
***
"Apa anda tidak ingin pergi makan siang?" Tanya Kelvin sambil menutup laptopnya.
"Apa?! Ehh.. maaf maksud saya, iya saya akan makan siang nanti!" Jawab Rania.
"Kenapa anda gugup?"
"Maaf tadi Itu saya terlalu fokus makanya saya begitu, maaf sekali lagi!"
"Tidak apa-apa saya mengerti, saya juga minta maaf! Apa anda mau lunch bareng saya?"
"Boleh juga! Asalkan, anda memperbolehkan saya mengajak sekretaris saya Lira?!"
Kelvin mengangguk, walau sebenarnya ia
hanya ingin berdua bersama dengan Rania.
Mereka bertiga pun menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari kantor, untuk makan siang bareng.
Mereka makan di restoran, Kelvin memanggil pelayan untuk memilih menu. Rania memilih sayuran yang berisi mie, sedangkan Lira memilih hamburger saja, dan Kelvin sama dengan Rania.
"Apa anda juga suka mie kari?" Tanya Rania.
"Ya, saya menyukai nya!" Jawab Kelvin sambil tersenyum, yang sebenarnya ia tidak terlalu suka sayur. Tapi, demi Rania ia rela.
Setelah memilih Kelvin memberikan buku menu itu kepada pelayan, lalu menunggu pesanannya tiba. Seraya menunggu pesanannya tiba mereka bertiga mengobrol.
Setelah menunggu beberapa menit pelayan akhirnya menghantar pesanan mereka. Rania, Lira, dan Kelvin langsung memakan pesanan mereka.
Rania dan Lira begitu menyukai makanan yang mereka pesan, kecuali Kelvin yang harus terpaksa makan.
***
"Apa kalian sudah selesai makan?" Tanya Rania, seraya menaruh mangkoknya.
"Sudah buk!"Jawab Lira, cepat.
Rania tersenyum mendengar Lira sudah selesai makan, Tinggal Kelvin saja yang masih belum selesai makan Rania pun melihatnya bersama dengan Lira.
"Apa anda benar-benar menyukai mie kari?" Tanya Rania memastikan.
__ADS_1
"Tidak!!" Jawab Kelvin keras.
Rania dan Lira pun melongo menatap Kelvin.
"Sungguh?! lalu, kenapa anda memesannya kalau tidak suka?!" Sambung Rania.
Kelvin mengingat jawabannya tadi, ia tidak konsen karena Kelvin kepedasan memakan mie kari.
"Ma..maksud saya bukan begitu! Saya tadi itu lagi..lagi merasakan sensasi makan mie kari setelah sekian lama tidak makan, begitu! heehe" Sahut Kelvin, sedikit gugup.
Rania menatap Lira, Lira yang ditatap begitu hanya berekspresi datar. Rania pun tertawa melihat ekspresi sekretaris nya itu.
"Ada apa Bu?" Tanya Lira khawatir.
"Hahah..tidak-tidak! tadi itu ekspresi wajah kamu lucu!" Jawab Rania sambil memegangi perutnya, dan mengusap pipinya karena keluar air mata.
"Oh..ibu tolong jangan nangis! saya tidak akan memarahi ibu atau maafkan saya Bu!" Kata Lira, ketika melihat bos nya itu mengeluarkan air mata.
"Lira.. Lira! Aku tidak menangis, tapi aku tertawa! Maafkan aku ya?" Balas Rania, meminta maaf.
"Ehh..tidak seharusnya ibu minta maaf! saya tidak apa-apa kok bu" Kata Lira sambil tersenyum.
Rania mengangguk sambil tersenyum menatap Lira. Rania menatap Kelvin dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Kelvin telah menghabiskan mie kari nya, hanya dalam sekejap.
Mereka pun melangkah menuju ke kantor untuk mengadakan meeting yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi.
▫️▫️▫️
"Baik, meeting kali ini selesai! Terimakasih atas partisipasinya semua" Kata Kelvin.
Meeting telah selesai kini Rania pun melangkah menuju ke ruangan kantornya untuk beristirahat. Kelvin mengajak nya untuk makan, tapi Rania menolak secara halus bahwa ia sudah kenyang.
Rania meminta Lira untuk menemani Kelvin makan sementara ia membutuhkan istirahat sebentar. Kelvin tidak jadi pergi makan karena ia hanya ingin mengajak Rania bukan Lira, dan Kelvin hendak memijat bahu Rania supaya meringankan rasa pegal di bahu Rania.
Rania menolak karena ia tidak terbiasa di pijit oleh seorang laki-laki, jika ia sakit ia hanya meminum obat dan setelah itu hilang.
Setelah dirasa badannya sudah tidak lelah lagi ia pun bersiap untuk meeting lagi, Rania pun berdiri dan mengajak Lira untuk menemui klien. Kelvin berniat ingin ikut menemui klien bersama dengan Rania, Rania tidak memperbolehkan nya ikut karena ia tahu Kelvin lelah terlihat dari wajahnya.
Tapi, Kelvin bersikeras ia ingin belajar untuk menemui Kelvin karena ia tidak pernah menemui Klien. Makanya, Kelvin diminta untuk magang di perusahaan milik Rania.
Tidak terasa matahari telah terbenam, dan berganti dengan malam bersama bulan ditemani bintang. Kini waktunya Rania untuk menemui klien bersama dengan sekretaris nya dan Kelvin.
__ADS_1
Mereka berada di bar untuk menemui klien, klien mereka sedang duduk ditemani oleh kedua cewek sambil minum dengan santainya.
Saat Rania datang Klien itu pun menyuruh Rania untuk duduk dan minum dengan santainya, sambil tersenyum menyeringai.
Jujur Rania tidak terlalu suka dengan kliennya itu, tapi demi proyek penting perusahaannya ia melakukannya.
Kliennya itu menuangkan minuman di gelas lalu memberikan nya kepada Rania. Rania menerimanya, tapi tidak meminumnya ia meletakkan nya dahulu di meja.
Rania pun berkata apa tujuan ia datang menemui klien nya itu. Kliennya itu malah menyuruhnya untuk minum dahulu, baru ia bisa membahas proyek.
Di dalam hatinya Rania sudah geram, namun ia menahannya dan mencoba mengatakannya lagi dengan tegas. Klien itu pun memanggil sekretaris nya, lalu memintanya untuk memberikan dokumen persetujuan kerjasama antara perusahannya.
Sekretaris Rania menerima dokumen itu lalu memberikan Rania dokumen itu. Rania membaca dokumen itu dengan teliti, selesai membaca nya Rania sedikit terkejut dengan tulisan bagian akhirnya.
Yang tertulis klien itu menyetujui untuk bekerjasama dengan perusahaan nya asalkan Rania mau menjadi selingannya. Rania langsung melotot dan melihat klien itu, klien itu malah tersenyum seakan Rania akan menyetujui syaratnya itu.
Namun, keyakinan klien itu salah. Rania memberikan dokumen itu kepada sekretaris kliennya langsung, lalu mengatakan secara halus bahwa Rania tidak setuju dengan persyaratan itu.
Klien itu pun bangun dan memegang tangan Rania. Rania menghempaskan genggaman tangannya dari klien itu.
Genggaman Rania terlepas darinya, dan klien itu malah menjadi-jadi dengan memeluk Rania secara paksa. Rania sudah mencoba melepas pelukan dari kliennya itu, namun Kliennya itu malah menariknya ke sofa.
Lira mencoba untuk menolong bos nya namun, apa daya ia sudah dipukul dahulu oleh 5 orang laki-laki berjas hitam tubuhnya kekar, mirip dengan bodyguard.
"Tidak!!! Liraa, Kelvin!!!" Seru Rania melihat Lira dan Kelvin sudah ambruk, jatuh ke lantai.
"Lepaskan saya!!! Tolong! Tolong!" Teriak Rania keras meronta-ronta meminta tolong.
"Haha!!! kamu tidak akan bisa lepas dariku cantik!" Kata Marx dengan ekspresi wajah mesumnya.
Karena Rania berada di ruangan yang kedap suara, dan juga musik yang ada di bar terlalu keras. Sehingga, tidak ada yang bisa mendengarnya.
"Sekarang kau akan menikmati permainan nya, cantik!!!"
BRUGHHHH!!!
.
.
.
__ADS_1
🌼🌼
Bersambung