The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Rasa Sesak dan Firasat


__ADS_3

Rena baru saja kembali dari pekerjaan sampingnya sebagai tabib. Ketika ia melangkahkan kakinya kembali ke rumah, Rena merasakan firasat buruk.


"Perasaan apa ini?"


***


Rabadar terus berusaha memukul mundur pasukan asing yang tiba-tiba saja memasuki wilayah mereka.


Dominick yang sudah mati kecemasan tidak henti-hentinya mengirim prajurit. Ia sudah mengirimkan surat bantuan kepada sekutu, tapi sampai sekarang belum ada balasan.


Ia sedang ditemani oleh Aciel di menara kastil. Mereka berdua memandangi kota Rabadar yang kacau akibat penyerangan. Dominick mengepal tangannya dengan keras, ia telah menahan kemarahannya di hati. Ia baru dapat laporan kalau Ethinos ikut bergabung kedalam penyerang dan ada juga pasukan Undead yang datang entah dari mana.


Jadi, sudah ada tiga pasukan yang mengepung dan menyerbu kekaisaran.


"Jika seperti ini, tempat ini tidak lama lagi akan menjadi sejarah" ucap Aciel sambil melirik Dominick. Sebenarnya ia juga tidak peduli dengan penyerangan ini, dari dulu ia memang tidak menyukai Dominick.


Dominick tidak merespon. Perisai sihir yang mengitari kastil seharusnya sudah bisa menahan serangan yang cukup besar, tapi Dominick masih khawatir kalau perisai ini tidak sanggup menahan serangan musuh saat ini.


Di lain pihak, ada Yaena yang saat ini mungkin sedang melahirkan atau sudah, apapun keadaannya dia pasti dalam kondisi yang lemah dan menjadi mangsa yang empuk bagi lawan.


Kembali lagi ke Alice.


Saat ini, Alice sedang berhadapan dengan Faesa. Gadis Demi-Human tersebut cukup membuat Alice kewalahan, bahkan beberapa kali serangan Alice bisa dibalikkannya.


Luke dan Retian turut menolong. Luke tidak menyangka kekuatan yang diperoleh Faesa akan sebesar ini.


Serangan terakhir mereka baru saja bertemu sebelum keempatnya menjaga jarak. Alice duduk berlutut sambil memegangi lengannya yang terluka cukup parah.


"Kau tidak apa?" Retian bertanya.


"Ya. Gadis ini melebihi ekspetasiku, bahkan kita bertiga tidak dapat memukulnya" Alice mendengus kesal menerima kenyataan ini. Ia jarang dikalahkan dan itu membuat Alice sedikit frustasi.


"Tidak, kau salah" jawab Retian yang membuat Alice menengok kearahnya. "Gadis ini sama buruknya denganmu, Qube disekitarnya sudah kacau tidak beraturan, dia sama lelahnya dengan kita"


"Lalu, apa yang harus kita—"

__ADS_1


Tiba-tiba Retian mengangkut Alice dari tempat mereka berdiri dengan cepat. Luke yang dari tadi berada dibelakang mereka juga dibawa oleh Retian menjauh dari sana.


Sebuah palu raksasa baru saja mendarat dengan keras ditempat mereka berdiri tadi. Getaran dan gelombang angin dan debu tercipta dari sana.


Retian melepaskan mereka berdua, kini ia menjadi lebih bersiaga karena lawan dihadapannya bukan sembarangan orang.


"Wah, aku meleset"


Suara itu muncul dari kepulan debu yang mulai memudar. Palu raksasa tersebut hilang menjadi partikel cahaya. Retian mengerutkan dahinya melihat siapa yang datang.


"Lihat siapa yang mengacau. Dasar kau Barnier, masih berani kau menunjukkan wajah burukmu itu di hadapanku" ucap Retian.


Barnier muncul disana dengan senyuman yang mengambang diwajahnya. Barnier tampak memegangi dua tombak sebagai senjata, ia juga mengenakan baju zirah dibalik jubah itu.


"Woah, dia jelek sekali" Luke tertawa lepas melihat Barnier, ia bahkan memukul-mukul paha Retian karena rasa geli yang melandanya.


"Aku apresiasi hinaanmu itu, Manusia. Tapi, apa kau akan tertawa lagi saat aku tusuk jantungmu dengan tombak ini?" tanya Barnier, menantang Luke.


"Tergantung" sahut Retian.


"Tergantung seberapa jeleknya wajahmu itu!" teriak Retian yang disambung dengan tawanya dan juga Luke. Alice yang berada disamping mereka hanya memasang tatapan datar.


"Beraninya kau!" Barnier menjadi kesal, ia melemparkan tombaknya kearah mereka.


Retian langsung memasang perisai sihir untuk menghadang tombak tersebut. Tombak itu tertancap di perisai, tapi anehnya tombak Barnier terus memaksa masuk hingga perisai itu menjadi retak.


Menyadari itu, mereka bertiga keluar dari perisai sambil melesatkan serangan kepada Barnier. Luke keluar lalu berguling-guling ditanah dan kemudian menembakkan beberapa anak panah dengan sangat cepat.


Dari udara muncul Alice dengan puluhan jarumnya. Lalu, Retian mengirim beberapa burung gagaknya menuju Barnier. Tiga serangan itu tidak membuat Barnier mundur, ia memutar-mutarkan tombaknya yang tersisa untuk menghalau seluruh serangan.


Faesa yang berada dibelakang Barnier sedikit kaget melihat kegesitan dari pria itu.


Seluruh serangan bisa ia tangkis, tapi ia merasakan kedua bahunya terasa tertusuk. Ia melihat apa yang baru saja melukainya, ternyata dua buah jarum.


"Ini pasti dari dia" gumam Barnier sambil melihat kearah Alice yang baru saja mendarat ke tanah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Alice secara tiba-tiba berada dibelakang Barnier. Dengan pedangnya, ia memenggal kepala Barnier dengan mulus. Tubuh Barnier yang tersisa jatuh ketanah tanpa kepala.


Retian dan Luke sama-sama melebarkan mata.


"Dia cepat" kata Retian.


"Aku setuju" Luke mengangguk pelan.


Alice hanya tersenyum mendengar ucapan mereka, namun yang lebih membuatnya tersenyum adalah kekuatan barunya ini. Ia bisa membuat pergerakkannya lima kali lebih cepat dari sebelumnya, dengan kata lain ia adalah ksatria wanita tercepat saat ini.


"Terima kasih, Eden" Alice tambah senang mengingat Eden yang sebelumnya memberikan Auranya kepada Alice. Ia tersenyum dengan pipi yang sedikit merona.


"Faesa kabur!" teriak Luke.


Retian dan Alice baru saja sadar kalau Faesa sudah tidak ada disini lagi.


Faesa berhasil melarikan diri saat Barnier tewas di tangan Alice. "Dengan begini, aku bisa langsung menuju kastil. Rencanaku akan berhasil, kali ini akan berhasil"


Di sisi lain, Mofuri dan beberapa rekannya sedang menengok kearah yang sama. Wajah mereka pucat pasi dan mata mereka lebar serta mulut yang menganga. Mereka baru saja melihat sesuatu yang tidak pernah ia inginkan terjadi.


Bagai petir di siang bolong, bagai mimpi buruk yang membuat ingin langsung bangun dari mimpi itu.


Hanza, Sang Pemimpin Rabadar yang asli sedang tergantung dengan pedang yang terhunus tepat di jantung. Pedang itu membuat dirinya tidak bisa jatuh, ia dipaksa berdiri walau napasnya sudah pendek.


Sava menatapnya dingin, tidak ada sama sekali rasa iba. Tentu saja, karena Hanza adalah salah satu musuhnya. Ia baru saja membunuhnya. Sava pun akhirnya menarik pedangnya keluar dari jantung Hanza yang sudah berhenti berdetak.


Ia mendorong Hanza jatuh dari dinding. Pria yang dihormati oleh Mifori dan seluruh rekannya kini telah jatuh ketanah. Mereka semua ingin sekali menghampiri Hanza, tapi rasa takut mereka kepada Sava melebihi rasa iba kepada Hanza.


Daendra yang sedang berlari menuju kastil tiba-tiba terhenti. Dadanya mendadak sesak, ia pun terduduk ditanah sambil memegang dadanya.


"Daendra, ada apa?" Arion berlari menghampirinya. Ia duduk berlutut disamping lelaki itu sambil mengusap punggungnya.


"Daendra, kenapa.. kau menangis?" Arion terkejut melihat Daendra meneteskan air matanya.


"Eh.. apa yang terjadi padaku?" Daendra yang juga bingung mengusap air mata dengan punggung tangannya.

__ADS_1


__ADS_2