
Hai! Maaf ya author lama gak up, sudah pasti kalian lupa sama alur cerita nya.😪 **Dari pada lama lama mending lanjut baca aja yyuuu! Nanti kalau misal nya ada yang lupa boleh di baca ulang lagi hihi, mudah mudahan nggak ada yang lupa sama jalan cerita nya:)
...✿Happy Reading✿**...
"Saya ada tanggapan!" Ucap Rania tegas dengan aura kepemimpinan nya.
Sontak para pengusaha memandang ke arah Rania, mereka penasaran dengan tanggapan dari direktur utama.
"Silahkan Ibu Rania bagaimana tanggapan anda." Balas Kelvin mempersilahkan Rania yang masih tetap berdiri di samping ayah nya.
Rania berdehem."Ekhmm.." Masih tetap duduk di kursi kebesarannya bersiap untuk membuka suara seraya melihat komputer sekretaris nya.
"Terimakasih atas kesediannya dan waktu yang telah di berikan kepada saya untuk mengemukakan pendapat saya. Baik, langsung saja! Dari analisa dan data yang saya peroleh produk kita mengalami penurunan yang cukup besar dan banyak kostomer yang komplain mengenai produk kita." Ungkap Rania
Hah, bukankah pelanggan kita sah sah saja dengan produk kita? Saya juga tidak tahu! Apa nona direktur hanya mengada-ada saja?! Rasanya perkataan nona direktur benar, banyak para pelanggan yang mengeluh tentang produk kita. Bukankah itu semua seharusnya tugas dari kepala perusahaan Grasir? Iya, benar pak Andy. Omel para klien yang lain, seketika membuat ruangan rapat riuh.
"Mohon tenang semuanya, tenang!" Pinta Lira tegas.
Para klien pun terdiam, dan Rania lanjut berbicara.
"Sekarang, bolehkah saya berbicara?" Tanya Rania datar dengan sedikit tersenyum seraya melihat para klien satu persatu menunggu jawaban dari mereka. Para klien mengangguk, lalu Rania pun melanjutkan ucapannya.
"Jadi, kira kira apa langkah kita selanjutnya untuk memperbaiki hal tersebut?" Lanjut Rania bertanya.
"Saya punya usul" Celetuk seorang klien punya usut.
"Iya, silahkan! Bagaimana usulan anda?" Ucap Rania mempersilahkan nya mengeluarkan pendapat.
"Saya rasa anda tidak perlu mempermasalahkan hal ini! Karena hal ini sudah wajar terjadi di sini, dan anda hanya baru pertama kali mengetahui hal ini." Ujar seorang klien memberi usulan.
"Apa ada lagi masukan lain?" Sambung Rania.
Para klien saling pandang, Rania pun mengerti dengan maksud mereka. Bahwa tidak ada lagi yang memberi masukan lain lagi.
"Baiklah kalau tidak ada masukan lain lagi. Saya akan membahas masalah ini secara pribadi saja bersama pak Andy selaku kepala perusahaan di kota Grasir ini!" Ungkap Rania tak ambil pusing.
"Dan mengenai masukan dari pak Bino terimakasih!" Sambung nya.
"Baik, rapat kali ini kita tutup! Selamat sore, dan selamat menjalankan aktivitas." Ucap Kelvin seraya tersenyum.
Setelah berkata demikian para klien pun berdiri dan saling bersalaman. Saat Rania dan Lira hendak melangkah pergi, mendadak Kelvin tak sengaja memegang tangan nya dan berkata .
"Hmm..maaf-maaf saya tidak sengaja! Ahmm..begini apa anda ada waktu?" Tanya Kelvin sedikit ragu.
Rania berpikir sejenak lalu ia pun mengangguk.
•••
Di restoran tak jauh dari kantor hanya beberapa meter saja. Terlihat Rania, Lira dan Kelvin tengah duduk bersantai seraya meminum minuman dan juga makan.
"Hmm..." Kelvin memulai percakapan dengan berdehem menghilangkan suasana hening.
"Ibu Rani!" Panggil Kelvin sedikit gugup
"Hmm..panggil nama panggilan ku saja!" Pinta Rania sedikit tidak suka dengan panggilan ibu hanya saja ia merasa panggilan itu kurang cocok saja untuk usia nya yang sekarang masih terbilang cukup muda.
"Baik, Rania." Balas Kelvin.
"Sebenarnya aku mengajak mu kesini itu karena.." Ucapan Kelvin terjeda.
"Iya karena? Masalah kerjasama itu lagi?!" Ucap Rania menyela, menduga maksud dari ucapan Kelvin.
"Ibu Rania!" Panggil Lira.
"Iya Lira?" Balas Rania.
"Saya permisi ke toilet sebentar boleh kan bu?" Ucap Lira meminta izin.
"Iya, tapi jangan lama lama!" Balas Rania.
__ADS_1
Lira pun melangkah menuju ke toilet dan meninggalkan Rania dan juga Kelvin di sana.
Uhh...lagi lagi aku menjadi obat nyamuk! Batin Lira.
...
"Ahmm..maaf soal yang tadi." Ucap Rania canggung
"Iya, tidak apa-apa!" Balas Kelvin canggung.
"Oh, iya aku mau lanjut bicara." Sambung Kelvin meminta izin.
"Silakan!" Lanjut Rania membolehkan.
"Oke, ahmm..boleh ku tahu kau sudah mempunyai seorang atau belum?" Tanya Kelvin ragu.
"Untuk sekarang belum sih, aku tidak terlalu memikirkan hal itu." Jawab Rania.
"Oh, maaf aku nanya kaya gitu ke kamu." Sambung Kelvin.
"Aha.. itu bukan apa apa!" Lanjut Kyra.
"Oh, iya apa aku boleh meminta nomor mu?" Tanya Kelvin.
"Ahmm..boleh nih!" Jawab Rania seraya menyodorkan handphone genggamnya.
Kelvin mulai memasukkan nomor nya dan menyimpan nomor Rania.
"Terimakasih! Sekarang sudah malam, bagaimana kalau aku antar kamu ke apartemen?" Tawar Kelvin.
"Boleh juga, ajak Lira sekalian boleh?" Tanya Rania.
"Hmm..bagaimana ya, mobil ku hanya muat dua orang." Jawab Kelvin seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Duhh..bagaimana ini? Baiklah! Aku akan menghubungi David.
"Ahmm..nanti sekretaris ku yang akan menghantar Lira bagaimana?" Tanya Kelvin.
Di dalam mobil.
Rania sesekali melihat ponsel nya, melihat hal itu membuat Kelvin merasa penasaran.
Kenapa dia terlihat khawatir? Batin Kelvin, lalu memberanikan diri untuk bertanya dengan memelankan laju mobil nya sedikit.
"Mm..aku lihat dari tadi kamu sibuk lihat ponsel. Memangnya kalau boleh saya tahu kamu nungguin notif dari siapa?" Tanya Kelvin seraya sesekali menatap Rania.
"Ohh..itu tadi aku ngabarin sekretaris aku.." Jawab Rania seraya meletakkan ponselnya.
"Jangan khawatir! Dia baik baik saja kok, kan dia sudah sama sekretaris ku." Sambung Kelvin sedikit tersenyum.
"Bukan notif dari dia saja sih yang aku tungguin." Lanjut Rania sedikit cemas.
"Kalau bukan dia saja, lalu siapa?"Ucap Kelvin bertanya lagi.
"Ahmm..sudah sampai!" Balas Rania.
Apa,sudah sampai? kenapa cepat sekali?!Batin Kelvin sedikit tidak terima.
"Hei! Hei! Kelvin!" Panggil Rania seraya melambaikan tangannya ke wajah Kelvin mencoba untuk membuyarkan lamunan nya.
"Apa?" Tanya Kelvin.
"Pfttttt.." Rania menahan tawa nya ketika melihat ekspresi wajah Kelvin yang lucu ketika ketahuan melamun. Kelvin menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa malu saat ketahuan melamun oleh Rania alias Celia.
Rania berdehem, lalu berterima kasih kepada Kelvin karena telah mengantarkan nya sampai di Apartemen dengan selamat.
"Daah!" Rania melambaikan tangan nya, begitu pun Kelvin membalas dengan melambaikan tangan nya juga.
°°°
__ADS_1
Keesokan harinya.
Hari ini Ranis berada di ruangan kantor khusus nya yang sedang sibuk memeriksa dokumen yang di dampingi oleh sekretaris pribadi nya yaitu Lira.
Ketika Lira sedang fokus merapikan dokumen ia tidak sengaja melirik Rania. Di lihat nya Rania sedang serius memikirkan sesuatu.
Lira berdehem mencairkan suasana."Apa ibu perlu saya bawakan kopi hangat?" Tawar Lira.
"Apa kau bertanya pada ku?" Tanya Rania menunjuk diri nya sendiri sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
Lira pun juga melihat ke kiri dan ke kanan."Iya bu, saya bertanya kepada anda!" Jawab Lira.
"Langsung saja apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Sambung Rania bertanya.
"Tidak ibu! Tadi, saya hanya ingin menawarkan ibu kopi saja." Lanjut Lira menjawab.
"Boleh juga jika tidak merepotkan." Putus Rania.
"Tidak bu, sama sekali tidak merepotkan! Kalau begitu saya permisi, mau buatkan anda kopi." Sahut Lira seraya beranjak dari tempat duduk nya melangkah menuju ke dapur masih di kantor sebelum akhirnya membawakan segelas kopi dingin untuk atasan nya.
"Ini bu silakan di minum!" Ucap Lira sambil menyodorkan segelas kopi.
Rania meminum kopi nya sedikit lalu meletakkannya kembali. Lira terus melihat Rania hingga akhirnya mata mereka bertemu.
"Ada apa Lir kenapa dari tadi kau terus menatap ku seperti itu?" Tanya Rania penasaran.
Lira berdehem."Ekhmm..Sebelum itu saya mau meminta maaf ke ibu dulu." Jawab Lira sambil menelan saliva nya.
"It's okay, no problem! Ayo lanjutkan!" Pinta Rania serius menatap Lira.
"Terimakasih bu! Kalau boleh saya tahu apakah ibu ada sesuatu? Ahmm..maksud saya apa ada hal yang sedang anda pikirkan? Soal nya sadari tadi saya lihat anda begitu terlihat serius." Jelas Lira memberanikan diri nya untuk bertanya.
"Apa terlihat begitu jelas?" Tanya Rania memastikan.
Lira mengangguk mengiyakan." Iya, ibu!" Jawab nya meyakinkan.
Lira hendak bertanya namun mendadak suara telepon membuat nya mengurungkan niat nya.
°°°
"Selamat siang kak! Lama kita tidak bertemu." Sapa seorang laki laki.
"Siang! Oh, iya bagaimana kabar mu? Kakak tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi." Balas Rania sambil tersenyum hangat.
Alva balas tersenyum hangat." Baik ka, seperti yang sudah kakak lihat sekarang! Iya, Va juga tidak menyangka akan ada waktu luang sehingga kita bisa bertemu kembali." Ucap nya sambil tersenyum.
"Permisi tuan dan nona maaf saya mengganggu, ini menu nya silakan di pesan mau yang mana?" Tawar karyawan cafe.
Rania melihat daftar menu pesanan itu lalu memilih nya." Saya pesan yang ini ya mbak!" Ucap Rania menunjuk pesanan nya sambil menatap karyawan yang menawarkan nya.
Beralih menatap Alva "Dan apa yang mau kau pesan? Biar sekalian kakak pesan kan." Tanya Rania.
Alva terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab."Iya, Alva sama seperti yang kakak pesan saja!" Jawab nya.
Rania mengangguk paham sambil tersenyum."Jadi nya saya pesan dua ya mba!" Putus Rania kepada karyawan cafe.
"Baik nona! Mohon di tunggu sebentar ya." Pinta karyawan sebelum akhirnya datang dengan membawakan dua pesanan yang telah di pesan.
"Ini bu silakan dinikmati pesanan nya!" Ucap nya menyodorkan minuman.
"Kalau tidak ada sesuatu lagi saya izin permisi. Nona, tuan!" Sambung nya secara bergantian melihat Rania dan Alva segera setelah nya meninggalkan mereka berdua.
Bersambung.
Setelah baca cerita nya tadi jadi, gimana ni menurut kalian?
Di jawab ya, ini sebagai salah satu koreksi buat author juga ◜‿◝ 人
A.Biasa saja😌
__ADS_1
B.Bagusss, sukaaa!🥺♡
C.Lainnya...• ᵕ •