The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Apa Rencanamu?


__ADS_3

Masih di Windnemus City. setelah Eden dan Retian tidak sengaja bertemu dengan Alice, mereka bertiga pergi menuju kantor Alice.


Kantornya berada di area kepolisian, yang dijaga ketat oleh para personil. Area itu diisi oleh bangunan yang berjarak antar satu sama lain, jalanannya lebar dan banyak para personil yang berlalu lalang.


Alice datang bersama Eden dan Retian. Beberapa personil menatap Retian dengan was-was. Retian memang wajar dicurigai, dari segi pakaiannya saja sudah membuat orang menjadi salah paham. Untungnya, Retian tidak mempedulikan tatapan itu.


"Ethinos belum pernah menyerang kota ini. Jadi, info yang kuberikan sedikit dan mungkin juga tidak berguna" ujar Alice.


"Hm" sahut Eden. "Tak apa"


Mereka masuk ke dalam sebuah gedung. Dua penjaga memberi hormat pada Alice dan memberi tatapan tajam kepada Retian.


"Mereka semua sensitif padaku" gumam Retian.


Eden terkekeh sangat pelan, tapi Alice bisa mendengarnya. "Ada yang lucu?"


"Tidak, lanjutkan"


Mereka sampai ke ruangan Alice. Ruangan itu cukup kecil bagi seorang pemimpin. Ruangan ini juga penuh dengan dokumen dan gulungan kertas, tapi semuanya tertata rapi. Lantainya yang bercorak sangat kontras dengan dindingnya yang berwarna krem.


Eden melirik kearah dua kertas yang tertempel di dinding. Satu dari kertas itu telah disobek, namun yang satunya masih utuh dengan wajah orang yang ia kenali disana. Brian.


"Kau masih melacaknya?" tanya Eden.


Meski tidak melihat arah pandang Eden, tapi Alice tahu siapa yang dibicarakannya.


"Masih dan aku tidak akan berhenti" katanya sambil mencari-cari barang yang ia cari.


"Ketemu" Alice melempar sebuah gulungan kepada Eden yang ditangkap dengan sempurna.


"Itu dokumen yang kudapatkan saat sedang di luar. Aku tidak paham dengan isinya, jadi aku menyimpannya" kata Alice.


Eden membuka gulungan itu, Retian melangkah mendekat. Eden menurunkan gulungan itu dan menoleh ke Retian.


"Kau bau seperti mayat, menjauhlah" kata Eden.


"Jangan memancingku" Retian merebut gulungan itu, namun di rebut kembali oleh Eden.


Isi dari dokumen tersebut berkaitan dengan Ethinos. Mereka berdua membaca dengan seksama, isinya hanyalah tiga kata. Yaitu, Kuasai atau Menyerah.


"Kuasai atau menyerah" gumam Eden. "Apa maksudnya?"


"Ini semacam jimat" tebak Retian.


"Dari kau dapatkan ini?" tanya Eden.


"Di jalan, sudah kubilang tadi" jawab Alice.


"Baiklah.." Eden menyimpan gulungan itu ke dalam jubahnya. "Kalau begitu, kami akan pergi. Terima kasih atas bantuannya"


Eden dan Retian berbalik dan hendak pergi, tetapi Alice memanggil nama Eden.


"Eden"


"Hm?" Blackclaws itu berhenti dan menoleh ke belakang.


"Bisa bicara sebentar?"


Eden diam sejenak sebelum mengangguk, ia menoleh ke Retian. Tatapan isyarat itu segera di pahami oleh Necromancer tersebut.


"Baik, jangan lama-lama" ia pun pergi duluan.

__ADS_1


Setelah Retian pergi, suasana menjadi sepi untuk sejenak. Setelah tidak saling jumpa selama tiga tahun ini, mereka bertemu secara mendadak tanpa di rencanakan.


"Saat di kota itu.." Alice membuka suaranya. "Kau memberitahuku satu hal"


"Kau dan aku sama-sama punya masalah dengan Brian. Kuharap di masa depan, kita bisa menghabisinya. Bersama"


"Eden, aku sadar. Kapanpun aku mengejar Brian, aku tidak akan bisa mendapatkannya. Dan, janjimu waktu itu..." Alice mendadak diam dan memandangi lantai.


"Ada apa?" tanya Eden. "Kau sudah menyerah?"


"Aku butuh waktu untuk memahami perasaanku.." jawab Alice.


Eden menghela napas pendek, ia mengulurkan tangannya ke depan. "Kemarilah" ucapnya.


Alice bingung, tetapi ia tetap berjalan mendekat dan menyambut uluran tangan lelaki itu. Tiba-tiba, sinar cahaya keluar dari tangan Eden, membuat gadis itu terkejut. Cuma sejenak, setelah itu cahaya tersebut menghilang.


Eden melepaskan tangan Alice. "Aku memasukkan energiku ke dalam tubuhmu. Kemampuan ini merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki klan Blackclaws"


Alice memperhatikan kedua tangannya, ia merasakan ada kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya.


"Untuk apa kau memberikan energimu?" tanya Alice, bingung.


"Jika kau berhasil mengalahkan Brian, maka secara tidak langsung aku juga terlibat. Jadinya, kita bersama-sama mengalahkannya" jawab Eden.


Alice tersenyum. "Dasar, itu curang"


"Yang penting bersama-sama"


Alice melipat tangan di dada. "Lalu, apa rencanamu untuk menghadapi Ethinos ini?"


"Sebelum menghadapi mereka, aku membutuhkan bala bantuan yang besar"


"Apakah akan terjadi perang?"


***


"Qube Art - Dragon Dance Breathing!"


Ed menghembuskan api dalam skala besar. Api itu membuat suhu di sekitar naik drastis. Kekuatan yang di timbulkan sangat besar.


"Qube Art - Exploding Fire!"


Rofa menepukkan kedua tangannya, lalu tercipta ledakan di tengah-tengah lapangan latihan.


Kenneth yang melihat dari jauh hanya bisa menelan ludah dan merinding ketakutan. Ia tidak berani mengusik kedua bocah itu jika ia tidak ingin hangus terpanggang.


"Mereka mengerikan, bukan?"


Suara bariton itu muncul dari belakangnya, Kenneth menoleh dan mendapati Daendra disana sambil membawa secangkir teh.


"Padahal mereka masih terlalu muda, bagaimana kekuatan mereka saat besar nanti?"


Kenneth menggeleng. "Aku tidak ingin membayangkannya"


Daendra tertawa renyah dan berjalan ke samping Kenneth. "Kau sendiri bagaimana? Apa elementmu?"


"Aku sama seperti Arion"


"Hm, begitu, ya"


Ledakan besar kembali muncul, merubah langit menjadi kemerahan untuk sejenak. Kenneth meringis kengerian melihatnya, sedangkan Daendra terlihat menikmatinya.

__ADS_1


"Bagaimana pendapatmu tentang rencana Arion?" tanya Kenneth.


"Hm.." Daendra berpikir. Disaat Arion mengajaknya untuk merebut kembali Rabadar, hati Daendra menjadi ragu.


Daendra mengatakan pada Arion, ia belum siap dan belum ada rencana matang untuk menjatuhkan Dominick. Rabadar Empire saat ini memiliki aliansi dan prajurit yang tangguh. Menyerang tanpa persiapan sama saja dengan mati.


Daendra juga telah menikmati kehidupan sebagai orang biasa. Ia senang berjualan dan mendapat uang, lalu ia belanjakan dan memberi keluarganya makan. Tapi, jiwa kepemimpinan dan kebangsawanannya masih ada, sehingga di dalam dirinya diselimuti keraguan yang mendalam.


"Entahlah, masih kupikirkan" jawab Daendra, ia meneguk tehnya itu. "Aku perlu persiapan"


Tidak lama kemudian, ada keributan kecil di belakang mereka. Pelakunya adalah Gen yang terlihat protes kepada Elena tentang selendangnya itu.


"Hey, kalian berdua, kenapa ribut-ribut?" tanya Daendra.


"Tuan! Thief ini pernah mencuri selendangku, tapi sekarang ia tidak ingin menggantinya!" jawab Gen yang menunjuk-nunjuk Elena.


"Tidak ada pencuri yang mengganti balik barang curiannya" Elena berucap sambil mengedikkan kedua bahunya.


"Dasar kau!" Gen mulai berada di titik puncak kesabarannya.


"Sudah, sudah" Arion keluar dari dalam rumah. "Ini masih pagi. Gen, kemarilah"


Gen segera menghampiri Arion. Ia diberi sejumlah koin, Gen pun merasa heran dan bingung.


"Ini.. untuk apa, Tuan?"


"Belilah selendangmu itu"


Gen melongo. "B-benarkah?"


Arion tersenyum sambil mengangguk. "Alice dan Ken, kalian temani Gen"


Senyuman di wajah Gen memudar saat Arion menyuruh Alice untuk ikut. "Apa?"


Alice merangkul pria kecil itu. "Jangan khawatir, aku akan menjaga orang ini" Elena tersenyum lebar dan Gen tahu makna dari senyuman itu.


"Kenapa aku juga ikut-ikutan?" tanya Kenneth.


"Ck, ikut saja. Jangan banyak protes" kata Arion.


Kenneth memutarkan kedua bola matanya dengan malas. Mereka bertiga pun pergi ke kota untuk membeli selendang yang diributkan itu.


Arion melihat mereka pergi menjauh, sementara itu Daendra memandangi punggung Arion dari belakang. Ia mulai mengingat saat pertama kalinya Arion datang ke istana, disaat itu ia adalah anak yang kumal dan kurang gizi. Sekarang, dia lebih bugar dan akrab dengan orang-orang.


"Kau mempunyai dua anak buah yang keren" ucap Daendra.


"Aku tidak pernah menganggap mereka sebagai anak buah" jawab Arion. "Mereka adalah teman-temanku"


"Ya, kau benar juga"


Beberapa saat kemudian, dua orang pria mendatangi rumah Daendra. Mereka menanyakan keberadaan Rena.


"Rena ada di dalam. Ada perlu apa?" tanya Daendra.


"Ada seorang pria terluka parah, ia datang bersama Psycho Archer. Kami membutuhkan kemampuan Nona Rena untuk mengobatinya"


"Baik, akan kupanggilkan" Daendra berlari masuk ke dalam rumah. Tidak butuh waktu lama, mereka berdua keluar.


"Ayo, Pak, tunjukkan jalannya" kata Rena.


Kedua pria itu pergi bersama Rena. Arion juga ikut.

__ADS_1


"Eh, mau kemana kau?" tanya Daendra.


"Ikut mereka" jawab Arion yang berlari menjauh bersama Rena. Daendra yang ikut penasaran mau tidak mau juga ikut bersama mereka.


__ADS_2