The Story Of Abandoned

The Story Of Abandoned
Bab.84~Menghadiri Undangan


__ADS_3

Tok.tok..tok...


"Selamat pagi bu! Permisi, saya ijin masuk!" Pekik Lira dari balik pintu kamar Rania.


"Silahkan!" Balas Rania seraya mengancingkan gaunnya.


Lira pun masuk dan melihat bos nya itu tengah sibuk dengan gaunnya.


Merasa kesulitan melihatnya, Lira pun mendekati Rania dan membantunya menutup resleting gaun di punggung Rania.


"Mari bu, saya bantu!" Saran Lira.


"Terimakasih Lir!" Ucap Rania.


"Oh, ya apa kau tidak memakai gaun?" Tanya Rania.


"Sebentar bu! Setelah saya menyiapkan apa yang ibu perlukan" Jawab Lira, sambil mengancingkan gaun Rania.


"Terimakasih Lir! Baik, kau bersiap-siap setelah membantuku menutup resleting gaunku!"


"Baik buk!"


Setelah itu Lira pun permisi untuk pergi meninggalkan Rania menuju ke kamarnya.


"Hhh..sudah siap!" Ucap Rania sambil menggendong tas jinjing nya.


Tok..tok...tok!!!


"Lira! Apa kau sudah selesai?" Pekik Rania dari balik pintu.


"Sebentar bu!" Balas Lira dari balik pintu.


"Saya masuk ya?!" Izin Rania.


Tapi, tidak ada sahutan dari Lira. Rania pun masuk ke dalam kamar Lira.


Tampak Lira tengah kesusahan mengancingkan gaunnya, Rania pun membantu Lira memasangkannya.


"Kita memang sama ya?!" Ucap Rania seraya memasangkan kancing gaun milik Lira.


"Hehe...iya bu!" Balas Lira.


"Sudah"


"Terimakasih buk!"


"Ran minta tolong boleh?"


"Boleh bu! Dengan senang hati saya akan membantu ibu"


"Tolong kamu panggil saya di luar dengan nama saya, intinya akrab"


"Tapi, bu..."


"Liraaaa"


"...Baik, buk"

__ADS_1


Rania dan Lira pun melangkah menuju ke luar dari apartemen menghadiri undangan.


Sampai di tujuan Rania dan Lira keluar dari mobil dan melangkah menuju ke dalam.


Tiba di sana Rania bersama Lira sudah di sambut oleh Alva yang juga berada di sana.


"Ehh..Alva?!"


"Ya, ini Alva!"


"Kau juga berada di sini?"


"Iya, soalnya Al juga di undang dan..siapa dia?"


Tak sengaja melihat Lira.


"Saya Lira, sekre...maksudnya rekan kerja Rania"


"Oh...kenalin saya Alva! Senang bertemu dengan anda"


"Terimakasih!"


"Ayo kita ke sana kak!"


Ajak Alva sambil menuntun Rania dan Lira menuju ke dalam tempat acara resepsi berlangsung.


Tiba di sana Kelvin dan Vina sudah terlihat bergandengan mesra sambil mengobrol dengan keluarganya. Sementara aku duduk bersama dengan Alva dan juga Lira di tempat duduk yang sudah di sediakan.


Seorang pria melangkah menuju ke panggung untuk nge MC.


Acara dimulai dengan bertukar cincin pernikahan mereka terlebih dahulu.


Selanjutnya, berdansa. Para tamu yang mengajak pasangan mereka masing-masing ke acara undangan pun berdansa.


Tatkala Alva yang tengah sibuk mencari Rania entah kemana ia pergi. Alva mencoba bertanya kepada para tamu yang mungkin mengetahui Rania ada di mana.


"Permisi, tuan dan nyonya! Apa anda pernah melihat perempuan ini?" Tanya Alva sambil menunjukkan foto Rania di ponselnya.


Mereka melihat foto itu dengan seksama, lalu berkata.


"Maaf nak kami tidak melihatnya" Jawabnya


"Baik, terimakasih tuan dan nyonya!"


Dia pergi kemana?! Gumam Alva sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


"Permisi, tuan! Apa anda melihat ibu Rania...ehhh maksud saya Rania?" Tanya Lira kepada Alva sambil menyentuh bahunya.


Alva berbalik dan melihat Lira yang memanggilnya.


"Alva!"


"Lira!"


Mereka saling tunjuk dan kaget. Lalu, beberapa saat mereka menoleh ke lawan arah dan rasa canggung menyelimuti mereka berdua, hingga Alva berkata.


"Kau juga mencari kak Rania?" Tanya Alva sambil menoleh ke arahnya, walau Lira tidak menatapnya.

__ADS_1


Lira pun berbalik dan berkata


"Lalu, bagaimana denganmu?" Jawab Lira balik bertanya sambil melipat kedua tangannya.


"Heh..malah balik nanya! Menurut lho?!"


"...Iy.. iya!"


"Oke, kalau gitu kita cari bareng-bareng Rania!"


"Dari tadi kek ngomong!"


Mereka berdua pun melangkah bersama mencari Rania.


Sementara di toilet.


Seorang perempuan berdiri dan menatap dirinya sendiri di kaca.


Perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan perasaan yang aneh saat melihat Kelvin memasangkan cincin kepada tunangannya?! Apa aku jatuh cinta dengan dia?! Aishh..itu tidak mungkin! Mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengannya, itu sungguh sangat lucu!


Tok..tok..tok!


"Apa ada orang di dalam?" Pekik David dari luar.


Nggak ada orang kah? Mending gua masuk aja!


David membuka pintu dengan paksa setelah beberapa lama menunggu tak ada respon.


Dan ia mendapati Rania yang berada di sana, Rania pun terkejut bersamaan dengan David.


Rania terburu-buru keluar dari toilet, saat ia hendak memegang gagang pintu tiba-tiba kakinya terpeleset dan untung saja dengan sigap David menangkapnya.


Mereka saling tatap-tatapan cukup lama.


Deggg..!!!


Ada apa ini? Apa yang terjadi pada jantungku?!


"Ahmm...Maaf!" Ucap Rania memperbaiki posisinya.


Mereka berdua salah tingkah dan tanpa berkata apa-apa lagi Rania langsung pergi meninggalkan David sendirian di toilet.


Huiuhh... Kenapa pake acara kepeleset sih nih kaki ?! Gerutu Rania kesal sambil memijat kakinya.


Sudah nggak sakit lagi! Baik, aku Segera kesana.


Rania melangkah menuju ke tempat duduk digelarnya pesta kembali.


Sementara dua orang tengah menatapnya dengan tatapan yang sedikit sakit dan tidak menyangka.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2