
- Egrit Village
Desa kecil ini, tempat kelahiran Rena menjadi hancur lebur diakibatkan serangan para makhluk buas raksasa yang sudah dikenal di dunia dengan sebutan Cremon, yang berasal dari sebuah organisasi ******* ras Demi-Human, Ethinos.
Para warga yang telah menjadi mayat, berserakan di jalanan dengan tubuh bersimbah darah dan hancur, serta tidak layak untuk dilihat lagi.
Keadaan desa itu sudah hancur, desa tersebut baru saja merasakan kedamaian beberapa tahun terakhir ini. Kini, apapun yang ada disana sudah rata dengan tanah.
"Cari orang yang bisa memberikan kita petunjuk, jika tidak ada, habisi dengan cepat!" perintah Faesa.
Suara gadis itu menggema di langit desa, membuat orang-orang desa yang masih hidup menjadi merinding ketakutan. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap bencana ini segera berakhir dengan cepat.
Anggota Ethinos menyebar. Faesa masih berdiri diatas tanah dengan kedua kakinya. Ia berdiri tegak dengan tatapan dingin, kedua lengan ia lipatkan di dadanya sambil mendengus pelan.
Fieyni menghampirinya dari belakang, sedari tadi pandangan Fieyni kepada Faesa hanya kerutan dahi yang tidak ada redanya.
"Apa yang kita dapat dari desa ini?" tanya Fieyni.
Faesa tidak langsung menjawab, ia mengeluarkan pedang dari sarungnya yang dari tadi tidak ia keluarkan.
"Desa ini awalnya tempat kekuasaan Retian, tempat sekecil ini bisa menjadi tambang emas bagi kita" jawabnya.
Tidak lama kemudian, dua orang anggotanya datang menghampiri sambil membawa seorang lelaki berbaju zirah yang sudah rusak di pundak salah satu dari mereka. Lelaki itu dilempar ke hadapan Faesa, ia masih hidup dan itu bisa dilihat dari gerakan dadanya yang naik turun.
"Orang ini mengaku sebagai anak Kepala Desa disini" lapor salah satu dari mereka.
Faesa mengangguk. Ia duduk berjongkok, lalu menjambak rambut Mike keatas, agar ia bisa melihat wajah pemuda yang sudah babak belur itu dengan jelas.
"Kau masih sadar?" tanya Faesa, datar.
Mike terengah-engah, ia sudah terlalu kelelahan karena menerima rasa sakit dari Ethinos.
"Kalau kau masih sadar, jawab pertanyaanku ini baik-baik, jika kau masih ingin hidup" ancam Faesa dengan tenang. "Katakan, apa yang kau ketahui tentang Retian?"
"Retian..." Mike membuka suaranya yang serak. "Dia.. sudah pergi... tiga tahun.. yang lalu dari... sini"
"Kenapa?" tanya Faesa lagi.
"Arion.. yang melakukannya.."
Faesa tersenyum miring. "Benar juga, desa ini dulunya tempat ia melaksanakan ujian" gumamnya.
"Lalu?" Faesa ingin meminta info lebih banyak lagi, tetapi Mike menggeleng karena ia sudah tidak punya info lagi tentang Necromancer itu.
"Awh, hanya itu yang bisa kau berikan?" Faesa memasang tatapan ibanya yang palsu. "Sayang sekali.."
Faesa bersiap untuk menikam Mike dengan pedangnya. Tiba-tiba, Faesa merasakan sesuatu dari belakangnya. Ia segera berdiri dan menebaskan pedangnya ke udara, disana ia beradu dengan gada besar, hingga pedangnya terlepas dari genggamannya.
Fieyni langsung menghindar dari sana. Faesa menatap sejenak pedangnya yang sudah tertancap di tanah, ia menoleh ke pelaku yang membuatnya harus melepaskan pedangnya itu. Orang itu adalah lelaki yang bertubuh tinggi dengan badan kekar yang penuh dengan otot. Rambut landaknya bergerak-gerak dihembus angin, dan ekspresinya yang tenang seakan tidak takut kepada Faesa.
Orang itu melompat beberapa meter kebelakang untuk mencari aman. Ia mengangkat Mike yang sudah tidak sadarkan diri di pundaknya.
"Kau.." Faesa menundukkan kepalanya sedikit dengan pandangan tajam tetap kearah orang itu.
"Rupanya kau Faesa" suara baritonnya yang gagah menggelegar di udara. "Aku sangat terkejut melihatmu disini, apalagi.." ia tersenyum sejenak. "Apalagi kau berada bersama Ethinos"
"Glenn" Faesa menaikkan salah satu alis matanya. "Aku tidak menyangka akan berjumpa denganmu disini"
Glenn mengangkat gadanya, lalu ia letakkan di pundaknya yang besar itu. "Apa yang terjadi padamu, huh? Kenapa kau berubah menjadi iblis kecil yang menggemaskan?"
"Bukan urusanmu, Glenn. Lagipula, kau juga tidak peduli denganku" jawab Faesa.
"Hmm, kau benar juga. Tapi, mau bagaimanapun, kita tetap satu alumni. Bersekolah bersama, menjalani tugas bersama, kita juga satu kelas" kata Glenn.
Ia menurunkan Mike dari pundaknya, lalu kembali memusatkan perhatiannya kearah Faesa.
Glenn melemparkan gadanya ke udara, percikan api keluar dari gada itu sebelum menyelimuti penuh gada emas yang besar itu. Api itu mulai membentuk diri menjadi sebuah moncong besar.
"Berhubung kau berada di pihak antah-berantah, aku terpaksa harus menghajarmu disini" Glenn menangkap kembali gadanya yang telah menjadi lebih besar karena api itu yang berbentuk menjadi kepala buaya.
***
"A-ayah.." mulut Arion menganga dan matanya melebar, melihat sosok Hanza di depannya.
Tubuh Caith menghilang karena energinya sudah habis dan harus dipulihkan. Klein menapakkan kakinya kembali di tanah, ia berdiri diantara Arion, Elena dan Hanza serta Kenneth.
__ADS_1
Klein mendengus sinis, ia kembali menyarungkan pedangnya. Ia tahu situasi apa yang mungkin akan ia hadapi saat ini. Satu lawan empat? Klein masih bisa menanganinya, tapi ia harus keluar sebagai pemenang dengan luka yang cukup serius.
Klein mempertimbangkan nyawa dan misinya saat ini. Ia melirik kearah Arion, ia ditugaskan untuk menangkap Whiteblood itu hidup-hidup, tetapi di dalam kondisi ini itu tidak akan mungkin terjadi.
"Cukup beruntung, Whiteblood. Kau memiliki tiga orang disini, kau beruntung. Dengan begini, waktu penangkapanmu ditunda!" seru Klein.
Ia memandang kearah Hanza. "Jaga dirimu, Whiteblood" setelah itu, Klein menghilang dari hadapan mereka semua.
"Dia menghilang" gumam Kenneth.
Elena sedikit termenung setelah Klein menghilang tadi, mendadak ia menjadi was-was terhadap Hanza. Ia mengangkat kedua belatinya di depan tubuhnya.
"Siapa dia?" tanya Elena.
Kenneth turun dari kudanya. Ia tahu siapa orang yang berdiri membelakanginya ini setelah Klein dengan sengaja mengucapkan identitas Hanza kepada mereka.
Melihat Elena bersiap ingin bertarung lagi, Kenneth pun mengisyaratkan gadis itu untuk menurunkan senjatanya.
Arion melangkah perlahan menuju Hanza dan berhenti tidak jauh darinya. Mereka saling pandang dalam diam.
"Kau sudah besar, Nak. Senang berjumpa denganmu lagi" kata Hanza.
Bibir Arion bergetar dan matanya berkaca-kaca. Perasaan Arion bertemu dengan Hanza benar-benar membuatnya lemah, bagaimana tidak? Orang yang telah menyelamatkannya dulu kembali datang untuk menyelamatkannya lagi.
Hanza memanglah orang yang menurut Arion adalah sosok berarti di dalam kehidupannya.
Air mata mengalir di pipinya hingga ke dagunya dan akhirnya menetes ke tanah. Arion menangis dalam diam sambil menggigit bibirnya.
"Maaf" lirih Arion. "Aku.. minta maaf"
Hanza menggeleng pelan, ia berjalan mendekati Arion. Hanza memegang pundak Arion yang naik-turun itu karena menangis terisak-isak.
"Kau tidak perlu meminta maaf, ini adalah pilihanku sendiri, Nak. Akulah yang seharusnya meminta maaf, karenaku kau menjadi buronan" ujar Hanza. Ia mengelus kepala Arion.
"Arion, walau kau bukan anak kandungku, tetapi aku menganggapmu seperti itu. Aku tidak akan membuangmu ataupun membencimu. Aku tidak pernah menaruh rasa dendam kepadamu"
"T-tapi.. karenaku.. Aya
h turun dari tahta dan diasingkan" Arion menegakkan kepalanya untuk menatap wajah Hanza.
"Siapa yang peduli kepada kursi kosong itu? Banyak orang yang bisa membuatnya" Hanza tertawa renyah. "Lupakan kerajaan kecil itu, kita bisa membuat yang baru dan yang lebih kuat"
"Ayah, aku mau menemui Daendra" kata Arion, dengan nada yang serius.
***
-Athiesh Kingdom
Sebuah kerajaan kecil yang dikelilingi danau besar. Kerajaan ini bukan kerajaan yang miskin, mereka memiliki perekonomian yang cukup besar dengan penghasilan mereka yang mengimpor barang keluar wilayah kerajaan.
Athiesh Kingdom dikenal sebagai pengimpor barang tersukses, mereka memiliki barang-barang yang nilai jualnya cukup tinggi dan jarang berada di pasar-pasar besar yang ada di Benua Timur ini.
Para penduduknya hidup cukup makmur dan berkecukupan. Hanya satu faktor yang mempengaruhi kerajaan ini sebagai kerajaan yang lemah, adalah mereka kurang dalam militer. Hal itu diperkuat dengan perkataan Elena tentang kerajaan ini sebagai langganan mencurinya.
Mereka memasuki kota. Elena harus satu tunggangan dengan Kenneth, karena ia tidak ingin Hell Beast-nya harus dibunuh disini. Arion dan Hanza berada di depan mereka.
"Aku ingin menanyakan sesuatu" kata Elena tiba-tiba.
"Hm?" sahut Kenneth dari depan.
"Ini soal pertemuan kita kemarin. Kenapa kau begitu marah?" tanya Elena.
Kenneth mengingat kembali.
'Telinga Kenneth memanas dan dadanya terasa sesak. Ia mencengkram gelasnya hingga pecah, membuat Arion terkejut dan segera menoleh kearahnya.
"Ken, apa-"
"Berhentilah berbasa-basi, aku tahu apa maksudmu!" Kenneth langsung berdiri, menatap sinis kearah Elena.
Sementara itu, Elena bersikap tenang. Ia kembali meletakkan cangkirnya ke meja. "Aku tidak mengerti yang kau ucapkan" ucapnya.
"Jangan berlagak seperti itu! Kau sengaja menghilangkan kuda kami sehingga kau bisa memeras kami dan merampas segala harta yang kami punya! Benar, kan?!" kemarahan Kenneth memuncak.
"Kenneth!" Arion menyambar lengan Kenneth, tapi lelaki itu langsung menepisnya.
__ADS_1
"Arion, jangan kau bela perempuan ini, dia adalah Thief dan aku tidak pernah percaya kepada Thief, tak akan pernah!" Kenneth melangkah pergi keluar rumah, lalu membanting pintu itu dengan keras.'
"Oh.." Kenneth menunduk sejenak. "Karena aku membenci para Thief"
"Kenapa?" tanya Elena lagi.
"Ayahku... dibunuh oleh mereka"
Napas Elena tertahan mendengar jawaban Kenneth. "Aku turut berduka" ucapnya.
"Seharusnya aku minta maaf padamu, karena aku berlaku kasar" Kenneth menoleh kebelakang melalui bahu.
Elena menepuk pelan punggung Kenneth. "Ah, tidak apa, aku tidak memasukkan ucapanmu ke dalam hati"
"Eh, kenapa?" tanya Kenneth heran.
"Karena kau bodoh" Elena menjawab datar sambil memandangi danau.
"Apa?! Berani sekali kau!" jerit Kenneth kesal.
Arion melirik mereka dari depan. Hanza menoleh sejenak ke Arion, lalu memandang kembali ke depan.
"Setidaknya, aku bersyukur kau tidak sendirian" ucap Hanza. Arion memalingkan wajahnya ke Hanza.
"Ya.." jawab Arion singkat.
Mereka memasuki area pasar. Mata Elena berbinar-binar melihat seluruh barang yang memiliki harga tinggi.
"Berhenti menatap seperti itu" sahut Kenneth yang membuatnya kaget. "Kau nanti akan dicurigai"
Keempatnya keluar dari pasar menuju daerah sepi. Daerah ini sedikit akan para masyarakat, karena perluasan tanah belum sampai ke daerah ini. Hanya beberapa orang ataupun kelompok yang menempati.
Daerah itu merupakan padang rumput yang berbatasan langsung dengan bibir danau. Disana ada beberapa hewan ternak seperti kuda dan sapi yang sedang makan disana. Lalu, terdapat sebuah rumah sederhana dengan perkarangan belakangnya yang merupakan taman dan kebun. Disamping rumah, ada kereta kuda dan gerobak yang mengangkut berbagai barang siap jual.
Tak jauh dari rumah, ada lumbung padi dan kandang ternak yang diisi belasan ekor sapi. Seorang gadis baru saja keluar dari kandang ternak itu sambil membawa dua ember penuh dengan susu sapi. Ia melihat kearah empat orang yang hendak menuju kearahnya.
"Dia kan.." kata Arion.
"Ya, dia Rena. Dia sudah menjadi tunangan Daendra" Hanza tertawa renyah lagi.
Arion turut senang. Ia tersenyum memandangi Rena yang masih berdiri disana.
"Apa orang-orang sudah mengetahui siapa Rena sebenarnya?" tanya Arion.
"Tidak, dia masih rahasia" jawab Hanza.
Keempatnya sudah sampai di kediaman Hanza yang baru. Rena menyambut kedatangan mereka, ia sedikit bingung dengan tiga orang asing yang dibawa Hanza.
"Ayah, kau sudah pulang? Dari mana saja?" tanya Rena sambil membawakan tas kecil Hanza.
"Ah, aku baru saja menjemput mereka yang sedikit kena masalah tadi, tapi masalah itu bisa diatasi" jawab Hanza.
"Oh, begitu.." Rena mengangguk paham. "Lalu, siapa mereka?" tanya Rena.
Arion sedikit terpukul. Ia tidak menyangka Rena akan lupa padanya.
"Dia Arion" Hanza menaikkan alisnya sambil menunjuk kearah Arion.
"Arion?" Rena mencoba mengingat kembali. "Oh?! Arion!" teriaknya, kaget.
Elena dan Kenneth terkejut, bahkan mereka hampir melompat kebelakang. Arion memasang tatapan syok.
Rena membungkuk dan meminta maaf berkali-kali. Arion dengan canggung memintanya untuk berhenti.
"S-sudah, Kak.." kata Arion.
Rena langsung berhenti, bukan karena permintaan Arion, melainkan lelaki itu memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'
"Apa kau memanggilku dengan sebutan.. 'Kakak'?" tanya Rena.
"Iya, kan Kakak sudah menjadi tunangan Daendra. Makanya aku harus memanggilmu dengan sebutan itu" jawab Arion.
"Oh..." mulut Rena membentuk huruf O, kemudian ia menjerit lagi. "Dari mana kau tahu?!"
"Ayah" Arion menunjuk kearah Hanza.
__ADS_1
Karena malu dan wajahnya yang merona, Rena tidak punya pilihan lain selain menutup wajahnya dengan tas kecil Hanza yang ia pegang.
Hanza menggeleng pelan melihat tingkah calon menantunya ini. "Sudah, ayo kita masuk. Sebentar lagi hari mau sore"