
"Hari sudah mau gelap, sebaiknya kita berhenti dulu" ucap Eden.
"Apa? Kita tidak bisa berhenti sekarang. Rena sedang dalam bahaya, jika kita tidak cepat, maka ia akan dibawa untuk selamanya" protes Daendra.
"Aku tahu kecemasanmu, tapi pikirkan juga keselamatanmu" kata Eden, ia mengambil cerutu dari dalam jubahnya. "Malam sangat berbahaya"
Arion menepuk pundak Daendra. "Eden benar, kita harus berhati-hati juga. Lukamu belum sembuh"
Daendra menatap langit sejenak sebelum duduk di atas batu. Arion duduk disamping Daendra, sedangkan yang lainnya ikut duduk dan bersandar pada pepohonan. Eden sibuk menghisap cerutunya lalu mengembuskan asap ke udara.
"Gadis itu keturunan naga?" tanya Eden.
"Iya" jawab Arion.
"Jika dunia tahu keberadaannya, maka gadis itu akan berada dalam ambang bahaya"
Daendra mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"
"Pikirkan saja. Seseorang yang mempunyai darah naga akan dimanfaatkan betul oleh pihak tertentu. Mengingat para naga sudah langka dan sulit untuk ditemukan, pemerintah memutuskan untuk mencari orang yang mempunyai darah naga" jawab Eden. "Dengan kata lain, gadis ini akan hidup dalam kurungan kematian"
Daendra mengepalkan tangannya dengan erat.
"Jadi? Setelah kau menyelamatkannya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Eden.
Daendra tidak bisa menjawab, untuk saat ini.
"Eden, kau ..." Arion ingin bicara, tapi Eden mengangkat tangannya ke depan, mengisyaratkan untuk diam. Mereka semua menatap Eden yang menoleh ke samping kanannya.
Ternyata ada dua Goblin yang sedang jalan berlalu. Kelompok Arion dan dua Goblin itu dipisahkan oleh semak-semak, posisi mereka pun tidak dapat diketahui oleh dua Goblin tersebut.
Eden, Arion dan Daendra mencoba mendekati mereka.
"Kenapa Tuan Retian itu tidak membawa gadis itu langsung ke kastil Dark Lord?" tanya salah satu Goblin.
"Tuan Retian menginginkan dua ribu jiwa sebelum mengirimnya ke kastil" jawab Goblin lainnya.
"Itu akan memakan waktu yang lama"
"Lakukan saja apa yang ia perintahkan"
Setelah itu mereka pergi menjauh. Arion, Eden dan Daendra saling berpandangan.
"Kita masih punya waktu" ucap Arion.
"Sebaiknya kita tidak boleh membuang-buang waktu, kita harus kesana sekarang" ujar Daendra.
"Dark Lord. Sudah kuduga dia ada dalam permainan ini" gumam Eden. "Kita berangkat saat fajar"
***
Yaena tengah berdiri menghadap jendela di kamarnya. Memandangi langit pagi yang cerah, cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamar. Yaena dapat merasakan kehangatan cahaya itu meraba tubuhnya.
Seorang pelayan gadis baru saja memasuki kamarnya dengan membawa nampan yang berisikan makanan.
"Nona, ini sarapan anda"
Pelayan itu meletakkan nampan makanan itu di meja. Menyadari ia tidak ditanggapi, pelayan tersebut mencoba memanggil Yaena kembali.
__ADS_1
"Nona, sarapan anda sudah sampai"
Namun, Yaena masih tidak merespon. Ada sesuatu yang berkecamuk di hatinya saat ini.
"Apa ada yang menganggu hati anda saat ini?"
Yaena akhirnya merespon, ia menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya memikirkan ketiga adik-adikku. Aku penasaran sekali keadaan mereka"
"Aku mengerti dengan kekhawatiran anda, mereka pasti baik-baik saja"
Yaena berbalik menghadap ke pelayan itu. Raut wajah Yaena jelas menggambarkan kecemasan yang mendalam.
"Sudah enam tahun kami berpisah. Ya, kuharap mereka baik-baik saja. Tinggal beberapa hari lagi, ya beberapa hari lagi"
Yaena mencoba optimis dan menenangkan dirinya. Ia bahkan menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya cepat-cepat.
"Savia! Bagaimana tanggapan mereka jika mengetahui kalau aku akan bertunangan?!" Yaena menjadi panik.
Savia ––nama pelayan itu–– tersenyum. "Anda tidak perlu panik, Nona. Mungkin Pangeran Daendra dan Pangeran Arion lah yang akan terkejut nantinya"
Yaena mengangguk pelan. "Kau benar, mereka pasti tidak akan mengira". Ia menghela napas, lalu berbalik menghadap jendela.
"Arion dan Daendra ... Apa mereka akan berdamai? Khususnya Daendra. Yah, yang pasti mereka harus baik-baik saja. Sedang apa mereka sekarang?"
***
Arion menurunkan ranting pohon yang ada di depannya untuk mengintip lebih jelas lawan yang ada tepat di hadapan mereka.
Arion menghitung jumlah mereka yang terdiri dari 5 Orc dan 2 Great Wolf ––Serigala yang mempunyai ukuran tubuh lebih besar dari serigala biasa––
Ia memberitahu teman-temannya yang ada di bawahnya. Eden dan yang lainnya mulai bergerak sembunyi-sembunyi, mendekat ke kawanan musuh itu.
"Baiklah" jawab Luke.
Ketika para Orc itu sedang mengawasi keadaan sekitar dengan mata merah mereka, kilatan petir hitam muncul di atas mereka tanpa bersuara sedikitpun. Kilatan itu membuka lubang yang mana adalah gerbang teleportasi. Dari sana muncul Eden yang memegang pedangnya dengan erat.
Eden terjun bebas dari sana, melesat ke bawah. Ia menatap salah satu Orc, lalu dengan kecepatan cahaya, Eden menebas salah satu punggung Orc itu secara vertikal. Orc tersebut mengerang kesakitan dan tidak lama kemudian tumbang ke tanah, namun masih hidup.
Orc lainnya terkejut melihat kedatangan Eden, dua serigala itu menggeram kepadanya. Tiba-tiba, Daendra dan Neo datang dari samping, membunuh dua Orc lainnya. Neo sempat kesusahan di sana sebelum dibantu oleh Daendra.
Dua serigala itu berlari dan melompat kearah mereka, ingin menerkam keduanya. Namun, dua panah melesat cepat mengenai jantung kedua hewan itu hingga mereka terkapar di tanah dan mati.
"Wow, kena" Luke menjadi kaget sendiri dengan kemampuannya.
Dua Orc lainnya diatasi oleh sisa anggota. Setelah semua lawan dapat dikalahkan, Arion datang menghampiri mereka.
Eden berdiri di atas tubuh Orc yang ia lukai tadi, ia mengeluarkan belati dari dalam kantung belakangnya dan menodongnya ke wajah Orc itu.
"Jawab pertanyaannya dengan benar atau tidak kau akan kusiksa" kata Eden, Orc itu memperlihatkan gigi tajamnya ke Eden.
Arion mendekat setelah mendapatkan izin dari Eden. Ia menatap wajah Orc itu.
"Katakan, di mana Retian?" tanya Arion.
"Tak 'kan kujawab, manusia rendahan!" serunya. Orc itu hendak melayangkan tinjunya ke Arion, namun ...
"Goblit's Ring Fire"
__ADS_1
Enam cincin api besar melingkari lengan kanan Orc itu, lengan yang ingin menghajar Arion. Orc itu menjerit kesakitan, dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan cincin itu dari lengannya namun tidak bisa.
"Jangan coba-coba kau memukul saudaraku!" bentak Daendra. Arion menoleh langsung ke Daendra, ia kaget mendengar Daendra menyebutnya dengan panggilan saudara.
"Jawab pertanyaan dengan benar!" seru Daendra.
"Jawab saja" sahut Eden.
"Tetap ... tidak akan kuberitahu!" Orc itu menjawab dengan keras kepala. Daendra meningkatkan panas cincin itu. Orc itu meringis kesakitan.
Eden menginjak kepala Orc itu. "Dengar, aku ingin mempermudah saja. Kau lihat dia?" Eden menunjuk kearah Neo. Neo menjadi bingung sendiri.
"Dia adalah Healer disini, ia akan terus menyembuhkan lukamu, tapi kau akan terus kami siksa sampai kau meminta untuk mati sekalipun itu akan sangat sulit. Apa kau paham?"
Eden mengangkat kakinya dari wajah Orc itu.
"Tak akan kuberitahu!" teriaknya.
Eden menggeleng pelan. "Dasar keras kepala". Tiba-tiba, tubuh Orc tersebut diselimuti oleh api hitam kecuali di perut, tempat Eden berdiri.
Makhluk itu berteriak kesakitan, ia menggeliat heboh karena rasa sakit yang ia terima. Ia tidak dapat bebas karena Luke mengikatnya dengan rantai sihir.
Eden pun mematikan apinya setelah membakar makhluk itu lebih dari 10 detik. Arion tidak tega melihatnya, ia hanya berpaling saja ketika Orc itu dibakar hidup-hidup.
"Bagaimana? Kau masih ingin menolak?" tanya Eden. Eden mengisyaratkan Arion untuk menanyainya lagi.
"Kutanya sekali lagi. Di mana Retian dan di mana kalian sembunyikan Rena?"
"Baik! Baik, akan kuberitahu!"
Orc itu mengatakan kalau Retian berada di sisi paling gelap di hutan ini. Cahaya matahari tak dapat menembus bagian hutan itu, di sana juga merupakan sarang Goblin dan Orc, ada juga beberapa Undead yang berjaga di sana.
"Hanya ada satu tempat seperti itu di sini?" ujar Luke.
"Kita ke sana sekarang" Eden turun dari tubuh Orc itu. Arion berjalan mengikutinya, tetapi Orc tersebut mengamuk dan hendak menyerang mereka dari belakang.
Daendra dan Luke terkejut, tetapi enam api hitam muncul dari dalam tanah, menusuk tubuh Orc tersebut hingga kakinya tidak lagi menyentuh tanah.
Arion menoleh ke belakang, ia melebarkan matanya, kaget melihat mayat Orc yang baru saja mati mengenaskan disana. Ia menoleh kembali ke Eden yang ada di depannya.
"Ayo, jangan membuang-buang waktu" ucap Eden datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Tanpa mereka sadari, seekor burung gagak bertengger di salah satu dahan pohon. Burung itu berada di sana mengawasi mereka, selepas itu gagak tersebut terbang menjauh dari sana.
***
Retian mendongakkan kepalanya keatas. Ia melihat seekor burung terbang kemari. Burung itu mendarat di bahunya dan membisikkan sesuatu ke telinga Retian.
Retian langsung berdiri, Rena menjadi kaget sekaligus bingung melihatnya.
Retian mengetukkan tongkatnya ke tanah, lalu muncul asap hitam dari dalam tanah. Asap itu memunculkan tiga orang berjubah hitam dengan topeng di wajah mereka.
"Cari mereka dan jangan biarkan satupun kemari" perintahnya.
"Baik, Master" jawab mereka, lalu mereka pergi dari sana.
Retian menoleh ke Rena. "Teman-temanmu sedang menuju kemari tapi mereka tidak akan pernah sampai kemari"
__ADS_1
Rena menunduk sambil menutup matanya. "Tuan, berhati-hatilah"