
Tapi hari ini tidak. Tiba-tiba hati ku merasa cemas dan aku mencari-cari nenek di ruangannya, di gudang dan terakhir di kamar nenek.
"Nenek!" Pekikku dari luar pintu kamar nya tetapi nihil tak ada sahutan, aku pun membuka pintu kamar nenek dan kutemukan nenek.
"Nenek?! Tidak!!"
Kutemukan nenek bersandar di dinding. Aku pun langsung menemui nenek dan mencoba untuk membangunkannya tapi nenek masih tetap tidak bangun. Aku pun bergegas turun untuk menemui Muffy.
"Muffyy! Tolong nenek!" Seruku dengan terengah-engah.
"...Tarik napas! Buang! Nah sekarang kamu boleh bicara!"
"Nenek...Hoshh,,hoshh."
"Iya? ada apa dengan nenek?"
"Nenek pingsan Muffy, ayo cepat bantu aku membawa nenek pergi ke rumah sakit?!"
"Apa?! Ayo cepat!"
Aku dan Muffy pun melangkah menaiki anak tangga dan menuju ke kamar nenek untuk menggendong nenek menuju ke mobil milik Muffy lalu pergi ke rumah sakit.
Di dalam mobil.
"Bertahan nek Celia mohon! Kita akan segera sampai di rumah sakit!" Kataku lirih sambil memegang tangan nenek di tempat duduk belakang.
"Apa masih jauh lagi Muf?"
"Tidak Cel! Beberapa menit lagi kita akan sampai!"
Aku pun mengangguk.
Tiba di rumah sakit seorang perawat rumah sakit langsung membawa ranjang untuk membawa nenek ke ruang UGD.
"Cepat sadar nek! Celia pasti akan selalu ada di samping nenek!"
"Maaf mbak, untuk sementara waktu anda tunggu dulu hasil pemeriksaannya dan kami akan memeriksanya!"
__ADS_1
Aku pun mengangguk dan duduk di kursi di samping ruangan nenek diperiksa. Jujur hatiku hari ini merasa sangat cemas dan tak henti-hentinya aku berdoa.
"Celia! Nenek ada dimana?" Tanyanya ketika melihat ku duduk.
"Nenek ada di dalam, dokter sedang memeriksanya." Jawabku sambil menutup mukaku mencoba untuk menenangkan diri.
"Oh,, sabar ya Cel! Kuharap nenek bisa segera sadar dan nenek baik-baik saja."
"Kuharap begitu."
Muffy dan aku duduk menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Aku tak henti-henti nya mondar-mandir dan juga kembali duduk. Aku merasa cemas, gelisah, takut terjadi apa-apa dengan nenek, sampai akhirnya Muffy kesal melihat ku.
"Duduk Cel! Kamu yang mondar-mandir aku yang pusing." Kata Muffy.
Tetapi aku tidak menggubris perkataannya aku hanya fokus kepada nenek.
Hingga akhirnya dokter keluar dari dalam dan aku pun langsung bertanya kepada dokter mengenai hasil pemeriksaan nenek.
"Bagaimana dengan nenek saya dok? Apa nenek baik-baik saja?!"
"Iya dok! Saya kerabatnya."
"Kalau begitu, ayo ikut saya ke ruangan! Ada yang ingin saya sampaikan mengenai pemeriksaan nenek anda."
"Baik dok!"
Aku dan Muffy pun menuju ke ruangan dokter yang memeriksa nenek tadi.
Tiba di sana aku duduk dan mencoba untuk tenang dan juga merasa cemas. Aku berharap tidak terjadi hal yang serius kepada nenek.
"Jadi, dari hasil pemeriksaan tadi saya simpulkan pasien mengalami penyakit Artritis (radang sendi) dan maag."
"... Lalu, bagaimana cara menyembuhkan penyakit tersebut dok?"
"Pasien perlu berolahraga, jangan biarkan pasien kelelahan dan atur makannya agar teratur saran saya."
"Baik dok, terimakasih!"
__ADS_1
Setelah berkata demikian aku pun menuju ke ruangan nenek bersama dengan Muffy.
"Nenek!"
Aku melihat nenek tengah terbaring lemah di ranjang pasien. Melihat hal itu hatiku merasa sangat sesak, walaupun bukan keluargaku tetapi aku sudah menganggap nek Tina sebagai bagian dari keluargaku. Aku langsung memeluk nenek dan tanpa sadar air mataku keluar begitu saja.
Melihatku menangis Muffy mengusap punggungku berharap aku bisa tabah. Selang beberapa menit kemudian Muffy memanggilku.
"Celia! Lihat tangan nenek!"
Aku pun menengadah dan melihat tangan nenek yang bergerak, dan aku segera menghapus air mataku.
"Cu!" Panggil nenek lirih.
"Iya, nek?" Balas ku sambil menggenggam tangan nenek dan menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Nenek ada dimana ini? Kenapa semuanya berwarna putih? Apa nenek masih hidup?!" Tanya nenek.
"Nenek ada di rumah sakit sekarang. Tadi Lia lihat nenek pingsan di kamar jadi Lia sama Muffy bawa nenek ke sini. Nenek tahu Lia sangat cemas dan takut kehilangan nenek, dan sekarang nenek malah mengatakan yang tidak-tidak." Jawabku tak terasa air mata mengalir di pipiku, membuat nenek menatapku dan mengusap air mataku.
"Maafkan nenek cu! Nenek telah merepotkan kalian!" Kata nenek sambil menatap aku dan Muffy secara bergantian.
"Nenek..nenek jangan bicara seperti itu! Muffy dan Celia tidak pernah merasa kalau nenek pernah menyusahkan kami. Tapi sebaliknya nek! kami yang telah menyusahkan nenek dari kecil." Balas Muffy lirih sambil menahan air matanya yang ingin keluar.
Nek Tina yang mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Muffy dan juga Celia membuatnya merasa terharu. Nek Tina pun meminta mereka mendekat dan memeluk hangat mereka.
.
.
.
Bersambung.
š¼
Terimakasih sudah mau setia mengikuti cerita Celiašš»
__ADS_1