The Story Of Abandoned

The Story Of Abandoned
Bab.78~ Buku


__ADS_3

"Jadi, ma! Rania sudah makan siang mi" Jawab Rania.


"Oh, Pelayan!"


"Iya nyonya"


"Tadi siang apa kau melihat Rania makan?!"


Fora menatap Rania, Rania yang ditatap begitu hanya menatapnya balik mengisyaratkan agar Fora mengatakan ia.


Fora menatap mami Bella dan Rania secara bergantian. Terlihat ekspresi ragu dari wajah Fora, jika ia menjawab ia maka ia mungkin akan dipecat jika berbohong.


"Tidak nyonya!" Jawab Fora lalu menunduk.


"Apa yang dikatakan oleh Fora itu benar Ran?!" Tanya mami Bella berusaha memastikan.


"Iy..iya ma Ran emang gak makan siang di rumah" Jawab Rania.


"Rania!!" Teriak mami Bella.


"Tunggu ma! tadi Rania kan bilang dia gak makan siang di rumah" Sahut Johan.


Ternyata kakak mendengarkan perkataan ku dengan cermat. Rania


"Lalu?! Dimana kau makan?" Tanya mami Bella, berusaha menahan emosinya.


"Di rumah teman ma" Jawab Rania sambil menunduk.


"Sungguh?! Apa kau tidak berbohong?"


"Coba mami lihat mata Rania!" Pinta Rania.


Mami Bella pun berdiri dan menatap mata Rania.


"Apa Rania bohong ma?"


"Maafkan mami nak! Mami hanya tidak ingin kamu sakit. Kamu mengerti kan apa yang mami katakan?!"


"Iya mi Ran ngerti kok!"


Rania, dan juga Johan pun memeluk mami Bella dengan hangat.


"Mami hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kalian itu saja!" Ucap mami Bella.


"I Love mami!" Kata Rania dan Johan.

__ADS_1


"Love you more my children!" Balas mami Bella.


Beberapa saat mami Bella melepas pelukan dari Rania dan juga Johan. Mami Bella pun mengucapkan selamat malam lalu melangkah menuju ke kamarnya untuk beristirahat karena hari sudah semakin larut.


Tinggal Rania dan Johan yang ada di meja makan.


"Dik!" Panggil Johan.


"Ya kak?!" Sahut Rania.


Rania dan Johan berada di perpustakaan pribadi milik mereka sekarang tepatnya di bawah ruang kerja papanya.


"Kenapa kakak mengajak ku kemari?" Tanya Rania penasaran yang berjalan mengekor di belakang Johan.


"Ada sesuatu yang ingin kakak tanyakan kepadamu!" Jawab Johan sambil terus berjalan menuju ke kursi perpustakaan.


"Ya ampun kak! Kenapa sih bicara harus ke tempat yang jauh-jauh segala? Di kamar kan bisa atau tadi di ruang tamu! kakak kayak ada sesuatu yang rahasia saja" Protes Rania.


Johan tidak menanggapi perkataan dari Rania ia sibuk mencari buku di rak perpustakaan. Hingga, akhirnya ia menemukan sebuah buku.


"Ketemu!" Seru Johan, namun tidak terlalu keras.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Johan duduk di kursi sebelah tempat buku bersama dengan Rania.


"Rania!" Panggil Johan serius.


"Kak Johan!" Sahut Rania Serius, lalu tertawa.


"Kakak nggak bercanda dik, ini serius!" Tegas Johan.


"Ok!" Ucap Rania mulai serius.


Johan mengambil kacamata nya lalu membuka buku yang dibawanya. Johan membuka setiap lembaran seraya melihatnya dengan teliti, hingga Johan menemukan apa yang ia cari.


"Apa kau tahu laki-laki ini?" Tanya Johan sambil menunjukkannya kepada Rania.


Rania melihatnya, lalu ia pun mengembalikan buku itu kepada Johan.


"Tidak! memangnya kenapa dengan laki-laki ini kak?" Tanya Rania penasaran.


"Begini, jika sewaktu-waktu kamu bertemu dengan laki-laki ini kakak mohon ke kamu untuk jangan terlalu mendengarkan omongan manisnya! Apa kau mengerti?! Sedia payung sebelum hujan" Jawab Johan.


"Kenapa tidak langsung to the poin ka?"


"Kakak juga kurang tahu, apakah itu berita benar atau hanya kabar burung"

__ADS_1


"Hmm...baiklah kak! kakak selalu saja mengatakan apapun dengan teka-teki"


"Intinya kamu ngerti kan apa yang kakak maksud?!"


"Iya-iya!"


"Aku harus selalu ngerti apa yang mami dan kakaku katakan! walaupun itu teka-teki"


Oceh Rania.


"Hei! bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" Tawar Johan sambil melepas kacamatanya.


"Kemana kak?!" Ucap Rania kegirangan


Melihat hal itu membuat Johan tertawa, lalu Rania pun menurunkan alisnya pertanda kesal.


"Haha... yah tadinya hampir ngambek, malah tiba-tiba girang" Ledek Johan.


"Ishh...kakak nyebelin!" Desis Rania kesal, Rania berdiri melangkah menuju keluar dari perpustakaan dan meninggalkan kakaknya.


Melihat Rania keluar membuat Johan seketika mengingat seorang.


"Andaikan saja kau masih hidup Ran!" Gumam Johan lalu menghapus air matanya yang sempat keluar dengan tangannya.


Johan menaruh buku tersebut kembali di perpustakaan, kemudian ia mencari mami nya di balkon. Sementara Rania sedang duduk di balkon samping kamarnya, seraya membuka laptopnya.


Rania membuka Gmail nya, dan banyak pesan lama yang ada di sana dari klien yang ingin bekerja sama dengannya, namun beberapa yang serius ingin bekerja sama sisanya lagi mereka sama seperti Marx klien yang ditemui Rania di Bar.


"Astaga, kenapa banyak sekali?!" Kata Rania sedikit kesal sembari menekan tulisan delete di laptopnya.


Rania paling tidak suka jika email nya dipenuhi dengan pesan yang tidak penting, ia hanya menyimpan pesan yang penting saja.


Ceklek ( Tiba-tiba pintu kamar Rania terbuka)


Berdiri seorang wanita yang tersenyum melihat Rania.


.


.


.


🌼🌼


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2