The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Hewan Aneh


__ADS_3

Kenneth membuka matanya secara perlahan karena sinar matahari pagi. Ia tertidur dibawah pohon yang rindang semalaman ini. Kenneth kelelahan dan langsung tidur begitu saja setelah pertarungan yang melelahkan kemarin malam.


Mereka berdua lari dari Vogros Town dan berakhir di jalur antar desa yang mana tidak ada satupun gedung dan orang disini.


"Ugh! Badanku.." Kenneth memegangi tubuhnya yang masih sakit. "Mana Arion?" Ia juga baru sadar kalau hanya dia yang ada disini, Caith juga telah menghilang.


Kenneth bangkit sekuat tenaga, menahan rasa sakit di tubuhnya. Ia hendak mencari Arion, tapi ia bingung kemana ia akan mencarinya. Tidak ada apa-apa disini selain pepohonan dan jalan tanah yang tidak rata!


Saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba saja ia mendengar suara semak-semak dari arah belakangnya. Karena tubuhnya sakit, Kenneth hanya mengangkat tangannya keatas dan ingin mengeluarkan element es dari telapak tangannya itu.


"Ululu.. imut sekali kau ini!" Arion keluar dari semak-semak itu sambil membawa seekor hewan aneh. "Seandainya Caith sepertimu" Arion terlihat sedang asyik sendiri dengan hewan itu.


"Apa itu? Dari mana saja kau?" tanya Kenneth bingung seraya terus menatap kearah hewan aneh itu.


"Aku menemukan hewan ini, dia menggemaskan" Arion tersenyum lebar.


Hewan itu berwujud seperti seekor rubah berwarna coklat. Ekornya lebat oleh bulunya, di kepalanya ia memiliki sepasang tanduk kecil, matanya berwarna hitam sepenuhnya dan ia bertingkah seperti anak anjing dengan menjulurkan lidahnya keluar.


"Hewan apa itu?" Kenneth masih memandanginya dengan tatapan ingin mengusir hewan tersebut.


"Aku menemukannya terjebak diantara akar pohon, kakinya tersangkut disana. Lalu, aku selamatkan dan kubawa kemari" jawab Arion sambil mengelus kepala hewan itu.


"Apapun itu, sebaiknya kau lepaskan. Bagaimana induknya datang dan ukurannya besar? Dia akan mencabik-cabik kita nanti" ucap Kenneth.


"Kau terlalu berlebihan" Arion melangkah mendekat. "Lagipun, aku tidak melihat induk Foma"


"Foma?" tanya Kenneth.


"Itu namanya"


"Kau memberikannya nama?! Kau gila! Kembalikan ke tempat asalnya!" seru Kenneth, kaget.


Arion tidak merespon perkataan Kenneth. Ia membereskan barang-barang yang terletak di bawah pohon tempat Kenneth tertidur tadi. Karena ukuran Foma yang kecil, Arion meletakkannya keatas kepalanya. Foma terlihat sangat menikmati kepala dan rambut Arion yang halus.


"Ayo, kita ke tujuan selanjutnya. Seharusnya, kita hampir dekat dengan Anvio Village" Arion melangkah lebih dulu sambil membawa barang-barangnya.


Kenneth mendengus pelan. "Apa boleh buat".


***


Setelah cukup lama berjalan dan juga stamina mereka juga sudah terkuras banyak, mereka berhenti di depan sebuah pondok.


"Kita istirahat disini" kata Arion.


"Akhirnya!" Kenneth berbaring di rerumputan karena ia memang benar-benar sudah kelelahan.


Tiba-tiba, Foma melompat kewajah Kenneth yang membuat lelaki itu kaget dan langsung bangkit dari gaya rebahannya.


"Hewan sialan!" Secara tidak sengaja Kenneth melempar sebuah roti tawar kepada Foma.


Foma langsung melompat dan menangkap roti itu dengan mulutnya. Sadar bahwa yang dilemparnya itu adalah makanannya, Kenneth menjerit kesal.

__ADS_1


"Dasar hewan kurang ajar!"


Arion mengabaikan keduanya, dari tadi ia terus mengipaskan wajahnya dengan sehelai kertas. Matahari pada hari ini cukup terik dari biasanya.


Tiba-tiba...


Sebuah panah melesat dari belakang Arion. Ia mengetahui kedatangan panah itu, Arion segera menunduk, alhasil panah itu meleset dan menancap di depan Arion.


Arion segera melompat dan berdiri menghadap kearah datangnya anak panah tadi. Kenneth langsung bersiaga karena melihat Arion yang tiba-tiba saja bergerak cepat dari posisinya.


Mereka berdua melihat sekelompok orang berpakaian hitam dan mengenakan topeng serta bersenjata. Mereka adalah bandit.


"Ada saja pengganggu, kita tidak pernah memiliki waktu santai yang banyak" gerutu Kenneth.


"Begitulah dunia luar. Biasakan dirimu" jawab Arion.


"Kalian! Beri seluruh harta kalian jika masih sayang pada nyawa!" seru salah satu bandit ketika Kenneth masih berbicara dengan Arion.


Arion dan Kenneth bisa saja membunuh mereka dengan sekali gerakan tanpa jurus tapi Arion tetap diam dan mendengar keinginan mereka. Namun, tanpa ia sadari, Foma menggeram kearah para bandit itu.


Foma berlari kearah para bandit tersebut. Arion terkejut melihat Foma bergerak secara tiba-tiba.


"Foma!" teriak Arion.


Hewan itu mengaum dengan keras, mengeluarkan angin yang kuat dan semburan api dari dalam mulutnya, menyebabkan semburan api itu menjadi sangat besar. Api tersebut mengarah menuju para bandit itu lalu membakar mereka habis-habisan.


Arion dan Kenneth hanya bisa melihat dengan mulut yang terbuka lebar. Kekuatan Foma tidak bisa mereka duga, kekuatan sebesar itu memang sangat mengejutkan bagi mereka berdua.


"Menakjubkan.." gumam Kenneth.


Arion duduk berlutut untuk mengelus kepala Foma. "Kau kecil dan mengerikan, ya"


***


- Markas Ethinos


Banier dan Fieyni tengah duduk berlutut di ruangan aula yang besar. Disana ada beberapa anggota Ethinos yang turut melihat apa yang akan dilakukan Sava kepada mereka.


Banier dan Fieyni telah gagal membawa Retian kemari, itu merupakan kegagalan yang cukup besar, mengingat Banier telah mengikuti Retian cukup lama dan hasilnya ia pulang dengan tangan kosong.


"Menjijikan sekali" ucap Sava. "Kalian gagal membawa Necromancer itu kemari, apa itu sangat sulit untuk kalian lakukan?"


Banier dan Fieyni hanya diam menunduk.


"Akan kita apakan mereka, Tuan?" Yora mendekat, ia seakan ingin menghukum kedua anggota Ethinos ini.


"Jadikan mereka Cremon, Tuan!"


"Benar, kita tidak memerlukan dua pecundang itu!"


Itulah sorakan anggota lain yang sangat kecewa kepada mereka. Sava hanya diam memandangi dua anak buahnya ini.

__ADS_1


"Hentikan"


Suara seorang gadis terdengar dari belakang anggota lain yang ada disana. Semuanya menoleh kearah yang bersamaan, disana ada seorang gadis berjenis rubah dan berpakaian serba hitam. Rambutnya pendek sebahu dan memiliki tatapan dingin.


"Jangan hukum mereka" ia melangkah menghampiri Sava dan Yora.


"Faesa? Apa maksudmu?" tanya Sava.


"Biarkan saja mereka. Yang mereka lawan ini adalah Necromancer bawahannya Dark Lord dan aku juga diberitahu kalau Necromancer itu dibantu oleh mantan saudaraku yang merupakan Whiteblood terakhir" jawab Faesa.


Faesa memandangi Fieyni sejenak lalu menoleh kembali ke Sava. "Kegagalan mereka hanyalah sebuah kebetulan"


"Tapi, dari kegagalan itu mereka membuat Necromancer itu menyadari kalau ia adalah target kita" ucap Sava.


"Kalau begitu, biar mereka yang memperbaikinya" jawab Faesa dengan tenang.


Sava berpikir sejenak sebelum mengangguk dan setuju terhadap saran Faesa.


"Misi memburu Necromancer masih akan tetap kujalankan, tapi aku akan menambahkan banyak anggota. Kalian berdua, lacaklah keberadaan Necromancer itu dan kali ini jangan gagal" kata Sava.


"Baiklah!" Jawab mereka serentak.


"Boleh kuminta saran?" tanya Faesa.


"Apa itu?"


"Aku akan ikut dalam misi ini"


Sava tersenyum lebar. "Tentu, kau boleh ikut. Mungkin kau akan membalaskan kekesalanmu kepada Blackclaws dan Whiteblood itu"


"Ya, pasti akan kulakukan itu" Faesa mengangguk lalu berbalik melangkah keluar.


***


Faesa duduk diatas sebuah batu besar sambil menikmati angin malam yang berhembus pelan ke wajahnya.


"Kau kemari untuk berterima kasih? Kurasa itu tidak perlu" ucap Faesa, menyadari kedatangan Fieyni.


"Kenapa kau melindungiku?" tanya Fieyni.


"Aku hanya membutuhkanmu untuk misi selanjutnya. Kupikir akan sia-sia jika kau dijadikan Cremon" Faesa menoleh kebelakang. "Seperti apa yang terjadi terhadap saudaramu"


Fieyni mengepal tangannya erat. Faesa kembali menghadap ke depan. "Bagaimana pendapatmu tentang Arion?"


"Dia kuat dan cepat. Berbeda dengan apa yang kau ucapkan tiga tahun yang lalu" jawab Fieyni.


"Dia sudah berkembang. Tentu saja" Faesa mengangguk pelan.


"Lalu, apa rencanamu?"


"Aku sudah memutuskan hubungan pada masa lalu. Aku tidak segan untuk membunuh siapa saja yang menghalangiku sekarang. Sekarang, kita laksanakan misi ini dan aku ingin kesuksesan"

__ADS_1


__ADS_2