The Story Of Abandoned

The Story Of Abandoned
Bab.66~Tidak Menyadari


__ADS_3

Alva pun mengangguk tanda mengerti dan tersenyum. Lalu aku mengajak Alva berjalan menuju ke arah tenda bersama dengan Kelvin.


Tiba di tenda aku melihat beberapa teman-teman ku yang sudah berkumpul dan mengajari adik-adik. Aku duduk di tikar yang sudah disediakan oleh kakak dosen bersama dengan Kelvin dan juga teman-teman yang lainnya.


Aku mulai dengan menulis nama dan menandatangani di sebuah kertas bersama dengan Alva lalu memberikan kertas itu kepada kakak dosen.


Selanjutnya aku mengajari adik tersebut. Mulai dari membaca Alphabet sampai lancar, menghafal angka, menggabungkan huruf, dan lain-lain, sampai Alva mengerti.


***


Beberapa saat setelah kami mengajari anak-anak agar mereka bisa mengerti. Kami pun mengemukakan gagasan kami kepada dosen, satu persatu dimulai dari Vina, David, Kelvin, Muffy, Rio, terakhir aku, dan mahasiswa lainnya.


Karena minimnya akses pendidikan, sejumlah anak-anak usia sekolah tak bisa baca tulis alias buta huruf.


Ini disebabkan oleh daerah yang terpencil, aku terpikir apakah tidak ada seorang sukarelawan yang mau datang ke sini.


Setelah mengemukakan gagasan aku kembali menemui Alva, dan lanjut mahasiswa lainnya yang mengemukakan gagasan selanjutnya.


Kemudian setelah semua menyampaikan gagasannya kepada dosen. Kami pun menghantar anak-anak masing-masing kembali ke rumah nya.


Setelah menghantarkan mereka ke rumah kami bergantian membersihkan diri di kamar mandi. Selanjutnya, aku makan karena hari sudah tak terasa malam.


Selesai makan kami pun beristirahat dan menunggu hari esok.


Besoknya adalah hari penentuan kami lulus tidaknya KKN lalu tahap terakhir sarjana.


Semua para mahasiswa telah berkumpul di depan tenda setelah membersihkan diri dan makan.


Para dosen berkumpul dan bersiap untuk membacakan para mahasiswa yang lulus.


Skip selesai membacakan mahasiswa yang lulus kami pun melangkahkan kaki masuk ke dalam bis. Saat aku hendak naik ke dalam bis Alva memanggilku dan memberikanku sebuah kertas gambar. Aku pun menerima nya dan melihat gambarnya, ia menggambar aku sedang mengajarinya. Aku merasa terharu dan juga senang bisa memberi pengetahuan kepada anak seperti Alva.


Selain cepat tanggap, terampil, pintar, baik, ia juga sabar. Aku menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai adik. Dia memintaku untuk memeluknya dengan merentangkan tangannya dan aku pun memeluknya. Air mataku jatuh tanpa terasa dan aku pun mengusap air mata ku, Alva yang merasa aku mengusap air mata. Ia pun melepaskan pelukan dan menyemangati ku.


"Kakak jangan menangis! Al percaya kakak itu kuat dan pasti bisa mencapai tujuan kakak. Ketahui lah kak Al selalu mendukung kakak!" Kata Alva sambil mengusap air mata ku yang menetes.


Jujur aku tersentuh dengan perkataan Alva, aku tidak menyangka pemikiran nya sangat dewasa, tidak seperti anak kecil pada umumnya.


"Hei! ayo cepat naik. Kau membuang waktu kami!" Pekik kernet bis. Aku tersadar dari lamunanku.

__ADS_1


"Terimakasih Alva! kau memang anak laki-laki yang baik. Aku tidak pernah menemukan anak kecil seperti kau! Ke kota lah kapan-kapan mengunjungi kakak! Oke? ini alamat kakak!" Balas Celia sambil memberikan sebuah surat alamat ia tinggal.


"Siap kak! kakak baik-baik di sana, oke! Dah."


Aku pun berbalik dan melambaikan tangan ku kepada Alva dan melangkahkan kaki masuk ke dalam bis.


***


Di perjalanan pulang tiba-tiba saja Celia merasa mengantuk.Dia mencoba untuk tidak mengantuk, tapi tetap saja matanya tidak bisa diajak kompromi.


Celia pun tertidur dan Kelvin yang tidak sengaja melihat Celia tertidur melangkah menuju ke tempatnya duduk lalu Kelvin memberikan pundaknya sebagai bantal, agar kepalanya tidak terbentur.


Kelvin pun juga tidur ia meletakkan kepalanya di atas kepala Celia. Vina yang melihat momen itu pun merasa kesal.


Tiba di kampus Celia terbangun dari tidurnya dan merasakan sesuatu yang berat di atas kepalanya, ia menoleh sambil mengusap matanya.


Betapa terkejutnya Celia melihat Kelvin tidur di atas kepalanya, sontak membuat Kelvin terbangun dari tidurnya. Mata mereka saling bertemu, jantung mereka berdegup kencang.


Sampai akhirnya seseorang memanggil mereka dan mereka pun langsung pulang. Langit telah berwarna oranye dan matahari hampir tenggelam, menandakan hari sudah semakin sore. Saat Celia menunggu Muffy di depan parkiran, dan tiba-tiba mobil sport berwarna kuning berhenti tepat di depannya, sudah tak asing lagi mobil itu bagi Celia.


Kelvin membuka kaca mobilnya.


"Hai! maaf, tapi aku sudah ada yang menghantar. Terimakasih atas tawarannya."


"Kalau begitu aku duluan. Kalau misalkan kamu membutuhkan bantuan ku, panggil saja aku! tidak perlu sungkan. Oke?!"


Celia mengangguk, lalu Kelvin menutup kaca nya. Menghidupkan mobil lalu melajukannya meninggalkan Celia.


Sepeninggalan Kelvin, Muffy telah berhenti tepat didepan nya.


"Cel, ayo!"


Celia pun naik ke dalam mobil milik Muffy, lalu ia melajukan mobilnya.


"Nenek, Lia pulang!" Pekik Celia. Ia telah sampai di rumah bersama dengan Muffy. Mereka melihat nenek bersama mama Muffy tengah mengobrol.


"Wahh..Cucu nenek udah datang?!"


"Anak mama udah pulang?!"

__ADS_1


Balas mereka secara sepontan, lalu mereka memeluk Celia dan Muffy.


"Nenek merindukan kalian." Kata nenek memeluk Celia dan Muffy.


"Mama juga merindukan kalian." Balas mama Muffy.


"Kami juga merindukan kalian." Sahut Celia dan Muffy sepontan.


Mereka melepas rasa rindu cukup lama, hingga perut Celia dan Muffy berbunyi membuat mereka melepas pelukan, lalu tertawa.


"Ahahaa.. Rupanya kalian belum makan. Mari kita makan bersama?!" Kata nenek.


"Ayo! cacing-cacing kami sudah sangat lapar. Mereka merindukan masakan kalian." Balas Muffy.


Kemudian mereka berjalan menuju ke meja makan untuk makan malam bersama.


Di meja makan hanya terdengar garpu dan sendok. Beberapa saat mereka telah selesai makan, seperti biasa Celia dan Muffy mencuci piring lalu duduk di meja makan kembali memakan buah-buahan segar yang diberikan oleh ayah Muffy.


"..Oh, ya ma. Ayah dimana?" Tanya Muffy yang baru menyadari ayahnya tidak ada.


"Papa ada di kantor nak." Jawab mama Muffy.


"Oh, lalu siapa yang membelikan buah ini?"


"Papa. Tadi saat kalian belum datang, papa sempat kemari memberikan oleh-oleh. Katanya oleh-oleh ini dibelikan oleh teman papa mu, karena ia baru saja datang dari luar negeri."


"Ok, ma!"


Kemudian setelah mereka memakan-makanan pencuci mulut. Muffy dan mama nya ijin pulang. Selanjutnya setelah Muffy dan mama nya pulang, Celia pun melangkah menuju ke kamar untuk menaruh barang-barang nya dan beristirahat sebentar. Setelah puas beristirahat Celia melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri rasanya tubuhnya sudah di penuhi dengan keringat.


Selesai mandi Celia merasakan segar dan ia pun merebahkan tubuhnya di kasur, karena tidak terasa matahari telah terbenam dan waktu telah berganti menjadi malam. Kini waktunya para makhluk hidup untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah lelah beraktivitas dan juga merenungkan tentang aktivitas yang telah di lakukannya hari ini.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2