The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Aku Meminta Bantuan


__ADS_3

"Tuan Arion?!"


Baru saja mereka memasuki rumah, tiga orang datang menyambut dengan perasaan kaget dan senang. Ketiganya adalah mantan pelayan Rabadar Kingdom yang sekarang menjadi pelayan pribadi keluarga Hanza.


Mereka tidak dianggap sebagai pelayan lagi, tetapi mereka tetap bekerja dan berbakti kepada keluarga Hanza. Mereka bertiga hidup dibawah perlindungan Hanza, mereka tidak diberi gaji, namun mereka bertiga diberi kehidupan bersama keluarga Hanza.


Ketiganya ialah satu pelayan laki-laki senior, satu pelayan baru laki-laki dan satu pelayan wanita. Mereka bertiga masih muda, tapi sudah pernah melayani Arion sewaktu tinggal di istana.


Karena itu, mereka sangat terkejut melihat kedatangan Arion yang mendadak ini.


Mereka sibuk menyambut dan melayani Arion dengan usaha membuatny senyaman mungkin, tapi nyatanya Arion malah merasa tidak enak kepada mereka. Di sisi lain, Elena dan Kenneth tercengang melihat Arion diperlakukan layaknya seorang Raja.


"Mifori, Erna, Gen, berhentilah, kalian membuat Arion kesulitan bernapas karena desakan kalian" sahut Hanza.


Ketiganya langsung terdiam sejenak, dan segera meminta maaf berulang kali.


"T-tidak apa-apa... aku senang disambut seperti ini, terima kasih" Arion membungkukkan sedikit badannya, membuat ketiganya terpana untuk beberapa saat.


Memperoleh kehormatan seperti tadi dari seorang mantan bangsawan memang bukan impian mereka, namun tetap saja hal yang luar biasa.


"K-kalau boleh, akan kami buatkan minuman" kata Mifori yang langsung melesat ke dapur.


"Aku akan membawakan barang-barang kalian" Erna merampas seluruh barang Arion dan Kenneth, lalu melesat ke belakang.


"Aku akan..." sedangkan Gen terpaku pada Elena.


"Apa?" tanya Elena, heran dipelototi seperti itu.


"GYAAAH!! Kau! Pencuri minggu lalu!" jerit Gen sambil menunjuk Elena. "Kembalikan selendangku!"


Elena membalikkan badannya sambil mengedikkan kedua bahunya. "Selendang itu tidak sengaja kubuang, lagipula kau itu laki-laki, kenapa beli selendang?" tanya Elena.


"Itu akan kuhadiahkan ke seseorang nantinya!" Gen mendengus kesal.


"Ya, ya, akan kuganti nanti" jawab Elena dengan santainya.


Arion tertawa pelan melihat itu, entah kenapa ia merasa geli dengan pertengkaran kecil itu. Bahkan ia dapat melihat Elena sama sekali tidak menganggapnya perkelahian, sepertinya gadis ini mentalnya memang sangat kuat.


"Arion, bisa ikut denganku sebentar?" tanya Hanza.


Ia mengajak Arion ke suatu tempat yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Arion tidak memberanikan diri untuk bertanya karena mereka masih berjalan.


Mereka berhenti di depan sebuah pohon yang ukurannya normal. Jika dilihat sekilas, pohon ini hanyalah pohon biasa. Itu memanglah pohon biasa dan Arion jadi bingung.


"Sebelum kesini, apa kau ke Rabadar?" tanya Hanza.


"Um" Arion mengangguk. "Rencananya aku ingin pulang, tapi mendengar Paman Dominick yang naik tahta, aku mempercepat langkahku kesana untuk memastikannya"


"Dan?"


"Dan itu kabar nyata, aku tidak menemukan kalian, tapi beruntung aku dapat bertemu dengan Kak Yaena. Dari dialah aku tahu lokasi kalian"


"Yaena, ya" Hanza mengangguk dan mengelus janggutnya. "Dari ribuan orang disana, hanya dia yang masih dapat dipercaya"


Hanza kemudian bertanya kembali, "Setelah itu?"


"Aku lari dan dikejar sampai kemari"


Matahari mulai terbenam, langit jingga menjadi kegelapan dan mengeluarkan pemandangan yang indah. Bintang-bintang mulai menampakkan diri mereka di bentangan langit yang luas.


"Ayah, dimana Daendra?" tanya Arion.


"Dia sedang berada diluar, mungkin sebentar lagi akan kembali"


"Lalu, dimana Ibu? Aku tidak melihatnya dari tadi"


Hanza menghela napas perlahan. "Coba kau perhatikan pohon ini" Hanza mengedikkan dagunya kearah pohon. Arion menatap ke arah pohon itu.


"Disinilah tempat peristirahatan terakhir Ibu angkatmu"

__ADS_1


Arion membuka mulutnya secara perlahan, matanya melebar mendengar kabar buruk itu. Ia memandangi pohon itu cukup lama, lalu berpindah kebawah pohon.


Lagi-lagi, Arion harus menerima kabar buruk. Meskipun bukan Ibu kandungnya, Arion menyayangi Lenia dengan sepenuh hati. Wanita itu telah merawat Arion dari kecil, walau hanya sebentar.


"Ia meninggal karena sakit keras. Dua hari sebelum kepergiannya, ia berpesan, jika kau kembali, kau tetap disambut sebagai Arion Gareins"


Bahkan dalam keadaan sekarat, Lenia masih mau menganggap Arion sebagai bagian dari keluarganya.


"Terima kasih, Ibu.." gumam Arion.


***


Mifori menyalakan cahaya di dalam dan di sekitar rumah dari kegelapan malam dengan Qube. Ternyata, di malam hari suasana disini cukup sejuk. Mereka berlima duduk di ruang tamu yang sederhana.


Mereka sedang asyik mengobrol. Erna datang membawakan minuman. Disaat mereka sibuk bercengkrama, Foma sedang bermain-main diluar bersama Gen dan Mifori.


"Jadi benar kau berperang di Egrit Village, lalu pergi menyelamatkan Rena dan bertarung dengan Retian, saat kau berumur 14 tahun?! Itu gila!" seru Kenneth. Semua orang tertawa melihat ekspresi Kenneth yang asli kagetnya.


"Bukannya aku sudah pernah ceritakan itu padamu?" tanya Arion, datar.


"Sungguh? Aku tidak mengingatnya" Kenneth menjadi bingung dan menggaruk kepalanya sendiri.


"Dasar payah" gumam Elena sambil menggeleng pelan.


"Hey, kami masih bisa mendengarnya" Kenneth menyenggol lengan Elena.


Ditengah-tengah obrolan mereka, Gen masuk. "Maaf mengganggu, tapi saya melihat Tuan Daendra telah kembali"


Mendengar itu, Arion langsung bangkit.


Sebuah gerobak kuda yang dikendarai oleh seorang pemuda bergerak mendekati rumah Hanza. Di gerobak yang ditarik oleh kudanya membawa beberapa barang yang siap dipasarkan dan ada dua bocah juga disana.


Pemuda itu mengenakan baju lengan panjang yang ia gulung ke sikut. Rambutnya basah karena keringat, begitu juga dengan pakaiannya. Sepertinya ia sudah bekerja keras hari ini. Dipinggangnya ada sebuah sarung pedang yang menyimpan pedang di dalamnya.


"Anda telah pulang, Tuan Daendra. Bagaimana hasil dagang hari ini?" tanya Mifori, antusias.


"Bos Mifori!" seru Rofa sambil melakukan gestur hormat kepada Mifori.


"Dia sekarang jadi Bos Kak Daendra!" balas Ed sambil tertawa terbahak-bahak.


Mifori menjadi salah tingkah, ia mundur beberapa senti karena takut akan diapa-apakan Daendra. Pernah suatu ketika, waktu itu Mifori melakukan kesalahan dan dia dihukum Daendra. Hukumannya ialah Mifori push-up sebanyak 50 kali sambil menyanyikan lagu kebangsaan Rabadar.


Walau menyiksakan, Daendra selalu memotong hukumannya ketika Mifori berada di tengah-tengah ia sedang melakukan hukumannya. Hal itu agar Daendra ingin ketiga anak buahnya ini selalu kuat dan tidak lembek.


"Dan aku bicara seperti ini.. 'Bos, hari ini hasil dagang kurang menguntungkan kita, tapi kita dapat hasil yang cukup menguntungkan'. Begitu, kan?" tanya Daendra.


"T-tidak, Tuan Daendra... aku minta maaf!" Mifori duduk berlutut sambil memohon.


"Berdirilah, aku hanya bercanda. Aku tidak akan menghukummu" Daendra terkekeh.


Mifori berdiri. "Tuan, kau selalu mempermainkanku, Erna dan Gen jarang kau lakukan seperti itu" protes Mifori.


"Karena kau layak. Apa di dalam ada tamu?"


Mifori hendak menjawab, tetapi Hanza memanggil Daendra.


"Daendra, kemarilah!" panggil Hanza. Daendra langsung menghampiri.


"Ya, Ayah?"


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"


Daendra memiringkan kepalanya. Melihat anaknya penasaran, Hanza langsung memanggil Arion.


"Arion?" Daendra terkejut mendengar Hanza menyebutkan nama itu.


Arion muncul dari belakang Daendra. Ia melangkah ke depan Daendra, kini tinggi mereka sama. Arion tidak perlu menengok keatas untuk menatap wajah Daendra.


"Arion.." Daendra mengepal tangannya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba langsung, Daendra memukul pipi Arion sekuat tenaga yang ia punya saat ini. Hal itu membuat seluruh yang melihatnya terkejut.


Arion terjatuh ke tanah akibat pukulan itu.


"Sayang!" Rena segera mendekati Daendra untuk menahan lelaki itu agar tidak bertindak lebih jauh lagi.


"Daendra, apa yang kau lakukan?" tanya Hanza yang mencoba untuk tetap tenang.


Kenneth dan Elena langsung membantu Arion untuk berdiri. Arion mengusap darah segar yang mengalir di ujung bibirnya. Ia tidak marah, ia memahami perasaan Daendra.


"Baru sekarang kau berani muncul, huh" ucap Daendra, dingin.


"Daendra, maafkan aku" kata Arion, tapi permintaan maaf itu semakin membuat emosi Daendra memuncak.


Ia melesatkan tinjunya lagi. Tiba-tiba, tinjunya itu ditahan oleh seseorang, bukan... melainkan tiga orang sekaligus. Hanza, Kenneth dan Elena yang menghentikannya.


Arion tetap diam berdiri di tempatnya, menatap datar kearah Daendra. Sementara itu, Daendra menatapnya geram.


Rofa dan Ed berdiri dibelakang  Mifori, mereka tidak ingin terlibat ke dalam permasalahan orang dewasa.


"Hentikan, Daendra" ucap Hanza. Ia dan Elena serta Kenneth masih memegang kepalan tangan Daendra.


"Ck!" Daendra mendecak. Ia menarik kembali tangannya dari genggaman tiga orang itu. Daendra menatap Arion sejenak sebelum berbalik.


"Ikuti aku" setelah itu, Daendra melangkah pergi.


Arion hendak mengikuti, tapi Kenneth dan Elena menghadangnya. Melihat raut kekhawatiran di wajah mereka, Arion mengembangkan senyum tipisnya. "Tak apa" kata Arion.


Mendengar itu, akhirnya mereka memberikan Arion jalan.


Daendra terus melangkah sampai bibir danau. Arion berhenti tak jauh di belakangnya.


"Tiga tahun" kata Daendra. "Selama tiga tahun ini, kemana saja kau?" Daendra menoleh kebelakang melalui bahunya.


Arion tidak menjawab, ia menunduk sedikit. Angin kencang menerjang untuk sejenak, angin itu seakan ingin mengusir Arion dari sana.


"Jawab aku!" bentak Daendra.


"Aku..." Arion tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.


"Hmph! Sepertinya kau kehabisan kata-kata" Daendra pun berbalik, ia tersenyum miring pada Arion.


"Apa yang terjadi? Dimana Arion yang tenang? Dimana Arion yang selalu bisa memecahkan masalah? Dimana dia? DIMANA?!"


Dada Daendra naik-turun karena terlalu emosi. Napasnya terputus-putus, dalam sekali kemarahan saja ia sudah kelelahan, tidak seperti dulu.


"Daendra, aku tidak seperti dulu lagi. Aku yang sekarang sangat lemah, aku tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Arion.


Lalu, Arion mengangguk. "Kau marah kepadaku, itu adalah bukti kalau aku ini tidak berguna. Ya, Daendra.. aku ini tidak berguna. Siapa aku? Aku adalah bencana dalam kehidupanmu, aku merenggut apapun yang ada di dalam hidupmu.."


"Aku ingin kau menghajarku! Aku ingin kau menyiksaku! Aku ingin kau melampiaskan amarahmu kepadaku! Lakukan semaumu, sampai kau tidak membutuhkanku lagi dan membuangku. Itu sudah cukup, aku tidak meminta lebih, yang penting kau bisa lega" lanjutnya.


Arion membentangkan kedua lengannya ke samping, memberi isyarat kepada Daendra untuk menghajarnya sekarang juga. Daendra mengeluarkan pisau dari sakunya, melihat itu Arion memejamkan matanya.


Daendra melesatkan pisau itu kearah Arion, tetapi senjata tersebut hanya melewati wajah Arion dan mendarat di belakangnya.


Arion membuka matanya dan melirik kebelakang. Ia kembali menatap ke depan.


"Aku tidak pernah menginginkan hal itu, yang aku inginkan adalah kau kembali dengan selamat. Itu saja" ucap Daendra.


"Aku marah karena kau menghilang dari kami. Aku selalu mencarimu kemana-mana, setiap hari. Berharap menemukanmu dan bisa menghajarmu sepuasnya. Tapi, nyatanya kau yang datang sendiri"


Arion mengambil kembali pisau Daendra lalu berjalan untuk mengembalikannya ke pemiliknya.


"Aku butuh bantuanmu" kata Arion seraya menyodorkan pisau itu ke Daendra.


"Bantuan apa?" tanya Daendra.


"Bantuan untuk menurunkan Dominick dari tahtanya"

__ADS_1


__ADS_2