The Story Of Abandoned

The Story Of Abandoned
Bab.75~Sekretaris?!


__ADS_3

Karena Rania berada di ruangan yang kedap suara, dan juga musik yang ada di bar terlalu keras. Sehingga, tidak ada yang bisa mendengarnya.


"Sekarang kau akan menikmati permainan nya, cantik!!!"


BRUGHHHH!!!


Seorang laki-laki datang menendang pintu hingga membuat bodyguard milik Marx jatuh ke lantai.


Laki-laki itu menarik Marx, lalu menghantam Marx hingga ambruk dan jatuh ke lantai. Marx pun bangun dan minta ampun kepada laki-laki itu dan langsung lari kebarat-kebirit.


Kemudian laki-laki itu menemui Rania yang masih ketakutan, sambil menelungkupkan mukanya di lutut.


"Hei, jangan takut!" Kata David mencoba untuk menenangkan Rania dengan memakaikan jas nya ke Rania.


Rania perlahan mendongakkan kepalanya dan melihat laki-laki yang tidak asing baginya, tapi dia lupa namanya dan siapa dia? bagaimana dia bisa menemukan aku, pikir Rania dalam hati.


Mereka saling bertatap-tatapan cukup lama, hingga seorang bodyguard bertanya kepada David.


"Maaf, bos! Apa anda ingin saya disini atau pergi?" Tanya bodyguard itu datar.


"Kau pergi duluan saja! dan tolong panggil dokter untuk mengobati mereka di apartemen, saya akan menyusul nanti!" Jawab David datar.


"Baik,bos!"


Mereka pun melangkah keluar dengan membawa Lira dan Kelvin, sementara Rania bersama dengan David masih di dalam.


"..Apa kau masih takut? bagaimana kalau aku yang menghantarmu pulang?!" Tanya David memecah keheningan.


Rania menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau. David yang mengerti pun menawarkan kepadanya untuk melihat kondisi mereka.


Rania mengangguk dan berdiri. David pun begitu, mereka berjalan beriringan keluar dari lab dan menuju ke apartemen Kelvin.


Tiba di apartemen. Rania dan David melihat Kelvin yang masih diperiksa oleh dokter.


Rania pun duduk di kursi yang ada di depan apartemen rasanya tubuhnya sudah gemetar ketakutan sekarang.


Sementara David mondar-mandir takut terjadi apa-apa dengannya. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dokter keluar.


"Bagaimana keadaan Kelvin?" Tanya David kepada dokter.


"Kelvin baik-baik saja sekarang! saya sudah mengobati lengannya yang terluka. Dan berikan dia obat, saya sudah menaruhnya di meja lengkap dengan dosisnya!" Jawab Rio detail.


"Terimakasih!" Kata David berterima kasih.


"Oh, ya siapa dia? apa dia pacar mu?!" Tanya Rio ketika melihat Rania.


"Bukan urusan lu! Sudah, sana pergi! Lagipula pekerjaanmu disini sudah selesai bukan?! " Jawab David acuh sambil menarik tangan Rania.


"Dasar!!" Ujar Rio kesal, lalu melangkah meninggalkan apartemen Kelvin.


Rania masuk ke dalam bersama David. Ia melihat Kelvin dan Lira terbaring di kasur, Rania melepas genggaman David dan mendekati mereka.


"Maafkan Ran! ini semua salah Ran!" Kata Rania meminta maaf kepada Kelvin dan Lira yang masih terbaring di kasur sambil memegang tangan mereka berdua.

__ADS_1


"Coba saja aku tidak mengajak kalian! Pasti ini semua tidak akan terjadi! Ini semua salahku! Salahku!!" Kata Rania lirih menyalahkan dirinya sendiri.


Melihat hal itu membuat David kasihan kepada Rania. Dia pun mendekati Rania mencoba untuk menguatkannya, David membantu Rania untuk duduk di kursi, memberikannya air agar dia tenang.


"Jangan menangis! Kau dengarkan kata dokter tadi?! Mereka hanya butuh istirahat." Ujar David.


"Tapi...tapi, tapi.." Kata Rania terbata-bata, tak mampu mengucapkan kata.


"Tapi apa?! Sudah, sekarang kau istirahat! Jika mereka melihatmu seperti ini mungkin mereka akan lebih sakit lagi." Saran David tegas.


Rania diam mendengar David, David pun menawarkan kepada Rania jika mereka sadar ia akan segera memberitahukannya.


Rania pun akhirnya pulang ke rumah dengan dihantar oleh David. Di perjalanan hanya hening, sampai di rumah Rania.


Rania turun bersama dengan David, sementara Johan menunggu Rania di depan rumah dengan ekspresi wajah yang sudah sangat marah bercampur khawatir.


Johan memukuli David, David yang tiba-tiba dipukuli entah karena masalah apa ia pun membalasnya hingga Rania berteriak namun, mereka tetap saja berkelahi sampai mami Bella berteriak karena Rania pingsan, mereka pun menghentikan perkelahiannya dan membawa Rania masuk ke dalam.


Johan memanggil dokter untuk memeriksa Rania. Menurut hasil pemeriksaan dari dokter, Rania terlalu kecapean ia membutuhkan istirahat dan Rania ketakutan.


Johan yang mendengar hasil pemeriksaan dari dokter, Johan langsung mencengkeram kerah baju David dan menatapnya dengan tatapan yang tajam seakan ingin membunuhnya.


Mami Bella pun melerai mereka bersama dengan dokter, dan membicarakan masalah apa yang terjadi pada Rania besok, mengingat hari sudah malam. David diminta untuk pulang oleh Bella, dan Johan diminta untuk beristirahat.


▫️▫️▫️


Paginya Rania bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya di kamar sudah ada beberapa pelayan yang menyapanya di kamarnya, membawakan sarapan dan membantunya untuk membersihkan diri.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu kepada kalian?" Tanya Rania lembut.


"Iya, tentu boleh nona!" Jawab kepala pelayan Fora.


"Siapa yang menyuruh kalian melayaniku berlebihan seperti ini?!" Tanya Rania tegas.


"Maafkan saya nona! ini semua perintah dari Nyonya. Mengingat kondisi nona yang masih belum pulih betul." Jawab Fora sambil menunduk.


"Hmm...mami terlalu menghawatirkan ku. Tapi, sungguh For aku sudah baik-baik saja! Terimakasih ya, sekarang kau boleh pergi!" Kata Rania lembut.


"Tapi, nona.."


"Sudah! bilang kepada mami bahwa aku yang menyuruhmu."


"Baik nona! saya permisi!"


Rania mengangguk dan para pelayan pun pergi meninggalkan Rania sendirian di kamar.


Rania mengecek ponselnya berharap ada kabar mengenai Kelvin dan Lira. Rania terkejut karena melihat panggilan dari nomor yang tak dikenal begitu banyak, entah dari siapa.


Lalu sebuah notif masuk dari nomor yang tidak ia kenali, Rania pun mencocokkan nomor yang menelponnya berkali-kali.


"Nomornya sama.." Kata Rania.


David ✉️: Hai, Ra👋🏻 ini aku David, teman Kelvin yang tadi malam itu. Kau ingat aku kan?!

__ADS_1


Jadi, namanya David.. Nama yang familiar.


Rania✉️: Iya...Oh, ya darimana kau mendapatkan nomorku? Dan bagaimana keadaan Kelvin..emm,, maksudku mereka? Apa mereka sudah sadar?!


David✉️: Aku mendapatkan nomor ponselmu dari Kelvin, dan mereka sudah sadar. Apa kau mau mengunjungi mereka?


Rania✉️: Oh, ya?! syukurlah! Aku akan segera kesana. Dan, satu lagi terimakasih kau sudah menghantarku pulang! Dan juga soal kemarin, maafkan kakakku!


David✉️: ..Aku sudah melupakannya!


Rania✉️: Baiklah!


Rania mematikan ponselnya memasukkannya kedalam tas krem dan mengambil cardigan yang berwarna Lilac ungu oversize serta memakai sandal jelly yang berwarna krem senada dengan tasnya.


Rania menuruni anak tangga dan menuju ke balkon meminta izin kepada maminya. Rania sudah hafal betul dimana tempat favorit maminya.


"Mi!" Panggil Rania lembut.


"Iya, Ra?" Balas Bella lembut sembari membaca majalah kesukaannya.


"Kalau, misalkan Ra minta ijin ke mami buat besuk teman Ra yang sakit. Mami bakal ngijinin Ra buat kesana gak?" Tanya Rania lembut.


Bella menutup majalahnya, dan menatap Rania.


"Memangnya sakit apa teman mu nak? dan apa rumahnya jauh?" Jawab Bella bertanya balik.


"Nggak sakit parah sih mi, cuman kena pukulan dan terluka. Rumah dia dekat kok mi, gak jauh dari sini!" Kata Rania.


"Apa?! dia laki atau perempuan?" Balas Bella.


"Perempuan mi!"


"Ya, ampun! gimana ceritanya nak?"


"Ceritanya panjang mi! nanti Ran ceritain kalau Ran tau. Gimana mi? apa mami ngizinin Ran?"


"Tunggu, sebentar nak! Apa dia perempuan baik-baik?"


"Ya, jelas ma! dia itu sekretaris Ran."


Rania keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


"Sekretaris?!"


.


.


.


🌼🌼


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2