The Story Of Abandoned

The Story Of Abandoned
Bab.82~Ular Tangga


__ADS_3

Setelah membaca surat mendadak hati Rania terasa sakit. Rania meletakkan surat itu di atas meja kembali, sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Ada apa denganku?" Gumam Rania bingung.


"Selamat Sore bu! Permisi saya izin masuk" Pekik Lira dari balik pintu.


"Sore, masuk!" Balas Rania.


Lira pun masuk ia mengajak Rania untuk pulang mengingat hari sudah malam dan beberapa karyawan sudah pulang tinggal Rania dan juga Lira yang masih berada di kantor, sisanya jadwal malam.


"Kamu duluan saja nanti saya menyusul!" Pinta Rania.


"Baik, buk! kalau begitu saya permisi" Balas Lira, melangkah meninggalkan Rania.


Rania memasukkan ponsel ke dalam tasnya lalu melangkah keluar dari ruangannya. Sungguh perasaan Rania tidak karuan antara sedih, marah, atau senang, kini Rania tengah dilema oleh perasaannya sendiri.


Kini Lira sudah menunggu di depan gedung perusahaan untuk menunggu bos nya itu datang.


Rania membuka pintu mobil lalu duduk di sebelah kursi pengemudi.


"Maaf telah membuat mu menunggu lama" Ucap Rania.


"Tidak juga buk" Balas Lira, lalu melajukan mobil. Yang sebelum itu Lira bertanya kepada Rania. Ia mau kemana terlebih dahulu, baru Lira melajukan mobil.


Rania meminta Lira untuk membawanya ke rumah Rania. Tiba di rumah. Rania meminta Lira untuk menunggunya sebentar, Lira pun mengikuti perintah dari bos nya itu.


Beberapa saat Rania kembali dengan membawa tas ransel dan mengganti bajunya dengan baju kasual.


"Kita mau kemana bu?" Tanya Lira.


"Ke rumah kamu!" Jawab Rania sambil tersenyum.


Lira sedikit terkejut dengan jawaban dari bosnya itu.


"Maaf buk, apa saya tidak salah dengar, ibu mau mampir ke rumah saya?" Tanya Lira memastikan.


"Iya, memangnya ada apa?"


"Tidak, buk! Tapi, maaf buk jika kondisi di rumah saya tidak mengenakkan bagi ibu"


"Lira, kau tenang saja! Aku tidak terlalu mempermasalahkan itu semua!"


Lira pun mengangguk tanpa membantah permintaan dari bosnya itu. Lalu Rania masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Lira. Setelah siap Lira pun melajukan mobil menuju ke ke kediamannya.


Di perjalanan hanya hening di mobil hingga akhirnya Lira memberhentikan mobilnya di depan supermarket.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Lir?" Tanya Rania yang melihat Lira keluar dari mobil tanpa permisi.


"Lir.. Lira!!" Seru Rania, namun Lira malah terus berjalan.


Mau kemana dia? Apa aku susul aja ya?!


hmm..baiklah. Rania turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket untuk menyusul Lira, setelah berpikir.


Rania menoleh ke sana kemari mencoba mencari keberadaan sekretaris nya itu entah kemana ia berada.


"Mba, mba!" Panggil Rania pada salah seorang karyawan supermarket yang tak sengaja lewat.


"Iya, mba ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan.


"Apa kau melihat seorang perempuan memakai kemeja hitam, rambut di ikat


lewat sini?" Jelas Rania.


"Hmm..maaf mba saya nggak ngelihat, soalnya baru saya turun dari lantai atas" Balasnya.


"Ibu!" Panggil Lira sambil membawa minuman.


"Lira?!" Sahut Rania, meninggalkan karyawan itu dan menyamperi Lira.


"Maaf buk! Saya tadinya mau ngasih surprise ke ibu, karena.."


"Karena saya datang makanya ngasih surprise nya failed kan?!" Potong Rania.


"Hehe..ibu tahu saja! Maafin saya ya bu" Sahut Lira.


"Nggak, saya nggak maafin kamu!"


"Ibu!!"


Setelah mendengar Rania mata Lira berkaca-kaca sambil menatap Rania.


Rania yang melihat Lira begitu hanya tersenyum dan langsung memeluknya.


"Xixixi..Jangan dianggap serius! Saya hanya bercanda"


"Yah, ibu kena! Saya juga bercanda bu!"


"Oh ya?!"


Mereka tertawa bersama lalu melanjutkan membeli bahan-bahan keperluan masakan.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Ahh!!! Kenapa hidupku jadi seperti ini? Apa dia tidak pernah memikirkan perasaanku? Mengapa..mengapa aku tidak langsung mengatakannya?! Ini semua salahku! Kenapa dari dulu aku tidak mengatakannya?!


Kelvin memarahi dirinya sendiri sambil mendengus kesal.


Drttt...Drttt...Drtt!!!


Tiba-tiba benda yang berbentuk persegi panjang yang berada di atas meja berbunyi membuat Kelvin menoleh, lalu mengambilnya.


Mama?! Kenapa tiba-tiba menelponku?


Kelvin hendak menggeser tombol hijau, namun ia teringat tentang pernikahanya. Kelvin tahu mama nya akan membahas pernikahan mereka, jujur saja Kelvin sudah muak dengan pernikahan paksa ini.


Dalam pikiran Kelvin mama nya hanya mementingkan bisnis daripada kebahagiaan anaknya sendiri.


Kelvin meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Kelvin merebahkan dirinya di kasur, melihat langit-langit kamarnya yang berwarna hitam.


Seketika Kelvin mengengingat Rania, Kelvin pun berniat untuk menghubungi Rania namun, mendadak ia teringat dengan kejadian di Restoran kemarin.


Perasaan Kelvin lagi-lagi bertambah sakit, Ia pun berusaha untuk melupakan Rania, dengan meminum alkohol lagi.


Sementara di rumah Lira.


Rania bersama dengan Lira mereka sedang memasak bersama. Di dapur hanya terdengar canda tawa dan sendok penggorengan yang berbunyi.


"Sudah...cukup! Kau membuat perutku sakit" Pinta Rania berusaha menahan tawanya kepada Lira.


"Sini biar Ra yang mengangkat nasi gorengnya!" Kata Lira.


"Nih..kalau begitu Ran nyiapin piringnya!" Balas Rania melangkah menuju ke rak untuk mengambil piring.


Mereka memakan masakan yang mereka buat dengan lahap. Selesai makan Rania membersihkan piring yang kotor, sedangkan Lira menyiapkan air untuk mandi.


Kemudian setelah mandi lanjut Rania bermain dengan Lira. Mereka bermain ular tangga hingga larut malam, sampai akhirnya Rania dan Lira mengantuk barulah tidur.


.


.


.


🌼🌼


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2