The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Yang Kuanggap Sebagai Saudari


__ADS_3

Sudah dua hari sejak kemunculan Yora di kastil, pria laba-laba yang ditangkap tempo hari telah sadar tapi ia terlalu takut untuk berbicara. Eden berdiri di depan penjara yang mengurung pria itu, ia sudah dapat izin dari Serva untuk menjenguknya.


"Katakan kepadaku, dari mana kau mendapat sihir itu?"


Ia tetap tidak menjawab. Pria itu masih duduk di pojokkan sambil memeluk kedua lututnya.


"Ini mustahil. Kejiwaannya sudah diambil, orang ini sudah tidak waras" gumam Eden.


"Hanya ada seorang yang bisa mengatasi ini, tapi.." Eden menghela napas pendek, ia memilih duduk di sebuah kursi yang ada disana. "Tapi, memanggil orang itu kesini tampaknya tidak memungkinkan"


Serva datang bersama tiga pengawalnya. "Bagaimana? Apa sudah mendapat jawabannya?"


"Belum, orang ini mentalnya sudah.."


"Begitu, ya. Kalau begitu, aku akan mengirimnya ke Ajiur Island"


"Tidak, mengirimnya kesana sama saja membuatnya tidak seperti manusia lagi"


Eden bangkit dari duduknya. "Aku meminta ia tetap disini, aku akan mencari jalan yang lain"


"Aku mengerti dengan perasaanmu, tapi jika dia berlama-lama disini, kastil ini akan terancam"


"Aku paham, anda tenang saja, aku akan bergerak cepat untuk menangani masalah ini"


***


- Devonia City


Di sebuah lumbung padi yang sudah tidak terpakai, ada banyak sekali anak-anak yang sudah tidak punya niat untuk hidup. Wajah mereka sangat lesu dan tubuh mereka juga kurus.


Mereka sudah terkurung seminggu lamanya disana. Mereka hanya makan nasi tanpa lauk, itupun hanya satu kali sehari.


Orang yang membuat mereka sengsara seperti ini adalah Viel, tetapi karena ia sudah ditangkap, anak-anak itu kini diurus oleh seseorang bernama Gane. Rencana mereka menangkap anak-anak itu adalah untuk dijual ke pasar gelap sebagai budak.


Gane masuk ke dalam lumbung itu. Raut wajahnya sedang bahagia, ia ditemani oleh dua orang kepercayaannya.


"Aku sangat berterima kasih kepada para Divisi Keamanan karena telah menangkap Viel!"


Dua temannya ikut tertawa dan bahagia. "Kau sangat beruntung!"


"Benar! Aku selalu diberkati dewi keberuntungan. Karena Viel telah ditangkap, anak-anak ini akan dijual dan uangnya untuk kita bertiga" ucap Gane. Ia tertawa lepas, membuat anak-anak disana menjadi ketakutan.


Gane melangkah menghampiri mereka dengan senyumannya yang mengerikan. Namun, senyuman itu pudar ketika melihat seseorang yang sepertinya sedang tertidur pulas di pojokkan sana. Tubuhnya tertutupi selimut tipis dan wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng.


"Siapa pria ini?" tanya Gane. Kedua temannya menggeleng bersamaan.


Gane menendang kaki pria itu, bermaksud untuk membangunkannya. "Hey, bangun kau! Disini bukan hotel. Hey, kau sudah mati, ya?"


"Sudah pagi, ya?" Pria itu tiba-tiba saja membuka suaranya.


"Apa? Kenapa dengan orang ini?" Gane semakin bingung.


Pria tersebut bangkit, selimutnya ia lingkari di lehernya. Rambutnya ia rapikan sedikit dan terakhir, ia meregangkan badannya.


"Kalian juga nginap disini, ya?"


"Hah? Orang ini sudah gila" kata Gane kepada teman-temannya. "Hey, dengar! Ini bukan hotel, jika kau tidak ingin dihajar, sebaiknya kau pergi sekarang juga!"


"Begitu, ya. Baiklah.." pria itu menengok seorang gadis kecil yang duduk di dekatnya. Lalu, ia melihat seluruh anak disana.


"Kalian lagi belajar? Ini sekolah?"


"Cih! Banyak omong. Pergi atau kuhajar?"


"Gadis ini berapa harganya?" Pria itu tiba-tiba saja berniat untuk membeli gadis itu.


Gane dan kedua temannya terkejut dan terdiam sejenak. "Sekarang kau mendadak jadi pembeli. Tapi, tidak apa, aku juga lagi senang hari ini"


Gane memberitahu gadis itu seharga 5000 koin emas. Pria tersebut merogoh sakunya dan memberikan Gane dua keping koin emas.


"Apa?! Kau menghinaku, ya?!" Gane melonjak kesal.


"Aku ingin dua keping emas ini untuk seluruh anak-anak disini"


"Dasar gila!" Ia hendak memukul pria itu, namun tangannya menjadi tak bisa bergerak. Ketika Gane melihat tangannya, matanya melotot. Ia mendapati tangannya sudah menjadi emas sepenuhnya"


"Apa ini?!" Gane menjadi panik dan pria itu tertawa lepas.


"Tanganmu sudah menjadi emas, kau bisa menjual tanganmu, sebagai gantinya anak-anak ini lepas semuanya"


"Gila, orang ini tidak waras! Kalian berdua! Cepat hajar dia!" teriak Gane.


"Waktunya bermain" ucap pria itu. Ia mengambil besi kecil dari sakunya. Tangannya itu berubah menjadi besi.


Pria itu memukuli keduanya dengan tangan besinya. Dengan satu pukulan saja, mereka sudah tumbang dan sulit untuk bergerak.


"Kalian payah sekali!" teriak Gane.


Pria itu menoleh ke api obor yang terletak di dinding. Ia melangkah kesana dan menyentuh api tersebut. Tiba-tiba, tangannya diselimuti api dan tangannya itu menjadi bara yang terbakar.


"K-kau ini.. apa?" Gane terduduk sambil memegang tangan emasnya.


"Meta Art - Fantasy Form"


Sebuah kemampuan yang membuat penggunanya bisa menggunakan kekuatan merubah bentuk dari benda yang dipegangnya.


Pria itu mendekati Gane dengan tangan apinya.

__ADS_1


"Jangan! Jauhi aku!" teriak Gane.


Pria tersebut berhenti tepat di depannya. Ia membuka topengnya secara perlahan dan menunjukkan senyumnya yang lebar kepada Gane.


"S-sial..! Kau. Evil Eagle, Mender!"


Mender tertawa lepas. "Aku sangat terkenal disini!"


"T-tolong. Ja-jangan bunuh aku!"


"Oh, aku akan melakukannya" Mender tersenyum tipis. Dengan cepat, ia memegang kepala Gane hingga ia berteriak kesakitan. Mender melakukannya tanpa rasa kasihan, ia bahkan sesekali menguap.


Setelah Gane mati terpanggang di bagian kepala, ia menjatuhkan jasad Gane ke lantai dan mengembalikan tangannya seperti semula. Ia melangkah keluar lumbung dan membuka pintu lumbung tersebut lebar-lebar sehingga sinar matahari masuk sepenuhnya ke dalam.


Mender menoleh ke anak-anak yang masih termenung di dalam. "Ada apa? Tidak mau keluar?"


Mereka masih terdiam.


"Kalau tidak mau, akan kumakan kalian!"


Anak-anak itu berteriak dan meminta ampun kepada Mender.


"Kalau begitu, pergi dari sini!" serunya.


Mereka semua berlari keluar dari lumbung. Mender menghela napas pendek melihat mereka semua merasa kembali bebas.


"Ups.." ia melihat dua orang prajurit. Ia kembali memasang topengnya dan jalan menjauh dari sana.


***


- Midoria


Arion dan Frimeya sedang jalan-jalan santai di kota sambil berbincang santai. Hari ini merupakan hari terakhir Arion berada di kota ini, setelah tidak terjadi apa-apa dan kemunculan Yora yang sudah tidak terlihat lagi.


Arion hanya menunggu penyelidikan Eden dan Faesa yang katanya sedang mau menyendiri di bukit kecil belakang kastil.


Ketika mereka sedang tertawa bersama, Arion merasakan energi jahat menuju kearahnya.


"Berhenti, Nona" kata Arion.


Frimeya berhenti dengan bingung. "Ada apa, Pangeran?"


Arion tidak menjawab, ia memandang keadaan sekitar. Matanya melebar, ia menengok keatas dan mendapati seekor Pteranodon ( Hewan Prasejarah ) melesat kearahnya dengan moncong yang terbuka.


"Qube Art - Barrier Ice!"


Perisai es terbentuk di atas mereka. Paruh hewan itu terbentur dengan es dan menyebabkan perisai itu menjadi retak.


"Apa itu?!" tanya Frimeya, kaget.


Arion menarik Frimeya menjauh dari sana. Seseorang muncul dari atas Pteranodon itu, itu Yora yang sedang tersenyum kepada mereka.


"Aku ingin memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Yora, berasal dari organisasi Ethinos"


"Apa hubungannya denganku, Mata Besar?!"


Yora tertawa kencang. "Aku.. aku bahkan tidak tahu apa ini ada hubungannya denganmu!"


"Jangan banyak omong!" seru Frimeya. "Berani sekali kau mengacau di kotaku!"


Frimeya menembakkan anak panah sihirnya kepada Yora, namun semburan api muncul dari belakang Yora, membakar anak panah itu hingga menjadi abu.


Yora tertawa sinis. "Kurasa ini ada hubungannya denganmu!"


Seorang gadis muncul dari belakang Yora. Tatapannya yang dingin seakan menusuk hati Arion. Seorang gadis yang sangat ia kenal. Seorang gadis yang selalu melindunginya. Seorang gadis yang selalu membelanya. Seorang gadis yang ia anggap sebagai saudari.


Tangan Arion bergetar, matanya seakan ingin berpaling darinya dan mulutnya sedikit menganga.


"Faesa..?"


Yora tertawa lagi. "'Kan? Sudah kubilang ini ada hubungannya denganmu!"


"Faesa, a-apa... apa yang kau lakukan bersamanya?"


"Maafkan aku Arion, inilah jalanku. Aku sudah memilihnya" jawab Faesa, dingin, tidak lagi sepertinya dirinya yang selalu ceria.


"A-apa maksudmu? Ayo.. k-kita pulang, Daendra dan Kak Yaena sudah.. menunggu di rumah" bujuk Arion sambil berusaha sekuat tenaga mengembangkan senyumnya.


"Arion, aku minta maaf. Pulanglah sendiri, mereka menunggumu"


"Tidak, kita berangkat bersama-sama, kita juga harus pulang bersama-sama. Sekarang, kumohon pulanglah, aku mohon"


"Faesa, wujudkan kesetianmu kepada Ethinos" bisik Yora.


"Baik"


"Faesa?"


Faesa mengambil gada dari punggungnya dan melompat keatas langit. Faesa melesat menuju Arion yang tidak bisa bergerak karena syok melihat Faesa berniat untuk menyerangnya.


"Arion!" Frimeya segera menariknya mundur, namun keduanya terhempas ketika Faesa menghantam tanah dengan gadanya.


Arion jatuh di depan Frimeya yang menahan tubuhnya. Frimeya berusaha menyadarkan Arion dari lamunannya.


"Apa ini? Tubuhku tidak bisa bergerak, aku tidak bisa memegang pedang. Tubuhku tidak bertenaga" batin Arion.


Faesa melesat menuju mereka, ia memutarkan gadanya dan bersiap untuk menyerang Arion lagi.

__ADS_1


Tiba-tiba...


Traang!


Seseorang berbaju hitam muncul di depan Arion sambil menahan serangan Faesa dengan pedang. Mata emasnya mengintimidasi seseorang yang melihatnya.


"Eden.." kata Arion.


"Ini pilihanmu? Baiklah, aku sudah tidak punya alasan lagi untuk melukaimu" Eden mengeluarkan api hitam dari kedua lengannya. Api hitam itu menyebar kemana-mana, berputar mengitari mereka semua.


Faesa mundur beberapa langkah dari Eden. Ia memegang gada di depannya dan memasang kuda-kuda. Eden berdiri tegak, ia tidak bersiaga sekalipun, hanya berdiri dengan tenang.


Faesa berlari menuju Eden. Ia berputar-putar dengan gadanya, lalu menghantam Eden, tetapi Eden kembali menangkisnya dengan pedangnya. Eden mempercepat gerakan pedangnya, membuat Faesa tidak bisa menahan semua serangan pedang Eden, sehingga Faesa mendapati beberapa luka tebasan.


Eden menyemburkan enam bola api hitam kepada Faesa. Faesa menghindarinya dengan mundur sambil melompat-lompat tetapi bola api terakhir mengenai lengannya. Faesa terjatuh dan tersungkur ke tanah.


Eden menoleh ke Yora yang masih berada diatas Pteranodon itu. Segera saja ia mengarahkan apinya menuju hewan itu hingga terbakar, Yora pun terpaksa turun ke jalanan dan berhadapan dengan Eden.


"Bangun Faesa" katanya.


"Baik" Faesa bangkit sambil menahan rasa sakitnya.


Arion merasa iba melihat Faesa dipaksa berdiri saat ia sangat kesakitan seperti itu. Sambil menarik napas dalam-dalam, Arion juga bangkit dan berdiri di samping Eden. Frimeya bangkit pula dan berdiri disamping mereka berdua.


Arion menarik pedangnya dan bersiap bertarung dengan mereka.


Yora juga bersiap, begitu juga dengan Faesa. Dengan satu tarikan napas, mereka berlari kearah satu sama lain. Eden melesat sangat cepat menuju Yora, mereka kembali beradu kekuatan.


Arion melompat dan menyerang Faesa. Sambil menggigit bibir bawahnya, Arion melayangkan pedangnya kepada Faesa. Sedangkan, Frimeya membantu mereka berdua dari belakang dengan busurnya.


Arion dan Faesa tidak mengeluarkan sepatah kata saat bertarung. Namun, Arion kurang fokus membuatnya beberapa kali dihantam oleh gada Faesa, sampai pedangnya terlepas dari genggamannya.


Faesa hendak memukul dada Arion dengan gada, namun ia ditembak oleh panah sihir Frimeya.


"Arion!" Frimeya menembak pedang Arion, lalu pedangnya itu kembali bergerak kearah Arion.


Faesa mengeluarkan belatinya lalu menyemburkannya dengan api. Benda itu melesat menuju Arion, tetapi Arion menangkapnya dengan tangan esnya.


Beralih ke Eden.


Yora tersenyum lebar menghadapi Eden. Ia sangat lihai memainkan pedangnya, membuat Eden sedikit kewalahan.


"Kau semakin lemah, mana mungkin bisa mengalahkanku!"


Yora menebaskan pedangnya tepat satu senti di depan mata Eden. Eden mundur secepatnya, tetapi Yora sudah muncul disamping Eden, menendangnya hingga terhempas dari sana.


Baru saja terbentur di tanah dengan keras, Yora muncul diatas Eden. Eden segera menghindar dan mengeluarkan Element petirnya.


"Kau pikir itu sudah cukup untuk mengalahkanku?!" Yora mengeluarkan Element airnya, gelombang air besar muncul dibelakang Yora, lalu Yora mengeluarkan Element petirnya untuk menambah daya serang di gelombang air yang sangat besar itu.


Mata Eden melebar. Ia tidak akan bisa menahan serangan itu, Arion juga tidak bisa mengubah air gelombang itu menjadi es sepenuhnya.


Yora memanggil dua golem besi untuk menahan Eden. Setelah itu, ia melesat menuju Arion.


"Entah kenapa, darah dan energi anak ini sungguh berbeda dengan yang lain" gumam Yora.


"Sial! Nona, cepat lindungi Arion!" seru Eden. Frimeya mengangguk, ia mengeluarkan Lower Arc dan melesatkannya kepada Yora dan mengenainya.


"Sialan!" Yora menjadi geram. Ia berputar dan berlari menuju Frimeya.


"Kau!" Yora mencekiknya dan mengangkat tubuh Frimeya hingga kakinya tidak lagi menyentuh tanah.


Arion menyadari itu. "Nona Frimeya!"


Melihat Arion lengah, Faesa menikam Arion dari belakang. Arion terkejut dan terdiam sejenak sampai ia memuntahkan darah. Perlahan ia menoleh ke belakang, matanya sedikit melebar karena melihat Faesa meneteskan air matanya.


Yora melempar Frimeya dari sana dan mendarat di jalan. Ia terbatuk-batuk, pandangannya buram. Ia melihat Yora berjalan mendekati Arion.


"Arion.." dan kemudian, ia pingsan.


Gelombang air itu membanjiri daerah disana. Eden menjadi geram, dengan cepat ia menuntaskan kedua golem itu lalu menahan gelombang itu dengan kekuatan matanya.


Alhasil, gelombang besar itu berputar-putar di tempat dan tidak menyebar kemana-mana namun Eden tampak sangat kesulitan disana. Ia melirik ke Frimeya yang tergeletak di tanah dan menoleh ke Arion yang sedang dalam bahaya.


Yora memegang dahi Arion. "Kau ini apa? Kenapa kau sangat menarik?"


"Lepaskan aku" kata Arion, dingin.


"Oh, begitukah? Baiklah, kuhisap saja energimu sekarang juga"


Faesa terkejut. "S-sebentar, kita tidak perlu membunuhnya"


"Apa kau ingin melarangku?" tanya Yora.


"T-tidak" Faesa menunduk.


Yora hendak menghisap energi Arion, tiba-tiba tubuh Yora diikat oleh lingkaran cahaya.


"Apa ini?!" Yora menjadi panik. Lalu, pedang cahaya menebas tubuhnya berkali-kali hingga ia menjerit kesakitan.


"Dimension!"


Eden membuka gerbang teleportasi dibawah pijakan Arion. Arion terkejut, ia terjatuh ke dalam gerbang teleportasi dan menghilang dari sana.


"Kurang ajar!" seru Yora. Dengan sekuat tenaga, ia melepaskan diri dari ikatan lingkaran itu lalu melesat menuju Eden.


Eden berlari kearah Frimeya dan masuk ke dalam gerbang teleportasi lainnya. Mereka berdua menghilang dari sana, gelombang air itu ingin jatuh ke daratan.

__ADS_1


"Baiklah, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya" Yora dan Faesa langsung pergi dari sana sebelum mereka terkena gelombang listrik itu.


Hari itu, Midoria terkena bencana dan Arion hilang entah kemana.


__ADS_2