
"Sebaiknya kau keluar sekarang" Kenneth menghubungi Arion melalui cermin sihir. Ia menunggu Arion di depan kamar Yaena. Kenneth melihat beberapa prajurit sedang melangkah kemari.
Dari dalam kamar, Arion melepaskan pelukannya. Ia melangkah cepat menuju pintu.
"Arion" panggil Yaena. Arion menoleh kembali ke Yaena.
"Berhati-hatilah" ucapnya.
Arion mengangguk sambil tersenyum, ia keluar dari kamar Yaena. Diluar, ia bertemu dengan Kenneth dan sesaat kemudian para prajurit itu datang. Ketika mereka mendatangi koridor itu, Arion dan Kenneth sudah tidak ada disana, sehingga para prajurit tersebut tidak menemukan siapapun disana.
Mereka berdua bergelantungan di luar istana untuk menghindari mereka, para prajurit penjaga yang sedang berpatroli itu.
"Cepat!" bisik Arion.
Mereka memasuki kembali istana melalui jendela yang satunya. Disana tidak ada siapapun penjaga, bisa dibilang ini adalah koridor kosong.
"Koridor kamarku" gumam Arion.
Mereka melangkah pelan namun pasti. Tiba-tiba, Arion merasakan sesuatu mendekat.
"Masuk kesini!" Arion menarik Kenneth masuk ke dalam sebuah kamar, kamar yang ia tempati dulu.
Arion menutup pintu kamar itu dan bersembunyi disana. Suara langkah prajurit terdengar mendekat lalu kembali menjauh.
"Sepertinya mereka sudah pergi" kata Kenneth.
"Siapa itu?" tanya Arion, ia melihat seseorang tertidur di kasur. Orang itu terbangun lalu bangkit secara perlahan sambil mengucek matanya.
"Ada apa berisik-berisik? Menganggu tidurku saja" ucap pemuda itu. Ia melihat Arion dan Kenneth berdiri mematung di depan pintu kamar.
Wajah pemuda tersebut memucat. "Siapa-?!" Tiba-tiba saja, mulutnya ditutupi kain oleh Arion. Belum sampai disitu, Arion mengikat tubuh pemuda itu dengan tali.
"Maafkan aku, kau bisa bebas lagi" bisik Arion.
"Arion, kita harus pergi" Kenneth membuka pintu kamar dan telah mengecek koridor sudah aman. Mereka keluar dari sana dan kembali berlari ke bawah tanah.
Istana ini sangat besar, butuh beberapa waktu untuk mereka mengelabui para penjaga. Arion geleng-geleng kepala melihat penjagaan istana ini sangat ketat dan kaku, berbeda dari sebelumnya.
"Ayo!" Kenneth berlari lebih cepat menuju pintu keluar. Arion menyusul dari belakang.
Sedetik kemudian, mereka menghilang dari sana.
***
"Biarkan aku masuk!"
Seorang pemuda yang masih berpakaian baju tidur berusaha keras untuk masuk ke dalam ruang singgasana. Setelah mendorong dua prajurit yang menjaga pintu, akhirnya ia masuk juga.
Terlihat Dominick sedang berunding dengan beberapa menterinya, mereka semua menoleh kearah pemuda itu.
"Reilo?" Dominick menatap heran kearahnya.
"Maafkan aku karena telah mendobrak masuk tapi aku mempunyai alasan yang bagus" ucap pemuda bernama Reilo itu.
"Katakanlah" Dominick bersedia untuk mendengar.
"Ada dua orang yang masuk ke dalam istanamu, Yang Mulia"
Mendengar itu, Dominick langsung bangkit dari kursi singgasananya.
"Jelaskan secara rinci" perintah Dominick.
__ADS_1
"Mereka laki-laki, tampaknya setahun lebih tua dariku. Yang aku perhatikan, salah satu dari mereka berambut putih dan wajahnya sering kulihat di poster lukisan"
"Tak salah lagi!" Dominick langsung berseru. "Whiteblood itu datang kemari. Perintahkan seluruh prajurit malam untuk bergerak mencari anak itu!"
"Baik!" Para prajurit disana segera bergerak keluar.
"Reilo, kuperintahkan kau untuk memburunya" ucap Dominick.
"Tentu, Yang Mulia" Reilo berbungkuk hormat lalu berlaru keluar. Setelah Reilo keluar, salah satu menteri Dominick segera menanyakan sesuatu kepada Dominick.
"Apa yang dia lakukan disini?"
"Sepertinya, ia kemari dengan satu alasan" jawab Dominick seraya mengerutkan dahinya.
***
"Syukur kalian selamat" Aciel menyambut mereka ketika sudah jauh dari istana.
"Apa kau sudah tahu posisi Daendra sekarang?" tanya Aciel.
Arion mengangguk dan menjawab. "Iya, di Athiesh Kingdom. Itu tujuan kami selanjutnya"
"Sebaiknya kalian berangkat malam ini" usul Aciel. Arion setuju, ia memandang ke istana sejenak. "Kuusahakan secepat mungkin"
Mendadak Kenneth mengerutkan dahinya. "Suara apa itu?" Ia meletakkan telapak tangan di belakang daun telinganya.
"Itu... alarm?" Arion berusaha menebak.
"Astaga, ini gawat. Dominick telah mengetahui keberadaan kalian" ujar Aciel.
Di sisi lain, prajurit istana mulai berlarian keluar untuk mencari Arion. Mereka menyebar cepat ke penjuru kota, akibatnya para warga menjadi penasaran.
Arion dan Kenneth segera kabur. Mereka mencuri kuda warga. Sementara itu, Aciel memasang sihir ilusi agar para prajurit itu tidak pernah bisa menemukan mereka berdua.
"Apa?" Aciel tampak bingung, melihat Reilo. "Ia tidak masuk ke dalam ilusiku?"
"Awas!!" teriak orang ketika melihat Arion dan Kenneth datang kearah mereka.
Kenneth menghela napas lega ketika tidak ada satupun prajurit yang mengikuti mereka.
"Kita aman" ucapnya.
Tiba-tiba, bola besi yang sebesar dua kepalan tangan datang dari arah samping Kenneth. Melihat benda itu, ia mendongak keatas dan terlihatlah Reilo sedang berlari diatas mereka.
"Orang tadi!" seru Kenneth.
"Ice Bullets!"
Arion langsung menembak Reilo dengan peluru esnya yang sudah tiga kali lebih kuat. Reilo menangkis serangan tersebut dengan dua bola besinya yang dihubungkan dengan rantai sehingga ia bisa menarik dan mengendalikannya.
Bagian atas gedung-gedung disana terkena imbas dari serangan Arion dan alhasil Reilo kehilangan keseimbangan sebelum jatuh.
"Pergi kearah timur, disana aman" lapor Aciel dari cermin sihir.
Arion dan Kenneth segera berbelok ke timur. Di sisi lain, Reilo berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Ia jatuh langsung menghantam tanah, sehingga lengan dan beberapa tulang rusuknya patah.
"Sial.." gumamnya sambil meringis kesakitan. "Dimana para prajurit itu?"
***
Setelah menunggu cukup lama kabar tentang penangkapan Arion, seorang perwakilan datang masuk ke dalam ruang singgasana.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Dominick, antusias.
"Gagal, Yang Mulia. Mereka telah pergi, kami terjebak dalam ilusi yang membuat kami hanya berlari berputar-putar" jawabnya.
"Dimana Reilo?" tanya Dominick.
"Tuan Reilo sedang dirawat. Lengan dan beberapa tulang rusuknya patah akibat mengejar Arion Whiteblood"
"Sudah kuduga ia sangat kuat sekarang, ia mampu mengalahkan Reilo" gumamnya. Dominick mempersilahkan prajurit itu untuk pergi.
Dominick bangkit dari kursinya. "Perintahkan Pangeran Klein untuk kembali ke istana"
"Baik, Yang Mulia"
***
"Benarkah?!" Frimeya segera berdiri. "Arion berada di Rabadar Empire?!" tanya Frimeya, sangat antusias.
"Ya, pagi ini kabar tentang Arion tersebar. Ia hanya berkunjung di siang hari lalu menghilang kembali di malamnya" jawab Faria sambil tersenyum.
"Itu kabar baik dan membuktikan ia masih hidup" Frimeya menoleh ke langit lalu kembali menatap Faria. "Aku ingin mencarinya, berita ini menjadi titik terang kalau Arion masih berada di benua ini"
"Kusarankan jangan, benua ini sangat luas. Dari mana kau mulai mencarinya?" tanya Faria.
"Hmm.. benar juga. Arion sudah menghilang lagi" Frimeya berbalik dan kembali duduk di kursi taman. Faria tersenyum lagi lalu mengelus kepala gadis Elf itu.
"Kau sangat tertarik jika membicarakan tentang Arion. Ada apa?"
"T-tidak ada.. apa-apa. Aku hanya penasaran dengan kabarnya" jawab Frimeya, ia bohong tentunya. Jika Faria melihat wajah Frimeya sekarang, dia akan segera mengetahui jawabannya.
"Oh, begitu. Baguslah"
***
Jauh dari Rabadar City, Arion dan Kenneth bersembunyi di suatu desa yang masih berada di dalam kawasan Rabadar Empire.
"Mereka tidak bisa menemukan kita untuk sementara waktu" Arion menghampiri Kenneth yang tengah duduk di atas batu. Ia sedang membaluti kedua lengannya dengan perban.
"Aku ingin bertanya" Kenneth berhenti membalut. "Mantan keluargamu itu, apa begitu caranya menyambut salah satu anggota keluarga yang datang berkunjung?"
"Yang memerintah kerajaan... maksudku kekasairan itu bukan lagi keluargaku" jawab Arion, ia duduk dibawah Kenneth dan bersandar di batu yang diduduki Kenneth itu. "Aku sudah menjelaskannya berkali-kali"
"Semuanya sudah berubah, masa lalu yang kukenal dulu tidak lagi sama. Kau lihat, keluargaku berpencar kemana-mana!" ucap Arion dengan nada bicara yang semakin meninggi. "Apa yang kulakukan selama tiga tahun ini?!" Arion memukul tanah beberapa kali karena saking kesalnya.
"Ini salahku, semuanya salahku. Jika aku tidak mengajak Faesa ke Midoria pada waktu itu, ia tidak akan menjadi bagian dari Ethinos sehingga kami tidak perlu bertarung. Lalu, aku menghilang, jika aku tidak kemana-mana pasti Ayah masih menjabat dan Daendra mungkin saat ini sedang latihan menjadi Raja"
Kenneth hanya diam mendengar kekesalan Arion. Terdengar nada putus asa dari mulut Arion, ia benar-benar kehabisan ide saat ini. Satu-satunya harapan adalah menemui Daendra, hanya itu.
"Seharusnya.. aku tetap saja di desa itu" Arion menunduk. Kenneth melirik ke Arion.
"Ini bukan salahmu" sahut Kenneth, ia menghela napas pelan. "Astaga, kau berbicara seperti orang yang putus harapan saja, padahal ini masih bisa kau perbaiki"
Arion menegakkan kepalanya kembali lalu menoleh ke Kenneth.
"Kau baru boleh menyesal ketika kesalahan itu memang benar-benar tidak bisa kau perbaiki. Aku melihat kau masih mempunyai banyak kesempatan untuk merubah semua ini. Kata Kakek, kau tidak sendirian, jangan pernah menganggap bahwa kau sendirian" ucap Kenneth.
"Melihatmu seperti ini, aku ingin menangis..." lalu Kenneth tertawa. "Aku hanya bercanda"
Arion menarik napasnya dalam-dalam, ia bangkit dari duduknya. "Sial, baru kali ini kau bijak" Arion tersenyum tipis.
"Kenapa harus ada kata 'sial' disana?" tanya Kenneth, terganggu dengan ucapan Arion.
__ADS_1
Arion tertawa kecil. "Sudah, sudah, lebih baik kita langsung pergi ke Athiesh Kingdom. Lebih cepat, lebih baik"
"Ya" Kenneth ikut berdiri setelah dirinya bersiap.