
Baru saja Celia hendak tidur, lagi lagi ponselnya berdering, membuatnya kesal dan membuka Wa, terlihat bahwa Kelvin mengiriminya pesan.
Kelvin ✉️: P
Celia ✉️: Iya?
Kelvin ✉️: Maaf Celia aku telah menganggumu malam malam begini! Aku hanya ingin mengetes apa kau sudah tidur apa belum.
Apa?! kenapa dia bertanya seperti itu, dan kenapa jantungku?
Celia ✉️: Ahm..tidak!
Kelvin ✉️: Sungguh? maksudku, selamat tidur Celia! dan sebenarnya aku mau ngajak kamu ke suatu tempat apa kamu besok tidak sibuk?
Celia ✉️: Terimakasih, kau juga selamat tidur! Aku tidak tahu besok, tapi aku akan usahakan.
Celia semakin gugup, dan tangannya bergetar tak kalah jantungnya berdegup kencang.
Ia ragu untuk mengirim pesan itu, namun ibu jarinya tak sengaja mengirim.
Aduhh...bagaimana ini?!
Celia menaruh ponselnya di meja berharap segera ada notif masuk, namun notifikasi belum kunjung masuk tanpa sadar Celia tertidur.
Keesokan paginya Celia bangun dan membuka layar ponselnya tampak banyak notif di Wa nya.
"Hhh,,,kenapa tadi malam aku ketiduran?!" Gerutu Celia. Celia pun membalas Wa itu satu-persatu.
Selesai membalas pesan di Wa yang sekitar 10 ia pun beranjak dari tempat tidur nya lalu mandi. Sesudah mandi Celia melangkah menuruni anak tangga menuju ke dapur untuk membantu nenek.
Selesai memasak Celia makan bersama dengan nek Tina. Selanjutnya, Celia membuka toko kue. Hingga tak terasa langit telah berubah warna menjadi oranye yang tandanya sudah sore.
Celia pun menutup tokonya, lalu melangkah menuju ke meja makan untuk memasak. Celia memasak sup nanas berisi ayam untuk nek Tina, makanan kesukaannya.
Setelah masakan sudah matang Celia melangkah menuju ke kamar nenek untuk mengajak nenek makan malam. Sampai di meja makan Celia menarikan kursi untuk nek Tina untuk ia duduk, selanjutnya sesudah nenek menghabiskan sup, Celia pun membersihkan piring.
Celia membuatkan secangkir jahe hangat buat nek Tina. Celia ragu untuk meminta izin kepada nek Tina. Melihat Celia aneh membuat nek Tina bingung.
"Cu, kamu kenapa? nenek lihat kamu seperti gelisah." Tanya nek Tina.
"Ahmm...itu nek, Lia..Lia mau izin keluar sebentar sama teman. Apa boleh nek?" Jawab Celia gugup.
"Malam begini cu? lalu sama siapa?" Tanya nek Tina.
"Iya nek, sama ..."
TIN..TIN..TIN !!!
Suara klakson membuat Celia terkejut, sehingga ia tidak melanjutkan ucapannya.
"Siapa yang datang cu?"
"Sebentar nek, Celia lihat dulu"
__ADS_1
Melangkah menuju ke pintu, Celia mendapati Vina, Dina, Rio, David, dan Kelvin. Keluar dari mobil
"Hai Celia!" Sapa Vina dan Dina sambil memeluk Celia.
"Hai.." Balas Celia.
"Ayo kita jalan-jalan?!" Ajak Vina menggandeng tangan Celia, namun Celia memegang nya.
"Kenapa Cel?" Tanya Vina berbalik dan menatap Celia.
Merasa Celia lama di luar membuat nek Tina khawatir dan menyusulnya.
"Siapa mereka cu?" Tanya nek Tina bingung ketika melihat Vina, Dina, David, dan Kelvin.
"Selamat malam nek! saya Kelvin, saya teman Celia." Jawab Kelvin memperkenalkan diri sambil menyalami tangan nek Tina.
Sementara yang lainnya harus di kode dulu oleh David barulah mereka mau. Nek Tina sempat mengajak mereka masuk ke dalam agar obrolan jadi lebih nyaman, namun mereka malah menolak.
Setelah semua berkenalan, barulah Kelvin mengatakan alasannya menemui Celia, namun saat Kelvin hendak berkata tiba-tiba saja Vina menyela pembicaraan nya.
"Nek, Vina mau ijin buat ngajak Celia jalan-jalan, boleh kan nek?!"
Nenek memandangi Celia dan Vina bergantian.
"Iya boleh! tapi jangan pulang larut malam, mengerti?!"
Mereka semua pun mengangguk dan aku meminta mereka untuk menungguku sebentar untuk mengambil tas ku.
Aku memakai jaket dan celana panjang agar tidak kedinginan. Selesai mengambil tas aku pun melangkah keluar, memasuki mobil milik Vina dan Dina, selanjutnya setelah semua masuk ke dalam mobil kami pun melajukan mobil.
Aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan mencoba untuk melupakan perasaanku yang tidak enak.
Hhh mungkin saja Feeling, gumam Celia. Ia pun melihat ke samping, terlihat toko-toko yang masih buka, pasangan yang bergelayut mesra, seorang anak yang bertingkah bermanja-manja dengan ayah dan ibunya.
Hmm..andai saja aku yang berada di sana. Tapi aku harus berusaha dan gak gampang nyerah..semangat Celia!
Vina yang melihat Celia sedang melamun yang tampak dari spion depan membuatnya melirik Dina sambil tersenyum sinis.
"Aduh..Vina, kayaknya aku mau pipis nih" Rengek Dina.
Seketika Celia buyar dari lamunannya dan menatap Dina.
"Tapi, perjalanan kita kan masih jauh. Dan di sekitaran sini juga gak ada toilet." Kata Vina lirih.
"Aku udah gak tahan ini Vin!" Balas Dina.
"Bagaimana ya ini?" Tanya Vina bingung.
"Bagaimana kalau kita berhenti di semak-semak? Oh ya, apa kita akan melewati semak?!" Jawab Celia sekaligus memberikan saran.
"Kurasa iya Cel!"
"Kalau begitu cepat!"
__ADS_1
Vina pun mengangguk dan melajukan mobilnya secepat mungkin, bukan berarti secepat kaya balapan.
Vina melihat semak di sebelah kanan ia pun menghidupkan lampu yang menandakan ia akan berhenti. Vina memerintahkan Dina untuk turun, namun Dina ragu. Sebab ia takut, Celia pun mengajak nya untuk turun dan mengantarnya.
Celia menghidupkan senter terlebih dahulu agar memudahkan untuk melihat jalan, barulah mereka melangkah menuju ke semak itu, Celia yang berjalan pertama dengan hati-hati diikuti Dina yang mengekor di belakangnya.
"Dimana Cel?" Tanya Dina.
"Di sini!" Jawab Celia.
Aaaaaaa,TIDAKKKK!!!!
"Dina tolong aku!" Pinta Celia meminta tolong.
Sementara Dina hanya menonton melihat Celia meminta tolong bersama dengan Vina yang baru saja datang.
Celia sekuat tenaga mencoba untuk naik dengan hanya berpegangan dengan sebuah cabang kayu kecil.
"Lama banget sih!" Kata Vina. Lalu menendang tangan Celia, alhasil tangan Celia tidak kuat lagi untuk menahan tubuhnya.
Vina dan Dina tertawa ketika melihat Celia sudah jatuh ke dalam jurang. Mereka pun saling tos, selanjutnya melangkah menuju ke dalam mobil.
Sementara Kelvin sudah merasa khawatir, karena mobil milik Vina tidak kunjung terlihat dari spion. Kelvin pun meminta David untuk memutar balik mobilnya, David pun menyuruh Kelvin untuk tenang.
Setelah lama menunggu akhirnya Kelvin mencoba untuk menelpon Celia, namun nomornya tidak aktif. Timbul kecurigaan di hati Kelvin, ia pun mencoba untuk menelpon Vina, berharap ia akan menjawab telepon.
Dan benar Vina mengangkat telepon dari Kelvin dengan suara yang sudah lirih, seperti menangis. Kelvin pun menyuruh David untuk memutar balik mobilnya.
Sementara Nek Tina tiba-tiba saja menjatuhkan sebuah gelas, dan seketika teringat tentang Celia. Kelvin, Dina, Vina, dan juga David mereka datang ke rumah nek Tina dengan menunduk.
"Ada apa? ada apa dengan kalian?! Dimana CuLia?" Tanya nek Tina khawatir.
Walau ragu untuk mengatakan Vina pun menjawab dengan gugup dan dengan ekspresi sedih, ia mengatakan kalau Celia jatuh ke dalam jurang ketika menghantar Dina.
Mendengar jawanan dari Vina membuat nek Tina terkejut sambil menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vina dan teman-temannya.
BRUKK !!!
Nek Tina ambruk dan Kelvin dengan sigap menangkap wanita paruh baya itu.
Kelvin pun menyuruh Vina, Dina, dan David untuk membuka mobil untuk menghantar nenek menuju ke rumah sakit.
Derrrrr!!!
Hujan mendadak turun bersamaan dengan petir, membasahi apa saja yang ada di sekitarnya, dan seakan-akan hujan merasakan kesedihan juga. Dan sebuah notif menjadi hal terakhir yang diingat oleh Celia.
.
.
.
🌼🌼
__ADS_1
TAMAT.