
Setahun telah berlalu semenjak kedatangan Arion. Tahun pelajaran baru juga sudah dimulai, pendaftaran akademi untuk murid-murid baru yang mempunyai darah sihir telah dibuka.
Ada satu akademi yang terletak tak jauh dari kota Rabadar. Akademi itu berada di kaki gunung, berbatasan langsung dengan kerajaan tetangga. Untungnya, Rabadar Kingdom dan kerajaan itu telah menjalin kesepakatan untuk tidak menganggu para murid yang berasal dari dua kerajaan itu. Walaupun tetap saja ada persaingan setiap tahunnya.
Hari ini, utusan dari akademi datang ke istana untuk menjemput murid-murid yang akan dibawa. Ada lebih dari dua puluh murid yang berasal dari darah bangsawan dan ada 168 murid lainnya berasal dari darah biasa.
"Murid tahun ini lebih sedikit daripada tahun lalu" ujar Hanza, sedikit sedih.
"Mungkin tahun ini murid-muridnya lebih berbakat daripada tahun lalu" Thomas mencoba menghibur.
"Ya, aku harap kau benar" jawab Hanza sambil melihat Arion berdiri di depan patung elang, menghadap pada patung itu. Ia tidak berdiri bersama calon murid lainnya yang pada sibuk mengobrol.
Arion melihat patung itu dengan ekspresi lugunya. Ia terkesima dengan patung elang tersebut ... apalagi paruhnya.
"Kita menyebutnya sebagai Lord Fawl, elang penyelamat kerajaan kita ribuan tahun yang lalu" Hanza menjawab rasa penasaran Arion. Arion menoleh sedetik kepadanya dan kembali memperhatikan patung.
"Kau menyukainya?" tanya Hanza.
"Aku suka paruhnya" jawab Arion.
Hanza tertawa kecil sambil mengelus kepala Arion. "Aku juga suka paruhnya"
"Yang Mulia, waktunya untuk para murid berangkat" seorang prajurit datang kepadanya.
"Baiklah" jawab Hanza, prajurit itu pergi. "Apa kau sudah berkemas?" tanya Hanza.
"Sudah" jawab Arion.
"Kau siap pergi?"
"Siap"
Hanza duduk berlutut di depan Arion untuk menyamai tingginya. "Di akademi nanti kau akan mendapat banyak teman dan ilmu tentunya. Jadi, jangan khawatir, jika ada yang menanyakan masa lalumu, jangan pedulikan, paham?"
"Paham"
"Bagus, itu baru anakku" Hanza tersenyum, lalu kembali bangkit.
Dari kejauhan, Daendra dapat melihatnya. Ia tambah geram tentunya pada Arion.
***
Para calon murid dari kelas bangsawan berangkat duluan menggunakan kereta kuda khusus. Kereta kuda ini terbilang cukup mewah dan dialiri dengan energi sihir, sehingga kuda bisa berjalan lebih cepat dan memakan waktu yang tidak lama.
Sedangkan calon murid kelas biasa hanya menggunakan kereta kuda biasa tapi masih layak digunakan. Setiap keberangkatan akan dikawal oleh beberapa prajurit berkuda.
Daendra, Faesa dan Arion menunggu kereta kuda dari terminal. Mereka bisa melihat berjejer kereta kuda berdatangan dari arah kiri mereka.
"Kalian jangan duduk satu kereta denganku" kata Daendra, dingin.
"Cih! Siapa pula yang mau duduk denganmu" cibir Faesa sambil menjulurkan lidahnya. "Aku bisa duduk berdua dengan Arion"
"Kau menyebalkan sekali" Daendra menatap geram pada Faesa, mengisyaratkan ingin berkelahi.
"Terima kasih" Faesa tersenyum genit.
Arion mengedarkan pandangannya ke terminal lainnya. Di sana ia melihat banyak orang dengan berbagai ras.
"Tempatmu seharusnya ada di sana, bersama rakyat biasa" sahut Daendra.
Arion menoleh pada Daendra, Faesa langsung menengahi mereka. "Sshh! Ucapanmu itu dijaga dong!"
"Aku bicara sesuai fakta" Daendra melipat lengan di dadanya. "Lagian, kenapa kau harus ikut? Umurmu belum mencukupi syarat"
Faesa menggeleng pelan. "Karena Arion lebih berbakat darimu"
"Cih! Kita buktikan saja di akademi" jawab Daendra.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, seorang putri dengan penampilan yang anggun seperti biasa datang menghampiri mereka.
"Wah! Tampaknya adik-adikku sudah mau pergi" Yaena tersenyum pada mereka. "Kita harus berpisah disini, aku tidak rela" ia merengek.
"Hey! Aku rela berpisah denganmu!" Daendra menunjuk wajah Yaena. Yaena tersenyum kesal, ia langsung menjewer telinga Daendra hingga merah.
"Aku tidak ingin pisah darimu" Yaena memeluk Arion dari belakang. Dari ketiga bocah itu, Arionlah yang paling ia anggap menjadi adiknya.
Faesa tersenyum melihatnya, sedangkan Daendra memalingkan pandangannya. Yaena lalu mengelus kepala Arion.
"Oh iya. Saat kalian datang kesana, jangan kaget ya" Yaena terkekeh.
"Emangnya ada apa?" tanya Daendra.
"Kalian akan tahu"
Ia memindahkan pandangannya ke Faesa. "Kau jaga mereka, ya. Walau umurmu setahun lebih muda dari Daendra, sifatmu terlihat lebih dewasa darinya. Jaga adik dan kakakmu"
"Aku paham, kakak bisa mengandalkanku" Faesa menunduk hormat.
"Hey, apa maksudmu dia lebih dewasa dariku?" tanya Daendra tidak terima.
Yaena memperhatikan Arion yang terus melihat terminal untuk rakyat biasa. "Kau mau ke sana?" tanya Yaena.
Arion menoleh ke Yaena. "Mereka terlihat terharu sekali" jawab Arion.
Yaena mengangkat kedua alisnya, ia ikut menengok terminal untuk rakyat. Memang benar, terminal itu dipenuhi oleh para orang tua dan wali murid yang mengantarkan anak-anaknya. Terlihat ada tangis haru dari anak-anak karena mereka harus berpisah dengan orang tua mereka.
"Aku ingin berangkat bersama mereka" ucap Arion.
Yaena, Faesa bahkan Daendra kaget dengan ucapan Arion.
"E-eh .. tapi Arion ... tempatmu disini" bujuk Faesa.
"K-kau .. apa maksudmu?" tanya Daendra.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu kesana" kata Yaena. Barang-barang Arion dibawa oleh seorang prajurit, mereka pun pergi menuju terminal rakyat.
"Apa yang ia pikirkan?" tanya Daendra.
Seluruh orang-orang yang ada disana kaget dengan kedatangan Yaena. Mereka langsung memberi Putri itu jalan.
Yaena dan Arion jalan di tengah-tengah mereka sampai seorang bocah tak sengaja terjatuh di jalan mereka. Seorang wanita tua segera membantu bocah itu berdiri dan menariknya ke tepi.
"Maafkan saya, Putri Yaena" wanita itu menunjuk raut wajah menyesal dan sedikit membungkukkan badannya. Arion menatap wajah bocah laki-laki itu yang terlihat takut.
"Tidak apa, Bu. Anda tidak perlu meminta maaf" jawab Yaena. Pandangannya pun tertuju pada bocah laki-laki tadi, ia duduk berjongkok untuk menyamai tingginya.
"Kau tampan sama seperti adikku ini. Siapa namamu?" tanya Yaena sambil tersenyum lembut.
"A-Aciel"
"Nama yang indah. Bagaimana Arion? Kau ingin berteman dengannya?" tanya Yaena.
"Ya" Arion mengangguk. Arion memegang lengan Aciel, menariknya keluar dari belakang tubuh Ibunya.
"Ya ampun! Anak ini sama manisnya dengan Arion!" batin Yaena.
Yaena bangkit lalu memerintahkan prajurit yang membawa barang Arion tadi untuk juga membawakan barang Aciel.
"Tidak perlu, Putri, tidak usah repot-repot. Biar saya saja yang bawa" kata wanita itu yang nyatanya adalah ibunya Aciel.
"Tidak masalah, anda ikuti saya saja mengantarkan Aciel ke kereta" jawab Yaena.
Mereka pun berjalan menuju kereta yang baru saja sampai. Prajurit yang membawakan barang Arion dan Aciel meletakkan barang-barang mereka di belakang kereta.
Arion dan Aciel masuk bersamaan, mereka duduk berhadap-hadapan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menemanimu lebih lama, bisa-bisa Daendra dan Faesa berbuat ulah nanti" kata Yaena. Ia mencium kening Arion lalu mengusap kepalanya.
"Bersenang-senang disana, sampai jumpa 6 tahun lagi"
"Iya, sampai jumpa, Kak" kata Arion.
Yaena pun pergi dari sana. Pemuda-pemuda yang melihat Yaena menjadi terkesima dan iri pada Arion.
"Bocah itu sangat beruntung"
"Kenapa bukan aku yang ada disana?"
Setelah Yaena pergi bersama Ibu Aciel, mereka tidak saling bicara untuk beberapa saat karena masalah perkenalan. Kedua anak ini sama-sama grogi terhadap orang asing.
"Namaku Arion, salam kenal"
"Tuan Arion, salam kenal juga"
"Tidak, tidak perlu pakai 'Tuan', biasa saja"
"Umm.. baiklah"
"Kau tinggal dimana?"
"Di pinggir kota, di dekat sawah"
"Kau seorang petani?"
"Iya, Ayah dan Ibuku adalah petani lokal"
"Apa beras yang dikirimkan ke istana adalah hasil panen kalian?"
"Sebagian besar"
"Aku harus berterima kasih kepadamu, beras yang kalian kirimkan sangat enak"
"Aku senang kau menyukainya"
Lalu, keduanya tertawa kecil. Mereka terus mengobrol walau beberapa anak sudah naik ke dalam kereta.
Di kereta kuda khusus bangsawan, Daendra memasang wajah cemberut karena ia harus satu kereta dengan Faesa.
"Hey, wajahmu akan terlihat jelek jika kau terus begitu" kata Faesa tanpa melihat kearah Daendra.
"Aku masih kesal dengan anak itu" jawab Daendra.
"Maksudmu Arion? Lah, emangnya kenapa?"
"Entahlah"
"Kalian sangat cocok"
"Cocok darimana?!"
Lonceng berbunyi, tanda rombongan para murid bersiap untuk berangkat. Hanza dari atas menara istana melihat rombongan kereta yang akan berangkat.
Pemimpin rombongan, yaitu Thomas, berangkat pertama dengan kuda hitamnya. Disusul oleh dua prajurit berkuda lalu baru kereta kuda pertama yang diisi oleh Daendra dan Faesa baru kemudian kereta kuda lainnya.
"Sampai jumpa!!"
"Sampai ketemu 6 tahun lagi!"
Para calon murid melambai kepada mereka yang mengantarkan. Faesa melambai kepada seluruh orang yang ada disana. Aciel melambai pada Ibunya.
"Kak Yaena! Dadah!" Faesa melambai.
"Dah!" Yaena membalas lambaian itu.
__ADS_1
"Sampai jumpa 6 tahun lagi" gumam Yaena sambil tersenyum.