
- Akademi Gyrawart
Felim baru saja ingin duduk ke kursinya, tetapi seorang Instruktur masuk ke dalam ruangannya sambil membawa beberapa dokumen.
"Maaf aku masuk mendadak, Tuan Felim"
"Ada apa, Gilbert? Kau tampak sibuk" Felim kembali berdiri.
"Beberapa murid tahun terakhir sudah kembali dari ujian mereka" Gilbert meletakkan tumpukan dokumen itu di meja Felim.
Felim membuka salah satu dokumen. "Begitu. Siapa yang paling mengesankan?"
"Sejauh ini kelompok 7, Tuan. Mereka menyelesaikan ujian hanya berselang dua hari saja"
"Oh? Yang dipimpin Eden Blackclaws, ya"
"Benar. Anak itu selama di akademi terlihat biasa saja dan tidak banyak mengambil tindakan"
"Tapi, dari segala sisi, aku melihat ia memiliki keterampilan yang tidak biasa. Aku juga berpikir kalau ia bisa saja menjadi rangking satu disini" ujar Felim sambil mengelus-elus janggutnya.
Lalu, ia terkekeh pelan. "Sepertinya, lulusan tahun ini merupakan yang terbaik satu dekade"
***
"Kita kembali kesini" Arion tersenyum tipis, mereka sudah sampai di akademi.
Beberapa murid menyapa kedatangan mereka. Bahkan Glenn langsung turun dari kudanya dan berlari menuju kearah kekasihnya disana.
Luke tertawa kecil sambil menggeleng. "Lihat, dia sudah sangat merindukannya"
Arion melirik ke Daendra. "Apa kau juga begitu nantinya ketika bertemu dengan Rena?"
"A-apa maksudmu?" Wajahnya menjadi merah. "Kupukul kau kalau bicara yang tidak-tidak!"
Arion tertawa. "Aku hanya bercanda. Sifatmu mudah sekali ditebak"
Mereka memarkirkan kuda pada tempat yang telah disediakan. Baru saja mereka turun dari kuda, Arion dan Daendra langsung dipeluk oleh Faesa, bahkan mereka hampir kehilangan keseimbangan.
"Hati-hati, cewek gila!" kata Daendra.
"Aku sangat-sangat merindukan kalian!" ucap Faesa. Ia mengelus kedua kepala saudaranya itu. Daendra langsung menepis tangan Faesa dari kepalanya.
"Syukurlah kalian semua selamat" Aciel datang menghampiri mereka.
"Aciel. Dimana Eden?" tanya Arion.
"Eden? Entahlah, dia sudah tidak bersama kami dari tadi" jawab Aciel.
"Ah yasudah. Kita harus menyelesaikan laporan dulu"
***
- Rabadar Kingdom
Rombongan Thomas sudah sampai ke kota Rabadar. Tidak ada penyambutan khusus untuk mereka tapi ada juga beberapa warga yang datang untuk menyambut kedatangan mereka
Rena dan kedua adiknya melihat keluar jendela. Mereka terlihat sangat antusias dan terkagum-kagum dengan kota Rabadar.
Istana dapat dilihat dari gerbang kota. "Itu istana!" tunjuk Ed. "Benar, disana tinggal Kak Daendra dan Kak Arion" jawab Rena.
Mereka sampai di istana. Gerbang istana dibuka oleh dua penjaga. Thomas memimpin mereka untuk masuk, disana sudah ada Hanza dan beberapa staf kerajaan yang menunggu kedatangan mereka.
Thomas memberi hormat pada Hanza dan yang lainnya.
"Selamat datang kembali, Thomas. Dimana dia?" tanya Hanza.
Thomas menyuruh salah satu prajurit untuk membukakan pintu kereta kuda itu. Rena dan kedua adiknya turun dari sana, mereka sama-sama gugup dan hanya tersenyum canggung pada mereka.
"Beri hormat pada Raja" kata Thomas.
Ketiganya membungkuk kepada Hanza.
"Berdirilah, Nak" ucap Hanza. Mereka bertiga menurut. "Kuucapkan selamat datang di kerajaan Rabadar. Mulai sekarang kalian akan tinggal disini dan akan dijaga, kalian tak perlu takut dan atas permintaan Daendra, kalian akan menjadi bagian dari keluarga istana"
"Terima kasih, Yang Mulia" Rena membungkuk kembali.
"Anda Ayah Kak Daendra, ya?" tanya Rofa. Rena sedikit kaget melihat adiknya itu bertanya pada Raja Rabadar itu.
Hanza tersenyum kepada Rofa. "Iya, kau juga boleh memanggilku Ayah jika kau ingin. Aku jadi ingat sesuatu, ada seorang anak yang kubawa kemari dan dia seumuran dengan kalian, sampai sekarang ia memanggilku Ayah dan aku senang dan bangga padanya"
Hanza mempersilahkan mereka masuk kedalam istana. Ketiganya terpukau dan berdecak kagum pada kemegahan dalam istana yang terlihat megah dan berkilau.
"Kalian pasti kelelahan, perjalanan kemari sangat panjang" ucap Hanza. Lalu, ia memanggil beberapa pelayan untuk mengantarkan ketiganya ke kamar.
__ADS_1
"Kalian akan mempunyai kamar masing-masing" kata Hanza.
"Anu... apa boleh kami bertiga satu kamar? Adik-adikku tidak terbiasa berpisah denganku" tanya Rena.
"Jangan khawatir, kamar kalian bersebelahan. Kalian bebas tidur bersama atau sendiri" jawab Hanza.
Akhirnya, ketiga kakak adik itu diantar ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Rena mendapati kamar yang akan ia tempati sangat luas, melebihi kamarnya di rumahnya dulu. Di tengah-tengah kamar ada kasur yang empuk, lampu kecil dipasang di setiap sisi ruangan, ada jendela yang menghadap ke lapangan dan beberapa furniture yang jarang Rena dapatkan.
"Kalau ada yang Nona inginkan, anda bisa memanggil saya diluar" kata pelayan cewek itu.
"Ah, iya. Aku punya satu permintaan" kata Rena.
"Apa itu, Nona?"
"Tolong jangan panggil Nona, cukup panggil saja aku Rena"
"Baiklah, Rena" pelayan itu tersenyum lalu pergi keluar kamar.
Rena duduk di kasur barunya sambil menghadap ke jendela. "Sepertinya aku harus mandi" Rena pun memanggil pelayan tadi.
***
Hanza berdiri di ruang tahtanya. Disana ada lima dewan kerajaan yang memandangnya tajam, seolah-olah ingin mendapatkan sesuatu jawaban dari Hanza.
"Beberapa tahun yang lalu, kau mengadopsi seorang anak yang berasal dari entah berantah dan sampai sekarang kau tidak memberitahu kami alasannya. Sekarang, kau membiarkan seorang gadis keturunan naga masuk ke dalam istanamu dan kau juga tidak memberikan alasan itu juga kepada kami" ucap seorang pria gemuk berkumis tebal, ia bernama Theo.
Hanza hanya diam mendengarkan sambil berjalan bolak-balik di depan kelima orang itu yang secara hukum jabatannya lebih tinggi darinya.
"Kami mulai mencemaskan masa depan kerajaan ini, Hanza" sahut pria berkacamata, Robio.
"Masa depan apa? Aku sudah melakukan banyak hal untuk kerajaan ini" bela Hanza dengan tenang.
"Kami tahu itu, tapi bukan masa depan seperti itu yang kami cemaskan" ujar seorang wanita paruh baya berambut pendek sebahu, Retfa.
"Lalu?" tanya Hanza.
"Kami mencemaskan sabotase pihak..." Theo ingin menjawab, tapi Hanza tertawa.
"Sabotase apa? Itu yang kalian cemaskan? Ayolah, jangan seperti itu. Alasanku membawa anak-anak itu tak akan membahayakan kalian"
"Kami? Apa maksudmu?" tanya seorang pria lainnya, ia bernama Redmund.
"Biarku pertegas, mereka tidak membuat kami takut melainkan kami mencemaskan keamanan kerajaan ini" jawab pria botak, Gio.
"Posisimu sebagai Raja akan terancam jika kau tidak memberikan alasannya kepada kami, Hanza" kata Theo.
"Begitukah? Jadi, kalian menjadikan alasan seperti itu untuk menurunkanku dari jabatan Raja. Aku tidak keberatan, tapi apa reaksi dari rakyatku nantinya?" Hanza tersenyum tipis.
"Kami tidak akan menurunkanmu, tapi kau akan menanggung akibatnya kalau mereka mengundang bahaya ke kerajaan" ucap Robio.
"Masa bodoh" gumam Hanza yang sudah muak dengan dewan kerajaan.
***
"Wah, indahnya.." gumam Rena saat melihat pakaian-pakaian yang sudah tersedia di lemarinya. Ia memilih salah satu dan memakainya.
"Ini pasti mahal.."
Setelah berpakaian, Rena beranjak keluar dari kamarnya. Sedari tadi, ia penasaran letak kamar Daendra.
"Umm.. kau bisa menemaniku?" tanya Rena pada seorang pelayan.
"Tentu. Anda ingin kemana?"
"Aku ingin berkeliling istana ini"
"Baik, akan saya tuntun anda"
Mereka berdua mulai berkeliling istana. Saat mereka jalan-jalan, ada beberapa gadis kecil ras Demi-Human yang berlari di koridor istana.
Rena melihat taman kerajaan yang luas, ia sempat berhenti memandangi taman itu sejenak. Lalu, berlanjut menuju ruang makan, dapur, ruang seni. Kemudian, mereka masuk ke lantai tiga. Tempat kamar Daendra dan Arion berada.
"Jadi, disini kamarnya" kata Rena.
"Iya, disini kamar Pangeran Daendra" jawab pelayan itu. "Dan disana kamar Pangeran Arion" tunjuknya ke ujung koridor.
Tidak lama kemudian, tiga gadis Demi-Human dan dua gadis manusia menghampiri mereka. Mereka berpenampilan seperti para bangsawan lainnya.
"Jadi, kau pendatang baru itu, ya?" kata salah satu dari mereka. Ia mempunyai rambut pirang yang lurus ke punggung. Bermahkota kecil di kepalanya dan memakai gaun hijau. Ia bernama Elia.
Rena menoleh ke mereka. "I-iya, aku baru datang pagi ini" jawab Rena.
__ADS_1
"Oh? Lalu, untuk apa kau memandang kamar Daendra?"
"Tidak ada, aku.. hanya penasaran"
"Kalau begitu, pergilah dari sini. Pendatang sepertimu hanya boleh berkeliling di lantai satu" Elia tertawa sinis, diikuti oleh teman-temannya.
Rena menjadi sedih dan menatap lantai, ia hendak melangkah pergi namun seseorang memegang kedua bahunya dari belakang. Rena segera menoleh kebelakangnya, mendapati seorang gadis cantik dan beribawa disana.
"Apa yang terjadi disini?" tanya gadis itu.
"Kak Yaena, ia tidak pantas memandangi kamar Daendra dan kurasa ia sebagai pendatang harus pergi dari sini" jawabnya
"Oh begitu, ya" Yaena mengangguk. Kelima gadis itu tersenyum puas. "Kenapa bukan kalian saja yang pergi?" tanya Yaena. Kelimanya langsung memudarkan senyumnya, kaget mendengar ucapan Yaena.
"A-apa maksud Kakak?" tanya Elia.
"Kau juga pendatang, bukan? Dia ini memang pendatang tapi ia sudah menjadi keluarga istana. Wajar saja, ia ingin tahu rumah barunya, kenapa kau melarangnya?" tanya Yaena.
"Aku..."
"Kau bukan dari sini, tapi sudah sombong. Kenapa tidak menyombongkan diri saja di rumahmu?" tanya Yaena lagi.
Merasa dipermalukan, Elia melangkah pergi, diikuti oleh teman-temannya.
Rena berbalik, menghadap Yaena. "Terima kasih, Kak"
"Tidak apa-apa, mereka yang salah" jawab Yaena sambil tersenyum. "Namamu Rena, kan?"
"Iya"
"Baiklah, kita jalan-jalan dulu" kata Yaena, ia menoleh ke pelayan itu. "Kau boleh kembali"
"Baik, Putri"
Setelah pelayan itu pergi, Rena menanyakan siapa kelima gadis tadi. Yaena menjawab bahwa, mereka adalah kerabat kerajaan dan sedang melakukan kunjungan kemari.
"Kau tidak perlu takut. Ngomong-ngomong, namaku Yaena, aku adalah Kakaknya Daendra dan Arion. Yah, walau tidak sedarah. Apa mereka ada membicarakan tentang diriku?"
"Hmm.. tidak kurasa" Yaena tersenyum canggung.
"Apa?! Mereka sudah melupakanku?!" Yaena menjadi cemas.
"M-mereka pasti tidak akan melupakan Kakak, kuyakin itu" sahut Rena.
"Semoga kau benar"
Mereka pun kembali melanjutkan tur. Selanjutnya, Rena dan Yaena melangkah menuju lapangan latihan.
"Disini kami sering latihan" ucap Yaena. Ia memperlihatkan alat latihan kepada Rena.
"Pedang kayu ini sering digunakan oleh Daendra untuk latihan" lanjutnya.
"Boleh kupegang?" tanya Rena.
"Tentu saja"
Rena memegang pedang kecil itu sambil melihat-lihat.
"Saat itu Daendra pasti akan mengoceh kata yang sama jika memegang pedang itu" ucap Yaena.
"Eh? Kata apa?" tanya Rena.
"Seperti ini. 'Aku akan menjadi Raja yang hebat, melebihi Ayahku dan tidak boleh siapapun yang menghalangi, termasuk Arion jelek'"
Rena tertawa mendengarnya.
"Apa benar begitu?" tanya Rena lagi.
"Iya, dia mengatakannya dengan serius. Oh! Dia sangat menggemaskan" jawab Yaena.
"Lalu, bagaimana reaksi Arion?"
"Dia hanya diam, seolah tidak mempedulikan ucapan Daendra"
"Ternyata dari dulu ia memang penyabar"
"Begitulah mereka. Mereka baik-baik saja, kan?"
"Iya, mereka baik-baik saja dan saling menjaga satu sama lain"
"Benarkah?" Yaena terlihat antusias. "Aku tidak sabar melihat keakraban mereka. Aku punya ide, kita buat acara penyambutan untuk mereka, bagaimana?"
"Caranya?"
__ADS_1
Yaena tersenyum lebar. "Serahkan kepadaku"