
Keesokan harinya, Eden tidak menemukan Mender lagi. Ia kembali menghilang, merantau dengan statusnya sebagai buronan yang paling dicari. Sebelum pergi, Mender meninggalkan pesan di sepucuk surat.
"Eden, aku melihatmu sebagai ksatria yang tangguh. Kau sudah menguasai kemampuan teleportasi, entah kenapa hatiku menjadi puas melihatnya. Kurasa kau perlu diberi hadiah untuk itu. Aku meninggalkan surat ini bersama dua lembar kertas yang isinya beberapa jurus yang mungkin bisa kau kuasai. Kau anak yang jenius, maka aku merasa kau bisa mempelajari jurus-jurus itu melalui tulisan saja. Baiklah, itu saja dariku. Jika kau ingin meminta bantuan lagi, sebaiknya minta baik-baik."
Eden mengambil dua lembar kertas itu. Isinya memang langkah-langkah jurus dan kebanyakan jurus yang berasal dari tingkat atas.
Tok Tok Tok...
Seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Eden segera menyimpan surat dan dua lembar kertas itu di laci.
Eden melangkah ke pintu dan membukakannya. Ternyata, disana ada Alice yang sudah bersiap-siap untuk berangkat kembali ke Windnemus City.
"Ada apa?" tanya Eden, datar seperti biasa.
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku akan pergi" jawab Alice.
"Sekarang?"
"Ya, sekarang" Alice memandangnya heran.
"Baik, akan kuantar kau" Eden menutup pintu kamarnya.
"Eh? Kenapa? Tidak perlu repot, aku bisa sendiri" jawab Alice.
"Ayo, jangan banyak komentar. Aku juga akan sekalian pergi keluar untuk mencari makan" Eden melangkah duluan. Alice memandang punggung lelaki itu sejenak sebelum mengikutinya.
Mereka berdua keluar dari penginapan dan melangkah menuju ke kandang kuda, tempat Alice menitipkan kudanya.
Eden berdiri memandangi kuda Alice yang berwarna coklat dan kekar. Alice sendiri sibuk mengurusi kudanya yang agak rewel itu.
Ia menarik kudanya keluar dan memberikan upah kepada penjaganya.
"Bisa naik?" tanya Eden.
"Apa maksudmu? Aku bukan gadis rumahan yang jarang naik kuda" Alice menggeleng pelan, lalu naik ke kudanya, namun ia kehilangan keseimbangan karena kudanya tidak diam. Alhasil, Alice jatuh ke tanah dalam posisi terduduk.
Sadar ia akan ditertawai, Alice segera menoleh ke Eden yang masih memasang tatapan datar.
"Gadis rumahan" gumam Eden.
"Aku dengar itu!"
Alice kembali bangkit dan membersihkan pakaiannya yang terkena tanah. "Sial sekali. Semenjak aku bertemu dengannya, aku merasa tidak seperti Kapten lagi" batin Alice.
Alice kembali menaiki kudanya dan berhasil. Ia menatap Eden yang sedang menatapnya balik. Mereka tidak saling bicara sampai sepuluh detik ke depan.
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, kita berpisah disini" kata Alice.
"Ya. Sampai jumpa" jawab Eden. Alice merasa ada sesuatu yang ia ingin bicarakan, tapi mulutnya tak bisa dibuka.
"Baiklah. Sampai jumpa" kudanya melangkah ke depan. Alice seakan ingin untuk sementara waktu, tapi ia terlalu mementingkan harga dirinya dulu. Akibatnya, hatinya menjadi tidak tenang.
"Hey" panggil Eden.
Alice langsung menoleh kebelakang.
"Ya?"
"Kau dan aku sama-sama punya masalah dengan Brian. Kuharap di masa depan, kita bisa menghabisinya. Bersama"
Alice diam membeku dan memandangi Eden cukup lama. Ia terhipnotis dengan kata bersama itu.
"B-baiklah. Aku juga berharap seperti itu" kata Alice.
__ADS_1
"Oh? Benarkah? Harapanmu kejam" Eden kembali menjahilinya.
"Payah! Aku pergi!" Alice membuang wajahnya ke depan, tapi ia kembali menoleh ke belakang. "Selamat tinggal. Maksudku.. sampai jumpa"
"Ya, sampai jumpa... Alice" balas Eden.
Alice tersenyum tipis lalu memacu kudanya dari sana. Alice sesekali menengok ke belakang.
"Sampai jumpa, Eden" Alice kembali tersenyum. Sebuah senyuman yang sudah lama tak ia kembangkan di wajahnya.
Eden memandangi punggung Alice sampai gadis itu tidak terlihat lagi. Ia mengirim pesan ke Kastil Midoria dan melaporkan seluruh yang ia dapat ke Serva. Eden juga membolehkan Serva untuk menindak pria laba-laba itu.
"Dengan begini, masalah Ethinos bisa diatasi, kurasa. Tinggal dimana lokasi Arion sebenarnya, aku tidak merasakan energinya. Sial.." Eden mengepal tangannya erat.
Seorang pemuda dengan tas kecil di punggungnya berlari meneriaki sesuatu.
"Berita besar! Berita besar! Rabadar Kingdom melakukan pergantian Raja. Dominick Gareins menjadi Raja selanjutnya!"
Eden mengerutkan dahinya. "Apa yang dilakukan Rabadar?"
***
- Argenhill. Kembali ke waktu semula.
"Song of Ice!"
Kenneth menyentuh tanah dengan kedua tangannya. Dari sentuhan itu, tanah menjadi es dan mengeluarkan bongkahan es yang tinggi.
Ia tersenyum miring kepada Arion. Memamerkan kemampuannya.
"Heh? Hanya segitu? Akan kutunjukkan es yang asli"
Arion tidak ingin kalah. Tanpa banyak tingkah, Eden mengangkat kedua tangannya ke depan. Air sungai yang berada tidak jauh dari sana menjadi melonjak keatas dan beku. Air sungai itu membentuk seperti gelombang es raksasa.
"Itu tidak hebat" kata Kenneth.
"Itu akan hebat jika kau membekukan kopi Kakek"
Tidak lama kemudian, Feza datang menjewer mereka berdua. "Kenapa kalian masih disini?!"
"A-ampun, Kakek!"
"Aduuuhh!!!"
"Lihat apa yang kalian perbuat. Kalian kira ini daerah kutub?!" Kakeknya menjadi naik pitam. Akhirnya, ia melepaskan telinga kedua remaja itu.
"Cepat selesaikan pekerjaan kalian!"
"Iya, iya" mereka menjawab dengan serentak sambil memegang telinga mereka yang memerah.
"Arion, tunggu dulu" panggil Feza. Arion menghentikan langkah dan menghadap ke Feza.
"Bagaimana latihanmu?"
"Aku tidak tahu cara menilainya. Aku hanya mengikuti arahan Kakek dan berlatih"
"Kau itu aneh, ya. Coba, tunjukkan"
Arion menunjukkan hasil latihannya selama ini. Ia menggabungkan gerakan seni pedangnya dengan element anginnya, hal itu bisa meningkatkan kecepatan dan kekuatan tebasan pedang.
Lalu, ia mengeluarkan bola es dan melesatkannya. Sebelum melesatkan bola es itu, ia akan membidik target yang akan ia serang.
Arion memang meningkat pesat sejak kedatangannya ke Argenhill, namun bagi Feza itu tetap belum cukup.
__ADS_1
"Coba kau ulangi lagi gerakan dimana kau menebaskan pedangmu"
Arion bingung, tapi ia menurutinya. Arion melakukan gerakan yang sama pada sebelumnya.
"Nah! Ternyata disitu kelemahanmu" seru Feza yang membuat Arion kaget.
"Dimana?"
"Kau salah menggunakan senjata"
"Ha?" Arion tambah bingung.
"Apa kelasmu?"
"Swordman"
"Kau Swordman tapi kau kacau saat menggunakan pedang"
"Maksud Kakek?"
"Coba kutanya, ketika kau menggerakan pedangmu, apa yang ada di dalam benakmu? Pasti kau takut dengan sekitarmu"
"Tidak!... iya" Arion menunduk.
"Aku benar. Orang-orang mungkin tidak menyadarinya, kau mampu menyempurnakan instingmu untuk menutupi ketakutanmu, tapi itu tetap akan menimbulkan kesalahan yang fatal"
"Begitu, ya. Selama ini aku tidak menyadarinya. Aku lebih banyak menggunakan Qube akhir-akhir ini.. kecuali saat pertarungan terakhir" ia mengingat kembali pertarungannya dengan Faesa.
"Ya. Karena itu kau terluka"
Arion memang kalah waktu itu. Disamping ia kehilangan fokus, ia tidak dapat menangkis dan membaca setiap serangan dari Faesa.
"Kau memilih kelas Swordman tapi kelas Mage ingin kau memilihnya juga. Di dalam dirimu kau sudah mengikat kontrak dengan kelas Swordman dan hasilnya kau hanya bisa memilih satu kelas.. tapi bukan berarti kau tidak bisa menguasai kelas lain"
Tiba-tiba saja ia teringat ucapan Felim.
"Kakek, saat di akademi dulu, kelas Mage menginginkanku tapi aku memilih Swordman"
"Akhirnya kau sadar solusinya. Whiteblood adalah Mage terkuat pada zamannya dan keturunan terakhirnya memilih sebagai Swordman" Feza tertawa kecil.
"Bagaimana kalau kau belajar sihir Mage mulai sekarang?"
"Kurasa boleh juga. Kelas Mage selalu menghantuiku selama ini"
"Tapi, jangan melupakan kelas utamamu. Kau beruntung menjadi Whiteblood, kau bisa menguasai seluruh kelas dan kau sangat beruntung, aku bisa semuanya. Aku juga bisa mengajarkanmu semua yang kutahu"
"Tapi, Kakek bukan Whiteblood"
"Ya, tapi aku adalah Feza. The Almighty Feza, Penyihir Sembilan Kelas dan Penakluk Monster Gunung!"
Bukannya kagum, Arion memandanginya dengan tatapan aneh. "Kakek sudah mabuk"
Mulai hari itu juga, ia berlatih menjadi seorang Mage. Dengan tongkat Mage di tangannya dan pedang di pinggangnya, ia berlatih hari demi hari agar menguasai kelas Mage dari nol.
Arion berlatih dari pagi, siang, malam dan segala cuaca. Ia sangat giat. Melihat itu, Kenneth juga ikut-ikutan. Mereka berdua berlatih bersama, mereka sangat kompak dan seirama. Disamping Element mereka yang sama, pemikiran kedua juga turut sama.
Di beberapa waktu, Arion juga belajar seni panah dan seni penghancur yang di dalami di kelas Archer dan Destroyer. Ia juga tidak melupakan seni tombak, kelas Spartan. Kelas Defender, agar pertahanannya kuat. Ia juga melatih kecepatan dan kegesitannya dalam kelas Assassin.
Di kelas Guardian, ia meningkatkan ketajaman penglihatannya dan kefokusannya. Lalu, yang paling sulit, kelas Summoner.
Ia diharuskan untuk memanggil seekor makhluk atau sebuah benda. Dalam hal ini, untuk menguasainya, ia harus bermeditasi. Kelas Summoner memakan memakan waktu berbulan-bulan bahkan dua tahun untuk menguasainya.
Setelah berlama-lama ia menjalankan latihan Summoner, ia dapat memanggil seekor makhluk, yaitu Jenderal Kucing yang berwujud seperti kucing rumahan yang manja.
__ADS_1
Arion berada disana tiga tahun lamanya dan ia tidak tahu keadaan di kampung halamannya.
Saatnya ia harus kembali dan menyelamatkan segalanya yang ada.