The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Buronan


__ADS_3

PTiga minggu sebelum berita tentang Whiteblood terakhir tersebar, Eden sudah berada di Devonia City. Ia kemari dengan satu tujuan, yaitu mencari Mender Blackclaws.


Ia bertanya kepada masyarakat disana, mereka menjawab bahwa Mender terakhir kali dilihat berada di area persawahan. Eden menuju kesana, ia bahkan sempat memeriksa beberapa lumbung padi disana, namun hasilnya nihil.


Mender dikenal sebagai mata-mata dan penyelinap yang hebat. Dulu, ia pernah bekerja untuk Esdiener Empire, satu dari tiga kekaisaran di benua ini. Ia menjabat posisi Komandan Pasukan Vanerie, sebuah pasukan khusus yang dimiliki oleh Esdiener Empire.


Ia bekerja selama 5 tahun disana, sebelum ia keluar dengan sebuah alasan.


Kini, Eden harus mencari keberadaannya di kota sebesar ini. Situasinya sama saja seperti mencari jarum dalam setumpuk jerami.


Ketika Eden sedang jalan kaki di jalanan umum sambil menarik kudanya, ia dihampiri oleh seorang gadis berkuda dengan paras yang tegas dan dingin. Ia berpakaian seperti prajurit dengan jabatan yang tinggi, rambutnya yang dikuncir kuda mengingatkan Eden kepada Allen, seorang gadis yang menyebalkan.


"Permisi, aku ingin bertanya padamu" kata gadis itu yang tidak lain adalah Alice, tanpa turun dari kudanya.


Eden menghentikan langkahnya dan menoleh ke Alice.


"Blackclaws.." gumam Alice. Ia tahu nama klan Eden karena matanya yang berwarna emas.


"Apa kau melihat orang ini di kota ini?" Ia memperlihatkan poster wajah Mender. "Aku sedang mencarinya, dia buronan"


"Tidak, aku belum melihat pria itu sebelumnya" jawab Eden. Ia setengah jujur, setengah tidak.


"Begitu, ya. Baiklah, terima kasih atas infonya. Jika kau melihat pria ini, mohon laporkan kepada pihak keamanan"


"Ya, aku mengerti"


Alice lalu menjalankan kudanya kembali, Eden pun juga melangkah dari sana. Gadis tersebut menoleh kebelakang melalui dagunya.


"Kurasa aku harus mengikuti Blackclaws itu"


***


Eden mampir ke sebuah kedai minuman yang tidak terlalu besar. Disana tidak ramai, hanya dikunjungi empat orang pria. Eden memarkirkan kudanya di luar dan melangkah masuk ke dalam.


Ia segera memesan dan duduk di salah satu meja disana. Ia memerhatikan seorang pria dengan penutup mulut yang sedang membaca sebuah gulungan kertas di pojokkan sana.


Tidak lama kemudian, minumannya datang. Eden meneguknya perlahan, ia melirik ke pria itu, tetapi ia sudah menghilang dari tempatnya.


Hal itu membuat Eden curiga. Ternyata, pria itu melangkah keluar. Eden segera bangkit dan mengikutinya dari belakang. Pria itu terlihat berbaur dengan beberapa warga disana, sesekali ia mengobrol dengan mereka.


Eden merasa salah orang, ia hendak berbalik ke kedai tadi, tetapi seseorang menepuk pundaknya.


Eden menoleh dan mendapati pria tadi di belakangnya.


"Sudah lelah mengikutiku?" tanya pria itu.


Eden mengerutkan dahinya. "Kenapa kau bisa tahu?"


"Karena kau keponakanku"


Eden segera mengeluarkan belatinya, ia segera menyadari bahwa pria itu akan menyerangnya. Eden menahan tebasan pedang pria tersebut.


Eden mengeluarkan belati lainnya dan menyerang wajah pria itu, namun ia bergerak cepat ke belakang lalu berlari menjauhi Eden.


"Sialan" umpat Eden.


Lalu, tiba gadis tadi dengan membawa dua kuda. "Cepat, aku akan menolongmu mengejarnya"


Meski bingung, Eden tetap naik ke salah satu kuda. Mereka berdua lalu mengejar mengejar pria itu.


Gerakan larinya sangat cepat, bahkan mengalahkan kecepatan seekor kuda. Mereka melewati pasar yang dipenuhi oleh orang-orang.


"Ia menjebak kita kesini" gerutu Alice.


Eden segera turun dan menorobos barisan yang penuh dengan pedagang dan pembeli disana.


"Hey, tunggu!" Alice tidak mau ketinggalan, ia segera menyusul Eden tanpa kudanya.


Pria itu masuk ke dalam sebuah gedung besar. Eden yang masih berlarian di jalanan melihatnya masuk kesana. Ketika Eden masuk, ternyata gedung itu merupakan sisa gedung yang sudah terbengkalai. Tidak ada siapapun disini, hanya ada beberapa benda yang sudah berdebu karena ditinggalkan.


Eden menelusuri seisi gedung di lantai satu itu, lalu Alice datang.


"Kemana dia?" tanya Alice yang tidak direspon Eden. Ia terus berkeliling disana, kemudian ia menangkap sebuah bayangan yang naik ke lantai dua.


"Itu dia" Eden segera mengejarnya, Alice menyusul dari belakang. Mereka naik melalui tangga dan sampai di lantai dua yang keadaannya hampir sama dengan lantai satu.


Eden melempar belatinya ke salah satu pilar bangunan. Disana keluar pria tadi dengan membalas lemparan Eden tadi dengan bola api hitam.

__ADS_1


"Water Release - Elephant Head Form!"


Alice menyentuh lantai bangunan dengan kedua tangannya, lalu muncul kepala gajah raksasa, melindungi mereka dari bola api hitam itu.


"Water Release - Snake Shoot!"


Kepala gajah itu berubah menjadi ular air yang melesat menuju pria itu. Eden menambah aliran listrik ke air itu, membuat kekuatannya bertambah.


"GYAARRGGGHH!!!"


Pria itu menjerit keras setelah terkena serangan kombo mereka. Namun, semua itu hanya tipuan. Tubuh pria itu mengeras menjadi batu dan hancur menjadi berkeping-keping.


"Sudah kuduga" ucap Eden.


"Apa maksudmu sudah menduganya?" tanya Alice dengan nada yang terdengar mencurigai Eden.


"Mender menguasai kemampuan bentuk, dia bisa membuat tiruan dirinya dari segala benda yang ia sentuh" jawabnya.


"Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau tahu Mender mempunyai kemampuan itu?" Alice melipat tangan di dadanya.


"Apa untungnya? Kau mengejar Mender, bukan? Kenapa perlu mengetahui identitasku?" Eden menatap datar pada Alice. "Sekarang, dia berhasil kabur" lanjutnya.


"Kau menyalahkanku?" tanya Alice.


"Ya, kau menghancurkan kloningnya. Jika kloningnya masih hidup, kita bisa melacak Mender melalui aliran Qube ditubuh kloningnya"


"Aku? Kau juga ikut menghancurkannya!" Alice menjadi tambah kesal kepada lelaki dihadapannya ini.


"Terserah apa katamu. Dengan kekuatan sebesar tadi, orang hidup juga akan mati atau sekarat minimal"


"Oh ya?! Kenapa kau berlagak mengguruiku sekarang?"


"Lebih baik kau mengejar orang ini dengan anak buahmu. Kau tidak tahu siapa yang kau kejar ini"


"Aku tidak peduli. Aku akan tetap mengejarnya dan berhenti mengguruiku!" Alice mulai melangkahkan kakinya mendekati Eden. "Aku tidak tahu apa urusanmu dengan Mender, tapi aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri"


"Bunuh saja orang lain" jawab Eden yang membuat Alice tambah naik pitam.


Tiba-tiba, suara tepukan tangan terdengar dari sisi kiri lantai dua. Mereka menoleh kearah bersamaan, disana ada Mender yang sedang bersender di dinding dekat dengan jendela yang.


Alice segera mendorong Eden, namun Eden menangkap lengan Alice dan menghempaskannya ke pilar bangunan. Punggung Alice terbentur pilar itu dan terduduk sejenak.


Melihat kesempatan itu, Eden dengan cepat melompat keluar jendela yang sama dengan jalur perlarian Mender tadi.


"Sial.." Alice kembali bangkit dan menyusul mereka.


Mender berlarian di jalanan, diikuti Eden yang jauh dibelakangnya. Mender melihat sebuah kereta kuda tak jauh di depannya, ia segera naik ke kereta kuda itu.


"Sampai jumpa" Mender melambai pada Eden.


Eden sadar Mender tidak akan terkejar. Ia melihat gerobak kuda yang sedang berjalan pelan, Eden langsung menaiki gerobak itu dan menyuruh kusirnya untuk mempercepat laju kendaraannya. Melihat Eden memegang sebuah pedang, kusir itu segera menurut.


Di sisi lain, Alice berlarian dari gedung ke gedung. Ia dapat melihat Eden dan Mender ada di depannya.


Salah satu element yang dikuasai oleh Alice adalah Element Kehidupan atau tumbuhan. Ia dapat mengendalikan tumbuhan dari luar maupun dalam tubuhnya.


Alice mengeluarkan dahan tumbuhan yang elastis dari lengan kanannya, dahan itu memanjang dan mengikat di ujung menara sana. Lalu, ia melilitkannya di tangan kanannya dan kemudian ia berayun layaknya Spiderman.


Gadis itu mendekati Eden. Ketika Eden menyadari kedatangannya, Alice melesatkan kakinya ke wajah Eden hingga lelaki tersebut hampir jatuh dari kereta kuda.


"Akan kutangkap kau nanti!" seru Alice.


Ia berlanjut ke Mender yang sedang duduk memandanginya.


"Kau meremehkanku, ya? Baiklah, akan kutunjukkan siapa aku sebenarnya" gumam Alice.


Alice bersiap menggunakan kemampuan Flickernya. Dalam hal ini, Mender tidak tahu dimana Alice akan muncul.


"Oh?" Sayangnya, Mender terlalu hebat. Ia mengetahui Alice berada di belakangnya. Ia menangkis pedang Alice dengan pedangnya.


Mereka saling adu dorong pedang diatas sana.


"Kau membunuh keluargaku" kata Alice dengan nada penuh kebencian.


"Aku tidak ingat" Mender menanggapinya dengan dingin. Ia melakukan manuver cepat kesamping, sehingga Alice terkejut dan kehilangan keseimbangan.


Ia hampir terjatuh jika tidak Mender tahan. Kini, posisi Alice berada di bibir atap kereta itu. Selangkah lagi kebelakang, ia akan jatuh jika Mender tidak mencekiknya.

__ADS_1


"Kau petugas keamanan tapi lemah. Kau bukan tandinganku" kata Mender.


"Ugh!" Alice mencengkram lengan Mender, tapi itu sia-sia.


Tiba-tiba, kilat hitam muncul diatas mereka. Membuka gerbang teleportasi dan mengeluarkan Eden darisana. Mender melirik kearah Eden dan tersenyum tipis.


"Kau sudah menguasainya, ya" gumam Mender.


Eden menebaskan pedangnya ke Mender, namun pria itu menghindar dengan cepat dan melepaskan Alice, sehingga gadis itu akan jatuh dari sana. Eden membuka gerbang teleportasi lagi di belakang Alice dan memindahkannya ke sampingnya.


"Aku.. tidak jatuh?" Alice bingung sendiri. Ia menoleh kearah Eden yang ada di sampingnya. Eden sendiri sedang menatap Mender yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Lelaki ini menyelamatkanku?" Batin Alice.


"Mender, aku kemari untuk meminta bantuanmu" kata Eden.


"Kau serius?" tanya Mender.


"Aku memang membencimu dan kau juga sangat menyebalkan, tapi... kau lebih baik dari dia" ujar Eden.


Mender mengelus dagunya. "Untuk apa?"


Eden menghela napas sejenak. "Soal Ethinos"


"Ah, organisasi itu, ya. Kukira mereka sudah musnah"


"Tunggu, tunggu, kau tahu organisasi ini?"


"Tentu, Ethinos sudah lama ada tapi awalnya organisasi ini hanya kumpulan pasukan kerajaan yang terdiri dari ras Demi-Human. Dipimpin oleh seorang dengan jenis ular, Sava Sanairi"


Tiba-tiba, Alice masuk kedalam pembicaraan mereka. "Lanjutkan saja pembicaraan ini nanti, aku harus membunuh brengsek itu dulu" Alice menatap dingin pada Mender.


Eden mengangkat pedangnya kesamping, tepat didepan leher Alice. "Aku membutuhkannya, jika kau ingin membunuhnya dengan siapa aku bicara nanti?" tanya Eden yang membuat Alice tersedak napasnya sendiri.


"Kita turun dulu dari kereta ini, baru kita bicara" kata Mender. Eden setuju dan Alice terpaksa mengikutinya jika tidak ingin terlibat dengan Eden yang ia anggap kuat. Alice harus berpikir dua kali untuk menghadapi Eden.


Setelah turun dari kereta dan singgah di kedai kecil, barulah mereka bicara.


"Aku tidak tahu apa alasanmu untuk sangat ingin membunuhnya. Kalau-"


"Dia membunuh keluargaku" sahut Alice, memotong ucapan Eden. Mendengar itu, Eden melirik ke Mender.


"Hari itu, di malam musim gugur, 10 tahun yang lalu. Desa kami diserang oleh sekelompok orang bertopeng. Aku yang saat itu berumur 8 tahun bersembunyi di rumah bersama dengan Ibu dan dua Kakakku. Ayahku pergi keluar untuk mengamankan desa.


Alice kecil saat itu tengah dipeluk kedua Kakaknya, sedangkan Ibunya berada di depan mereka, bersiaga jika ada musuh yang masuk. Dengan sebuah golok di tangannya, ia berdiri melindungi ketiga anaknya.


Diluar sudah banyak terdengar suara teriakan, adu pedang dan ledakan. Ibunya saat itu sedang berusaha menenangkan mereka, tiba-tiba dari luar jendela, muncul kepala manusia dan mendarat di hadapan mereka. Alice dan kedua Kakaknya menjerit histeris.


Lalu, Ayah Alice terlihat sedang menahan seorang musuh di pintu rumah. Ia sangat kesusahan, sampai-sampai harus masuk ke dalam rumah dan tertahan oleh dinding.


Ayahnya berseru kepada mereka untuk lari, namun musuh itu berhasil membunuhnya. Alice kecil berteriak melihat kematian Ayahnya.


Ibunya segera menyuruh ketiga anaknya berlari kedapur, disana ada pintu bawah tanah rahasia yang tembus keluar desa. Namun, ketika mereka bersama-sama kesana, Ibunya tertusuk oleh sebuah anak panah dari belakang.


Dia tumbang ke lantai, ketiga anaknya tidak berhenti menangis melihatnya sekarat. Tetapi, Ibu Alice berusaha senyum sekuat tenaga dan menyuruh mereka untuk kabur. Kakak sulung Alice langsung menarik kedua lengan adiknya ke pintu itu.


Sesampainya disana, Alice dibiarkan masuk terlebih dahulu. Lalu, mereka mendengar langkah kaki memasuki rumah. Kakak sulung Alice segera mengambil cangkul, berniat untuk menahan orang itu agar kedua adiknya bisa pergi.


Kakak kedua Alice berinisiatif untuk membantu Kakak sulungnya. Ia hendak melarangnya, namun orang itu akan mendekat. Alice didorong masuk dan pintu itu ditutup dan disembunyikan dengan beberapa barang.


Alhasil, keduanya terpaksa berhadapan dengan orang tersebut. Dari dalam pintu itu, Alice menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak mengeluarkan suara. Seiring waktu berjalan, Alice mendengar jeritan kedua Kakaknya, napasnya memburu dan jantung berdebar cepat. Air matanya juga sudah banyak yang menetes, ia ingin berteriak tapi ia menguatkan dirinya untuk menahan semua itu dulu.


Saat itu, ia mendengar nama Mender. Namanya disebutkan oleh orang yang baru saja membunuh kedua Kakaknya. Saat itu ia berbicara dengan orang satunya. Mereka berbicara bahwa Mender menarik mereka semua mundur dari desa itu.


Alice lari di bawah tanah dan keluar dari pintu penghubung yang berada di luar desa. Ia


"Dan saat itu juga.. aku bersumpah untuk memburu dan membunuhmu" Alice mengenggam garpu makanan. Ia hendak berdiri dan menghabisi Mender, tapi Eden memegang bahunya dan menyuruhnya untuk tenang.


"Aku ingat itu, hari, bulan, musim dan tahun, aku mengingat semuanya" kata Mender, ia terlihat bersalah dan murung. "Tapi, bukan aku yang memerintahkan mereka"


Alice mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Bukan aku yang kau kejar, tetapi saudaraku..."


Seketika, tubuh Eden bergetar. Ia mengepal tangannya erat.


"Brian Blackclaws. Dialah yang bertanggung jawab atas insiden itu" lanjut Mender.

__ADS_1


__ADS_2