmu yang cukup. Tidak, lebih dari cukup. Kau tidak perlu takut lagi mulai dari sekarang, karena inilah awalnya, Nak"
"Awalnya.." gumam Arion.
"Soal klan, apa ada yang bisa kulakukan?"
"Tentu, jika itu memberikan dampak yang positif"
Ia teringat Ibu dan Klannya. Ia memejamkan matanya sejenak dan mengangguk pelan. "Ya, aku rasa aku memang haru kembali"
"Aku tahu kau akan menjawab itu. Seorang Whiteblood memang tidak akan pernah melupakan keluarganya" kata Feza, ia menoleh ke Kenneth.
"Kau ikut dengannya, jadilah rekan perjalanannya"
"Hah? Aku tidak salah dengar? Kakek menyuruhku pergi? Lalu, dengan siapa kau disini?" tanya Kenneth.
"Y-ya.. Kakek ada benarnya juga.." jawab Kenneth sambil menggaruk kepalanya.
"Kau bisa menjaganya, saat ini dunia membutuhkan satu Whiteblood"
"Aku paham"
"Aku sangat berterima kasih kepadamu karena telah membimbingku selama ini. Aku harap aku bisa membalas semua jasa Kakek" kata Arion.
"Balasnya lain kali saja, aku senang kau menjadi kuat dibawah bimbinganku" jawab Feza.
Arion tersenyum sambil mengangguk. "Ya"
Di pagi harinya, mereka berdua siap untuk berangkat. Arion dan Kenneth duduk berlutut di depan Feza untuk menghormati dan memberinya salam perpisahan.
"Jalan dari sini ke desa terdekat cukup jauh, semoga kalian bisa mencapainya dengan selamat"
"Baiklah. Kami berangkat dulu" ucap Arion.
"Sampai jumpa" Kenneth melambai kepada Feza.
"Ya. Jadilah ksatria!" Feza membalas lambainnya. Keduanya sudah pergi menjauh dari pandangannya, Feza menghela napas pendek.
"Whiteblood. Semoga masih ada harapan"
Arion dan Kenneth memulai perjalanan mereka dengan jalan kaki. Sejauh ini belum ada seorang pun yang terlihat oleh mereka.
"Kita kemana dulu?" tanya Kenneth.
"Kita akan ke Anvio Village untuk mengunjungi seseorang yang sangat kurindukan" jawab Arion.
"Aku juga ada seseorang yang sangat kurindukan"
__ADS_1
"Benarkah? Siapa?"
"Seorang kekasih yang tidak pernah ada"
Arion sontak tertawa. "Kau sudah lama menyendiri. Tenang saja, saat kita sampai ke Rabadar Kingdom, akan kukenali dengan gadis-gadis disana"
"Wah! Serius?! Aku sudah tidak sabar!" sorak Kenneth.
Arion merogoh sakunya, ia mengambil sebuah cermin dari sakunya itu. Cermin sihir pemberian dari Mike. Ia selalu berharap bisa menghubungi siapapun dari sana, namun sampai sekarang tidak ada balasan.
"Arion, sebaiknya kau tutupi kepalamu dengan tudung jubahmu. Untuk jaga-jaga, kau itu terlalu mencolok kalau memperlihatkan rambutmu" kata Kenneth sambil memasang tudung jubah ke kepala Arion.
"Iya, kau benar"
Setelah lamanya perjalanan, mereka sampai di desa. Disana tidak terlalu ramai dan mereka berdua juga tidak ingin berlama-lama disana. Kenneth langsung mencari kapal yang bisa mereka gunakan.
Arion yang berdiri menyandar di tiang dihampiri oleh seorang pria. Pria itu memakai topi lebar, jas coklat dan memiliki paras yang berkharisma.
"Hai, apa kabar?" tanya pria itu.
"Ah, baik. Anda sendiri?"
"Aku baik. Kau seorang Mage? Disini jarang sekali ada seorang Mage" pria itu melihat tongkat Arion yang ia letakkan di punggungnya.
"Sebenarnya aku seorang Swordman tapi beralih profesi" jawab Arion dengan sedikit tawaan.
"Benarkah? Jangan sampai melupakan profesi aslimu jika tidak ingin kehilangan Qube"
"Aku selalu mengingatnya" Arion tersenyum.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?
"Arion"
"Kau punya nama yang keren. Aku Brian" ia mengulurkan tangannya.
"Senang berkenalan denganmu, Brian. Dari klan mana?"
"Dari Blackclaws. Aku cukup beruntung berasal dari sana"
"Ah, Blackclaws. Aku punya teman dari klan Blackclaws"
"Itu hebat. Siapa namanya?"
"Eden"
"Eden, ya. Aku mengenalnya, dia keponakanku"
"Begitu, ya. Berarti kau Pamannya, aku cukup kaget mengetahuinya"
Lalu, suara terompet kapal berbunyi. "Sepertinya itu isyaratku. Senang berkenalan denganmu, Arion. Kuharap kita bisa bertemu lagi"
"Ya, aku juga begitu" kata Arion.
Brian berbalik dan melangkah pergi. Ia tersenyum miring. "Anak yang menarik. Aku sudah menandainya. Dialah Whiteblood!"
Arion tidak sadar ia sudah ditandai. Ketika Brian bersalaman dengannya, secara sengaja Brian menanamkam sihir pelacak kepada Arion. Ia pun bisa mengetahui keberadaan Arion dimanapun.
Kenneth datang. "Siapa itu?"
"Paman temanku, aku baru berkenalan dengannya"
"Owh. Kapal kita akan sampai dalam 20 menit lagi"
"Lama"
"Bersabarlah"
__ADS_1