The Last Whiteblood

The Last Whiteblood
Bantuan


__ADS_3

Hancur lebur. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan  kondisi Egrit Village. 


Desa itu telah menjadi bekas pertempuran yang besar. Sawah-sawah mereka kini menjadi lapangan tandus dengan kobaran api dimana-mana. Lalu, rumah-rumah warga yang saat ini telah berubah menjadi bongkahan kayu dan batu yang berserakan di jalan.


Belum lagi bekas ledakan yang menjadikan jalanan desa seperti lapangan latihan militer. Lobang dan kobaran api memenuhi permukaan daratan desa.


Sebuah gada emas jatuh dari langit dan menancap di tanah. Tak lama kemudian, seseorang mengambilnya. Faesa melempar kembali gada itu ke pemiliknya yang telah terluka parah. Glenn duduk berlutut sambil memegang lengannya.


Kepala Glenn mengucurkan darah segar hingga menutupi mata kirinya. Bekas tebasan dan cakaran membekas di tubuhnya, lalu tangan kanannya tidak bisa ia gerakkan.


Jika dilihat-lihat, Glenn sudah kalah dalam pertarungan ini.


"Kau masih payah seperti dulu, Glenn" kata Faesa.


Glenn berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan kembali kepalanya. Ia memperlihatkan deretan giginya, matanya memandang penuh kemarahan terhadap Faesa.


"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Faesa seraya memiringkan kepalanya. "Kau jelas sudah tidak punya banyak kesempatan"


Glenn tidak tahu harus merespon apa. Ia benar-benar sudah kehabisan ide. Untuk pertama kalinya, ia lemah di depan Faesa. Glenn tidak akan mengira ia akan dikalahkan dan dipermalukan oleh Faesa sampai seperti ini. Yang ia tahu, Faesa dulu adalah Destroyer yang manja.


Faesa mengibaskan ekornya. "Urusanku disini sudah selesai.." katanya. Faesa mengulurkan tangannya ke depan.


"Qube Art - Fireballs"


Bersamaan dengan kibasan ekornya yang menciptakan element angin, belasan bola api itu menjadi besar dan mengarah ke Glenn.


Tiba-tiba, seseorang berjubah hijau muncul di hadapan Glenn. Orang itu mengangkat busurnya ke depan dan menunggu bola api raksasa itu datang.


BOOM!


Ledakan besar terjadi berkali-kali. Faesa menunggu disana untuk memeriksa apakah Glenn sudah mati terkena serangan terakhirnya.


Kepulan asap mulai memudar, Faesa menyipitkan matanya. Ia merasa ada seseorang yang berdiri tegap di dalam kepulan itu. Tiba-tiba, tiga panah hijau melesat cepat menuju Faesa.


Gadis rubah itu menangkis ketiga panah itu. Meskipun ia bisa mengatasinya, Faesa tetap terkejut menerima serangan mendadak itu.


"Siapa itu?" gumam Faesa.


Orang itu mengangkat busurnya ke atas, lalu ia menarik tali busur itu dan kemudian melepaskannya tanpa ada satupun anak panah disana. Hembusan angin menerjang kepulan asap itu hingga tak bersisa, memperlihatkan dirinya secara utuh dihadapan Faesa.


"Kau.." Faesa mengerutkan dahinya.


Sementara itu, Glenn juga sama kagetnya. "Luke.."

__ADS_1


"Luke, Psycho Archer, datang tepat waktu untuk menyelamatkan teman lamanya" ucap Luke dengan gagah dan percaya diri.


Faesa tersenyum miring. "Jadi, benar kau salah satu dari 10 Ksatria itu? Sulit dipercaya"


Luke memutar-mutarkan busurnya. "Terserah apa yang kau katakan, Faesa. Dasar kau pengkhianat!"


Faesa mengeluarkan percikan api di telapak tangannya, kemudian ia mengepal dengan erat. Luke menyadari itu, sebentar lagi Faesa akan mengeluarkan jurusnya yang lain dan merepotkan.


Luke membidik tanah, tak jauh dari kakinya. "Walau hanya sebentar, aku muak melihat wajahmu. Semoga saja Arion dan Daendra bisa menghajar muka centilmu itu"


Setelah itu, ia menembakkan panahnya ke tanah dan keluar selimut cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya itu hanya sebentar, tetapi Luke, Glenn dan juga Mike sudah tidak berada disana.


"Luke.." gumam Faesa. "Meskipun kau membenciku, aku.. tetap..."


***


Sebuah gerbang portal terbuka dari atas langit. Eden muncul dari sana dan mendarat diatas atap. Pemandangan malam di Windnemus City memang tidak ada tandingannya.


Salah satu kota mewah ini selalu bercahaya ketika malam tiba. Aktivitas seakan tidak pernah habisnya di kota ini. Eden dapat melihat semua itu dari atap menara.


Tidak lama kemudian, kepulan asap hitam pekat muncul disampingnya. Memunculkan Retian dengan tongkat di tangan kanannya.


"Apa rencanamu disini?" tanya Retian.


Sebelum kesini, Eden dan Retian telah menjalin kerjasama untuk menyingkirkan Ethinos. Meskipun berdamai, tapi itu hanya untuk sementara. Keduanya juga tidak menurunkan kewaspadaan kepada satu sama lain.


Eden mulai dari pusat kota. Ia bertanya-tanya dengan warga disana tentang Ethinos. Beberapa dari mereka memang pernah mendengar organisasi itu, tetapi Ethinos belum pernah menampakkan diri di kota.


Retian hanya memperhatikan dari jauh usaha yang dilakukan Eden. Lelaki itu benar-benar berusaha keras, tanpa lelah ia terus berpindah dari satu warga ke warga lain. Hal itu membuat Retian heran, ia pun berpikir kenapa Eden seserius itu.


Setelah mencari-cari informasi yang hasilnya nihil, Eden kembali ke tempat Retian. Necromancer itu menunggunya di samping kedai makanan.


"Sudah dapat?" tanya Retian.


Eden menggeleng, ia menghela napas panjang dan duduk si sebuah kursi kayu disamping kedai itu.


"Sudah kuduga, kota ini bukanlah target Ethinos. Kita hanya buang-buang waktu disini" kata Retian.


Ya, mereka telah membuang-buang waktu. Eden mengusap wajah dengan kedua tangannya, ia benar-benar tidak bisa berpikir. Eden saat ini sedang banyak pikiran, ia cemas akan terjadi hal yang buruk.


"Kau takut?" tanya Retian, tiba-tiba. "Kau terlihat tergganggu akan sesuatu"


Eden hanya diam.

__ADS_1


"Jika kau tidak ingin bercerita, tidak masalah. Kalau-"


"Ini soal adikku" Eden memotong ucapan Retian.


Eden menoleh ke Retian. "Ia seorang ras Demi-Human"


Retian mengerutkan dahinya. "Ia seorang ras Demi-Human? Dan kau adalah seorang manusia"


"Bukan adik kandung, ia adik angkatku. Ibu menemukannya di sungai saat masih bayi. Ia itu berjenis Kucing"


Eden menyandarkan kepalanya seraya menutup mata. "Aku sangat mencemaskannya.."


Retian menepuk pundak Eden. "Bersemangatlah, setelah Ethinos lenyap, semuanya akan kembali menjadi normal"


Eden tersenyum tipis. "Hmph, tak kusangka kau akan berkata seperti itu, apa kau sudah menjadi baik?"


"Aku memang orang yang baik, kau saja yang tidak bisa melihatnya" Retian mendengus kesal.


"Oh ya? Sejak kapan Necromancer menjadi orang yang baik?" Eden mengangkat alisnya dengan heran.


Tanpa mereka sadari, seorang gadis muncul di belakang mereka sembari menodongkan kedua belatinya ke tubuh mereka.


"Kalian penyusup. Jangan membuat gerakan yang tiba-tiba"


Suara gadis itu terdengar mencekam. Tatapan Retian menjadi datar.


"Ini semua karena kau yang mengajakku mengobrol"


"Kenapa aku yang kau salahkan?" tanya Eden.


Mendengar suara Eden, gadis itu tertahan napasnya. "Kau.. Eden?"


Eden melebarkan matanya, dengan perlahan ia menoleh ke belakangnya. Ternyata, gadis itu adalah Alice.


"Alice?"


"Ternyata benar, kau Eden" Alice menghela napas lega. Ia kembali menarik kedua tangannya.


Retian menatap bingung pada Eden. Tatapannya itu seolah mengatakan, kau kenal dia?. Eden pura-pura tidak memahami tatapan isyarat itu.


"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Alice.


"Kebetulan kami bertemu denganmu. Kami ingin meminta bantuan" jawab Eden.

__ADS_1


__ADS_2