The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Mata-Mata


__ADS_3

Fieyni berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa minuman lagi yang akan diantarkan ke para bangsawan itu.


Namun, ketika ia berjalan di lorong sepi antara dapur dan ruang utama, seseorang menariknya masuk kedalam toilet pria. Mulutnya ditutup oleh sebuah tangan dan badannya ditarik masuk.


Fieyni dihempaskan ke dinding, lehernya ditahan oleh sebuah lengan. Ia diapit ke dinding oleh seseorang dengan sebuah pisau yang terhunus disamping lehernya.


"Siapa kau?" tanya pria ini. Ia mengenakan seragam pelayan yang sama, rambut coklat muda yang diikat dan mempunyai tatapan tajam.


Indra.


"A-apa maksudmu? Aku pelayan gedung ini" jawab Fieyni dengan menambahkan nada ketakutan di kalimatnya.


"Jangan bohong, wanita" Indra semakin menekan tubuh Fieyni. "Aku tidak akan segan melukaimu disini"


Fieyni meludahi wajah Indra. Lelaki itu kehilangan fokus dan tidak sengaja mundur. Fieyni mendapat kesempatan, ia menendang badan Indra hingga masuk ke bilik wc.


Ia hendak berlari keluar, tapi Indra bertindak cepat. Ia menarik lengan Fieyni lalu masuk kedalam bilik itu. Ia mencekik wanita tersebut, namun Fieyni memberi perlawanan. Ia memukul perut dan wajah Indra, tetapi lelaki yang ia lawan tidak memberi kemenangan yang mudah untuknya.


Wajah Indra dibanting ke dinding bilik, ia segera membalas dengan menyikut perut wanita itu. Suara demi suara mereka timbulkan disana, seseorang yang ingin masuk ke toilet langsung membatalkan niat dan melangkah pergi.


Indra mencekik Fieyni dengan memojokkannya disana. Fieyni berusaha memukul lengan kokoh Indra, namun tidak berhasil. Ia pun menyerang titik lemah dari Indra, hingga laki-laki itu berlutut dengan wajah memerah sambil memegang selangkangannya.


Fieyni memberi serangan tambahan dengan menendang wajah Indra. Merasa sudah selesai, ia pergi sambil memberesi pakaiannya.


"Wanita sialan.." Indra mengumpat.


Fieyni melangkah pergi menjauhi toilet, ia berjalan tergesa-gesa. Sesekali ia menengok kesekitar untuk memastikan keadaan. Ia kembali kedalam keramaian itu, namun Fieyni tidak berniat untuk berlama-lama, sadar dirinya sudah dicurigai, ia pergi dari gedung.


Di sisi lain, Indra kembali ke dapur dan berdiam disana untuk sejenak. Seorang pelayan datang yang untungnya adalah rekan dari Indra dan yang lain.


Ketika melihat Indra duduk didapur dengan mata terpejam menahan sakit, ia segera menghampirinya.


"Indra, hey, apa yang terjadi padamu?"


"Souva... katakan kepada yang lainnya, tidak hanya kita yang mengawasi pihak pemerintah"


"Tunggu, apa maksudmu?"


"Kita mendapat lawan baru. Ras Demi-Human. Lapor ini kepada Bos Ka dan suruh dia untuk menyebar anggota kita keseluruh kota, sebelum ini terlambat"

__ADS_1


"Baik!"


Pria itu segera berlari dari sana.


***


Fieyni masuk kedalam gang sepi. Setelah memeriksa tidak ada yang akan berjalan melewati gang ini, ia mengganti pakaiannya dari pelayan ke pakaian kasual.


Fieyni juga mengacak-acak rambutnya dan memasukkan sebuah pedang ke pinggang. Setelah mengganti pakaian, ia keluar dari sana.


"Itu dia!"


Seseorang berseru dan menunjuk kearahnya. Fieyni panik dan segera berlari, dua orang itu datang mengejarnya dari belakang.


Mereka mengarah ke pasar. Fieyni melesat di jalanan pasar, dua orang dibelakangnya juga mengikuti dengan cepat. Fieyni melompati gerobak yang melintasi jalan, lalu menjatuhkan sekeranjang tomat ke jalan.


Seorang dari mereka jatuh karena terpijak tomat. Seorang lagi tetap berlari mengejar. Fieyni masuk ke pasar, tempat dimana area yang paling dipenuhi oleh masyarakat yang ingin berbelanja dan berjualan.


Pria ini masuk ke pasar. Ia terhenti sejenak, mencari-cari sosok Fieyni ditengah-tengah keramaian itu. Ia tidak akan menemukan wanita itu, karena Fieyni sedang bersembunyi dibalik kios.


Pria itu pergi dari sana, Fieyni mengintip keluar. Ia tidak melihat pria tersebut berada di dekatnya. Merasa keadaan sudah aman, ia keluar dan pergi darisana.


Fieyni tidak lagi berada di pasar. Ia kini berada di pusat kota, berbaur dengan orang-orang disana. Ia menyempatkan diri untuk singgah ke kedai teh.


"Aku..." Fieyni menghentikan kalimatnya setelah melihat wajah pelayan ini.


Itu Indra, lagi. Ia tersenyum lebar. Tiba-tiba, dua orang datang menahannya dari belakang.


"Bawa dia kebelakang" Bos Ka memberi perintah kepada dua orang itu.


Fieyni memberontak, tapi ia tetap bisa dibawa kebelakang. Indra dan Ka mengikuti dari belakang.


Wanita Demi-Human ini dibawa kedapur lalu diikat di kursi. Indra melepaskan rambut palsu itu dari kepala Fieyni, memperlihatkan rambut aslinya serta telinga hewan itu.


"Jangan lari-lari lagi, kucing manis. Katakan siapa kau?" tanya Indra.


Fieyni tidak menjawab. Indra menjadi jengkel. Ia menjambak rambut wanita itu untuk memaksa Fieyni menatap wajahnya.


"Jawab!"

__ADS_1


Mendapat bentakan dari Indra tidak membuatnya gentar, Ia malah tertawa sinis.


"Kau akan mati, manusia. Darah sombong dan ketamakan kalian akan tumpah dibawah kekuasaan kami. Kalian, para manusia, selalu menganggap diri kalian sebagai penguasa, selalu menganggap ras lainnya menjadi bawahan kalian"


"Jangan bertele-tele lagi" Ka berjalan mendekat.


Tiba-tiba, Fieyni menunjukkan telapak tangannya yang kini sedang bercucuran darah segar.


Indra dan yang lainnya melebarkan mata. Dari telapak tangan itu, keluar beberapa garis hitam. Indra yang menyadarinya dengan cepat langsung melompat mundur dan mengeluarkan perisai sihir.


Sedetik kemudian, terjadi ledakan didalam kafe itu. Ledakan tersebut cukup besar untuk menghancurkan sebuah gedung. Orang-orang diluar kafe berlari menyelamatkan diri, tapi beberapa diantara pejalan kaki disana tewas karena ledakkan.


Setelah ledakan itu mereda, Indra melepaskan perisainya. Ia memandang kesekeliling dengan raut wajah yang syok, kafe ini sudah hancur. Ia bahkan bisa melihat keluar tanpa ada dinding yang menghalangi.


Lebih buruknya, Fieyni sudah tidak ada disana dan Ka serta dua orang lainnya telah tewas dengan tubuh hancur tidak bersisa.


Beberapa prajurit yang berada di area kesekitar datang ke lokasi. Indra tidak punya pilihan lain selain kabur dari sini, agar tidak ditanyai oleh para prajurit tersebut.


***


Jauh dari Rabadar Empire, anggota Ethinos sedang beristirahat disebuah desa. Mereka telah membersihkan seluruh penduduk desa ini yang mayoritas ras Dwarf.


"Hm.."


Fieyni mengerutkan dahinya. Faesa yang melihat reaksi dari Fieyni segera menyadari ada yang salah.


"Ada apa?" tanya Faesa.


"Kloningku meledak" jawab Fieyni. "Sepertinya ada yang menyadari gerak-geriknya disana"


"Tidak apa. Apa ada info dari kloningmu itu?"


"Satu yang menarik. Seorang calon pangeran akan lahir dari pasangan Klein dan Putri Yaena"


"Berapa lama?"


"Sebulan lagi"


Faesa mengangguk lalu memilih diam memandang langit.

__ADS_1


"Kak Yaena, kuharap kau tidak membenci apa yang kulakukan ini" gumamnya. Faesa memejamkan matanya, tidak sadar ia meneteskan air mata.


"Apa ini?" Faesa segera menyeka air matanya. "Kenapa aku bisa se-emosional ini?"


__ADS_2